
Menjelang isya' Hamzah baru pulang. Ia segera membersihkan diri dan menjalankan kewajiban sholat mumpung masih ada waktu. Dan setelah ia selesai sholat ia menghampiri sang istri yang terlihat duduk termenung diatas ranjang.
"Kamu kenapa, sayang?" ucap Hamzah lembut sambil mendudukkan dirinya disamping sang istri.
"Aku tidak apa-apa, Yank. Cuma lagi nungguin kamu selesai sholat" jawab Larissa, sengaja berbohong untuk menutupi semuanya.
"Kamu nggak lagi bohongin aku, kan?" tanya Hamzah menyelidik. Dipandanginya wajah sang istri. Nampak ada sisa-sisa air mata dipeluk matanya. Bahkan wajahnya pun terlihat sangat sembab.
"Beneran, Yank. Aku nggak lagi bohongin kamu. Aku beneran nggak pa pa kok!" ucap Larissa meyakinkan.
"Terus, kenapa ada air mata di matamu?."
"A...aku cuma sedang merindukan sesuatu, itu saja!" jawab Larissa. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang tersisa.
"Beneran? kamu nggak pa pa?."
"I...iya. Aku nggak pa pa. Oh ya, kenapa jam segini kamu baru balik pulang?" tanya Larissa, ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Hamzah tidak terus bertanya soal air mata yang dilihatnya
Hamzah meraih tangan Larissa. perlahan ia kecup tangan itu. "Maafkan aku, Yank. Aku tadi sangat sibuk di pantai. Aku membantu memperbaiki perahu yang berlubang tadi. Tadi aja belum selesai. Besok mau dilanjutin lagi."
"Oh gitu!" jawab Larissa sambil menyunggingkan senyuman yang dipaksakan.
"Oh ya, satu lagi! Nanti malam aku tidak akan melaut dulu, karena perahu yang aku tumpangi kan belum selesai diperbaiki."
"Iya, Yank. Nggak pa pa. Kamu sudah mau makan nggak?."
"Boleh. Kebetulan aku juga sangat lapar!."
Larissa pun segera bangkit dari tempat tidur. Tapi belum sempat ia keluar kamar, sang suami kembali bersuara, "Oh ya, Yank. Tolong sekalian buatkan aku kopi juga. Kepalaku agak pening karena belum ngopi sedari tadi."
Tanpa banyak bicara Larissa pun melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Ia menyiapkan makanan untuk sang suami, tak lupa ia juga membuatkan secangkir kopi.
__ADS_1
"Ini, Yank makanannya. Silahkan dimakan," ucap Larissa sambil menyerahkan sepiring nasi dan lauk pauk pada Hamzah. "Dan ini kopi buatmu. Aku taruh disini dulu, ya" meletakkan kopi diatas nakas.
"Makasih banyak, sayang." Hamzah lantas memakan hidangan yang dibawakan istrinya tadi. Ia terlihat sangat lahap, terlebih ia belum makan sejak siang tadi.
Larissa terus memandangi Hamzah yang sedang asyik makan. Merasa terus dipandang, Hamzah pun menghentikan makannya. "Kamu nggak makan juga?" tanyanya.
"Nggak, Yank. Aku sudah kok tadi!" jawab Larissa berbohong. Sebenarnya ia pun belum makan, tapi ia tak berselera karena masih kepikiran dengan ucapan Iqbal tadi.
"Ya sudah, aku lanjut makan lagi, ya!." Larissa hanya menganggukkan kepala, sedang Hamzah meneruskan makannya hingga habis tak bersisa.
"Alhamdulillah!" ucap Hamzah menyudahi makannya.
"Kamu mau nambah lagi nggak, yank?" tawar Larissa.
"Nggak usah. Aku sudah kenyang!."
Larissa pun mengambil piring bekas makan sang suami dan membawanya ke dapur. Setelah itu ia kembali masuk ke kamar.
Hamzah pun gegas ke depan, sedang Larissa masih dikamar, duduk termenung memikirkan ucapan Iqbal tadi. Tak terasa butir air mata kembali luruh membasahi pipinya.
Tiba-tiba Hamzah masuk kembali ke kamar. Ia lupa membawa kopinya tadi. Cepat-cepat Larissa menghapus air mata sebelum Hamzah melihatnya. Sayang, ternyata Hamzah lebih dulu melihat air mata itu. "Kamu kenapa, yank? kenapa menangis?" tanya Hamzah.
