Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 28


__ADS_3

Semalaman Larissa tak bisa tidur nyenyak. Jangankan untuk tidur, untuk bergerak saja susah. Ditambah kontraksi yang semakin menjadi, membuatnya sulit untuk memejamkan mata barang sekejap.


Larissa tak sabar menanti pagi tiba. Ia ingin segera pulang ke rumahnya sendiri agar lebih leluasa bergerak. Dan saat-saat yang ditunggu itu tiba, ia segera membangunkan suaminya dan mengajak untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Larissa merasa lebih nyaman. Biarpun kecil, tinggal dirumah sendiri memang lebih nyaman daripada rumah mewah tapi numpang. Terlebih ibu mertua juga terlihat tidak menyukai kehadirannya. Rasa sakit yang dirasakan Larissa memang tidak hilang, tapi sedikit teralihkan karena rasa nyaman yang ia rasakan.


Hingga sore hari, Larissa tak jua menampakkan tanda-tanda akan kembali lagi ke rumah mertuanya, karena memang ia tidak ingin kembali lagi. Hamzah membiarkan keinginan istrinya itu. Ia tidak tahu jika Larissa tidak mau kembali lagi. Ia beranggapan Larissa kembali ke rumah hanya untuk mengganti baju.


Malam hari pun tiba, Hamzah mengajak Larissa untuk segera kembali ke rumah orang tuanya. Akan tetapi Larissa menolak dan menjelaskan alasan kenapa ia tidak mau kembali.


Hamzah marah besar. Ia salah paham dengan maksud istrinya. Ia beranggapan jika Larissa tidak mau diajak kesana karena tidak suka dengan orang tuanya.


Dalam kemarahannya, Hamzah mengucapkan kata-kata yang begitu menyayat hati. "Kurang ajar. Kamu sudah berani menolak ajakan ku. Kualat kamu. Lihat saja, kamu akan kesulitan saat melahirkan nanti."


Bagai tersambar petir disiang bolong. Larissa begitu terpukul mendengar cacian suaminya sendiri. Bahkan dengan begitu tega menyumpahi dirinya seperti itu.


Setelah mengatakan kalimat yang begitu menyayat, Hamzah pergi meninggalkan rumah. Ia juga mengemasi beberapa pakaiannya. Entah kemana ia akan pergi.


Meski hatinya terluka hingga berdarah-darah, Larissa tetap berusaha mencegah kepergian suaminya. Bahkan ia sampai bersimpuh di kakinya. Akan tetapi, Hamzah kukuh dengan pendiriannya untuk pergi. Jangankan untuk memeluk, menoleh pun tidak.


Deraian air mata tak terbendung lagi, mengiringi kepergian sang suami yang tega menyakiti. Bahkan ia tak perduli dengan rasa sakit yang Larissa alami.


Bu Ani datang, ia melihat Larissa tengah menangis. Ia tidak tahu dengan kejadian yang baru dialami anaknya. Ia mengira Larissa menangis karena rasa sakit akan melahirkan. "Nggak usah menangis. Baru tahu kamu kalau orang mau melahirkan itu sakit. Makanya jangan berani sama orang tua" ucapnya saat melintas disamping Larissa.

__ADS_1


Belumlah kering luka yang dirasakan Larissa, sang ibu malah tega menambah luka itu. Sungguh luka diatas luka, derita diatas derita.


Larissa tak tahan lagi dengan semua luka yang ia rasakan. Ia pun mengeluarkan semua dukanya. "Bu, aku tahu melahirkan itu memang sakit. Tapi aku menangis bukan karena rasa sakit akan melahirkan ini. Aku menangis karena ucapan Hamzah" ujarnya dengan berderai air mata.


Sang ibu menghentikan langkah mendengar ucapan anaknya. "Emangnya ada apa?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


Larisa pun menceritakan semua yang terjadi. Juga bagaimana dengan kejamnya Hamzah menyumpahinya.


Bu Ani tersulut emosinya setelah mendengar cerita Larissa. "Dasar laki-laki tidak berperasaan. Istrinya sedang kesakitan seperti ini malah disumpahi seperti itu."


