
Hai reader semua, author minta maaf karena baru bisa up sekarang. Selama beberapa hari ini author kurang enak badan.
Semoga kalian masih setia menunggu kelanjutan kisahnya dan memberi dukungan juga untukku.
Langsung aja yuk. Simak cerita selanjutnya....
*
*
*
Larissa kembali mengalami ngidam. Kali ini ia ingin meminum susu sapi yang baru diperas. Tentu saja Hamzah dibuat pusing karena keinginan istrinya itu. Pasalnya rumah mereka berada di pesisir pantai, dan tidak ada satu warga pun yang memelihara sapi. Apalagi sapi berjenis sapi perah.
"Kamu kalau ngidam jangan yang aneh-aneh dong!" keluh Hamzah.
"Mana aku tahu. Orang yang ingin itu anakmu!" jawab Larissa cemberut.
Hamzah menghela nafas. "Lalu aku harus cari kemana?."
"Mana aku tahu!. Cari kemana gitu, kek, terserah. Emang kamu mau anakmu nanti ngileran?."
Hamzah mengusap wajah gusar, menghela napas kasar. "Ya udah, tungguin dirumah. Aku cariin dulu susu sapinya!." menyambar kunci motor dan bergegas memacunya.
walau sedikit kesal dengan jawaban sang suami, Larissa tetap tersenyum gembira. Sudah terbayang di mata bagaimana nikmatnya meminum segelas susu hangat yang baru matang, apalagi dengan bagian yang menggumpal diatasnya.
Hamzah berputar-putar mencari susu sapi murni yang Larissa inginkan. Walau kemanapun dia mencari, tetap tidak akan mendapatkannya juga. Pasalnya daerah tempat tinggal mereka bukan sentra penghasil susu.
Hamzah menepikan motornya dipinggir jalan. Ia sudah capek berputar-putar. "Huft....capek banget. Harus kemana lagi aku mencari susu itu?" sambil mengipasi tubuhnya dengan baju yang dikenakannya. Peluh membanjiri seluruh tubuh.
Tiba-tiba pandangan Hamzah tertuju pada sebuah warung yang berada tidak jauh dari sana. Warung tersebut menjual beberapa jenis susu cair dalam kemasan. "Apa sebaiknya aku belikan susu itu aja, ya? itu kan sama-sama susu murni" gumamnya. "Ah, aku tak perduli. Mau betul atau salah, yang penting aku sudah membelikannya. Aku sudah capek banget nyarinya."
Hamzah pun melangkah menuju warung tersebut dan membeli tiga buah kotak susu berukuran kecil yang ia anggap sesuai dengan keinginan istrinya.
__ADS_1
Hamzah bersiul senang. Susu sudah ada ditangan. Saatnya untuk kembali pulang. Ia segera memacu motornya kembali ke rumah. Tak sabar ingin tahu bagaimana reaksi istrinya saat melihat susu yang ia bawa.
"Nih, susu yang kamu inginkan" ucap Hamzah saat ia sudah berada dihadapan istrinya.
"Wah, makasih banyak, ya" ucap Larissa dengan mata berbinar-binar. Diambilnya bungkusan tersebut dari tangan suaminya.
Alangkah terkejutnya Larissa saat membuka bungkusan tersebut. Pasalnya susu yang dibeli Hamzah tidak sesuai dengan susu yang dia inginkan. "Entik, ini apaan?."
"Ya, susu lah. Apalagi? kan kamunya ingin susu?" jawab Hamzah santai.
"Iya, aku tahu ini susu. Tapi yang aku inginkan bukan susu kemasan seperti ini. Aku inginnya susu murni yang masih fresh."
"Itu juga kan berasal dari susu murni."
"Iya, aku tahu ini terbuat dari susu murni. Tapi yang aku inginkan itu bukan susu yang seperti ini" Keukeh dengan keinginannya.
"Udahlah, nggak pa pa. Minum aja susu yang itu. Kan sama-sama susunya. Aku dah berjuang keliling-keliling buat beli susu itu loh" bujuk Hamzah, menaik-turunkan alisnya dengan maksud meluluhkan hati istrinya agar tidak marah.
"Kalau susu yang model beginian mah di warung depan juga ada. Nggak usah pake muter-muter buat nyari" jawab Larissa cemberut.
Diluar dugaan, ternyata Larissa tidak marah. "Huft, ya sudah, nggak pa pa. Yang penting kamu sudah usaha." Hamzah bernapas lega mendengar jawaban istrinya.
