
Larissa penasaran dengan wajah suami Izzah saat rombongan mempelai pria datang. Ini adalah kali pertama mereka bertemu. Namun saat ia berhasil melihat wajahnya, ia justru merasakan getaran-getaran aneh di hati, sebuah getaran yang tak seharusnya ada terlebih dirinya telah bersuami.
Larissa memilih menyibukkan diri di dapur umum agar bisa melupakan perasaan itu. Namun tiba-tiba ia merasakan nyeri yang sangat hebat di ***********.
Larissa memilih menepi agar tak mengganggu yang lain. Dicobanya meredam rasa sakit itu dengan meminum air putih sebanyak-banyaknya sambil bersandar ditembok. Namun bukannya berkurang, rasa sakit itu justru semakin hebat menyerang hingga sakitnya terasa sampai ke punggung.
Larissa terbujur lemas, mengerang kesakitan sambil memegangi dada. Air mata mengalir deras namun tak bersuara. Tak ada satupun yang menyadari keadaannya karena begitu sibuknya semua orang saat itu.
Larissa mengerang dan terus mengerang, namun tak ada satupun yang datang menolong. Ia pun mencoba bangkit untuk mencari pertolongan.
Larissa berjalan merangkak mendekati salah satu ibu yang berada tidak jauh darinya. "Bu, boleh aku minta tolong?
"Ada apa, Larissa?."
"Tolong panggilkan suamiku," ucapnya lirih dengan nafas terengah-engah. Sekuat tenaga ia tahan rasa sakit itu. Pakaiannya pun telah basah oleh keringat yang.mengucur deras.
"Tunggu sebentar! Akan ibu panggilkan."
Larissa bersandar ditembok menunggu suaminya datang. Pandangan mata mulai menggelap karena tak mampu lagi menahan rasa sakit.
Ditengah gempuran rasa sakit yang semakin tak tertahan Hamzah pun tiba. Ia terkejut setengah mati begitu melihat kondisi sang istri. "Ada apa, Encus? Kau kenapa?," tanyanya panik.
Larissa tak sanggup lagi bicara apalagi menjawab pertanyaan suaminya. Ia hanya bisa mengerang dan mengerang. "Sakit, Entik, sakit!."
"Mana yang sakit? Apa dadamu lagi yang sakit?," Hamzah semakin panik mendengar istrinya mengerang kesakitan.
Larissa hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Pandangannya semakin menggelap.
"Kalau begitu kita pulang saja sekarang biar kau bisa istirahat. Kau pasti kecapekan, kan?."
Kembali Larissa mengangguk untuk menjawab pertanyaan suaminya.
Tanpa banyak bicara Hamzah membantu memapah Larissa. Namun ia menolak dengan alasan tak ingin menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Hamzah terus berusaha, namun Larissa tetap kukuh menolak. Hingga akhirnya ia pasrah dan menuruti keinginan istrinya.
Larissa memang keras kepala. Ditengah rasa sakit yang mendera ia malah menolak untuk dibantu. Ia berjalan terhuyung-huyung hingga hampir menabrak vas bunga.
Hamzah tak serta merta membiarkan istrinya begitu saja. Ia turut berjalan dibelakang. Dan saat ia melihat Larissa hampir menabrak vas, dengan cepat ia tarik tangannya dan menahan tubuhnya. "Cukup, Larissa! Tolong jangan keras kepala lagi. Tindakanmu saat ini justru membuat kita menjadi pusat perhatian para tamu undangan."
Larissa tak dapat menolak lagi. Tubuhnya terlalu lemah hingga membuatnya pasrah begitu saja saat suaminya menggendong tubuhnya.
"Apa kau masih sanggup untuk duduk diatas motor?," tanya Hamzah saat mereka tiba di parkiran."
Meski tubuhnya semakin lemah, namun Larissa berusaha kuat. Tak mungkin ia biarkan Hamzah terus menggendongnya hingga sampai dirumah walau jarak dari tempat acara ke rumah tidak terlalu jauh. "Ya, aku masih sanggup!."
Hamzah mendudukkan Larissa diatas motor dan kemudian dirinya. "Pegangan yang kuat, Larissa. Aku tak ingin kau jatuh nanti," ucapnya sambil melingkarkan tangan Larissa di pinggangnya.
Larissa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Saat ini keinginannya hanya satu, segera sampai di rumah dan beristirahat.
