
Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun Hamzah membawa Larissa berobat alternatif di rumah Uwak Sodiq. Dan walau hanya setengah hati Larissa pun melakukannya juga.
Seperti biasa, kali ini pun Larissa di ruqyah terlebih dulu. Sejauh ini tak ada yang aneh, semua sama seperti malam-malam sebelumnya. Hingga akhirnya Hamzah meminta Uwak Sodiq untuk membalurkan ramuan itu ke tubuh Larissa secara langsung karena tak melihat perubahan yang berarti setelah menjalani pengobatan selama beberapa kali.
Awalnya Uwak Sodiq terlihat ragu. Namun setelah Hamzah memastikan bahwa ia tidak akan marah bila ia menyentuh istrinya, maka ia pun bersedia. Ia pun mengajak Larissa menuju ke kamarnya dengan alasan agar tidak dilihat oleh orang lain.
Larissa ragu, digigitnya bibir bawahnya. Mana mungkin ia masuk ke dalam kamar lelaki lain walau itu untuk pengobatannya sendiri. Terlebih ia hanya akan berdua saja dengan lelaki paruh baya itu. Ia memandang sang suami untuk mengisyaratkan keraguannya dan mengatakan apakah semua ini tidak terlalu berlebihan.
"Ayo masuk!" ucap Uwak Sodiq karena Larissa tak juga bergeming dari tempat duduknya. Namun Larissa tetap diam. Ia tak mengindahkan perintah lelaki paruh baya itu karena ragu.
Mengerti akan keraguan sang istri, Hamzah menganggukkan kepala untuk menghilangkan keraguannya itu. Sebuah senyuman ia berikan untuk meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan terpaksa larissa pun masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Uwak Sodiq.
"Buka bagian atas pakaianmu! Tunjukkan dimana letak benjolannya." ucap Uwak Sodiq datar setelah mereka berada di dalam kamar. Tak lupa ia tutup pintu terlebih dulu dengan dalih agar tak dilihat oleh orang lain.
Larissa makin ragu. Namun ia juga tak dapat menolak perintahnya. Karena biar bagaiamanapun kalau ingin membalurkan ramuan, tentu harus membuka pakaiannya. Dalam hati ia mengumpat kenapa suaminya meminta orang lain yang melakukan ini. Larissa hanya berharap semoga apa yang akan ia lakukan bukan sesuatu yang salah.
Larissa berbalik memunggungi Uwak Sodiq. Perlahan ia tarik resleting bajunya. Tapi karena saat itu ia mengenakan pakaian dengan model jubah, ia pun sedikit kesulitan untuk membukanya.
Uwak Sodiq terlihat tak sabar menunggun Larissa membuka baju. "Kenapa lama sekali?" tanyanya. "Cepat! Nanti keburu istriku datang." Ya, saat itu istri Uwak sodiq memang sedang keluar rumah karena ada beberapa urusan. Itulah kenapa ia berani mengajak Larissa ke kamarnya.
Larissa berbalik menghadap Uwak Sodiq. "Maaf, Uwak! Aku sedikit kesusahan membuka pakaianku" ucapnya.
Uwak Sodiq memberenggut kesal" kamu sih, sudah dibilang berulang kali kalau mau ke sini jangan pakai pakaian seperti ini. Pakai saja pakaian yang mudah dibuka. Tapi kamunya nggak pernah nurut."
__ADS_1
Larissa hanya diam, tak berani berkata apa-apa.
"Ya sudah, gitu aja kalau gitu. Sekarang keluarkan payudaramu dan tunjukkan di mana letak benjolan itu berada."
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Larissa menurut begitu saja perintah Uwak Sodiq dan menunjukkan di mana letak benjolan itu berada. "Ini Uwak, benjolannya ada di sini" ucapnya.
Perlahan Uwak Sodiq meletakkan telapak tangannya diatas payudara Larissa tepat dimana benjolan itu berada. kemudian ia mengusap payudara Larisda dengan gerakan memutar.
Larissa diam. Sejauh ini apa yang dilakukan Uwak Sodiq terhadapnya masih dalam batas kewajaran. Karena yang ia lakukan saat ini sama dengan yang ia lakukan sebelumnya. Hanya saja saat itu ia melakukannya dalam kondisi Larissa berpakaian lengkap.
