Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 26


__ADS_3

Larissa mengetahui bagaimana rupa Ayah kandungnya secara tidak sengaja. Waktu itu ia sedang merapikan baju-baju ibunya di almari. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah buku berwarna hijau tua yang terselip diantara lipatan baju.


Larissa meraih buku tersebut dan melihatnya. Tertulis BUKU NIKAH ISTRI. PENGADILAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA, tercetak dengan huruf tebal.


Tangan Larissa bergetar saat membaca tulisan disampul depan buku tersebut. "Apakah buku nikah ini milik ibu?" gumamnya dalam hati. Dengan memberanikan diri, Larissa mulai membuka buku tersebut.


Perlahan, jemari Larissa membalik halaman buku itu. Ternyata dugaannya memang benar. Buku nikah itu memang milik ibunya. Terpampang dengan jelas foto sang ibu disana, tertulis pula namanya. Disebelahnya ada sebuah foto seorang pria yang menikahinya. "Ya Allah, inikah wajah ayahku yang sebenarnya."


Air mata Larissa luruh seketika. Diusapnya foto sang Ayah yang tak pernah bisa ia temui. "Ayah, jika selama ini ayah dan ibu menikah sah secara hukum dan agama, mengapa ayah pergi meninggalkan ibu? Kenapa Ayah tidak pernah menemuiku barang sekali? apakah memang aku ini anak yang tidak pernah diharapkan? anak pembawa sial?" tangisnya tertahan.


Terdengar derap langkah kaki mendekat. Buru-buru ia letakkan kembali buku itu ke tempatnya sebelum ada yang mengetahuinya. Kemudian ia masukkan baju-baju yang masih tersisa.


Pintu kamar terbuka. Sesosok perempuan paruh baya menyembul dari balik pintu. Ternyata itu adalah sosok Bu Ani, ibu kandung Larissa. Larissa menghapus air matanya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Sedang apa kamu disini?" tanya ibu saat melihat Larissa berada di dalam kamarnya.


"Aku sedang menata baju-baju ibu yang berantakan di lemari. Sekalian aku memasukkan baju-baju ibu yang selesai aku cuci kemarin" jawab Larissa sedikit gugup. Ia takut ibunya curiga.


Bu Ani menatap tajam ke arah Larissa. Pandangannya serasa mengintrogasi. Larissa semakin takut dipandang seperti itu. Khawatir ibunya menyadari ada sesuatu yang salah.


Bu Ani menghela nafas. Sorot matanya meredup. "Kalau sudah selesai, cepetan keluar. Ibu mau istirahat" ucapnya sambil meletakkan barang bawaannya.


Larissa membuang nafas lega mendengar ucapan ibunya. "Baik, Bu. Ini juga mau selesai" jawabnya sambil memasukkan baju terakhir ke dalam lemari.


Larissa menutup kembali pintu lemari dan bergegas meninggalkan kamar ibunya. "Huft, hampir saja!" gumamnya dalam hati setelah ia berhasil keluar.

__ADS_1


Itulah pertama kali Larissa mengetahui wajah ayah kandungnya. Berjuta pertanyaan terus bergelayut di hati kenapa ayahnya tidak pernah datang untuk menemuinya tanpa ada sebuah jawaban. Dan mungkin untuk selamanya, ia takkan pernah mendapat jawaban dari semua pertanyaannya itu.


...****************...


Larissa terus merasa resah memikirkan maksud mimpinya semalam. Ia tak mengerti kenapa tiba-tiba bermimpi seperti itu. Padahal sepanjang hidupnya, ia tak pernah melihat sosok sang Ayah. Akhirnya, ia pun menceritakan mimpinya itu pada Bu Ani.


Bu Ani terlihat sangat khawatir dengan keselamatan anaknya saat Larissa menceritakan mimpinya itu. Terlebih Larissa tengah hamil tua."Pergi sana!. Jangan ganggu anakku. Aku yang merawatnya dari kecil. Dia tidak akan ikut denganmu" omelnya saat itu. Maksud perkataannya itu ditujukan untuk mengusir arwah Ayahnya agar tidak menggangu Larissa lagi.


Tindakan Bu Ani ini dikarenakan kepercayaannya yang menganggap mimpi didatangi orang yang sudah meninggal adalah sebuah pertanda buruk. Apalagi dalam mimpi itu Larissa diajak untuk ikut serta. Ia takut terjadi apa-apa pada Larissa.


