Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 19


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Kita tak kan bisa mengulang semua waktu yang telah berlalu. Kita hanya bisa memilih, menyia-nyiakan waktu yang masih tersisa, atau mempergunakan dengan sebaik-baiknya.


Pagi itu Larissa tengah membeli beras di sebuah warung dekat rumahnya. Terdengar bisik-bisik tetangga saat ia melintas. Walaupun sangat pelan, tapi Larissa masih bisa mendengarnya.


Larissa pun menghentikan langkahnya tepat dihadapan orang tersebut. "Maaf!. Ibu-ibu ini lagi ngomongin saya, ya? Memangnya ada apa? Apa ada sesuatu yang salah dari saya?" tanya larissa langsung. Ia paling tidak suka bila ada orang yang bergunjing dibelakangnya.


Ibu-ibu itu terlihat sangat terkejut. Mereka tak menyangka jika ucapannya bisa didengar oleh Larissa. "emh...anu...itu.." ucap ibu tersebut salah tingkah. Dia pun saling melempar pandang dengan ibu-ibu yang lainnya.


"Ada apa, Bu? ngomong aja langsung, saya tidak akan marah. Barang kali ada sesuatu dari diri saya yang tidak ibu sukai. Ibu-ibu tidak perlu berbisik dibelakang saya" ucap Larissa tegas.


Ibu itu semakin salah tingkah. Wajahnya memerah karena menahan malu. "Anu Larissa...kamu hamil lagi, ya?" ucapnya akhirnya.


Larissa tersenyum mendengar apa yang ibu itu tanyakan. "Tidak, Bu. Saya sedang tidak hamil. Beberapa hari yang lalu saya baru selesai datang bulan" jawab Larissa.


"Oh...." Ibu-ibu itu pun ber 'o' ria. Mereka saling melempar pandang.


"Maaf ya, Larissa. Saya kira kamu hamil lagi!" ucap ibu yang bertanya tadi.


"Tidak apa, Bu, tidak masalah. Semoga apa yang ibu bilang tadi jadi kenyataan. Semoga saya lekas hamil kembali," ucap larissa. "Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau masak."


Tanpa menghiraukan ucapan ibu-ibu itu lagi, Larissa pun segera berlalu. Ia harus segera memasak dan pergi ke warung sebelum nanti ibunya marah lagi.


Setelah beberapa lama berkutat di dapur, akhirnya Larissa pun selesai memasak juga. Ia segera pergi ke warung sang ibu setelah membersihkan diri terlebih dahulu.


Sesampainya di warung Larissa segera melayani beberapa pembeli yang datang. Ia lakukan semua dengan penuh keikhlasan.


Selama beberapa hari, Larissa terus disibukkan dengan rutinitas yang sama, membuatnya lupa akan pertanyaan ibu itu tempo hari.


Tengah malam saat Larissa tengah terlelap dalam tidur, ia bermimpi didatangi Baskoro. Dalam mimpinya itu Baskoro berkata, "Nduk, kamu hamil lagi."

__ADS_1


Sontak Larissa langsung terbangun. Ia tidak mengerti kenapa bisa bermimpi seperti itu.


Sepanjang malam Larissa terus memikirkan tentang mimpinya itu. Mimpi itu terlihat sangat nyata, membuatnya sulit untuk melupakannya.


Pagi hari pun tiba. Larissa masih terbayang akan mimpi itu. Akhirnya ia memutuskan membeli testpack untuk memastikan kebenaran mimpi itu.


Larissa pergi ke apotek terdekat. Ia membeli alat pendeteksi kehamilan itu. Bukan hanya satu, tapi tiga alat sekaligus. Sesampainya dirumah ia segera melakukan prosedur pengecekan sesuai yang tertera di dalam kemasan.


Dengan tangan bergetar, Larissa memasukkan alat pendeteksi itu ke dalam urine yang telah ia tampung sebelumnya. Dan setelah beberapa saat, ia mengangkat kembali alat tersebut.


Keringat dingin keluar dari tubuh Larissa. Ia tak sabar menantikan hasilnya muncul. Alangkah bahagianya dia saat mendapati alat pendeteksi kehamilan itu menunjukkan dua garis merah. Ia ternyata benar-benar hamil.


Memang setelah kejadian ia dibawa ke klinik tempo hari, ia tak jadi melakukan KB. Hamzah tidak setuju akan hal itu. Mitos yang beredar mengatakan, jika seorang wanita yang belum pernah melahirkan melakukan KB, maka rahimnya bisa kering, dan ia akan sulit untuk hamil.


