
Semenjak pertengkaran itu, Hamzah tak lagi bersikap kasar pada Larissa. Ia kembali menjadi Hamzah yang dulu Larissa kenal. Hamzah yang penuh kasih sayang dan perhatian.
Malam itu Larissa ingin sekali memakan bakso, salah satu makanan favoritnya. Ia pun meminta Hamzah untuk mengantarnya. Dengan senang hati Hamzah menuruti keinginannya.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di warung penjual bakso. Larissa pun memesan sebungkus bakso untuk dibawa pulang. Ia sengaja hanya memesan satu karena Hamzah tidak mau.
Penjual bakso menyerahkan bakso pesanan, dan Larissa menyerahkan sejumlah uang untuk membayar. Lalu merekapun kembali pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Larissa segera menyantap bakso yang sudah dibelinya tadi. Ia sangat lahap saat menyantapnya. Ia seakan sudah lupa dengan luka yang ia derita.
Semua itu dikarenakan sikap Hamzah yang kembali seperti dulu lagi. Walau terkadang rasa nyeri diperut kerap menghampiri.
Usai menyantap bakso, Larissa pun bersiap untuk tidur. Dan seperti biasa, ia tak akan tidur jika tak ditemani dulu oleh Hamzah.
Hamzah berbaring di samping sang istri. Ia memeluk tubuh Larissa. Dan tak butuh waktu lama terdengar suara dengkuran halus dari bibir sang istri.
Hamzah pun beranjak, bersiap untuk pergi melaut, karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Tak berselang lama setelah Hamzah berangkat melaut, nyeri diperut Larissa kembali datang. Ia pun bangun dan mengusap-usap perutnya untuk meredakan rasa sakit.
Perlahan rasa sakit itu pun hilang, dan Larissa kembali tidur. Tapi tak berselang lama, rasa sakit itu kembali datang. Kali ini bahkan lebih sakit lagi. Larissa pun kembali melakukan hal yang sama, dan rasa sakit itu pun kembali hilang.
Sepanjang malam Larissa terus-menerus merasakan rasa sakit itu. Bahkan rasa sakitnya semakin parah.
Rasa sakit itu datang dan hilang begitu saja. Rasa sakit itu mirip dengan rasa sakit yang seorang wanita alami saat akan melahirkan. Tapi sayangnya Larissa tidak mengetahui hal itu. Ia mengira itu hanya rasa sakit biasa yang akan hilang dengan sendirinya.
__ADS_1
Tentu saja Larissa tak tahu, karena ia belum pernah merasakan bagaimana sakitnya saat melahirkan.
Larissa sampai mengeluarkan air mata saking hebatnya rasa sakit yang ia rasakan. Akan tetapi ia menahan rasa sakit itu sendiri. Ia tak berani untuk membangunkan ibunya.
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Ibu Larissa pun bangun. Ia mulai berkutat di dapur untuk menyiapkan barang dagangannya nanti. Bertahun-tahun ia melakukan hal itu pada jam segini.
Mengetahui jika ibunya sudah bangun, Larissa pun keluar kamar. Ia segera menghampiri ibunya dan mengeluhkan rasa sakit di perutnya. Air mata berderai karena tak tahan lagi menanggung rasa sakit itu.
Bu Ani terlihat khawatir, tapi ia mencoba untuk tetap tenang. Ia tahu jika saat ini Larissa tengah mengalami kontraksi. Ia menyuruh Larissa untuk berbaring dulu di tempat tidurnya.
Larissa pun menuruti ucapan sang ibu. Ia berbaring dengan posisi kedua kali ditekuk. Kepala agak tinggi dari tubuhnya.
Iqbal terlihat ikut panik. Ia bahkan mengurungkan niatnya untuk pergi melaut. Meski ia bersikap dingin pada Larissa, tapi ia tak tega saat melihat adik tirinya itu menangis kesakitan.
Semua bernapas lega, karena Larissa berhenti menangis dan tak lagi mengeluhkan rasa sakit. Iqbal pun memutuskan untuk pergi melaut setelah dirasa Larissa baik-baik saja.