"Kamu tenang saja, nak. Ibu tidak akan pernah membiarkan Ayahmu membawamu. Aku yang merawat mu sedari kecil. Jadi aku yang berhak untuk membawamu" ucap Bu Ani lagi sambil mengusap kepala anak bungsunya itu.


Larissa sedikit tenang setelah mendengar ucapan ibunya tadi. Kemudian ia masuk kedalam kamar untuk merebahkan tubuh. Disampingnya ada suaminya, Hamzah yang tengah berbaring juga.


"Kamu ini kenapa? dari tadi mendiamkan aku seperti itu. Kamu pikir aku ini sebuah patung!" teriaknya seraya bangkit dari tempat tidur.


"Jelas saja aku marah padamu. Gara-gara kamu, aku dimarahi habis-habisan sama juragan. Aku sebenarnya tidak masalah kalau kamu ngomong sedari awal. Aku bisa memaklumi itu. Tapi aku tidak suka kalau kamu mengundurkan diri mendadak seperti tadi. Itu bisa merugikan orang lain." teriak Larissa tak mau kalah. "Kamu tahu, karena sikapmu tadi, juragan jadi batal melaut gara-gara kekurangan orang. Apa itu tidak merugikan orang lain namanya?."


"Aku kan sudah bilang, aku kurang enak badan. Itu sebabnya aku membatalkan untuk ikut melaut."


"Tetap saja kamu salah. Harusnya kamu ngomong sedari awal."


Hamzah mendengus kesal. Ia mengusap wajahnya kasar. "Kamu pikir sakit itu bisa diprediksi? sakit itu datangnya tiba-tiba. Tidak ada orang yang tahu kalau dia akan sakit."


Ucapan Hamzah membuat Larissa terdiam seketika. Tapi hal itu tak berpengaruh pada pendiriannya. Ia masih tak mau mengerti dan tetap menyalahkan Hamzah. Membuat Hamzah semakin tersulut emosi.

__ADS_1


Hamzah memutuskan untuk tak meneruskan perdebatan mereka. Percuma juga mau dijelaskan seperti apa. Karena Larissa sendiri tetap tak mau mengerti. Ia hanya memikirkan perasaan sakit hatinya karena dimarahi juragan tadi.


Hamzah gegas memakai pakaiannya dan pergi dari rumah. Entah kemana ia pergi, karena tak berselang lama ia sudah masuk kembali kedalam kamar.


"Aku sudah bilang ke juragan. Mulai saat ini, aku tidak akan ikut melaut lagi dengannya. Dan kamu tidak akan pernah dimarahi lagi olehnya" ucapnya datar saat sudah berada didalam kamar.


Larissa terkejut mendengar ucapan suaminya. Tak menyangka ia akan bertindak seperti itu. Rupanya kepergiannya tadi adalah menuju rumah juragan.


Larissa tertunduk lesu. Sekarang ia bingung sendiri akibat ulahnya.


Ucapan Hamzah tak berhenti sampai disitu. Ternyata ia masih meneruskan amarahnya. "Aku menyesal menikahimu. Kamu tidak bisa mengerti aku."


Larissa tertegun mendengar


ucapan suaminya. Ungkapan penyesalan itu terucap untuk yang ketiga kali dari bibir Hamzah. Sontak Larissa pun meneteskan air mata. "Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kau ingin bercerai denganku."


"Ya! Aku ingin bercerai denganmu. Bila perlu, gugurkan juga bayi dalam kandunganmu itu. Aku antar kamu ke bidan sekarang untuk melakukannya. Biar kita tidak ada ikatan lagi. Dan semua selesai!?" ucapnya dengan mata berapi-api.


Luapan emosi tercurah sudah. Entah Hamzah sungguh-sungguh atau tidak saat mengatakan hal mengerikan itu.


Tubuh Larissa luruh diatas lantai. Air matanya berderai tak tertahan. Dunia serasa kiamat saat mendengar suaminya mengatakan hal yang paling ia takuti.


"Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kamu benar-benar ingin melakukannya?" ucap Larissa lirih. Air mata membasahi pipinya.


Hamzah tak menjawab pertanyaan yang diajukan istrinya. Ia memalingkan wajah dari pandangan larissa.

__ADS_1


__ADS_2