Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 80


__ADS_3

Larissa terus menolak ajakan pulang sang suami. Hingga akhirnya pertengkaran pun terjadi. "kalau kau tak mau mengantar, kau bisa katakan. Tapi setidaknya jangan permalukan aku di depan umum seperti tadi."


Hamzah tertegun. Ucapan Larissa bagai sebuah tamparan baginya. Ia baru menyadari jika sikapnya tadi begitu menyakiti hati sang istri. "Maafkan aku! Aku terbawa emosi tadi. Aku begitu cemburu hingga tanpa sadar meluapkan emosiku padamu," ucapnya lirih. Ucapannya terdengar begitu tulus.


Larissa menyeka air mata yang membasahi pipi. "Cemburu? pada siapa?, tanyanya bingung. Sungguh, ia benar-benar tak mengerti apa yang telah membuat suaminya terbakar api cemburu.


"Ya, cemburu! Aku marah dan cemburu pada dokter yang memeriksamu tadi," teriak Hamzah. Nafasnya terdengar memburu.


"Pada dokter tadi? Tapi kenapa?." Larissa semakin bingung. Sungguh ia tak mengerti apa yang membuat suaminya begitu marah dan cemburu pada dokter tadi.


"Karena dia sudah berani menyentuhmu." Meledaklah sudah amarah Hamzah. Nafasnya semakin memburu bersama dengan ledakan itu.


"Apa kau tahu, saat aku melihat dokter itu menyentuhmu, ingin rasanya aku melempar kursi yang kududuki ke muka dokter itu. Demi Allah, aku ingin menghajarnya saat itu."


Deg


Larissa tertegun. Mengertilah kini alasan dibalik kemarahan suaminya. Ternyata ia terbakar api cemburu saat melihat istrinya disentuh oleh pria lain.


Hati Larissa menghangat. Ia tersentuh karena ternyata suaminya masih mencintainya. Terbukti ia begitu marah dan cemburu melihatnya disentuh oleh pria lain.


Saat mengantar Larissa ke rumah sakit dulu, Hamzah memang tak ikut masuk ke ruang pemeriksaan. Jadi ia tak melihat saat istrinya diperiksa oleh dokter. Wajar bila kini ia marah dan cemburu saat menyaksikannya sekarang. Namun agaknya kecemburuan Hamzah tidak pada tempatnya. Dan Larissa harus segera meluruskan hal itu.


"Dokter menyentuhku itu hanya sekedar untuk pemeriksaan. Dan yang ia sentuh pun hanya pada bagian yang sakit. Kebetulan yang sakit memang di daerah itu. Coba kalau yang sakit bukan di daerah itu," ucap Larissa. Mencoba memberi penjelasan pada suaminya. "Lagipula bukan hanya dokter saja yang berada dalam ruangan itu. Ada suster juga, kan? Kau pun melihatnya sendiri."


"Tetap saja, aku tak suka melihatnya menyentuhmu!." Hamzah bersikeras dengan pendiriannya.

__ADS_1


Larissa menghela nafas berat. Agaknya memberi penjelasan pada hati yang terbakar api cemburu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. "Kau tahu, kenapa aku menolak saat kau mengajakku ke rumah Uwak Sodiq kemarin?," tanyanya.


Karena memang tak tahu, Hamzah pun menggeleng. "Kenapa?."


"Karena dia sudah melecehkanku."


"Apa?," teriak Hamzah. Ia terkejut setengah mati sampai-sampai bola matanya keluar. "I...itu tidak mungkin."


Larissa tersenyum kecut mendengar suaminya tak mempercayai ucapannya. "Kalau kau tak percaya, terserah. Tapi itulah yang terjadi sebenarnya."


Hati Hamzah mulai bimbang, antara percaya dengan istrinya atau tidak. Sebuah teriakan keras ia keluarkan untuk mengurangi beban di hati. "Hah....." Matanya terpejam dengan tangan terkepal kuat.


Hamzah lantas memghampiri sang istri. Tangannya memegang ke dua bahu istrinya. "Katakan padaku, kau tidak bersungguh-singguh dengan ucapanmu tadi kan? Kau hanya bercanda saja kan?."


Mendengar ucapan Hamzah yang terkesan lebih mempercayai orang lain membuat Larissa kembali marah. Ditepisnya tangan sang suami dari bahunya. "Apa kau pikir sebuah aib pantas untuk dijadikan sebagai bahan lelucon," teriaknya. Air mata kembali mengalir akibat luka yang kembali terbuka.


