
"Lihat ini!. Ini pasti tangannya, dan ini adalah kepalanya" ujar Hamzah lagi sambil menunjuk pada beberapa bagian di foto USG tersebut.
Larissa tercenung melihat betapa bahagianya sang suami melihat foto USG itu. Ia bingung bagaimana cara untuk menjelaskan kalau anak itu sudah tiada.
Dengan mengumpulkan sedikit keberanian akhirnya Larissa pun berbicara, "Yank, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu."
"Apa?" tanya Hamzah sambil masih terus tersenyum.
"Sebenarnya calon anak kita sudah tidak bisa diselamatkan. Dokter bilang ia sudah tidak berkembang" ujar Larissa lirih. Kepala ia tundukkan. Ia takut suaminya akan marah.
Mendengar hal itu senyuman di wajah Hamzah hilang seketika. "Apa?" ucapnya tertegun. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya, Yank. Anak kita sudah meninggal" ulang Larissa, menyakinkan Hamzah jika dia tidak salah dengar.
Detik itu juga air mata luruh dari ke dua mata Hamzah. Ia tak menyangka jika anak yang sangat diharapkannya telah tiada.
Larissa segera mendekap tubuh suaminya. Mencoba untuk memberi kekuatan padanya. "Ikhlaskan kepergiannya, Yank" ujarnya.
Sebenarnya hati Larissa jauh lebih hancur dari pada Hamzah. Tapi ia berusaha untuk tetap tegar dihadapan sang suami. Melihat kesedihan di wajah Hamzah, membuat Larissa tak tega. Apalagi kehamilan ini sangat diharapkan oleh suaminya.
"Bagaimana aku bisa mengikhlaskannya? rasanya baru kemarin aku merasakan kebahagiaan saat mengetahui kehamilan mu. Tapi sekarang, dia sudah direnggut kembali dariku" ratap Hamzah.
"Aku tahu ini tidak mudah. Tapi ingatlah, jika kita mau mengikhlaskan kepergiannya, maka ia akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Ia akan menantikan kita di pintu surga" ucap Larissa penuh kelembutan.
Perlahan Hamzah pun mulai tenang. Ia tak lagi menangis. Ia sudah bisa menguasai dirinya kembali.
Akan tetapi, tiba-tiba wajah Hamzah berubah menjadi dingin. Kilatan amarah tampak di kedua matanya. Pandangan matanya menusuk tajam ke arah Larissa. "Ini semua salah keluargamu. Andai mereka tak pernah membuat masalah, tentu anak kita masih ada sekarang."
"Kamu juga bersalah. Kamu tidak becus menjaga calon anak kita. Bukankah dokter sudah memperingatkan supaya kamu tidak stres. Tapi kenapa kamu masih juga stres."
__ADS_1
"Sekarang lihatlah akibatnya. Aku kehilangan calon anak kita."
"Tolong, jangan berkata seperti itu. Aku juga tidak pernah menginginkan anak kita tiada. Aku bahkan lebih terluka disini" ujar Larissa dengan berlinang air mata.
"Aku menyesal sudah menikahimu!." Kembali terucap kata-kata penyesalan itu dari mulut Hamzah. Ia tak perduli jika saat itu Larissa pun tengah hancur.
Hamzah pergi meninggalkan larissa. Tak perduli dengan penjelasan yang coba ia berikan. Hatinya terlanjur sakit menerima kenyataan bahwa anaknya sudah tiada.
Larissa memandangi kepergian Hamzah dengan sejuta luka dihati. Belum lah hilang luka yang ada akibat kepergian sang anak, Hamzah menambah lagi luka itu dengan kata-kata penyesalannya. Sungguh luka diatas luka. Sungguh derita diatas derita.
...****************...
Semenjak hari itu, Hamzah kembali mengobarkan perang dingin pada Larissa. Ia tak perduli dengan luka hati istrinya. Yang ia pikirkan adalah sakit hatinya sendiri.
Larissa tetap melayani sang suami seperti biasa. Walau ia harus menahan nyeri di perut akibat janinnya belum dikeluarkan sampai hari ini. Ia tidak punya cukup uang untuk melakukannya. Dia juga tak ingin meminta lagi pada ibunya. Ia sudah cukup malu untuk terus menerus meminta uang darinya.
