Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 107


__ADS_3

T]dak seperti sebelumnya yang merasa sedih dan kecewa karena tak ada yang datang menjenguk saat dirinya jatuh sakit, kali ini Larissa memilih tak mau memikirkan hal itu dan fokus untuk mengais rezeki sambil menunggui putrinya di sekolah.


Ia bekerja sangat keras, bahkan mengabaikan peringatan Hamzah untuk banyak beriatirahat dan tidak kecapekan. Hingga kemudian tubuhnya tak mampu bertahan dengan segala rutinitasnya ditengah kondisi yang belum pulih total pasca operasi.


Pagi itu usai menyiapkan sarapan seperti biasa Larissa menyiapkan dagangannya berupa mie seduh dalam gelas aneka rasa, gelas dan sendok plastik, dan sebuah termos besar berisi air panas. Kesemua itu kemudian ia letakkan kedalam ranjang besar agar lebih mudah saat membawa. Tak lupa ia bawa pula beberapa es lilin yang diletakkan dalam termos dingin.


Kini semua barang dagangan telah siap diatas sepeda. Larissa pun berangkat ke sekolahan bersama Zahra, putrinya.


Memastikan bahwa Zahra telah masuk dalam kelas, Larissa menata dagangan di depan pagar sekolah. Dan beberapa menit kemudian ada beberapa anak yang datang untuk membeli dagangannya.


Bel sekolah berbunyi, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Larissa memilih bersandar di bawah pohon besar yang berada tak jauh dari situ untuk sejenak melepas penat.


Krucuk......


Suara perut Larissa berbunyi. Sekarang ia merasa sangat lapar, terlebih tadi ia belum sempat sarapan karena terburu-buru.


Larissa mengedarkan pandangan, mencari-cari makanan yang bisa menganjal rasa laparnya. Hingga kemudian matanya tertuju pada penjual bedoyo yang berada tak jauh darinya.


Bedoyo adalah sebuah makanan desa yang mudah untuk dijumpai. Rasanya sangat segar dan enak yang tentu sangat ramah dikantong. Cara membuatnya cukup mudah, cukup rebus krai ( buah sejenis timun) selama beberapa menit diatas api sedang. Cara menikmatinya dengan dicocol menggunakan sambal terasi.


Air liur Larissa menetes, membayangkan kesegaran makanan itu dalam mulut. Ia pun bergegas menghampiri penjual tersebut. "Bu, beli bedoyonya."


"Beli berapa, mbak?."


"Dua ribu saja."


"Tunggu sebentar!." Dengan cekatan penjual itu menyiapkan bedoyo pesanan Larissa dalam sebuah kertas pembungkus makanan yang dibentuk sedemikian rupa dan menyiramkan sambal terasi diatasnya.


"Ini uangnya, bu," ucap Larissa setelah mendapatkan pesanannya. Dengan uang dua ribu rupiah ia sudah bisa mendapatkan dua buah bedoyo ukuran sedang.


Larissa segera memakan bedoyo tersebut. Dan tak butuh waktu lama makanan itu telah habis tak bersisa berpindah tempat ke perutnya. Bahkan ia menjilati jari tangannya yang terkena sambalnya tadi.

__ADS_1


Usai memakan bedoyo tiba-tiba Larissa merasa tubuhnya meriang, keringat dingin mengucur dan dada berdebar kencang. "Ada apa ini, ya Allah? Kenapa tiba-tiba tubuhku rasanya tidak karuan gini?."


Perasaannya mulai tak enak. Pikiran tertuju pada sang suami yang belum juga datang dari melaut walau hari mulai menjelang siang. Namun segera ditepisnya perasaan itu dan berpikiran positif. "Mungkin suamiku belum selesai menurunkan ikan dari perahu, jadi dia belum juga datang sampai sekarang," batinnya memanjatkan doa untuk keselamatan sang suami. "Ya Allah. jagalah suamiku dimanapun ia berada. Permudahkanlah segala urusannya, dan bukalah semua pintu rezekinya."


Larissa duduk selonjor sambil bersandar di dinding. Dipijitnya area tengkuk dan kedua bahu untuk meringankan pegal-pegal ditubuh.


Bel sekolah kembali berbunyi, menandakan jam istirahat untuk para siswa. Nampak beberapa anak berhamburan menuju lapak dagangannya.


