
Bu Ani meminta Larissa agar mau meminjamkan seluruh tabungannya pada Iqbal untuk keperluan membeli perahu baru. Rencananya Iqbal akan membeli perahu berjenis boat yang harganya puluhan juta rupiah dan tentu jauh lebih mahal ketimbang perahu biasa. Padahal saat itu Iqbal tak memiliki uang sepeserpun karena baru saja tertimpa musibah.
Adam, anak lelaki Iqbal bolak-balik masuk Rumah sakit karena step. Yang mana untuk membayar biaya perawatannya saja harus menjual beberapa perhiasan sang ibu.
Sebenarnya Larissa merasa kecewa akan sikap ibunya yang terkesan pilih kasih. Walau selama ini memang itu yang ia lakukan. Namun untuk menolak secara langsung, ia tak memiliki cukup keberanian. Ia khawatir ibunya tersinggung dan sakit hati karena penolakannya.
Larissa pun berkata akan membicarakan hal ini pada suaminya terlebih dahulu. Pasalnya ia tak ingin mengambil keputusan tanpa persetujuan darinya. Dan itu memang hal yang sangat benar. Karena suami istri memang sudah seharusnya mengambil keputusan bersama.
Usai menyapu halaman depan, Larissa menghampiri suaminya yang saat itu tengah sibuk membuat pentol di dapur.
Larissa sedikit takut membicarakan hal ini dengan suaminya. Ia tahu benar, Hamzah sangat menghindari yang namanya hutang-piutang.
Bukan maksud untuk tak mau membantu, tapi lebih untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pasalnya pada zaman sekarang, pihak peminjam lebih galak dari orang yang meminjami. Dan terkadang kita seperti pengemis hanya untuk meminta uang kita kembali.
Hal-hal seperti itulah yang ingin Hamzah hindari. Apalagi jika yang meminjam adalah keluarga sendiri. Maka akan lebih susah lagi untuk meminta uang kita kembali. Bahkan terkadang bisa timbul pertengkaran bila kita memaksa.
Meski tahu akan hal itu, Larissa tetap mencoba mengatakannya. Karena biar bagaimanapun Hamzah berhak tahu yang sebenarnya. Dan Larissa tak ingin menyembunyikan apapun dari suaminya itu.
Tapi sebelum mulai bicara, Larissa memastikan dulu apakah suaminya dalam kondisi yang bisa diajak bicara. Dan ia mendapati saat itu suasana hati Hamzah memang sedang baik.
Larissa berpikir sejenak, mencari kata-kata yang pas untuk suaminya. Dan setelah ia mendapat kata-kata yang tepat, ia mulai mendekati sang suami untuk mengutarakannya.
"Entik, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Larissa. Ia terlihat sangat berhati-hati dalam setiap kata-katanya.
"Hal penting apa? katakan saja!" jawab Hamzah tanpa menghentikan aktivitasnya membuat pentol. Ia terlihat bersenandung ria sambil melakukan aktivitasnya itu.
Melihat reaksi suaminya yang terlihat santai, Larissa jadi memiliki keberanian lebih untuk mengutarakan masalah tadi. "Aku harap kau mendengarkan ku baik-baik dan tidak menyela sebelum aku selesai bicara. Aku juga mohon agar kau tak salah paham, apalagi marah padaku."
Mendengar ucapan istrinya, Hamzah pun menghentikan aktivitas. Dipandangnya wajah Larissa lekat-lekat. "Ada masalah apa? kenapa kau terlihat sangat tegang?."
__ADS_1
Larissa menghela napas panjang. Mengumpulkan segenap keberanian yang ia punya. "Tadi ibu cerita padaku, katanya kak Iqbal ingin membeli perahu boat."
"Terus?" tanya Hamzah sambil mengerutkan dahi, tak mengerti maksud perkataan Larissa. Tapi Larissa malah diam hingga membuatnya tak sabar.
Larissa kembali menghela napas panjang sebelum berucap lagi. "Jadi gini. Tadi ibu......." Dan ia pun menceritakan semua obrolannya dengan ibu tadi tanpa ada yang ditutup-tutupi. Semua sesuai dengan apa yang terjadi.
"Jadi, bagaimana menurutmu?." Larissa mengakhiri ceritanya dengan menanyakan pendapat dari suaminya.
Hamzah terlihat berpikir, tapi tak berselang lama ia pun mulai bicara. "Kalau menurutku, sebaiknya......"
Belum sempat Hamzah mengutarakan pendapatnya, Bu Ani yang saat itu sedang melintas dan mendengar obrolan mereka berdua malah memotong ucapan Hamzah. "Kalau ada sepuluh juta, ya sepuluh juta!" ucapnya. Dan setelah berkata seperti itu, ia malah berlalu begitu saja tanpa ada beban dan rasa bersalah sedikitpun.
