
...Hai reader, maaf ya author udah lama nggak up. Kesibukan di dunia nyata lah yang membuat author tidak bisa up, Dan lagi ada sedikit gangguan kesehatan. Semoga reader semua tidak kecewa dan tetap memberikan dukungan kepada author....
...Terus dukung author agar tetap semangat dalam memberikan yang terbaik dengan cara gift, like, komentar, vote, dan favorit ya....
...Langsung aja yuk, simak cerita selanjutnya.......👇👇👇...
*
*
*
Perlahan, sikap ibu mulai melunak. Ia tak lagi menunjukkan kemarahannya pada Larissa. Karena Larissa sangat tahu bagaimana cara mengambil hati ibunya bila sedang marah. Tapi bila berhadapan dengan Hamzah, ia masih menunjukkan sikap permusuhannya.
Larissa meminta suaminya agar tetap bersabar dan tidak mengambil hati atas apa yang ibunya lakukan. Tetapi ia juga tak tinggal diam. Ia terus berusaha agar ibunya mau menerima keberadaan Hamzah lagi.
Hamzah menuruti permintaan Larissa untuk tetap bersabar. Akan tetapi ia juga hanya manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Dan bila ia sudah pada puncak kesabarannya, ia memilih pergi ke pantai untuk sementara waktu. Sejenak menenangkan diri disana.
Larissa dapat mengerti sikap suaminya ini. Ia tahu, Hamzah pasti sangat tertekan karena terus menerus berada dalam situasi yang tidak mengenakkan.
Akan tetapi hal ini ternyata semakin menciptakan kerenggangan didalam hubungan mereka. Hamzah semakin jauh darinya, dan semakin sulit untuk ia gapai. Hubungan yang terjalin pun terasa hambar karena kurangnya komunikasi diantara mereka.
Sesekali kurasa teringan
Melewati hatimu yang dingin
Mendengar keluh resah
Semenjak kau kehilanganku
Tiap kali kucoba hampiri
Makin deras degup jantung ini
Di ranjang kian sepi
Ku sendiri.....
Sesungguhnya tewas menghadapi
Malah kuakui sepi menghantui
__ADS_1
Paling tidak berilah peluang
Ku berterus terang.....
Ada kala kurasa teringan
Bermesrah denganmu bagai waktu dulu
Tapi bila kah semua ini akan jadi pasti
Bukan lagi mimpi
Kasihani diriku....
Ku wanita dengan air mata
Bukan untuk meminta simpati
Sekedar melepaskan rasa hati
Ku mengharapkan
Jendela hati
...****************...
Hari berganti hari, musim pun berubah. Dan kini, musim hujan pun mulai datang. Ditandai dengan berhembusnya angin muson barat. Hingga membuat laut kembali bergejolak.
Ekonomi kembali sulit karena keadaan laut yang tidak bersahabat. Gelombang air laut yang tinggi membuat para nelayan tidak mungkin pergi melaut. Ditambah dengan adanya angin kencang yang membuat kondisi semakin berbahaya bila dipaksakan untuk pergi.
Beberapa nelayan memilih menaikkan perahu ke daratan untuk menghindari hempasan ombak dahsyat yang bisa datang kapan saja. Hingga daratan pun dipenuhi dengan deretan perahu para nelayan.
Ada juga yang memilih untuk tetap membiarkan perahu mereka berada ditepian. Tapi mereka harus berjaga terus dipinggir pantai jika tidak ingin perahu mereka karam karena terhempas ombak dahsyat. Bahkan terkadang mereka terpaksa harus tidur disana untuk berjaga-jaga.
Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba terbersit dalam benak Hamzah untuk pergi 'AMEN' ke pulau Dewata Bali, atau lebih tepatnya di daerah Muncar.
'AMEN' adalah sebutan dari pergi melaut keluar daerah dengan menggunakan perahu yang jauh lebih besar lagi, tentu dengan jumlah awak kapal yang jauh lebih banyak pula, sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh orang. Lamanya waktu yang dibutuhkan sekitar satu bulan. Peralatan yang digunakan tentu berbeda dengan melaut biasa. Jaring yang digunakan untuk menangkap ikan pun berbeda, sejenis pukat harimau.
Ada berbagai macam cara untuk menangkap ikan, dengan sebutan yang berbeda pula. Ada jaring, gondrong, malam, mayang, dan lain sebagainya. Untuk Hamzah sendiri, cara menangkap ikan yang biasa ia gunakan adalah mayang.