Larissa bergegas menghampiri lapak dagangannya dan melayani pembeli. "Mau beli apa, nak?," tanyanya ramah. Senyuman tersungging di bibir agar anak-anak tidak takut. Sebagian besar dari anak-anak itu adalah teman sekelas Zahra, sebagian lagi kakak kelas.


"Aku beli mie gelasnya satu, mbak, yang rasa soto." Anak-anak itu mulai berebut minta dilayani terlebih dulu.


"Aku mau yang rasa ayam bawang."


"Aku mau yang rasa bakso."


"Aku mau yang rasa kari."


Larissa sedikit kewalahan melayani serbuan anak-anak yang tak sabar membeli mie seduh buatannya. "Sabar...sabar, gantian satu-satu ya! Semua pasti kebagian kok!" ucapnya ramah. "Yang mau beli es lilin silahkan ambil sendiri,ya!."


"Zahra, tolong bantu ibu! Kamu terima uang mereka dan berikan kembaliannya."


Beberapa anak menyodorkan sejumlah uang pada Zahra dan mengambil sendiri es lilin dalam termos. Sementara dirinya sendiri melayani anak-anak yang membeli mie seduh.


Tak dihiraukannya lagi pegal-pegal ditubuh serta meriang yang ia rasakan tadi. Fokus melayani anak-anak yang semakin tak sabar untuk dilayani. Terlebih waktu istirahat sekolah sangat terbatas.


Mie seduh diletakkan dalam gelas plastik dan dituang air panas diatasnya. Kemudian ia letakkan sebuah sendok plastik. Dan mie seduh itu pun jadi. "Ini mienya, nak!."


Anak itu pun memberikan sejumlah uang padanya. "Terimakasih," ucapnya. "Kamu mau yang mana?" beralih pada anak yang lain.


"Aku mau yang rasa bakso, mbak tapi nggak usah pake cabe."

__ADS_1


"Iya, tunggu sebentar, ya!."


"Aku boleh buka mienya sendiri nggak, mbak?" tanya salah satu anak.


"Boleh!" jawabnya. Sebuah gelas plastik ia sodorkan bersama gunting untuk mempermudah saat membuka.


Anak itu pun menerima gelas plastik dari tangan Larissa dan membuka mie yang ia inginkan. "Ini, mbak, sudah. Tinggal kasih air panas saja."


Larissa mengambil kembali gelas berisi mie dari tangan anak itu dan menuangkan air panas diatasnya. Kemudian ia berikan kembali mie yang sudah diberi air panas pada anak itu.


Hari itu dagangan Larissa laris manis diserbu anak-anak. Senyum bahagia tersungging di wajah saat melihat uang hasil penjualan yang ia simpan di toples. "Alhamdulillah. Hari ini semua daganganku habis."


Bersamaan dengan itu Hamzah datang dari arah selatan. "Larissa," sapanya saat berada di samping Larissa.


Merasa namanya disebut, ia pun menoleh. "Eh, Entik. Kapan kamu datang?," tanyanya. Dalam hati semakin bersyukur karena sang suami pulang dalam keadaan selamat.


"Belum terlalu lama."


"Kamu sudah makan belum?."


"Sudah! Tadi sebelum kesini aku makan dulu," Hamzah mendudukkan diri disamping istrinya. "Bagaimana jualanmu hari ini?."


"Alhamdilillah. Hari ini jualanku laris manis. Nih lihat!," menunjukkan hasil penjualan dalam wadah stoples pada suaminya.


"Alhamdulillah," turut mengucap syukur seperti istrinya. "Sekarang tolong jual ikan hasil tangkapanku ke pasar. Tadi aku menaruhnya di dekat dapur. Biar aku yang menunggui jualanmu."


Larissa bangkit dan pergi ke rumah untuk mengambil ikan hasil tangkapan suaminya terlebih dulu sebelum kemudian ke pasar untuk menjualnya.


Hari semakin siang saat ia berangkat ke pasar. Sepanjang perjalanan hatinya ketar-ketir khawatir ikannya tidak laku. Sebab di jam-jam segini pasar mulai sepi.


Namun ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Setiba di pasar ia justru bertemu dengan tengkulak yang langsung memborong semua ikan yang dibawanya sehingga ia tak perlu repot-repot menggelar ikannya. Tentu dengan harga yang sesuai pula.

__ADS_1


"Rezeki emang nggak kemana. Walau hari sudah siang tapi ternyata ikanku langsung ada yang membeli." Puji syukur tak henti ia panjatkan atas semua rezeki yang ia terima hari ini.


__ADS_2