Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 42


__ADS_3

Iqbal marah besar saat mendengar pengaduan ibu tentang sikap Hamzah tadi padanya. Mukanya merah padam, giginya gemeletak, tangannya terkepal erat. "Kemana dia sekarang? Biar aku kasih pelajaran agar tak kurang ajar sama orangtua!" teriaknya menggelegar.


Larissa bisa memaklumi kemarahan kakaknya. Hati anak mana yang tega melihat ibunya berurai air mata. Hanya satu yang ia sayangkan, kenapa kakak tidak mencari kebenaran dulu sebelum marah. Padahal kejadian tadi hanya salah paham.


Melihat kemarahan Iqbal, Larissa segera menggendong anaknya dan keluar rumah untuk mencari keberadaan Hamzah. Ia harus bisa menemukannya lebih dulu ketimbang kakaknya. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.


Larissa sangat tahu bagaimana watak kakaknya. Ia keras, tidak bisa dihentikan bila sedang marah. Hamzah pun memiliki watak hampir sama dengan Iqbal. Bisa dikatakan sebelas dua belas dengannya.


Dulu mereka berdua pernah saling serang dan melukai hanya karena salah paham. Itu sebabnya larissa bergegas mencari suaminya saat melihat kemarahan Iqbal. Ia tak ingin suaminya saling menyakiti lagi dengan sang kakak. Malu dilihat orang, hampir tiap hari selalu ribut.


Tempat pertama yang Larissa datangi adalah rumah mertua. Dia berpikir kemungkinan besar suaminya ada disana. Dengan diantar oleh tetangga sebelah, ia tak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana. Kebetulan tetangga tadi sempat melihat kejadian itu.


Tapi sesampainya disana, ternyata rumah dalam keadaan tertutup. Menurut tetangga sebelah mertuanya tidak ada dirumah sejak tadi sore.


Larissa tak menyerah, ia mendatangi rumah Bibi Hamzah untuk menanyakan keberadaan suaminya, barangkali saja ia tahu.


Sesampainya didepan rumah Bibi, Larissa mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Assalamualaikum!."


"Siapa?" terdengar suara sahutan dari dalam rumah.


"Ini Larissa, Bi!."


Kriet....pintu pun dibuka.


"Ada apa kamu kesini jam segini?"


"Apa Kak Hamzah ada disini, Bi?."


"Tidak! Hamzah tidak ada disini. Emangnya ada apa kamu mencarinya? emangnya tadi dia tidak pamit mau kemana?" jawab Bibi. Ia mencecar Larissa dengan berbagai pertanyaan yang membuat Larissa semakin khawatir.

__ADS_1


"Kak Hamzah tidak bilang, Bi. Itu sebabnya aku mencarinya."


"Sebenarnya ada ada? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Bibi lagi. Ia mencium jika ada yang tidak beres saat melihat ekspresi Larissa.


"Aku dan kak Hamzah tidak bertengkar. Hanya saja...." Larissa terlihat ragu untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Hanya saja apa?" Kecurigaan Bibi semakin bertambah melihat keraguan Larissa.


"Emm...." Larissa masih ragu untuk bercerita.


"Katakan! kalau kamu tidak cerita, Bibi tidak akan bisa membantu" desak Bibi.


Mau tidak mau, akhirnya Larissa pun menceritakan kejadian tadi. "Sebenarnya tadi kak Hamzah....." Ia pun menceritakan semuanya hingga berakhir dengan perginya Hamzah. Ia juga menceritakan kemarahan Iqbal dan niatnya untuk membuat perhitungan dengan suaminya itu.


"Itulah sebabnya aku mencari kak Hamzah, Bi. Aku takut mereka baku hantam lagi seperti dulu" ucap Larissa mengakhiri ceritanya.


Bibi terlihat pucat mendengar cerita Larissa. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang sama dengan Larissa. "Ya Allah, ini bagaimana? Mana kak Baskoro dan istrinya tidak ada dirumah lagi" ucapnya penuh kecemasan.


"Bibi kan tahu sendiri bagaimana sifat kakakku. Ia kalau sedang marah sulit untuk dihentikan. Tidak ada yang berani mendekatinya kalau sudah begitu. Aku tidak mungkin bisa meredam amarahnya."


"Itu sebabnya aku mencari kak Hamzah. Akau khawatir kalau dia kenapa-napa. Terlebih sifat kak Hamzah juga sama dengan kakakku. Mereka pasti sama-sama tidak mau mengalah."


Bibi membuang nafas kasar. Ia mengusap wajahnya gusar. "Lalu bagaimana kalau sudah begini?". Bibi semakin kalut. Ia khawatir akan keponakannya.