Walau susu yang dibawa Hamzah tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, Larissa tetap meminumnya juga. Ia menghargai usaha suaminya. Lagipula nggak mungkin juga kalau mesti dibuang. Kan, sayang uangnya.
...****************...
Persalinan Larissa tinggal menghitung hari lagi. Hamzah tetap melaut seperti biasa. Lumayan uang yang dihasilkan, bisa buat nambah-nambah biaya nanti.
Akan tetapi, malam ini Hamzah sangat susah untuk dibangunkan. Padahal pemilik perahu sudah lama menunggu. Berulangkali Larissa mencoba membangunkannya, tapi tak jua membuahkan hasil. "Entik, ayo bangun. Juragan sudah lama menunggu!" ucap Larissa sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
Hamzah hanya menggeliat sebentar dan merapatkan selimutnya kembali. "Bilang aja aku nggak jadi ikut. Aku kurang enak badan" jawabnya singkat lalu mata tertutup lagi.
Larissa menghela napas, menyerah membangunkan suami. Ia pun segera keluar dan menyampaikan perkataan suaminya tadi pada juragan. "Mbak, maaf, suami saya nggak jadi ikut. Katanya kurang enak badan."
__ADS_1
Juragan terlihat sangat marah mendengar ucapan Larissa. "Kalau nggak ikut, bilang dari awal. Jangan membatalkan disaat akan berangkat begini."
Larissa menghela napas. Ia bisa memahami kemarahan juragan. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Jika ia tetap memaksa suami bangun, yang ada malah dia yang kena marah sang suami
Larissa masuk kembali ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya dengan kesal. Kesal dengan semuanya. Kesal pada suami karena membatalkan sepihak, juga kesal pada juragan karena dia yang dimarahi.
Sebenarnya Larissa tidak masalah jika Hamzah tidak melaut, tapi seharusnya bilang dari awal, jangan membatalkan saat akan berangkat seperti ini. Sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
Pagi menjelang, Larissa melakukan aktivitas seperti biasa. Tapi menjelang siang, Hamzah tak juga bangun. Membuat Larissa semakin kesal dibuatnya.
Sepanjang hari Larissa tak banyak bicara. Ia tak perduli dengan suaminya. Bahkan ia tak perduli jika suaminya terus meringkuk dibawah selimut. Walau rasa kesal itu masih ada, tapi bukan itu penyebab diamnya Larissa hari ini.
Semalam, saat ia kembali tidur, ia bermimpi didatangi sosok ayah kandungnya. Sosok yang teramat sangat ia rindukan. Sosok yang paling ingin ia temui, tapi itu takkan pernah bisa terwujud.
Dalam mimpinya itu, sang ayah mengenakan pakaian serba putih. Larissa pun menyambut kedatangannya dengan sukacita. Ia mempersilahkan Ayah untuk masuk dan menyuguhkan minuman untuknya.
Setelah berbincang lama, Ayah pun pamit pulang. Akan tetapi saat berpamitan, sebuah kalimat terucap dari bibir ayah yang membuat hati Larissa resah.
Dalam mimpinya itu, Ayah mengajak Larissa untuk ikut serta dengannya. Sontak Larissa pun terbangun dari mimpinya. Pasalnya sang Ayah telah lama tiada.
Ayah berpulang ke pangkuan illahi saat Larissa duduk di bangku SMP. Saat itu ia masih tinggal di panti asuhan. Hati Larissa gamang, tak tahu apakah harus bersedih atau tidak saat mendapat kabar duka itu.
Teman-teman datang mengerubunginya untuk menyampaikan bela sungkawa. Bahkan beberapa ada yang meneteskan air mata. Akan tetapi Larissa malah terlihat cuek. "Kalian ini kenapa, sih? pake acara nangis-nangis segala?."
"Ayahmu meninggal dunia, Larissa!" jawab salah satu temannya.
"Terus kenapa kalian yang menangis? aku yang ditinggalkan aja tidak menangis?."
"Tapi yang meninggal itu Ayahmu. Apa kamu tidak bersedih?."
"Tidak!. Untuk apa aku bersedih. Aku tidak pernah tahu sosok ayah kandungku. Aku juga tidak pernah merasakan kehadirannya di sisiku. Jadi, untuk apa aku menangisinya?"
Sontak teman-temannya pun menjitak kepala Larissa karena kesal dengan jawaban yang ia berikan. Tapi mau bagaimana lagi, memang itulah yang ia rasakan saat itu.
__ADS_1
Itulah mengapa sepanjang hari Larissa terus saja diam. Ia gundah memikirkan ucapan sang Ayah dalam mimpi itu.