Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 23


__ADS_3

Hamzah kembali bersikap lembut dan perhatian pada Larissa. Bahkan kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Ada Sebuah kejadian yang membuatnya semakin memperhatikan kesehatan dan keselamatan Larissa.


Ketika itu, usia kandungan Larissa memasuki usia lima bulan. Larissa meminta Hamzah untuk mengantarnya mengurus dokumen kependudukan di kantor desa. Rencananya dokumen itu akan ia gunakan untuk mengajukan Jampersal. Hamzah pun segera mengantarnya, karena ia sendiri sedang tidak sibuk.


Saat ditengah jalan, tiba-tiba rok yang dikenakan Larissa masuk ke begian gear motor dan terbelit disana. Seketika itu juga Larissa langsung jatuh dan terseret sepeda.


Untung saja dengan sigap Hamzah langsung menginjak rem begitu mendengar suara teriakan Larissa. Ia segera menghentikan motornya dan turun menolong istrinya. Untungnya lagi, Larissa terseret belum terlalu jauh.


Larissa terlihat sangat syok atas kejadian tadi. Pakaiannya robek hingga sebatas paha. Nafasnya pun memburu. Terlihat sekali betapa ia sangat trauma. Untung saat itu kondisi jalanan sedang sepi, sehingga ia tidak malu dengan keadaannya.


Mereka pun akhirnya putar balik dan kembali ke rumah. Tidak mungkin juga jika tetap memaksakan diri kesana. Larissa hanya akan malu sendiri karena pakaian yang ia kenakan hanya tinggal separuh badan. Belum lagi trauma yang ia rasakan.


Sesampainya di rumah, Larissa segera berganti baju dan memeriksakan diri ke bidan. Untung saja bayi dalam kandungannya tidak kenapa-napa.


Semenjak saat itu, Hamzah semakin berhati-hati dalam menjaga Larissa. Ia tak ingin istrinya itu kenapa-napa. Ia takut kehilangan calon anaknya untuk kedua kali.


Sebenarnya sikap kasar Hamzah kemarin dipicu oleh kemarahannya pada Iqbal. Dia harus terus menerus menghadapi masalah yang ditimbulkan oleh orang yang sama. Sayangnya ia melampiaskan kemarahannya itu pada orang yang salah. Ia melampiaskannya pada istrinya sendiri. Belum lagi dengan adanya hasutan dari si bibik yang semakin meracuni pikirannya.


Seperti halnya saat itu. Ketika itu usia kandungan Larissa menginjak usia empat bulan. Iqbal kembali membuat masalah dengan terus menerus menyindir Hamzah yang tidak mau membantu pembangunan rumahnya.


Sebenarnya Hamzah bukan tidak mau membantu. Tapi saat itu ia sendiri sedang sakit tipes. Selama berhari-hari ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Sayangnya Iqbal tidak bisa memahami hal itu.


Hal itu diperparah dengan adanya hasutan dari pihak luar. Dia adalah orang yang bekerja membangun rumah Iqbal. Ia masih dendam karena Hamzah tidak mengizinkannya untuk meminjam motor.


Bagaimana Hamzah akan memberikan izin padanya. Dia saja tidak mengenal orang itu. Dan dia meminjam sepeda juga malam-malam, itupun untuk ia gunakan membeli minum-minuman.


Hampir saja terjadi baku hantam diantara mereka jika tidak dengan sigap Larissa hentikan. Larissa segera menarik tubuh Hamzah dan mengajaknya keluar rumah untuk sementara waktu sampai suasana mereda.


Tapi kini semua itu telah berlalu. Tidak ada yang membuat masalah lagi dalam rumah tangga mereka. Karena kini Iqbal sudah pindah di rumahnya sendiri. Tempatnya bersebelahan dengan rumah yang ditempati Larissa.


Hamzah masih enggan bertegur sapa dengan Iqbal. Walaupun hari lebaran tiba, ia tetap tidak mau bersilaturahmi. Begitu juga sebaliknya. Iqbal juga tidak mau menegur Hamzah duluan. Ia terlalu gengsi untuk berinisiatif duluan. Karena ia menganggap yang muda yang harus meminta maaf.

__ADS_1


Ah, sudahlah. Untuk sementara biarlah seperti itu. Setidaknya tidak ada keributan lagi diantara mereka. Semoga akan ada jalan yang bisa membuat mereka kembali berdamai.


Sore ini Larissa dan Hamzah sedang bersantai di dalam kamar. Mereka duduk berdampingan diatas ranjang. Hamzah mengusap perut Larissa dan mengajak bjcara janin dalan kandungannya.


