Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 55


__ADS_3

Tengah malam Larissa terbangun karena merasa sangat haus. Ia pun berniat mengambil air minum di dapur untuk sedikit membasahi kerongkongannya.


Larissa membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur. Dan setelah rasa hausnya hilang, ia pun berniat kembali lagi ke kamar.


Tak ada yang janggal saat itu. Tapi saat ia melintas didekat ruang tamu, samar-samar ia melihat sebuah bayangan di pojok ruangan.


Larissa mempertajam penglihatannya, mencoba memastikan apa yang ia lihat. Akan tetapi matanya yang masih sembab bekas menangis semalam membuatnya sedikit kesulitan untuk memastikan. Akhirnya Larissa memutuskan untuk melihat dari jarak dekat.


Larissa berjingkat, berjalan perlahan tanpa menimbulkan suara. Sebenarnya ia sedikit takut jika bayangan yang ia lihat tadi adalah penjahat atau pencuri yang sedang memasuki rumah. Tapi apa yang akan dicuri dari sebuah rumah kecil seperti yang ia tinggali. Bahkan tak ada satupun barang berharga dirumah yang pantas untuk diambil. Namun tetap saja ia harus memastikan semua, dan rasa penasaran mengalahkan semua rasa takutnya.


Alangkah terkejutnya saat ia sudah berada didekat sana, ternyata itu adalah suaminya. Ia tengah meringkuk dengan kaki tertekuk. Tas besar yang dibawanya tadi ia gunakan sebagai bantal. Sungguh miris keadaannya saat itu.


Larissa mengulurkan tangan, berniat membangunkan suaminya agar pindah tidur di kamar. Tapi saat ia hampir menyentuh tubuhnya, tangannya malah terhenti. Sekelebat ingatan tentang kejadian tadi sore membuatnya mengurungkan niatnya.


Tak tega rasanya melihat kondisi sang suami saat ini. Tapi bukan hal yang mudah pula untuk menghapus ingatan tentang kejadian kemarin. Rasa sakit yang ditimbulkan masih berbekas. Bahkan luka yang tertoreh pun belumlah kering.


"Kenapa kita jadi seperti ini? Tidak bisakah kita seperti pasangan yang lain?," ucapnya lirih. Setetes air mata meluncur tanpa bisa dihentikan. "Andai kau bisa sedikit saja mengendalikan amarah, maka kita tidak akan seperti ini. Dan aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini karena bisa bersanding denganmu."


"Maafkan aku! Bukannya aku tidak mencintaimu lagi. Tapi aku ingin kau berubah. Aku ingin kau menyadari kesalahanmu dan tak melakukan hal yang sama lagi bila sedang marah."


"Engh...." Suara erangan terdengar dari bibir Hamzah yang disertai dengan pergerakan tubuh hingga membuyarkan lamunan Larissa.


Larissa menghapus air mata dan cepat-cepat kembali ke kamar sebelum Hamzah terbangun dan menyadari kehadirannya.


Larissa merebahkan tubuh dan mencoba untuk memejamkan mata kembali. Namun nyatanya itu sangatlah sulit. Hatinya dilema, antara rasa kasihan dengan kondisi sang suami dan luka yang ditorehkannya. Membuatnya gusar karena tak bisa tegas pada perasaaan. Hingga subuh menjelang, ia masih tak bisa memejamkan mata.


...****************...


Matahari mulai menampakkan sinarnya. Menghangatkan semua penduduk bumi yang kedinginan. Namun nyatanya sinar itu tak mampu menghangatkan hati Larissa yang mulai membeku.

__ADS_1


Larissa mulai menjalankan aktifitas seperti biasa. Namun pagi ini ada sesuatu yang sedikit berbeda. Tak tercium bau harum masakan seperti biasa. Bahkan tak ada niatan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Gairah untuk melayani sang suami seakan ikut menghilang bersama rasa sakit yang tertoreh.


Setelah memandikan anaknya, Larissa segera bersiap ke pasar untuk belanja kebutuhan warung. Tak ada canda tawa atau bahkan sedikit bertegur sapa. Mereka sama-sama membisu, terperangkap dalam perang dingin.


Usai membeli semua yang dibutuhkan, Larissa kembali ke rumah dan mulai menata jualan. Tak berselang lama para pelanggan pun mulai berdatangan.


