Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 135


__ADS_3

Setelah mendapat sedikit nasehat dan pencerahan dari Baskoro, ayah mertuanya, Larissa bersedia untuk makan. Selain itu ia juga bersedia untuk pulang kembali ke rumah.


Ia sadar, tindakannya yang memilih bersembunyi di rumah mertuanya adalah tindakan yang salah, itu adalah tindakan seorang pengecut. Apalagi menyerah dan membiarkan haknya dirampas orang lain dengan dalih sebuah ketenangan.


Setiba di rumah Larissa belum juga bisa mengistirahatkan mata, masih kepikiran tentang masalah ini. Ia pun mengajak suaminya untuk mengobrol dan saling bertukar pikiran. "Entik, kalau kita memilih untuk tetap tinggal disini, aku yakin kakakku akan terus mengganggu kita. Dia tidak akan pernah berhenti sebelum mendapat apa yang dia inginkan."


Mendengar ucapan istrinya yang terkesan ingin menyerah kembali, Hamzah sedikit tak suka. "Apa artinya sekarang kamu menyerah lagi? Bukankah tadi bapak sudah...."


Belum sempat Hamzah menyelesaikan ucapannya, Larissa sudah memotong. "Dengarkan dulu ucapanku! Aku belum selesai bicara."


Hamzah menghela napas. "Baiklah, teeuskan ucapanmu. Aku akan mendengarkan."


"Jika kita ingin tetap tinggal disini, maka kita harus mencari cara agar kakakku tidak mengganggu kita lagi, atau hidup kita tidak akan pernah tenang. Tapi kita juga tidak boleh menggunakan kekerasan untuk menghadapinya, atau masalah akan semakin rumit."


Sejenak Hamzah diam, memikirkan ucapan istrinya. "Kau sangat benar, Encus! Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kau ada ide?."


"Biarkan aku berpikir sejenak!." Mereka pun saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masimg dan memikirkan cara untuk menghadapi Iqbal kedepannya.


Lama saling terdiam, tiba-tiba Larissa bersuara. "Aha, aku ada sebuah ide yang brilian. Aku yakin cara ini akan membuat kakakku berpikir ribuan kali untuk mengganggu kita lagi," menjentikkan jari tangan.


"Apa idenya? Ayo katakan!."


"Mendekatlah ke sini! Aku akan membisikkannya ke telingamu."


Hamzah merapatkan tubuh ke arah istrinya. Larissa membisikkan rencananya ke telinga suaminya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Larissa usai membisikkan rencananya.


"Ide yang sangat bagus! Kalau perlu kita benar-benar benar melakukan itu," jawab Hamzah penuh semangat.

__ADS_1


Larissa menggeleng lemah. "Aku rasa itu tidak perlu. Aku hanya ingin memberinya pelajaran saja. Biar bagaimanapun dia adalah kakakku."


"Kalau kakakmu saja tak peduli denganmu, lalu untuk apa kau peduli dengannya?"


"Kalau kita melakukan hal yang sama dengannya, itu artinya kita tidak ada bedanya dengan dia. Lagipula aku masih memiliki hati nurani. Setidaknya aku masih memikirkan ketiga keponakanku."


Hamzah terdiam mendengar ucapan istrinya. Ia sadar, hati istrinya itu begitu lembut, tak mungkin ia tega menyakiti hati orang lain. Sayangnya kebaikannya itunsering dimanfaatkan oleh orang lain demi kepentingan mereka.


Sementara Hamzah terdiam, Larissa meneruskan ucapannya. "Sebenarnya semua ini bukan salah kak Iqbal sepenuhnya, ibulah yang menyebabkan semua ini. Andai dulu ibu tidak terlalu memanjakannya dan menuruti semua keinginannya, aku yakin kakakku tidak akan seperti itu."


"Tapi ya sudahlah! Semua sudah terjadi," mendesah lelah. "Tapi satu hal yang harus kakak tahu, aku bukan ibu yang bisa dia paksa seenaknya. Apalagi aku juga sudah memiliki keluarga sendiri."


Hamzah tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dalam hati ia berkata, "Aku senang melihatmu tak mau menyerah seperti ini. Aku harap ini bukan hanya omonganmu saja."


"Satu hal yang aku minta darimu!" lanjut Larissa, sorot mata menatap intens suaminya. "Tolong kendalikan amarahmu dengan baik demi kesuksesan rencana ini. Biarkan kakak melakukan apapun yang ia mau."