"Tidak, Yank. Aku tidak apa-apa" jawab Larissa.
"Kalau kamu tidak apa-apa, terus kenapa menangis."
"Aku hanya sedang ingin menangis saja!" jawab Larissa sekenanya.
Tentu saja Larissa tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada sang suami. Ia takut dengan ancaman ibunya kalau ia sampai mengatakan semuanya. Mungkin mereka akan diusir dari rumah kalau nekat melakukannya. Terlebih ibunya tak sedikitpun membelanya tadi.
Hamzah pun menghela napas panjang. Ia tak bisa memaksa Larissa untuk berkata jujur. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan air mata itu.
__ADS_1
"Ya sudah, kita keluar rumah yuk! Kita cari udara segar. Mungkin kamu bosan dirumah terus" ajak Hamzah.
Larissa tak bersuara lagi. Ia memilih untuk menuruti ucapan sang suami. Mungkin dengan cara ini ia bisa melupakan kejadian tadi.
Selesai bersiap, mereka pun segera menunggangi sang 'Belalang Tempur', membelah jalanan desa yang lenggang.
Setelah sekian lama berputar-putar tak tentu arah, akhirnya Hamzah menepikan motornya dipinggir jalan. Ia membeli beberapa makanan ringan disana.
Hamzah dan Larissa menikmati makanan ringan yang dibeli tadi di tepi pantai. Hamzah terlihat sangat menikmati suasana malam itu.
Berbeda halnya dengan Larissa. Ia terlihat masih murung. Harapan agar bisa melupakan kejadian tadi dengan cara keluar rumah hilang entah kemana. Nyatanya bayangan kejadian itu masih terus mengganggunya. Agaknya sangat sulit baginya untuk melupakan ucapan iqbal yang menyakitkan itu.
Larissa mengunyah makanan ringan itu dengan perasaan enggan. Ia hanya tidak ingin suaminya berpikiran macam-macam. Walau sesekali air mata tetap jatuh tanpa ia safari.
Hamzah memandang wajah istrinya. Ia melihat ada hal yang sengaja disembunyikan olehnya. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya tadi. "Kamu kenapa, Yank? kenapa terlihat sangat murung?."
Larissa masih mengatakan hal yang sama. Ia menjawab jika dia tidak apa-apa. Namun Hamzah tak menyerah, ia masih terus bertanya. "Kalau kamu tidak apa-apa, terus kenapa menangis? ayolah, cerita padaku. Jangan ada yang kau tutup-tutupi begitu."
Tapi Larissa terus menyangkal dengan mengatakan jika dia baik-baik saja. Merasa kesal karena terus ditanya, akhirnya Larissa meminta untuk segera pulang dengan dalih ia capek dan ingin beristirahat.
Hamzah menghela nafas, tak tahu dengan cara apalagi untuk membujuk sang istri agar mau berterus terang, mengatakan penyebab dari kesedihannya. Hamzah pun menuruti permintaan sang Istri. Dipacunya kembali motor kesayangan, kembali pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah , Larissa segera merebahkan tubuh. Ia berbaring dengan posisi membelakangi sang suami. Kemudian ia memejamkan matanya.
Sebenarnya Larissa tidak benar-benar tidur. Ia hanya berpura-pura agar Hamzah berhenti bertanya. Dalam hati ia mengeluh, "Ya Allah, kenapa semua seperti ini? apa salahku dalam hal ini siapa sebenarnya ayah kandungku? dan kenapa ia tak pernah menemuiku?."
"Kalau aku tidak pernah diinginkan, kenapa aku harus dilahirkan? Apa sebenarnya yang terjadi antara ibu dan ayah? dan kenapa harus aku yang menanggung semuanya."
Begitulah ratapan hati Larissa. Ia menumpahkan semua keluh kesah yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Tanpa membiarkan seorang pun untuk mengetahuinya.
Tanpa Larissa sadari, ternyata Hamzah terus memperhatikannya. Ia juga tahu jika Larissa hanya berpura-pura tidur. Ia bisa melihat air mata yang keluar dari kelopak mata sang istri.
__ADS_1
Merasa kesal karena Larissa tak mau berterus terang, Hamzah pun memutuskan untuk merebahkan diri juga. Tentu dengan posisi membelakangi punggung sang istri.