Mayang sebenarnya hampir sama dengan amen. Hanya saja jaring yang digunakan lebih kecil, namanya payang. Untuk awak sendiri juga tidak membutuhkan banyak orang. Cukup tiga sampai lima orang saja.
__ADS_1
Sebenarnya melaut dengan cara ini sangat beresiko tertangkap oleh polisi laut atau AIRUD. Karena jaring yang digunakan masih berjenis pukat harimau, walau dalam ukuran yang lebih kecil. Warga biasa menyebut jaring jenis ini dengan sebutan 'PAYANG SETAN'. Pukat harimau sendiri sangat dilarang untuk digunakan karena dapat merusak kelestarian habitat laut.
Terkadang mereka harus sembunyi-sembunyi bila ada patroli laut. Tak jarang mereka terpaksa membuang semua peralatan untuk menghilangkan barang bukti.
Waktu ibu Susi menjabat sebagai menteri kelautan dan perikanan, beliau sering. melakukan patroli dadakan. Hingga mereka tidak dapat berkelit lagi. Dan yang kedapatan menggunakannya, maka mereka akan dijebloskan ke dalam penjara, sedang perahunya disita. Mereka pun harus membayar denda atas kesalahan yang mereka perbuat.
Walau mengetahui dampaknya, warga masih juga menggunakan jaring jenis ini. Mereka beranggapan, hasil yang diperoleh jauh lebih banyak ketimbang menggunakan jaring biasa.
Ketamakan dan keserakahan memang selalu membutakan mata hati manusia. Hingga mereka abai dengan dampak yang ditimbulkan untuk kedepannya. Atau mungkin karena desakan ekonomi lah, sehingga mereka tidak perduli dengan semua itu.
Entahlah, semua kembali pada diri masing-masing. Karena kita tidak bisa menilai, apalagi menghakimi seseorang. Karena hanya diri sendiri yang tau apa yang kita butuhkan.
Larissa sangat senang saat Hamzah mengutarakan niatnya tersebut. Itu menunjukkan jika ia bertanggung jawab terhadap keluarganya.
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Larissa.
"Sekarang!" jawab Hamzah singkat.
Larissa tertegun mendengar jawaban suaminya. 'Mengapa secepat ini?" tanyanya dalan hati.
Hamzah dapat melihat perubahan raut wajah istrinya saat ia mengatakan akan segera berangkat. Ia pun memberi penjelasan padanya, "Tadi aku mendengar kabar jika perahu yang dulu aku tumpangi akan berangkat. Aku mengajukan diri untuk ikut serta, dan ternyata aku diterima."
"Tapi kenapa mendadak sekali?."
"Aku juga tidak tahu jika secepat ini berangkatnya. Kukira masih beberapa hari lagi."
Larissa terlihat masih enggan untuk mengizinkan Hamzah berangkat. Ia tidak ingin berpisah dengan suaminya. Ia khawatir akan keselamatan suaminya. Terlebih mereka harus berpisah dalam waktu lama, tanpa ada alat komunikasi yang bisa membuat mereka tetap terhubung satu sama lain.
Hamzah dapat melihat keengganan di wajah istrinya. Ia merengkuh jemari Larissa, mencoba memberi penjelasan agar mau mengizinkannya untuk pergi. "Aku mohon, izinkan aku pergi sekarang. Kau tahu sendiri, keadaan disini tidak memungkinkan untuk melaut."
"Tapi aku sangat khawatir dengan keselamatan mu."
"Do'akan saja, semoga Allah selalu melindungi ku, dan aku mendapat hasil tangkapan yang bagus. Sehingga kita tidak kesusahan lagi seperti sekarang."
Mau tidak mau, Larissa terpaksa merelakan kepergian suaminya. Akan sangat egois jika ia tidak mengizinkan suaminya pergi. Terlebih kepergian Hamzah juga untuk dirinya, untuk keluarga kecil mereka. Agar mereka tidak lagi kesulitan dalam keuangan.
Larissa dan Hamzah saling berpelukan, pelukan yang sangat erat. Seakan mereka tak ingin berpisah walau hanya sekejap.
Mereka saling menghirup aroma tubuh satu sama lain. Mengingatnya dalam benak masing-masing jika aroma inilah yang akan mereka rindukan saat jarak dan waktu memisahkan mereka.
Hamzah melepaskan pelukan mereka. Kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Larissa. Sebagai pertanda bahwa ia akan segera berangkat. "Jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Aku berangkat sekarang!" ucapnya. Larissa pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
__ADS_1
Derai air mata dari larissa mengiringi kepergian Hamzah. "Pergilah!. Doaku selalu menyertaimu."