Saat rasa sakit itu kembali datang, ia hanya bisa menangis sambil mengusap perutnya. Tentu saja ia sembunyikan hal ini dari suaminya. Ia takut suaminya akan semakin marah bila ia tahu kondisinya.
Tak kuat karena terus dihina, Larissa pun memberanikan diri untuk melawan. "Kamu kira hanya kamu saja yang kehilangan anak. Aku juga sama. Bahkan aku jauh lebih terluka darimu. Aku yang mengandungnya. Aku yang merasakan kehadirannya dalam diriku."
"Andai bisa memilih, aku akan memilih aku saja yang tiada. Dan andai bisa ditukar, aku pasti sudah menukar nyawaku dengan nyawa anak kita. Aku rela melakukan semua itu. Aku juga ingin memberikanmu seorang keturunan" teriak Larissa. Tubuhnya jatuh ke lantai usai mengatakan semua itu.
Keluar sudah keluh kesah yang selama ini ia pendam. Air matanya tumpah ruah tak terbendung. kedua telapak tangannya ia tangkupkan di wajah. Ia tak perduli lagi andaikan suaminya menceraikannya.
Tanpa disangka ternyata kemarahan Hamzah mereda, bahkan hilang tak berbekas. Ia bagai ditampar saat mendengar semua keluh kesah istrinya. Ia sadar jika selama ini sudah salah karena menyalahkan istrinya atas apa yang terjadi.
Hamzah mensejajarkan diri dengan istrinya. Dibawanya tubuh ringkih sang istri ke dalam dekapannya. "Maafkan aku. aku tidak bermaksud melukai hatimu" ucap Hamzah. Air matanya meleleh karena menyesal.
"Tolong, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Jangan pernah kau ucapkan kata-kata penyesalan karena sudah menikahi ku. Kau tahu, dunia serasa hancur saat mendengarmu mengatakan hal itu" ucap Larissa tergugu. Isak tangis terdengar pilu.
__ADS_1
"Aku juga sangat sedih saat mengetahui anak kita sudah tiada. Hidupku hancur. Aku merasa gagal menjaga anak dalam kandunganku. Tapi mau bagaimana lagi. Allah lebih sayang padanya. Aku pun mencoba bangkit kembali karena ada kamu disisiku. Tapi kalau kau seperti ini, lebih baik aku menyusul anak kita."
"Jangan berkata seperti itu. Tolong jangan pergi meninggalkanku. Aku salah, aku minta maaf" ujar Hamzah. Dieratkan pelukannya itu.
"Aku janji, aku tidak akan melakukan kesalahan ini lagi. Aku tidak akan menyakiti hatimu lagi."
Perlahan tangisan Larissa pun mereda. ia mendongakkan kepala, menatap wajah suaminya. "Kau benar-benar berjanji, kan!" ujar Larissa, mencari kepastian dari ucapan Hamzah tadi.
"Aku janji, Aku janji" ucap Hamzah dengan penuh keyakinan.
Larissa pun tersenyum mendengar janji yang diucapkan suaminya tadi.
"Kita mulai lagi semuanya dari awal, ya?."
Larissa menganggukkan kepala sambil mengulas sebuah senyuman.
Mereka pun kembali berpelukan. Melupakan semua yang terjadi diantara mereka.
"Apa perutmu masih suka sakit?" tanya Hamzah setelah mereka saling melepaskan pelukan.
"Iya, yank" jawab Larissa.
Hamzah pun mengangkat tubuh Larissa dan merebahkannya diatas kasur. "Kamu istirahat dulu disini. Aku akan buatkan teh hangat untukmu" ucapnya.
Hamzah pun pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Larissa. Dan setelah teh itu jadi, ia segera membawanya ke kamar. "Ini Yank, minumlah teh ini dulu" ujarnya sambil menyodorkan teh tersebut pada Larissa.
Larissa menerima teh itu dengan senyuman mengembang. Ia bahagia, akhirnya suaminya kembali lagi seperti dulu. Suami yang sayang dan penuh perhatian padanya.
Larissa menyerahkan kembali gelas itu pada suaminya setelah ia meminum isinya. "Sekarang, kamu istirahat dulu. Aku akan menemanimu disini" ujar Hamzah.
__ADS_1
Larissa pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dan tak berselang lama ia pun masuk ke alam mimpi