Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 112


__ADS_3

Hamzah bergegas menemui Larissa di puskesmas begitu mendengar kabar jika istrinya dirawat di sana. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat sendiri perubahan warna di payudara sang istri saat membantunya melepas pakaian. "Astaga, Larissa! Kenapa payudaramu bisa memerah seperti terbakar seperti ini?."


Larissa turut memperhatikan ***********. Dan seperti halnya Hamzah, ia pun sama terkejutnya saat melihat *********** sendiri. "Astaga! Aku juga baru tahu kalau payudaraku seperti ini."


Hamzah segera memakaikan baju baru ke tubuh Larissa. Dan setelah usai, ia mendudukkan tubuh sang istri dan menanyainya, "Coba sekarang kau ingat-ingat kembali, apa saja yang kau makan kemarin?."


"Kemarin?" tanya balik Larissa


"Ya!" jawab Hamzah dengan tak sabar.


Larissa diam, mencoba mengingat-ingat makanan apa saja yang masuk ke perutnya kemarin. Setelah ingat, ia sebutkan satu persatu makanan yang dimakannya kemarin pada Hamzah.


Hamzah menghela napas berat. Dihempaskannya punggungnya ke sandaran kursi. "Tidak mungkin kau sampai begini kalau cuma itu saja yang kau makan," mendesau lesu.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Kemarin aku hanya memakan makanan yang aku siapkan untuk sarapan kemarin. Dan yang aku masak juga ikan yang kau bawa pulang. Jadi tidak mungkin penyebab dari semua ini itu karena makanan. Lagipula kau kan tahu sendiri, kalau selama ini aku tidak pernah alergi terhadap makanan apapun."


Hamzah diam, berpikir keras untuk mencari penyebab dari melepuhnya kulit payudara istrinya. "Coba kau ingat-ingat sekali lagi, barangkali kau kelupaan makan sesuatu gitu? karena aku yakin, semua ini tidak mungkin terjadi begitu saja, pasti ada sesuatu yang menjadi penyebabnya."


Larissa kembali mengingat-ingat apa saja makanan yang dimakannya kemarin, Tapi ia sangat yakin jika ia sudah mengatakan semuanya pada Hamzah. Namun detik berikutnya ia baru ingat jika kemarin ia juga memakan bedoyo yang dibelinya di dekat sekolahan Zahra. "Oh ya, aku ingat!" Pekiknya tiba-tiba hingga membuat Hamzah terjingkat oleh suara pekikannya. "Kemarin aku sempat memakan bedoyo di sekolahan. Dan setelah memakannya, aku merasa tubuhku terasa sakit semua."


Hamzah mengerutkan dahi. "Bedoyo?" tanyanya memastikan.


"Iya, bedoyo!."


Mendengar pengakuan istrinya Hamzah tak langsung menarik kesimpulan begitu saja. Dalam benaknya ragu, tidak mungkin istrinya sampai seperti ini jika hanya karena memakan bedoyo saja. "Apa kau makan bedoyo beserta dengan sambal terasinya juga?," tanyanya memastikan.


"Ya iya lah!, mana enak makan bedoyo tanpa sambal terasi. Itu ibarat makan sayur tanpa garam, rasanya hambar!."


Hamzah menjentikkan jari. "Tuh kan, bener! sudah aku duga, semua ini pasti ada penyebabnya. Sekarang terbukti kan, kalau penyebab dari semua ini adalah sambal terasi dari bedoyo yang kau makan."


Larissa mengerutkan dahi bingung, belum mengerti maksud perkataan suaminya. "Maksudmu?."

__ADS_1


Hamzah membenarkan posisi duduk dengan menegakkan kembali punggungnya menghadap Larissa. "Jadi gini, Larissa, aku sangat yakin kalau penyebab dari kemerahan di payudaramu itu bukan karena bedoyonya, melainkan karena sambal terasinya."


Larissa tertawa kecil mendengar penjelasan suaminya. "Mana mungkin karena sambal terasi? Kau kan tahu sendiri, hampir setiap hari aku memakannya. Tapi coba kau ingat, apa pernah terjadi sesuatu padaku setelah memakannya."


Hamzah kembali mendesau mendengar istrinya tak mempercayai ucapannya. "Itu memang benar! karena saat itu keadaanmu baik-baik saja, jadi tubuhmu tidak menunjukkan reaksi apapun. Tapi masalahnya sekarang kau baru selesai menjalani operasi, jadi kau harus betul-betul memperhatikan apa saja makanan yang kau makan. Kau tak bisa abai begitu saja dengan menyamakan apa yang kau makan saat sehat dan saat sakit seperti ini."


Larissa diam dengan kepala tertunduk mendengar nasihat panjang lebar suaminya.


