Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 103


__ADS_3

Hamzah menuduh Larissa bahwa ia telah menghina ibunya. Walau Larissa terus berusaha menjelaskan dan bahkan bersumpah atas nama Allah, namun Hamzah tetap tak mempercayainya.


"Kalau kau tak mempercayaiku lagi maka baiklah, aku terima tuduhanmu. Tapi sekarang coba kau pikir dengan hati tenang, kalau memang benar aku menghina ibumu saat aku melayani pembeli seperti yang ibumu bilang, maka orang pertama yang mendengarnya adalah kau, bukanlah ibumu. Bukankah selama ini kau selalu ada disampingku saat aku melayani pembeli?."


Hamzah mulai terpengaruh oleh argumentasi yang dikemukakan istrinya. Namun ia tak mau mengakui hal itu.


Menyadari suaminya mulai terpengaruh, Larissa melanjutkan kembali ucapannya. "Sekarang aku tanya padamu, apa pernah kau mendengar dengan telingamu sendiri kalau aku menghina ibumu?."


Hamzah tetap bungkam mendengar pertanyaan telak dari istrinya. Entah ia tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu atau memang tak mau menjawab.


"Sungguh ironi yang sangat menyedihkan! Kita sempat bicara tentang kejujuran dan kepercayaan terhadap pasangan di hadapan Izzah dan suaminya beberapa hari yang lalu, tapi sekarang kita malah tak bisa melakukan ucapan kita sendiri," tersenyum getir. "Tapi ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin ini sudah menjadi takdirku kehilangan kepercayaan dari suamiku sendiri," mengusap lelehan air mata di pipi.


Hamzah tetap bungkam mendengar ucapan istrinya dan hanya menundukkan kepala. Mungkin ia merasa malu dengan dirinya sendiri saat mendengar ucapan terakhir Larissa.


"Apa kau mau mendengar sesuatu dariku?,"


"Apa?," tanya balik Hamzah, kepala mendongak menatap Larissa.


"Seseorang pernah mengatakan padaku kalau bibimu berkata, 'sudah tahu orangtua sedang merenovasi rumah, malah ikut-ikutan bangun rumah. Kelihatan sekali kalau tak mau kalah dengan yang lain', begitu."


Sejenak Larissa diam, membiarkan suaminya memikirkan ucapannya.


"Asal kau tahu, aku mendengar hal ini bukan kemarin atau hari ini, tapi sudah sejak lama, lebih tepatnya sebelum kita menghentikan pembangunan rumah kita. Apa menurutmu itu tidak lama sekali?."


"Aku memang sempat marah dan kecewa saat mendengar hal itu. Tapi aku menyimpannya sendiri dan tak membiarkan kau mengetahuinya."


"Tapi kenapa?," tanya Hamzah.

__ADS_1


"Kau tanya kenapa padaku? karena aku tak ingin memperburuk keadaan saat itu. Kau pasti masih ingat kan bagaimana keadaannya saat itu?." Tanpa sadar Larissa telah meninggikan nada bicaranya karena luapan emosi. Ia begitu marah dan kecewa dengan sikap suaminya.


"Aku tidak mengerti kenapa sekarang malah aku yang dituduh menghina ibumu. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah kebalikannya. Akulah yang dihina oleh ibumu."


"Sekarang aku tanya ke kamu, seandainya yang dikatakan ibumu memang benar, aku saja bisa menyembunyikan hal ini karena tak ingin memperburuk keadaan, apa ibumu juga melakukan hal yang sama denganku?," senyuman sinis tersungging di bibir.


Hamzah tetap bungkam, tak sanggup menjawab pertanyaan Larissa yang menyudutkannya.


"Apa kau tahu, ada satu hal yang aku sesali, kenapa aku tidak mengatakannya saja saat itu padamu. Andai itu yang aku lakukan, maka saat ini kau tak akan menuduhku seperti ini."


Hamzah tetap bungkam dan bungkam. Pikirannya mulai berkecamuk antara mempercayai ucapan ibunya atau ucapan Larissa.


Larissa lelah, ia capek karena selalu menjadi pihak yang disalahkan, tanpa pernah diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa ia tak bersalah.