Namun kejadian selanjutnya membuat Larissa sangat sangat terkejut. Bahkan ia tak sempat memberontak karena begitu cepatnya kejadian itu terjadi.
Saat itu secara tiba-tiba Uwak Hamzah mendekatkan wajahnya ke arah Larissa. Kemudian ia menjulurkan lidahnya dan menjilat payudara Larissa. Ia melakukan hal ini sebanyak tiga kali.
Larissa terpaku saat kejadian itu berlangsung. Darahnya membeku. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Ia hanya bisa memalingkan muka sambil memejamkan mata merasakan sentuhan dikulit ***********. Sungguh, ia benar-benar tak menyangka akan kejadian itu.
Larissa terus berlari tanpa menoleh lagi kebelakang. Ia tak peduli dengan Uwak Sodiq yang berteriak memanggilnya karena belum selesai membalurkan ramuan. Tujuannya hanya satu, menghampiri suaminya yang berada di ruang tamu dan segera mengajaknya untuk pulang.
Jarak dari kamar ke ruang tamu tidak terlalu jauh. Dan kini Larissa pun telah berada dihadapan suaminya. "Entik, antarkan aku pulang sekarang. Aku tidak ingin lebih lama lagi disini" ucapnya.
Sekuat tenaga Larissa menahan air mata yang memaksa keluar. Saat itu ada seorang tamu lagi yang datang. Ia tak mau orang lain melihatnya menangis dan menimbulkan kesalahpahaman.
Hamzah menoleh ke arah istrinya saat mendengar namanya disebut. "Loh, kok sudah keluar? Memangnya sudah selesai?" tanyanya kebingungan.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan banyak tanya! Antarkan saja aku pulang sekarang." Larissa terus bersikeras meminta pulang tanpa menjelaskan apapun.
Melihat Larissa terus memaksa, Hamzah pun luluh. "Baiklah, baik! Kita pulang sekarang. Tapi aku pamit dulu pada Uwak Sodiq, ya?."
Larissa diam dan membiarkan suaminya berjalan menghampiri kamar Uwak Sodiq. Ia tak mau menimbulkan kecurigaan bila terus memaksa. Ia takut orang lain curiga dan akhirnya mengetahui apa yang terjadi padanya di kamar tadi.
Saat Hamzah sampai di depan pintu dan ingin mengetuknya, secara bersamaan pula Uwak Sodiq membukanya. "Eh, Hamzah. Ada apa kesini?" tanyanya. Sikapnya sudah kembali ke sediakala seakan tak terjadi apa- apa tadi.
"Em...ini Uwak, Kami mau langsung pamit pulang" ucap Hamzah.
"Loh, kok buru-buru? Nggak mau minum-minum dulu?."
"Nggak usah, Uwak, makasih. Sepertinya Larissa kecapean, makanya ia minta untuk langsung pulang."
Mendengar nama Larissa disebut tubuh Uwak Sodiq sedikit bergetar. Ia berdeham untuk mengatasi keadaannya agar Hamzah tak curiga. "Ya sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan."
"Iya, Uwak. Permisi!." Dan Hamzah pun menghampiri istrinya kembali yang menunggunya tak sabar di ruang tamu.
"Ayo, kita pulang sekarang. Aku sudah pamit sama Uwak tadi."
Tanpa banyak kata Larissa berjalan keluar diikuti oleh suaminya dibelakang. Tapi saat ia sudah berada di depan pintu, ia malah menoleh kembali ke belakang. Saat itulah secara tak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Uwak Sodiq.
Uwak Sodiq tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia memanfaatkan waktu singkat itu untuk mengancam Larissa agar tak menceritakan kejadian tadi pada suaminya walau hanya dengan isyarat.
__ADS_1
Meskipun singkat namun Larissa mengerti akan isyarat itu. Ia segera berbalik dan menarik lengan suaminya agar lebih mempercepat langkahnya lagi.
Sepanjang perjalanan Larissa hanya diam dan tak menanggapi suaminya yang mengajaknya bicara. Ia terlalu syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya.