Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 68


__ADS_3

Pertengkaran mereka ternyata tak berhenti sampai disitu. Keesokan hari setelah mengantar Zahra ke sekolah Larissa kembali menuju area pembangunan rumahnya untuk merapikan beberapa material bangunan yang masih tersisa. Sontak hal itu membuat Hamzah bertambah berang. Namun Larissa tak peduli dan seakan menutup mata dengan kemarahan suaminya itu.


Seandainya Hamzah tak bersikap seperti kemarin, mungkin Larissa tak kan bersikap seperti itu. Namun nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur terjadi.


Kemarin Larissa memang berkata bahwa ia masih sakit hati dengan keluarga Hamzah, namun bukan berarti ia tak mau memberikan apa yang mertuanya minta. Ia berkata seperti itu hanya ingin menghilangkan beban dalam hati. Namun sayangnya Hamzah tak mengerti akan hal itu. Dan bukannya menenangkan dengan bersikap lemah lembut, Hamzah malah menambah beban hatinya itu dengan membentaknya. Hingga membuat luka hati Larissa semakin bertambah parah.


Sebenarnya ada hal lain kenapa Larissa ragu untuk memberikan sisa bahan bangunan kemarin. Ada sebuah mitos yang Larissa percaya, yaitu pamali bila memberikan bahan bangunan bila pengerjaannya belum selesai. Dan bila dilanggar bisa menimbulkan masalah dikemudian hari. Namun Larissa bersedia melanggar pantangan itu andai Hamzah mau bersikap lebih lembut lagi padanya. Namun sayangnya semua itu hanya hayalan belaka.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Larissa kembali pulang. Dan kedatangannya itu langsung disambut dengan amarah Hamzah. "Kalau kau tidak mau memberikan sisa bahan bangunan, tidak apa. Tapi jangan berbuat seperti ini. Kau kira keluargaku akan mengambil barang tanpa seizin dariku?."


"Entah! Aku tak mau menuduh. Kau pikir saja sendiri. Aku hanya mengamankan apa yang aku miliki" jawab Larissa cuek sambil mengedikkan bahu. Rupanya luka hati yang Hamzah torehkan kemarin membuat perubahan dalam diri Larissa. Hingga kini ia berani berkata kurang sopan padanya.


Hamzah mendengus kesal. "Kau jangan sombong, Larissa! Kalau kemarin aku tidak ikut turun tangan langsung dalam proses pembangunan, maka tidak mungkin rumah itu berdiri sekarang."


Mendengar ucapan Hamzah, Larissa tak terima. "Kau pikir di rumah aku hanya duduk santai sambil rebahan saja sehingga kau berkata seperti itu? Apa kau lupa siapa yang banting tulang mencari nafkah selama ini? Kau lupa siapa yang pontang-panting mencari pinjaman uang kemarin? Itu semua adalah aku."


Sejenak Larissa berhenti bicara, tapi tak berselang lama ia melanjutkan kembali ucapannya. "Jadi kalau ada yang pantas untuk menyombongkan diri, itu aku, bukannya kau!."


"Sekarang kau pikir, mau sekeras apa kau turun tangan untuk membantu pengerjaan rumah, tanpa adanya uang, apa semua akan terwujud?."


Nafas Larissa berderu kencang, mata membulat lebar. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Bahkan urat lehernya terlihat jelas saat mengeluarkan semua amarahnya.


Ya, hari itu amarah Larissa meledak. Semua luka hati yang ia pendam selama ini ia ungkapkan semua. Dan peristiwa semalam adalah puncak dari segala amarahnya.


Selama ini Larissa sudah cukup bersabar dalam menghadapi semua perlakuan Hamzah padanya. Ia juga diam dan menerima semua tuduhan serta perlakuan buruk keluarga Hamzah padanya. Namun sekarang tidak lagi. Ia tak mau terus-menerus disalahkan dan menjadi pihak yang tersakiti.


Larissa tak menyalahkan jika Hamzah ingin berbuat baik pada keluarganya, karena itu memang sudah menjadi kewajiban seorang anak pada orangtuanya. Namun sebelum itu, bukankah sudah seharusnya ia mempertimbangkan perasaan istrinya lebih dahulu. Apalagi saat ini Hamzah sendiri telah berkeluarga.


Secara tak langsung Hamzah tadi berkata, bahwa berkat dialah rumah mereka dapat berdiri sekarang. Ia lupa bahwa dibalik itu semua Larissa lah yang lebih berjasa. Karena selama ini dialah yang bekerja keras membanting tulang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sedang Hamzah hanya sekedar membantu saja. Jadi sudah sewajarnya jika Larissa marah dan tak terima dengan ucapan suaminya tadi.

__ADS_1


Mendengar semua pertanyaan Larissa, Hamzah hanya diam membisu. Ia tak mampu menjawab satupun dari pertanyaan istrinya, karena apa yang ia katakan semua memang benar.


Air mata Larissa berderai saat ia meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam. Ia tak mau menjadi istri yang durhaka terhadap suami. Namun secara tak langsung Hamzah memaksanya untuk melakukan itu.


Setelah puas meluapkan semua emosi, Larissa memilih keluar rumah untuk sejenak menenangkan diri. Ia tak peduli bahwa saat itu jualannya telah tertata rapi.


Hamzah menatap nanar kepergian Larissa tanpa bermaksud untuk mencegah. Mungkin saat itu ia juga ingin menenangkan diri dahulu. Apalagi saat itu mereka sama-sama terbakar emosi. Namun ada satu hal yang tidak ia sadari, yaitu akibat dari pertengkaran mereka hari ini.


Ya, karena pertengkaran mereka hari ini, perlahan perasaan cinta dalam hati Larissa untuk dirinya telah menghilang.


Larissa sengaja menutupi wajahnya dengan kerudung. Agar sembab diwajahnya tidak terlihat oleh orang lain. Ia tak mau orang menggunjingkan dirinya lagi karena melihat kondisi wajahnya saat itu. Walau tak dapat dipungkiri jika tetesan air mata masih terus mengalir diwajah cantiknya.


Larissa pergi mencari tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Dan pilihannya jatuh pada sebuah tempat di tepi Pantai. Dimana disana ada sebuah gubuk kecil yang cukup nyaman untuk sejenak beristirahat.


Larissa duduk terpaku di pinggiran gubuk. Pandangan mata menatap kearah laut. Dan hembusan angin oantai yang sejuk mampu menenggelamkan Larissa dalam hayalan.


Pikiran Larissa menerang. Mencoba mencerna kembali apa yang sudah terjadi. Dan ingatannya kembali ke saat-saat indah yang mereka lalui bersama dulu.


Namun semua kebahagiaan itu telah hilang. Sejak peristiwa keguguran yang Larissa alami, sejak itu pulalah sikap Hamzah berubah. Entah apa yang membuat perubahan pada dirinya itu. Karena hingga sekarang Larissa pun tak tahu apa penyebabnya.


Larissa rindu akan saat-saat bahagia itu. Ia tak tahu apakah suaminya juga merindukan hal yang sama. Ia hanya berharap semoga suatu hari kan ada keajaiban yang mampu membuat mereka kembali bahagia.


*Tidakkah pernah engkau pikirkan perihnya luka hati ini


Kau tikam dengan duka dan nestapa


Meradang tak kan terobati


Ketika itu digubuk tua

__ADS_1


Aku bagai bidadarimu


Kau cumbu rayu dan kau belai sayang


Walaupun dulu hidup kita serba kekurangan


Tetapi kini hilang sudah


Canda ria bersamamu


Senyum manismu penyejuk hati


Telah musnah......


Hilang bersama gubuk tua


Berganti istana megah


Berubah pula sikapmu


Kau campakkan aku


Lupakah kau dengan tikar usang


Sebagai saksi dalam kemiskinan


Bahagia hanyalah milikmu


Sedang sengsara berpihak padaku

__ADS_1


Keringatku pun ikut menyirami tumbuhnya istanamu*.....


__ADS_2