"Sudahlah, rasanya percuma saja bicara banyak denganmu. Toh kau juga tak mempercayaiku lagi. Sejak dulu kan kau memang tak pernah percaya dengan kata-kataku," tersenyum getir.


Terkadang perjalanan hidup membawa kita pada titik terendah, dan bagi Larissa, inilah titik terendah dirinya. Ia memang kerap menghadapi masalah yang lebih berat dari ini. Tapi kehilangan kepercayaan dari suami???? Sungguh, ia tak pernah membayangkan hal itu. Bakkan dalam mimpi sekalipun.


"Sudahlah! Lebih baik kita akhiri pembicaraan kita dan segera tidur. Ini sudah larut malam, mungkin sebentar lagi subuh." Larissa merebahkan tubuh membelakangi suaminya dan menarik selimut hingga menutupi kepala.


Malam itu Larissa terus meneteskan air mata dalam diam. Hatinya sangat terluka dengan tuduhan suaminya.


Hamzah memutuskan untuk merebahkan tubuh juga, namun ia malah balik memunggungi istrinya. Ia tak pernah menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar. Larissa memang menerima tuduhannya, tapi bersamaan dengan itu perasaan cinta dan sayang Larissa terhadapnya turut menghilang.


*


*

__ADS_1


Dimana buktinya ku membagi cinta rasanya ku terfitnah rencana orang yang tlah sengaja mengharapkan kita berpisah untuk selama-lamanya.


Kalau lah memang kini kau tlah bosan mengapa tak ucap terus terang. Apakah terlalu apabila aku hidup denganmu tanpa yang lain....itulah keinginanku....


...****************...


Semenjak malam itu, sikap Larissa terhadap suaminya telah berubah. Ia menjadi begitu dingin dan tak tersentuh. Tak ada lagi senyuman manis di wajah seperti yang selalu ia tunjukkan, seakan senyum itu turut menghilang bersama kegelapan malam.


Larissa kini bukan lagi Larissa yang dulu Hamzah kenal. Tak ada lagi sopan santun yang selalu ia tunjukkan padanya. Bahkan tak segan ia membentaknya saat ada sedikit kesalahan yang ia lakukan.


Hamzah benar-benar kehilangan sosok Larissa yang penyabar dan penyayang Mereka mungkin tinggal dibawah atap yang sama, namun tak ada lagi keharmonisan ang tercipta.


Sejak malam itu Larissa memutuskan untuk peduli pada dirinya sendiri. Ia juga tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah sang mertua. Ia begitu sakit hati dengan mereka, terutama ibu mertua.


Saat seseorang dikuasai oleh kemarahan dan kebencian, maka ia akan melupakan segalanya, melupakan nilai-nilai dalam diri, dan melupakan ajaran yang dimiliki. Yang ada dalam dirinya hanya api dendam yang sangat membara.


Begitu juga dengan Larissa. Ia tak lagi mengingat cinta kasih diantara mereka. Bahkan ia telah melupakan semua kebaikan dan pengorbanan Hamzah untuknya selama ini.


Hamzah mungkin telah melakukan kesalahan, tapi apa benar seorang istri berani membentak suaminya sendiri dan memperlakukannya seperti pembantu?.


Semakin hari Larissa semakin tenggelam dalam api kemarahan. Dan bukan hanya membentak suaminya saja, ia bahkan mulai bermain hati dengan lelaki lain.


Larissa tak serta merta melakukan niatnya ini begitu saja. Ia mencari cara agar dirinya tidak disalahkan atas hal ini. Ia bukan lagi wanita bodoh dan lemah seperti dulu.


Kerap kali Larissa dengan sengaja memancing kemarahan Hamzah dengan.melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Tujuannya hanya satu, membuat Hamzah mengucapkan kata talak sehingga ia bisa bebas mencari lelaki lain untuk menggantikan posisinya.


Bisa saja Larissa menuntut cerai dari suaminya, namun ia tak mau melakukannya. Ia ingin Hamzah lah yang dipersalahkan atas perceraian ini, bukan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2