Dengan sebelah tangan, Hamzah memacu motornya dengan begitu berhati-hati. Ia berusaha keras untuk meminimalisir goncangan yang terjadi selama diperjalanan agar Larissa tak semakin kesakitan. Sedang sebelah tangannya lagi terus memegang tangan Larissa, memastikan pegangannya tak terlepas dari pingganggnya.
"Sandarkan kepalamu di punggungku agar kepalamu tak pusing," ucap Hamzah saat melihat dari pantulan kaca spion kepala istrinya berulangkali mendongak ke atas.
Jarak dari tempat acara ke rumah tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu kurang lebih lima belas menit saja. Namun perjalanan pulang kali ini terasa begitu lama, terlebih Hamzah berulangkali menghentikan motor untuk memastikan bahwa istrinya tidak kenapa-napa.
Menit demi menit berlalu, mereka pun tiba juga di rumah. Hamzah segera membawa tubuh istrinya ke kamar dan menidurkannya diatas tempat tidur.
"Tunggu disini sebentar! Aku buatkan teh hangat dulu untukmu." Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya Hamzah langsung melesat ke dapur. Dengan cekatan ia meracik secangkir teh untuk istrinya.
TEh telah selesai dibuat. Hamzah membawanya segera ke kamar. "Ini, minumlah teh hangat ini dulu!," ucapnya. Disodorkannya gelas berisi teh itu kehadapan istrinya.
Larissa berusaha menegakkan tubuh agar bisa meminum teh buatan suaminya. Namun ia malah kembali mengerang kesakitan.
"Hati-hati! Biar aku bantu kau duduk." Hamzah meletakkan cangkir di tangannya dan menahan tubuh Larissa, lalu membantunya untuk duduk. Kemudian ia ambil sebuah bantal dan diletakkan di belakang punggung sang istri. "Apa sekarang sudah lebih nyaman?."
Larissa menganggukkan kepala. "Iya, Entik, makasih!."
__ADS_1
"Sekarang minumlah ini!." Hamzah mengambil kembali gelas berisi teh buatannya tadi dan menyodorkan kehadapan sang istri.
Larissa mengambil gelas itu dari tangan suaminya, namun ia tak kunjung meminumnya.
"Ada apa? Apa kau ingin aku meminumkannya untukmu?," tanya Hamzah.
Larissa hanya menggelengkan kepala. "Tidak usah! Aku bisa sendiri."
"Kalau begitu cepat minumlah! Setelah itu istirahat!."
Larissa meneguk teh dalam gelas tersebut hingga tinggal setengahnya. Kemudian ia kembalikan lagi gelas tersebut pada suaminya.
"Sekarang rebahkan lagi tubuhmu. Aku akan menemanimu disini." Hamzah membantu merebahkan tubuh Larissa kembali setelah meletakkan gelas diatas nakas. Kemudian ia menarik sebuah selimut untuk menyelimuti tubuh sang Istri. "Istirahatlah!."
Hamzah lantas memposisikan diri didekat kaki Larissa. Tangannya terjulur menyentuh bagian itu. Lalu sebuah pijatan lembut pun ia berikan.
Larissa urung memejamkan mata saat merasakan pijatan lembut di kakinya. "Kau sedang apa, Entik?."
Hamzah tersenyum teduh. "Aku hanya memijat kakimu saja agar kau lebih nyaman lagi."
Larissa membalas senyuman suaminya dengan mengunggingkan senyum termanisnya. "Terimakasih karena kau sudah mau merawatku. Tetaplah seperti ini terus walau apapun yang terjadi."
Hamzah tak menjawab apapun dan malah bertanya, "Apa sekarang jauh lebih baik?."
Larissa mengangguk, dan Hamzah kembali bertanya, " Apa dadamu masih terasa sakit?."
Kali ini Larissa menjawab dengan gelengan. "Sudah tidak telalu sakit."
"Kalau begitu sekarang tidurlah!," menghentikan pijatannya di kaki Larissa agar bisa beristirahat dengan tenang.
Namun sebelum Larissa benar-benar memejamkan mata ia kembali bertanya, "kalau kau aku tinggal sebentar untuk menjemput Zahra, boleh?."
Larissa mengangguk. "Tapi jangan lama-lama."
__ADS_1
Hamzah mengangguk dan menghilang dibalik pintu setelah sebelumnya mendaratkan sebuah kecupan mesra di keningnsang istri.
Larissa menatap punggung Hamzah hingga ia hilang dari pandangan. Terbesit perasaan bersalah dalam hati karena tadi sempat terpesona oleh laki-laki lain walau itu tak disengaja. "Maafkan aku!," ucapnya lirih.