Semenjak bayi dalam kandungan Larissa mulai bergerak, Hamzah sering melakukan hal itu. Ia merasakan kesenangan tersendiri saat melakukannya. Ia bahkan sudah tidak sabar menanti kelahiran anaknya.


"Yank, kalau anak kita lahir, kamu inginnya dipanggil apa?" tanya Larissa usai Hamzah berbicara dengan bayi dalam perutnya.


"Aku ingin dipanggil bapak aja!."


"Bapak? kesannya tua banget. Apa tidak sebaiknya Ayah saja?."


Hamzah Keukeh dan tetap ingin dipanggil Bapak saja. Larissa memilih untuk mengalah. Membiarkan Hamzah dengan keinginannya. Lagi pula itu hanya soal panggilan. Yang terpenting tidak mengurangi rasa hormat sang anak pada orangtuanya nanti.


Keheningan tercipta. Tapi tak berselang lama mulai ada yang bersuara. Kali ini Hamzah yang lebih dulu angkat bicara.


"Yank, sebaiknya kita tidak lagi memanggil dengan kata sayang, ya" ucap Hamzah sambil membelai surai lembut sang istri.


"Emang kenapa? apa ada masalah?" tanya Larissa bingung.


"Ya sudah, nggak pa pa. Kalau begitu aku memanggilmu Mas saja, ya. Seperti pasangan menikah yang lainnya."


"Nggak mau!."


"Loh, emangnya kenapa?."


"Emas harganya mahal!"


Larissa melongok mendengar jawaban suaminya. Emang apa hubungannya antara Mas dan emas.


Larissa menghela napas, mencoba untuk tetap bersabar. "Kalau begitu, aku panggil kamu kakak aja, ya. Kan banyak juga pasangan yang memanggil pasangannya dengan sebutan itu. Terus, kamu panggil aku adik, gimana?" ucap Larissa lagi. Ia kembali mengajukan inisiatif panggilan sayang yang lain.

__ADS_1


"Aku nggak mau!."


kembali terjadi penolakan dari Hamzah. Larisa dibuat bingung lagi karenanya. "Kenapa?."


"Aku bukan kakakmu, dan kamu juga bukan adikku!."


Arrrgk! Lama-lama Larissa kesal juga dibuatnya. Ia harus dipusingkan hanya karena sebuah panggilan sayang.


Kembali Larissa menghela napas, mencoba untuk tetap sabar menghadapi sifat suaminya yang kadang emang menjengkelkan. "Kalau begitu, kamu inginnya aku panggil apa?" tanya Larissa. Ia menyerah terus menerus mengajukan inisiatif panggilan sayang. Percuma jika semua hanya berakhir dengan sebuah penolakan.


Hamzah terlihat berpikir, tak berselang lama ia mulai bicara. "Emmh... aku juga nggak tahu. Kamu punya ide lain, nggak? sebuah panggilan sayang yang unik dan beda dari yang lain gitu" tanya balik Hamzah.


Nah, loh, apa nggak makin kesal aja hati Larissa. Ia sudah pasrah akan keinginan suaminya, tapi malah dia lagi yang harus mencari ide.


Setelah berpikir sedikit lebih lama, akhirnya terbersit sebuah panggilan sayang yang cukup unik dibenak Larissa. Ia pun segera memberitahukan idenya itu. "Bagaimana kalau aku memanggilmu, Entik?."


"Entik? artinya apa?" tanya Hamzah.


Larissa pun membisikkan arti kata itu ditelinga suaminya.


Hamzah terlihat mengangguk-anggukkan kepala. "Ok! aku setuju. Lalu, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?."


"Gimana kalau Encus?." Kembali Larissa menyebutkan sebuah panggilan sayang.


"Encus? artinya?."


Kembali Larissa membisikkan arti kata itu di telinga suaminya.


"Hemm, Sebuah panggilan sayang yang cukup unik dan menarik. Baiklah. Aku setuju dengan panggilan itu. Mulai sekarang, aku panggil kamu Encus, dan kamu panggil aku, Entik. Ok?"


Larissa pun menganggukkan kepala. "Ok. Aku setuju!." Tawa berderai pun keluar dari bibir keduanya.

__ADS_1


Entik dan Encus. Sebuah panggilan sayang yang cukup menggelitik. Entah apa makna dibalik kata itu. Biarlah! cukup mereka berdua saja yang tahu.


Sejak saat itu, mereka berdua sepakat untuk memanggil dengan sebutan Entik dan Encus. Dan kisah ini pun berubah menjadi ' KISAH ENTIK DAN ENCUS '.


__ADS_2