"kamu tenang saja, nak. Sumpah serapah suamimu tidak mempan. Aku ibumu. Aku yang lebih berhak atas dirimu. Kalau suamimu tidak menginginkan dirimu, ibu yang akan merawat mu." ucap Bu Anai sambil membelai kepala putri bungsunya. "Sekarang, ikut dengan ibu."


Larissa pun mengikuti langkah ibunya. Tenyata sang ibu mengajak ke kamar mandi. Larissa semakin bingung dibuatnya. "Kita mau ngapain, bu?" tanyanya.


Ucapan sang ibu sedikit menenangkan hati Larissa. Ia pun menuruti perintah ibunya.


Setelah beberapa lama, Bu Ani menyuruh Larissa untuk meminta Hamzah mengantarnya ke rumah Bu bidan."Nak, coba kau minta suamimu untuk mengantarmu ke rumah Bu bidan. Lakukan ini untuk menghormati suamimu. Kalau dia masih tidak mau, ibu yang akan mengantarmu."


Seperti Hamzah, sikap ibu juga susah ditebak. Akan tetapi Larissa tak terlalu memikirkan hal itu. Baginya, sang ibu dan suami bisa akur adalah sebuah sebuah kebahagiaan.


Larissa menuruti perintah ibunya. Ia mencari keberadaan suaminya. Dan setelah bertemu, ia meminta untuk diantar ke rumah Bu bidan. Untunglah kemarahan Hamzah telah mereda. Ia bersedia mengantarkan Larissa ke rumah Bu bidan.


Sesampainya di rumah Bu bidan, Larissa segera diperiksa. Ternyata pembukaannya masih sama seperti kemarin, tidak ada kemajuan sama sekali. Padahal kontraksi yang dirasakan Larissa semakin kuat.

__ADS_1


Bu bidan menyarankan Larissa untuk tinggal disitu agar memudahkan pemantauan. Terlebih ia juga sudah tahu masalah yang dialami Larissa.


Sebenarnya tak lama setelah Larissa pergi, Bu Ani mendatangi rumah Bu bidan dan menceritakan semua. Karena itulah Bu bidan meminta Larissa untuk tetap disana.


Larissa menuruti perkataan bu bidan. Terlebih saat itu juga sudah terlalu malam. Tidak baik jika ia tetap memaksa untuk pulang. Dan lagi perkataan Bu bidan mang ada benarnya.


Pagi menjelang, namun larissa tak kunjung melahirkan. Padahal ini sudah hari ke tiga sejak ia mengalami kontraksi.


Bu bidan sangat mengkhawatirkan keadaan larissa. Ia memintanya melakukan USG untuk memastikan keadaannya dan juga bayinya.


Larissa kembali bingung, pasalnya motor Hamzah tidak bisa digunakan untuk menempuh perjalanan jauh. Akhirnya ia mutuskan untuk meminta antar ayah mertu dengan menggunakan becak motor miliknya.


Harapan hanya tinggal harapan. Ternyata mertuanya menolak mengantar dengan dalih becaknya tidak bisa dibawa kesana. Padahal sebelumnya sudah pernah mengantar Larissa kesana.


Larissa pergi dengan menelan kekecewaan. Kecewa dengan ibunya, kecewa dengan mertuanya, kecewa dengan suaminya, dan kecewa dengan dirinya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk naik angkutan umum. Walau ia harus berjalan kaki sedikit jauh untuk menjangkau angkutan umum tersebut.


Larissa diturunkan di tengah jalan oleh angkutan tersebut. Ia harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki lagi. Karena tempat USG tidak bisa dijangkau dengan kendaraan.


Dengan tertatih dan juga rasa sakit yang semakin mendera, Larissa akhirnya sampai juga ke tempat USG. Ia langsung ditangani oleh pihak disana karena sebelumnya Bu bidan sudah mengabarkan tentang kedatangannya.


Kekhawatiran Bu bidan tenyata benar. Hasil USG menyatakan jika bayi Larissa harus segera dikeluarkan karena air ketubannya sudah habis. Mau tidak mau, harus diambil langkah operasi. Jika tidak, maka bayinya tidak bisa diselamatkan.


Larissa semakin frustasi dengan kenyataan itu. Pasalnya untuk biaya persalinan normal saja belum tentu mencukupi, tapi kini ia malah harus dioperasi. Semakin berat saja beban yang harus ia pikul.

__ADS_1


__ADS_2