"Kau begitu marah saat melihat dokter menyentuhku tadi. Padahal itu hanya pemeriksaan singkat saja. Lalu bagaimana dengan perbuatan Uwak Sodiq yang telah melecehkanku di rumahnya malam itu? Kenapa kau tidak marah padanya."


Hamzah membuang nafas gusar. Ia mengusap wajah kasar. "Sekarang ceritakan padaku, bagaimana kejadian di rumah Uwak Sodiq malam itu!."


Larissa memejamkan mata. Sejenak mengumpulkan segala kekuatan yang ia punya. Pertanyaan Hamzah telah membuka kembali masa kelam yang coba ia lupakan. Tapi mau tak mau ia harus menceritakannya agar suaminya sadar bahwa ia telah mempercayai orang yang salah.


Larissa menceritakan semua yang ia alami malam itu. Bermula saat ia diminta untuk membuka baju, hingga berakhir pada peristiwa pelecehan itu. Semua sesuai dengan apa yang terjadi tanpa ia tambah atau kurangi.


Larissa mengakhiri ceritanya dengan mengusap air mata. "Aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri. Tubuh ini sekarang telah ternoda."

__ADS_1


Hamzah marah besar usai Larissa menceritakan kejadian di rumah uwak Sodiq malam itu. "Kurang ajar! Dasar dukun cabul. Aku akan buat perhitungan dengannya.


Larissa menangis sesenggukan. Diabaikannya kemarahan samg suami. "Kau tahu, saat kau menyentuhku saja terkadang aku merasa risih. Padahal kau adalah suamiku sendiri. Lalu bagaimana bila orang lain yang menyentuhku? Kau pasti mengerti kan bagaimana sakitnya perasaanku?."


Hamzah mensejajarkan diri dengan istrinya. Direngkuhnya tubuh Larissa yang masih bergetar karena luapan perasaan. "Maafkan aku! Aku benar-benar tak tahu kalau kau mengalami kejadian seperti ini. Tapi kenapa kau tak pernah menceritakan hal ini padaku?."


Larissa menarik diri dari pelukan Hamzah dan mundur beberapa langkah. "Untuk apa aku cerita padamu? Toh kamu juga lebih mempercayai orang itu, kan?."


"Dulu mungkin aku begitu percaya dengan Uwak Sodiq, tapi sekarang tidak lagi."


Mendengar Hamzah menyebut nama oramg yang telah memghancurkan hidupnya, Larissa berteriak kesetanan. "Jangan pernah kau sebut nama orang itu dihadapanku lagi. Mendengarnya membuatku sangat muak."


"Maafkan aku! Aku janji, mulai sekarang aku tidak akan pernah menyebut nama orang itu lagi."


"Jangan pernah membuat janji kalau kau tak bisa menepati," jawab Larissa sinis.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Aku benar-benar bersumpah tidak akan pernah menyebut nama orang itu lagi, apalagi dihadapanmu."


Walau Hamzah telah bersumpah takkan menyebut nama itu namun Larissa masih tak percaya. Terlebih orang itu telah Hamzah percaya secara membabi buta sejak lama. "Kau ingin aku percaya begitu saja dengan sumpahmu?," cibirnya.


"Apa kau ingat, berulangkali aku memintamu untuk tidak pergi ke rumah orang itu lagi. Aku sudah merasa ada yang tidak benar dengan orang itu. Tapi apa? Kau tidak memperdulikan ucapanku, kan? Kau lebih mempercayai ucapan orang itu, kan? Lalu kenapa sekarang aku harus percaya pada sumpahmu?."


Hamzah diam membisu. Tak mampu menjawab ucapan istrinya.


"Satu hal yang harus kau tahu, aku merasa tidak ada artinya selama menjadi istrimu. Kau tidak pernah menganggap keberadaanku. Semua perkataanku tidak ada artinya bagimu. Lalu kenapa sekarang aku harus percaya pada sumpahmu?." Tangis Larissa pecah hingga tubuhnya terguncang.

__ADS_1


Hamzah kembali merengkuh tubuh Larissa. "Maafkan aku! Aku memang lelaki bodoh. Tanpa sengaja aku telah sangat menyakitimu dengan perbuatanku." Hamzah turut meneteskan air mata melihat betapa terlukanya Larissa karena dirinya.


Larissa memukul dada suaminya berulang-ulang. Tapi kali ini ia tak menolak pelukan suaminya. "Kenapa kau begitu tega padaku? Apa kau tak lagi mencintaiku?."


__ADS_2