Melihat istrinya diam Hamzah pun meneruskan nasihatnya. " Sekarang coba kau pikir, sambal terasi itu bahan utamanya apa? terasi, kan!"


Larissa menjawab hanya dengan anggukan kepala.


"Sekarang aku tanya, terasi itu bahan utama pembuatannya apa? udang, kan!."


Kembali Larissa hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dalam hati bergumam, "Dia yang bertanya, dia sendiri yang menjawab."


"Kau tahu kan, kalau udang itu sering memicu alergi seperti gatal-gatal dan kulit kemerahan, apalagi dalam kondisi tubuh sedang tidak fit seperti ini."


"Jangan cuma bilang iya iya saja, tapi dilakukan. Kalau sudah kayak gini, siapa yang repot? Kita juga kan?."


Larissa setia mendengarkan ocehan suaminya yang tak kunjung berhenti seperti mesin lokomotif walau hatinya merasa kesal.


Sementara itu Hamzah tetap meneruskan ocehannya tak peduli jika istrinya merasa kesal atau tidak. Hingga lama-kelamaan Larissa tak sanggup menahan kekesalannya. "Sudah cukup, jangan bicara lagi! Aku itu sedang sakit, bukannya dihibur, malah dimarah-marahi terus," bibirnya mengerucut ke depan hingga beberapa senti.


"Aku memarahimu itu demi kebaikanmu sendiri. Kau tahu itu kan?."


"Iya, aku tahu! Tapi kalau kau kesini cuma buat marah-marah, lebih baik sekarang kau pulang lagi. Aku bisa disini sendirian seperti kemarin."


Hamzah mendesau pelan. Iya, aku minta maaf. Aku tidak akan memarahimu lagi."


Meski suaminya sudah meminta maaf dan mengatakan tidak akan marah-marah lagi, namun Larissa masih saja kesal, bahkan kali ini ia memutar tubuh hingga membelakangi suaminya.

__ADS_1


Hamzah kembali mendesau. Ia tahu saat ini istrinya sedang merajuk. Ia pun mencoba untuk terus merayunya. "Udah dong marahnya. Aku tadi kan udah bilang minta maaf!."


Larissa mengabaikan permintaan maaf sang suami dan terus membelakanginya.


"Ayo dong, Larissa, jangan cemberut terus. Kalau kau cemberut, nanti cantiknya hilang lho!."


Dikatai seperti itu oleh suaminya, tentu hati Larissa semakin dongkol. "Enak saja bilang gitu, emangnya aku anak kecil, apa?."


Tak berhasil membuat istrinya berhenti merajuk, lama-kelamaan Hamzah pun capek. Hingga kemudian terbesit sebuah ide di kepala yang mungkin bisa menghilangkan kekesalan sang istri. "Kalau kamu tidak mau maafin aku ya sudah, aku akan pulang lagi saja!" berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


Larissa tetap tak menggubris kata- kata suaminya dan menganggap hanya ingin mengancam saja. Namun saat Hamzah menekan handle pintu ia berbalik cepat. "Tunggu dulu, jangan pergi! Aku tidak mau sendirian disini."


Hamzah menyunggingkan senyum kemenangan mendengar sang istri mencegahnya pergi. Tentu saja ia tak benar-benar ingin meninggalkannya sendirian, itu hanya akal-akalannya saja untuk membuat Larissa berhenti merajuk, dan ternyata itu berhasil.


Hamzah berbalik dan melangkah mendekati istrinya. "Kalau kau tak ingin aku pergi, maka maafkanlah aku!."


Larissa mengerucutkan bibir. "Iya iya, aku maafin!" ucapnya setengah hati.


Tak puas dengan jawaban sang istri, ia pun memintanya untuk tersenyum. "Kalau kau benar-benar memaafkanku, maka berikan aku senyummu yang paling cantik!."


Larissa merasa enggan melakukan perintah suaminya lantaran masih kesal. Ia hanya menarik sudut bibirnya sendikit.


Melihat istrinya tak mau memberikan senyuman, ia pun kembali mengancam, "Ya sudah kalau tidak mau senyum, aku akan pergi saja dari sini" memutar tubuh kembali dan berpura-pura melangkah.


"Jangan!" teriak Larissa. "Iya, aku senyum," memberikan senyum tercantiknya.


Hamzah ikut tersenyum bahagia melihat senyuman di wajah sang istri. " Kau sangat cantik kalau sedang tersenyum seperti ini."


Larissa merasa malu mendengar sang suami memujinya. "Sini peluk," ucapnya manja, kedua tangan ia rentangkan ke samping.


Hamzah geleng-geleng melihat kemanjaan sang istri. Ia pun mendekat dan memeluk tubuhnya. "Dasar manja! Gitu tadi pakai acara ngambek segala!."

__ADS_1


__ADS_2