Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 8


__ADS_3

Larissa cemas memikirkan sang suami. Ia pergi ke pantai sejak siang tadi. Tapi sampai saat ini dia belum juga kembali, padahal hari menjelang magrib. Larissa takut suaminya kenapa-napa.


Adzan Maghrib telah lama berkumandang, tapi Hamzah belum juga kembali pulang, membuat Larissa semakin resah dibuatnya.


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Larissa bangkit dari tidurannya. Ia mengambil air wudhu dan hendak menjalankan shalat magrib. Ia ingin menghilangkan kegelisahan yang sedari tadi melanda dengan melakukan sholat tiga rakaat itu.


Kegelisahan yang ia rasakan sedari tadi itu entah karena sang suami belum juga pulang, atau karena hal lain. Larissa sendiri pun tak tahu, yang pasti Larissa tidak ingin terlalu tenggelam didalamnya. Ia takut itu akan berpengaruh pada janin dalam kandungannya.


Setelah selesai mengambil air wudhu, ia hendak kembali ke kamar untuk mengambil mukenah. Tapi tiba-tiba Iqbal datang dan menghentikan langkahnya.


Tidak ada hujan tidak ada angin. Tiba-tiba saja Iqbal melampiaskan kemarahannya pada Larissa. "Kamu itu orang yang tidak tahu di untung. Sudah bagus aku mau membantumu selama ini. Tapi ternyata kamu malah ngelunjak!" teriaknya.


Larissa yang tidak mengerti maksud perkataan kakaknya itu pun bertanya, "Maksud kakak apa berkata seperti itu?."


"Alah, nggak usah sok nggak tahu gitu. Kamu kemarin menghina istriku didepan orang banyak, kan? ayo ngaku!" bentaknya.


Larissa pun semakin bingung dituduh seperti itu. Karena kemarin sepanjang hari ia tidak ada di rumah. Ia bingung kenapa kakaknya bisa menuduhnya seperti itu. "Aku tidak pernah melakukan itu, kak. Kemarin aku seharian tidak ada dirumah. Aku pergi membantu ibu di warung, dialah saksinya!" ucap Larissa, menyangkal tuduhan yang dilayangkan padanya.


"Nggak usah bohong kamu! Aku punya saksi yang melihatmu menghina istriku. Kau ini memang tidak tahu malu."


"Sumpah demi Allah, kak. Aku tidak pernah melakukan hal itu!" tubuh Larissa bergetar saat mengatakan sumpah itu. Sungguh, ia tak mengerti kenapa Iqbal terus menuduhnya seperti itu.


"Tidak usah bawa-bawa nama Allah untuk menutupi perbuatan mu."


"Ya Allah, kak. Sungguh!, aku tidak pernah melakukannya. Harus dengan cara apalagi untuk membuatmu percaya."


"Bagaiman aku bisa percaya kalau memang ada buktinya!"

__ADS_1


"Bukti apa, kak?. Tunjukkan padaku!."


Diam, Iqbal tak mampu menjawab pertanyaan adik tirinya itu. "Aku tidak akan mengatakannya. Yang jelas ada orang yang melihatmu menghina istriku!."


"Kalau begitu, pertemukan aku dengan orang yang mengaku melihatku menghina istri kakak. Aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah melalukannya!."


"Itu tidak perlu! karena aku sangat percaya padanya. Dia tidak mungkin membohongiku!."


Larissa semakin frustasi mendengar Iqbal tak henti menuduh dirinya. Sementara ia sendiri tidak diberi kesempatan untuk membuktikan diri. "Sumpah demi Allah, kak. Aku bahkan berani mati saat ini juga. Aku benar-benar tidak melakukan hal yang kamu tuduhkan itu."


"Sumpah mu itu tidak ada artinya bagimu. Yang jelas kamu memang telah menghina istriku. Dan aku akan membuatmu menyesal karenanya!."


Larissa diam, ia memilih untuk tidak menyangkal tuduhan kakak tirinya itu. percuma juga terus menyangkal, karena Iqbal tidak akan percaya.


Air mata mengalir deras dari kedua manik indah Larissa. Ia tak mengerti kenapa ia bisa dituduh seperti itu. Padahal jelas-jelas kemarin ia bersama sang ibu di warung.