Tak lama setelah kepergian Iqbal, Larissa kembali dilanda rasa sakit yang teramat sangat. Bahkan rasa sakit itu lebih hebat dari sebelumnya. Tulang-tulang Larissa bagai dicopoti saking sakitnya. Ia pun menangis sejadi-jadinya. "ibu, tolong aku. Perutku rasanya sangat sakit, Bu" ratapnya.
Bu Ani tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya mengusap rambut putrinya untuk menenangkannya. "Sabar, nak, yang kuat!." Hanya itu yang bisa ia katakan.
"Ibu, sakit! Tolong..." Larissa terus meratap. Ia bahkan hampir kehilangan kesadaran karena begitu hebatnya rasa sakit yang ia alami.
Larissa merasa perutnya ditarik sekuat-kuatnya. Itulah puncak dari rasa sakit itu. Saat itulah ia kembali mengeluarkan sebongkah daging, tapi kali ini lebih besar lagi. Besarnya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Itulah janin yang ia kandung selama ini. Dan rasa sakit itu pun berakhir.
Tubuh Larissa melemah. Nafasnya terengah-engah. Akan tetapi ia mencoba untuk tetap bangkit. Ia ingin melihat apa yang baru saja keluar dari dalam perutnya.
__ADS_1
Diambilnya sebongkah daging yang berada diantara ke dua kakinya itu. "Ya Allah, inikah janin yang ku kandung selama ini" ucap Larissa dengan air mata berderai.
Bu Ani mengambil sebongkah daging tadi dari tangan Larissa dan membawanya ke belakang. Entah apa yang ia lakukan terhadap daging itu.
Bertepatan dengan itu, adzan subuh pun berkumandang. Bu Ani memutuskan pergi ke rumah mertua Larissa untuk memberitahukan kondisinya.
Tak berselang lama ibu mertua Larissa pun datang. Ia hanya sebentar menengok Larissa. Ia berjanji akan datang lagi saat pagi tiba.
Pagi hari pun tiba, kedua mertua Larissa benar-benar datang. Kali ini mereka mengendarai becak. Larissa akan dibawa menuju salah satu klinik yang ada di kota.
Larissa kembali bingung, pasalnya ia tak memiliki uang untuk membayar biaya berobat nanti. Semua perhiasan yang dulu ia kenakan sudah dijual Bu Ani dan uang hasil penjualannya sudah ia berikan pada Iqbal karena waktu itu Larissa tak memberi pinjaman padanya. Bu Ani berjanji akan menggantinya dengan sebuah kalung suatu hari nanti.
Dengan sangat terpaksa Larissa harus merelakan cincin kawinnya untuk di jual. Ia meminta tolong pada kakak iparnya untuk menjual cincin kawin tersebut.
Tak berselang lama akhirnya Larissa pun dibawa menuju klinik tersebut. Kali ini ia meminjam uang dari ibunya dulu. Yang nantinya akan ia ganti dengan uang hasil dari penjualan cincin kawinnya itu.
Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun sampai juga disana. Larissa langsung mendapatkan penanganan karena suasana masih sepi.
Dokter memeriksa jalan lahir Larissa dengan cara memasukkan tangannya ke dalam bagian kewanitaannya. Larissa menahan rasa sakit yang teramat sangat sepanjang pemeriksaan.
Dokter mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Diantaranya adalah berapa usia kandungan Larissa saat ini, berapa usianya sekarang, dan bagaiman bentuk daging yang ia keluarkan tadi.
Semua pertanyaan dijawab Larissa dengan sejelas-jelasnya. Kemudian dokter mengatakan jika kandungan Larissa tergolong lemah. Kemungkinan disebabkan oleh Usianya yang masih sangat muda saat mengandung. Dokter pun menyarankan agar Larissa melakukan KB terlebih dahulu sampai usianya cukup matang untuk mengandung kembali.
Larissa tak bisa memutuskan langsung. Ia ingin membicarakan hal ini dengan suaminya dulu. Dan dokter pun mengizinkan.
__ADS_1