"Aku juga bingung, Bi. Itu sebabnya aku mencari Bapak. Barangkali kalau sama Bapak, kak Hamzah mau menurut. Tapi nggak tahunya Bapak malah tidak ada dirumah" ujar Larissa. Dahinya berkerut, bibir ia gigit sendiri, tangan gemetar hingga mengeluarkan keringat dingin. Menandakan betapa ia sangat khawatir akan keselamatan suaminya.


Bibi mondar-mandir keluar masuk rumah lagi, mencoba mencari seseorang diluar yang mungkin bisa dimintai tolong.


Fatim yang sedari tadi berada dalam gendongan Larissa pun ikut menangis. Ia seakan ikut merasakan kecemasan yang dirasakan oleh ibunya.


Larissa membuka kancing baju dan memberikan ASI nya pada Fatim. "Jangan nangis lagi ya, nak. Kita do'akan semoga ayahmu tidak kenapa-kenapa" ujarnya sambil mengusap kepala anaknya.


Ditengah-tengah kekhawatiran, Baskoro pun tiba bersama dengan istrinya. Seakan memberi angin segar ditengah situasi yang mencekam.

__ADS_1


Bibi dan Larissa bernafas lega melihat kedatangan Baskoro. Cepat-cepat Bibi menghampirinya. "Kak Baskoro, cepat cari anakmu. Dia dalam bahaya!" ujarnya dengan nafas yang memburu.


Baskoro yang baru selesai mematikan mesin becaknya dan tidak tahu menahu dengan apa yang yang terjadi pun bingung. Ia mengernyitkan dahi tanda kebingungannya. "Hamzah dalam bahaya? Maksudnya gimana? memang apa yang sudah terjadi?."


Bibi pun menceritakan kronologi kejadian tadi secara singkat. "Makanya sekarang cepetan cari anakmu. Aku takut dia diapa-apain sama Iqbal. Apalagi tadi kudengar ia minta bantuan temannya untuk mencari Hamzah."


Perkataan Bibi memang benar. Tadi saat ia keluar masuk rumah, ada dua orang lewat depan rumahnya yang mengatakan bahwa Iqbal mencari bantuan untuk memberi pelajaran pada Hamzah. Itulah mengapa Bibi semakin khawatir akan keselamatan keponakannya.


Mendengar penuturan Bibi, Wajah Baskoro seketika berubah pucat. Ia mengusap dadanya untuk menenangkan diri. "Astaghfirullah! Ya Allah, kenapa bisa jadi begini?."


Pandangan Baskoro beralih pada Larissa. ingin bertanya suatu hal padanya. "Nak, jam segini suamimu biasanya kemana?."


Larissa mencoba mengingat-ingat kebiasaan suaminya setiap hari, terutama pada jam segini. "Pada jam segini, biasanya kak Hamzah ke rumah Uwak Shodiq, Pak!" jawabnya.


"Kali begitu, coba kamu pergi kesana. Barangkali suamimu ada disana sekarang!."


"Baik, Pak!." Larissa segera bangkit dari duduknya dan membetulkan tali gendongan Fatim.


"Anakmu lebih baik ditinggal disini saja, Nduk! Takutnya nanti kenapa-napa" ujar Baskoro menghentikan Larissa.


"Baik, pak!" Larissa tak membantah ucapan Baskoro, karena ia juga merasa jika hal itu memang lebih baik. Ia pun bergegas pergi ke rumah Uwak Shodiq.


Uwak Shodiq adalah guru silat sekaligus juragan Hamzah yang sekarang. Selain itu ia juga masih saudara Bibi dari Hamzah, namun berbeda ibu. Ia jugalah yang mengajarkan ilmu mistis pada Hamzah.


Saat Larissa hampir mendekati rumah Uwak Shodiq, Larissa melihat suaminya tengah duduk bersama Iqbal diatas amben dengan Uwak Shodiq sebagai penengah. Posisi mereka ada didekat pantai.


Larissa pun bergegas menghampiri mereka. Sekilas Hamzah menengok kearahnya saat mengetahui kedatangannya. Tapi itu hanya sekejap, ia kembali fokus dengan perbincangan mereka.


"Awas saja kalau kamu membuat ibuku menangis lagi. Aku akan membuat perhitungan denganmu" ucap Iqbal seraya bangkit dari duduknya.


"Iya ya, terserah apa maumu!" jawab Hamzah sinis, tak gentar sedikitpun dengan ancaman Iqbal.


Iqbal segera meninggalkan tempat itu. Ia melewati Larissa tanpa mengucap sepatah kata. Sedang Hamzah memandang kepergian Iqbal dengan sorot mata sinis.

__ADS_1


__ADS_2