"Kau ini memang anak yang tidak tahu di untung. Mana keluargamu yang mau mendekatimu. itu semua karena kamu anak pembawa sial. Hanya aku yang mau menerimamu sebagai keluarga."


"Andai aku tidak membantumu saat acara pernikahanmu kemarin, tentu saat ini kau bukan siapa-siapa. Kau ini hanya anak pembawa sial!."


Sejenak Iqbal diam, tapi tak berselang lama ia kembali meneruskan amarahnya. "Sekarang aku tanya ke kamu. Apakah ada satu orang saja dari keluarga ayahmu yang datang ke pernikahanmu kemarin? ayo jawab!."


Larissa hanya diam, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yang menyakitkan itu. Selain itu, dia juga tidak tahu harus menjawab dengan apa. Karena selama ini sang ibu tak pernah mengatakan tentang keluarga ayahnya. Bahkan saat kemarin menikah, ia hanya berwalikan wali hakim.


"Kenapa hanya diam saja? ayo jawab!" bentak Iqbal kembali.


Larissa tetap terdiam, hanya air mata yang semakin deras mengalir.

__ADS_1


"Aku tahu kenapa kau hanya diam. Kau pasti tidak mengetahui apa jawabannya, kan. Itu semua karena kamu anak pembawa sial. Itu sebabnya kamu tidak pernah dianggap!" ucap Iqbal sinis.


Larissa semakin terluka mendengar hinaan yang terus diucapkan sang kakak. Akan tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan menangis, menerima semua hinaan yang menyakitkan itu.


"Aku sudah begitu baik padamu. Tapi sayangnya, kebaikanku itu kau salah artikan. Kau telah berani menghina istriku dihadapan semua orang. Lihat saja! Aku akan membalas perbuatanmu."


Air mata Larissa semakin tak terbendung mendengar cacian dan makian yang dilontarkan oleh kakak tirinya itu.


Larissa dan Hamzah memang lahir dari rahim yang sama, tapi mereka memiliki ayah yang berbeda. Ayah Iqbal masih ada, meskipun ia tak pernah menjenguknya. Sementara Larissa tidak pernah tahu bagaimana sosok ayah kandungnya. Ia hanya mengetahui namanya saja. Jarak usia Larissa dan Iqbal pun sangat jauh, yaitu sepuluh tahun. Mungkin itulah yang membuat mereka jarang bertegur sapa.


Dengan semua perbedaan latar belakang mereka, bukan berarti Iqbal bisa menghina Larissa sesuka hatinya. Terlebih Larissa juga tidak tahu apa-apa. Entah apa yang membuat Iqbal begitu membenci adik tirinya itu.


Bu Ani hanya mematung saat melihat Iqbal menumpahkan semua amarah kepada anak perempuannya itu. Ia pun takut melihat kemarahan Iqbal. Ia tidak berani membela larissa, takut terkena amarahnya juga. Karena bila Iqbal marah, maka ia akan mengobarkan pernah dingin pada dirinya. Ia sudah sering mengalaminya, dan ia tak mau itu terjadi lagi.


Tapi saat melihat Iqbal sudah melampaui batas, ia pun memberanikan diri untuk menghentikannya. "Iqbal, sudah, nak. Jangan teruskan amarah mu!."


"Diam, ibu! jangan pernah ikut campur. Ini adalah urusanku dengan Larissa!" bentak Iqbal pada sang ibu.


"Tapi, nak, adikmu sedang mengandung. Tolong, kasihanilah dia!" ucap sang ibu memohon.


Mendengar jika Larissa tengah hamil, perlahan kemarahan itu meredup. Setidaknya masih ada sedikit rasa kasihan dihatinya. Ia memang tidak tahu jika saat ini Larissa tengah hamil.


Iqbal memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu, walau mukanya masih merah padam karena kemarahan. Sedang Larissa memilih untuk segera masuk kedalam kamar, ia ingin mengadukan semua ini pada SANG maha pencipta.


Tapi sebelum sempat Larissa masuk ke dalam kamar, sang ibu sudah lebih dulu mencegahnya. "Jangan pernah beritahukan hal ini pada suamimu. Diamlah! Atau kau tanggung sendiri akibatnya" ancamnya.


Luka di hati Larissa semakin menganga lebar mendengar ancaman ibunya. Ia tak perduli lagi. Ia memilih untuk segera masuk ke kamar dan menumpahkan semua kesedihan pada SANG pemilik kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2