Larissa melongok mendengar ucapan ibunya. Tak habis pikir dengan jalan pikirannya. "Mudah sekali ibu berkata seperti itu. Memangnya cari uang gampang kayak orang memetik daun" gerutunya dalam hati.
Memang kebetulan saat itu uang tabungan Larissa berjumlah sepuluh juta rupiah. Dan baru tadi pagi ia menyetorkannya ke Bank. Namun ucapan ibu tadi membuat dirinya sangat kesal.
Jika Larissa hanya merasa kesal karena ucapan Bu Ani tadi, lain halnya dengan Hamzah. Ia terlihat sangat marah. Bahkan wajahnya sampai memerah karena begitu marahnya. "Enak sekali kalau ngomong! Emangnya uang tinggal nyetak apa?."
Kemarahan Hamzah tak berhenti sampai disitu. Ia kembali berucap, "Jangan pernah kamu memberi pinjaman pada Iqbal walau hanya satu rupiah. Aku tidak mengizinkannya. Ingat! aku tak mengizinkan." ditekankannya pada kalimat tidak mengizinkan.
Begitu tegas kata-kata Hamzah. Seakan haram hukumnya jika sampai Larissa berani melanggar perintahnya. Matanya menatap tajam kearah istrinya yang sudah ketakutan setengah mati.
"Orang mau pinjam tapi nggak ada tata Krama sama sekali. Dimana-mana orang yang butuh yang menghampiri, bukan orang yang dibutuhkan. Ini malah kebalikannya."
"Kalau Iqbal niat pinjam uang, harusnya ia bicara baik-baik dengan kita. Bukan dengan cara seperti itu tadi. Apalagi menyuruh ibumu yang bicara. Benar-benar nggak ada otak."
"Kalau dia menganggap kita saudara, harusnya tidak berbuat seperti itu."
Amarah Hamzah benar-benar meledak, membuat Larissa semakin ketakutan. Ia hanya bisa menundukkan kepala. tak berani menatap wajah suaminya, apalagi membantah. Karena Hamzah akan bertambah marah jika dibantah kata-katanya. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Nanti akan aku sampaikan pada ibu" ucapnya lirih.
__ADS_1
Larissa segera berlalu menjauhi suaminya agar tak membuatnya semakin marah. Ia juga memberikannya sedikit waktu agar bisa tenang kembali.
Larissa pun menemui ibunya untuk mengatakan keputusan suaminya tadi. Sedangkan Hamzah kembali melanjutkan kegiatannya membuat pentol.
Sebenarnya tadi Larissa berniat membujuk suaminya agar mau meminjamkan uang pada Iqbal. Walau ia tak bisa memberikan pinjaman sesuai dengan yang diinginkan ibunya, tapi setidaknya ia bisa sedikit membantu. Kerena ia sendiri pun harus memiliki simpanan untuk berjaga-jaga bila ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti sakit atau sebagainya.
Larissa adalah tipikal orang yang mudah tersentuh hatinya. Ia merasa kasihan dan tak tega melihat orang kain kesusahan meski orang itu sering membuatnya sakit hati. Itulah mengapa ia memutuskan untuk membujuk suaminya. Namun sang ibu malah mengatakan hal yang membuat Hamzah tersulut emosinya. Dan ucapannya tadi telah mengacaukan segalanya.
Bila sudah seperti ini, Larissa tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti perintah suaminya. Ia tak ingin membuat suaminya marah padanya dengan membantah keputusannya
*
*
*
Hai reader tersayang jumpa lagi dengan author. Makasih banyak atas dukungannya selama ini. Semoga readers tidak kecewa dengan karya author yabg masih berantakan
Sambil nungguin kelanjutannya, mampir dulu yuk ke karya pertama author, judulnya SAY NO TO DRUGS.
Berkisah tentang seorang gadis bernama Kania Larasati. Ia adalah seorang anak broken home yang kesucian direnggut secara paksa oleh kekasihnya sendiri.
Setelah benih ditanam dan kini bertunas sudah, sang kekasih malah tega mencampakkannya dan tidak mau mengakui bayi dalam kandungannya. Dan saat Papanya tahu, ia malah diusir dari rumah sehingga membuatnya semakin terpuruk dan jatuh dalam jerat narkoba.
Seseorang mencoba membantunya untuk bangkit kembali. Namun sang mantan kekasih malah kembali lagi untuk menghancurkannya.
mampukah ia bangkit dari keterpurukannya? Dan mampukah ia membuka hati untuk menerima kehadiran cinta lagi?
__ADS_1
Pingin tahu cerita selengkapnya, makanya buruan mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak juga ya.....🤗🤗🤗