"Kita lihat saja nanti. Kalau sampai dia main tangan, apalagi terhadapmu, mana mungkin aku tinggal diam."


Dengan berat hati Hamzah mengiyakan permintaan istrinya. "Akan aku coba sebisa mungkin."


"Itu harus! Semua demi kesuksesan rencana kita."


Malam semakin larut, mereka pun memutuskan segera tidur untuk mengistirahatkan jiwa dan raga setelah ditimpa permasalahan ini seharian tadi.


...****************...


Benar juga dugaan Larissa kalau Iqbal tidak akan berhenti mengganggu sebelum tujuannya tercapai, sebab kali ini pun ia kembali membuat kegaduhan di rumah Larissa.


Melihat kedatangan kakaknya, Larissa tak takut sedikitpun sebab ia sudah memiliki rencana untuk menghadapinya. Ia pun memberi isyarat pada suaminya. "Lakukan semua rencana kita semalam."

__ADS_1


Hamzah mengangguk dan mengerti apa yang harus dilakukannya sekarang. Dengan sebuah handphone di tangan, ia siap merekam semua kejadian di balik sudut yang tak terlihat oleh Iqbal.


Larissa diam terpaku dan membiarkan apa yang dilakukan kakaknya. Ia juga bersikap seolah-olah pasrah dan tak mampu melawan.


Melihat kepasrahan adiknya, Iqbal tersenyum jumawa. "Kalau kau tidak mau menyerahkan sertifikat rumah ini, selamanya aku akan mengganggumu," ucapnya sambil melempar barang-barang Larissa keluar. Ia tak sadar bahwa semua itu sudah terekam oleh kamera ponsel Hamzah.


Setelah mendapatkan hasil rekaman yang memuaskan, Hamzah pun keluar dari persembunyian. "Apa kau sudah puas melakulan pengerusakan disini?" tanyanya dengan bibir tersenyum sinis.


Melihat kemunculan Hamzah yang tiba-tiba Iqbal pun terkejut. "Sejak kapan kau ada disitu?."


Hamzah tak menjawab pertanyaan saudara iparnya dan semakin melangkah mendekat. "Kenapa? terkejut?" tanyanya balik dengan senyum sinis terus tersungging di bibir.


"Apa kau tidak tahu kalau aku berada di rumah seharian? Bahkan aku sudah merekam semua perbuatanmu tadi di kamera handphone ku ini." menunjukkan handphone yang ia gunakan untuk merekam kejadian tadi.


Mendengar pengakuan Hamzah, Iqbal semakin terkejut. Semula ia mengira jika Larissa hanya sendirian dirumah. Itu sebabnya ia berani bertingkah seperti tadi. Ia tak menyangka jika Hamzah bersembunyi di balik tembok untuk merekam semua perbuatannya tadi.


Hamzah tersenyum dingin melihat perubahan ekspresi wajah Iqbal. "Dengan rekaman ini, aku bisa melaporkamu ke pihak berwajib dengan tuduhan pengerusakan dan mengganggu ketentraman. Dan kau akan membusuk di penjara dalam waktu yang lama. Akan aku pastikan kau tidak akan mendapat jaminan."


"Kurangajar! ini semua pasti rencana kalian untuk menjebakku, kan?" teriaknya marah.


"Ya, benar! Seratus buat kamu" ucap Hamzah dingin, kedua tangan terlipat di depan dada.


"Sialan, berikan ponsel itu! Atau aku akan...." merangsek maju hendak merebut ponsel itu dari tangan Hamzah. Namun dengan sigap Hamzah mengelak dan menyimpan ponsel itu dalam saku celana. "Akan apa? Ayo katakan!" tantang Hamzah dingin.


"Kau ingin mengancam kami lagi? Belum takut dengan peringatanku tadi?."


Iqbal mengepalkan kedua tangan bersiap untuk kembali menyerang . Mata berkilat merah, rahang mengeras, gigi gemeletak, menandakan bahwa emosinya sudah berada di puncak.


Hamzah tak takut sedikitpun dengan kemarahan yang Iqbal tunjukkan. Bahkan ia terus menantangnya. "Jadi kau tidak takut dengan peringatan kami tadi? Baiklah aku akan melaporkanmu ke kantor polisi sekarang!."

__ADS_1


Hamzah mengambil kunci motor diatas nakas tak jauh darinya. "Ayo, Larissa! Kita ke kantor polisi sekarang!" ucapnya dengan enteng. Sebelah tangan menggenggam tangan istrinya.


__ADS_2