Melihat Larissa sibuk melayani pembeli, tak ada niatan dalam diri Hamzah untuk sedikit membantu. Bahkan ia malah pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Larissa.


Larissa membisu, tak ada niatan untuk bertanya kemana suaminya akan pergi. Ia hanya memandang kepergiannya dengan mata nanar. Hatinya kembali terluka melihat sikapnya. Namun tak setetes air mata yang keluar dari kelopak mata.


Sepertinya hati Larissa benar-benar telah membeku, atau mungkin air mata itu telah habis karena semalam terus tertumpah. Entahlah, hanya dia lah yang tahu.


Semakin siang warung Larissa semakin ramai. Sambil melayani, Larissa mengobrol dengan pembeli untuk sekedar berbasa-basi.


Tak ada yang istimewa dari obrolan itu. Tapi kemudian ada salah satu pelanggan yang bertanya, "suamimu ikut 'DAMAR', ya? kemarin aku sempat lihat di pantai."


"Iya, mbak!" jawab Larissa ramah.


"Ikut perahu Musthofa"


"O.....yang kemarin dapat ikan Dorang satu ton itu ya?"


"Iya, mbak!"


Memang benar, beberapa hari yang lalu Hamzah mendapat hasil tangkapan sangat bagus. Dan Larissa sangat senang mendengarnya.


"Dapat bagian berapa kemarin?"


"Dapat seratus ribu."

__ADS_1


"Apa? seratus ribu? Apa nggak salah?" pelanggan tersebut terlihat sangat terkejut saat Larissa mengatakan berapa bagian yang diperoleh.


"Enggak, mbak! memang segitu dapatnya."


"Tapi aku dengar kemarin dapat dua ratus ribu!."


Deg.... Larissa terkejut mendengar penuturan pelanggan itu. Namun ia mencoba untuk tetap berbaik sangka. "Ah, mungkin 'campoan' yang dapat segitu, mbak. Suamiku kan cuma anak buah biasa".


'Campoan' adalah anak buah tetap. Tugasnya jauh lebih banyak ketimbang anak buah biasa. Mereka juga harus ikut merawat perahu. Tapi tentu mereka mendapat bagian yang lebih besar pula.


"Nggak, kok! anak buah biasa memang dapat segitu" pembeli itu tetap bersikukuh jika yang ia katakan memang benar.


"Kurang tahu juga ya, mbak! suamiku memang bilangnya dapat segitu."


"Masak, iya, dapat ikan Dorang satu ton tapi cuma dapat bagian segitu. Rasanya mustahil!"


Pembeli itu terus bicara, tapi Larissa tak mau meladeni ucapannya lagi. Pikirannya berkecamuk, antara percaya pada kata-kata pembeli itu atau pada sang suami.


Larissa sangat terkejut mendengar penuturan pembeli itu. Masih teringat jelas dalam ingatan jika suaminya mengatakan hanya mendapat uang seratus ribu saat ia bertanya hari itu. Tapi kenapa sekarang pembeli itu malah berkata lain.


Timbul kecurigaan dalam benak Larissa jika sang suami telah berbohong. Tapi sejauh ini ia tak pernah mendapati suaminya melakukan hal itu. Hamzah memang kerap membuatnya terluka, tapi belum pernah sekalipun ia membohonginya.


Meski begitu, ia tak ingin percaya begitu saja sebelum ada bukti. Ia pun menepis kecurigaan itu. "Tidak! Hamzah tidak mungkin berbohong" gumamnya meyakinkan diri. "Aku tidak boleh percaya begitu saja dengan orang lain sebelum mendapatkan bukti."


Larissa tetap melayani pembeli yang lain hingga semua jualannya habis. Namun dalam hati ia bertekad untuk mencari bukti jika suaminya tidak berbohong.


Hati Larissa semakin gundah. Masalah yang satu belum selesai tapi malah timbul masalah lain. Namun ia tak ingin memberitahukan hal ini pada siapapun, apalagi pada ibunya sebelum semuanya jelas.


Usai membereskan jualan dan memandikan anaknya, Larissa pergi menemui anak buah lain yang berada satu perahu dengan suaminya.

__ADS_1


Bukan maksud untuk tak percaya, tapi ia hanya ingin membuktikan jika sang suami tidak membohonginya. Namun sesampainya ia di rumah anak buah tersebut.....


__ADS_2