Itulah sebabnya kenapa Hamzah tak setuju bila Larissa melakukan KB. Ia takut Larissa akan sulit hamil lagi. Sedangkan ia sangat menginginkan seorang anak, apalagi seorang anak laki-laki.


Sore hari Hamzah baru bangun. Ia capek karena semalaman melaut. Larissa menghampiri suaminya saat mengetahui ia sudah bangun.


Terlebih dulu Larissa menyuguhkan secangkir kopi pada suaminya itu. Ia membiarkan Hamzah mengumpulkan seluruh kesadarannya dulu. Baru kemudian ia akan mengatakan kabar bahagia itu.


"Yank, aku mau nunjukin sesuatu ke kamu" ucap Larissa sambil senyam-senyum setelah melihat kesadaran Hamzah kembali terkumpul.


"Apa?" tanya Hamzah.


Larissa pun menyodorkan hasil tes kehamilan yang ia lakukan tadi pagi. "Apa ini?" tanya Hamzah. Ia masih belum mengerti dengan semua ini.


"Ini tes kehamilan, Yank, dan hasilnya positif. Aku hamil lagi" ucap Larissa gembira.


"Oh, Alhamdulillah!" jawab Hamzah datar. Diletakkannya kembali hasil tes tersebut.

__ADS_1


Realita ternyata tak seindah ekspetasi. Larissa membayangkan jika Hamzah akan bahagia dan langsung memeluk dirinya saat mendapat kabar bahagia itu. Tapi nyatanya semua diluar khayalan. Nyatanya Hamzah hanya menanggapi kabar bahagia itu dengan datar, bahkan terkesan tidak perduli.


Larissa terlihat sangat kecewa dengan tanggapan yang suaminya berikan. Matanya berkaca-kaca karena kecewa. "Kamu tidak senang, ya kalau aku hamil kagi? atau, kamu memang nggak mau punya anak dariku?" tanya larissa sedih.


"Siapa bilang aku tidak senang? aku senang, kok!" jawab Hamzah cepat, masih dengan wajah datarnya.


"Kalau kamu memang senang, kenapa kamu bersikap biasa seperti itu?" tanya Larissa lagi.


"Lalu aku harus bersikap seperti apa? apa aku harus berteriak kegirangan seperti anak kecil?" ujar Hamzah bertanya balik.


"Bukan begitu, tapi setidaknya kamu...."


Belum selesai Larissa bicara, Hamzah sudang memotongnya. "Sudah deh, nggak usah terlalu didramatisir. Aku senang mendengar kau hamil lagi. apa kau puas sekarang?" ujar Hamzah dengan nada tinggi.


Larissa tak berkata apa-apa lagi. Ia memutuskan untuk keluar saja dari kamar. Hatinya kembali terluka dengan sikap Hamzah. Ia keluar kamar dengan berlinangan air mata.


Sikap Hamzah sangatlah sulit untuk ditebak. Terkadang ia lembut, terkadang ia kasar. Membuat hati bertanya, Ada apa sebenarnya denganmu.


Larissa merasa tak melakukan kesalahan apapun. Ia tak mengerti kenapa suaminya kembali bersikap kasar padanya. Apa sebenarnya yang membuatnya seperti ini.


Pertanyaan itu terus berulang dalam hati Larissa tanpa pernah mendapat sebuah jawaban. Ia hanya berdoa, semoga kehamilannya ini bisa membawa kebahagiaan untuk keluarga kecilnya. Dan merekatkan kembali hubungannya dengan sang suami.


Larissa masuk ke dalam kamar mandi. Ia menangis sejadi-jadinya. Untuk sejenak ia ingin menumpahkan semua kesedihan disana. Sebelum kembali menghadapi realita.


Hamzah pergi keluar. Ia tak tahu jika saat ini Larissa tengah menangis sedih didalam kamar mandi. Bahkan mungkin tak perduli walaupun ia tahu. Ia baru kembali setelah malam tiba.


"Ini uang hasil melaut semalam. Pergunakan dengan baik. Nanti malam aku tidak bisa melaut lagi" ujar Hamzah sambil menyodorkan sejumlah uang pada Larissa.


Hanya kalimat itu yang ia katakan saat ia kembali. Selanjutnya ia keluar rumah lagi dan kembali saat Larissa sudah tertidur.

__ADS_1


__ADS_2