Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 38


__ADS_3

Larissa masih syok dengan semua kenyataan yang ia terima saat ini. Hingga ia pun tak bisa menanyakan kenapa ayah begitu tega meninggalkan ibu disaat tengah mengandung.


Ah biarlah, mungkin lain kali saja menanyakannya. Yang terpenting sekarang ia sudah mengetahui alamat dari keluarga ayah.


Hari semakin siang. Larissa pamit undur diri. Ia takut ibu marah dan curiga karena ia tak juga menemuinya di pasar. "Bi, aku mau pamit pulang dulu. Nanti kapan-kapan aku main kesini lagi!."


"Loh, kok buru-buru pulang. Kamu kan baru sebentar disini."


"Iya, Bi, maaf. Aku buru-buru. Tadi kesini nggak bilang-bilang sama ibu. Takut nanti dia nyariin kalau aku nggak pulang-pulang."


"Ya udah, nggak pa pa. Tapi lain kali main kesini lagi, ya!."


"Iya, Bi. Insyaallah!."


"Tadi kesini naik apa?."


"Jalan kaki, Bi. Sama Mbak Ida."


"Kalau gitu Bibi antar naik sepeda aja, ya. Biar nggak capek jalan."


Larissa mengangguk. Bibi segera mengeluarkan sepeda motornya. Larissa dan Mbak Ida diantar dengan menggunakan motor yang berbeda.


"Bi, tolong antarkan saya ke pasar aja. Tadi ibu menyuruh untuk menyusulnya kesana."


Bi Siti menuruti permintaan Larissa. Ia menurunkannya di pasar. "Hati-hati ya, nak. Bibi balik dulu" ujarnya setelah tiba di pasar.


"Iya, Bi, makasih. Bibi juga hati-hati!" jawab Larissa.


Bi Siti mengangguk. Ia segera memacu sepeda motornya kembali. Sedang Larissa segera mencari keberadaan ibunya.


Lama berputar-putar mengelilingi pasar namun Larissa tak jua berhasil menemukan keberadaan ibunya. "Apa ibu sudah pulang, ya?" batinnya dalam hati.

__ADS_1


Karena lelah mencari, Larissa pun memutuskan untuk kembali saja ke rumah.


Sesampainya di rumah, ternyata ibu juga tidak ada disana. Ia semakin khawatir, takut ibu akan marah.


Benar saja, tak berselang lama ibu pun datang. Ia marah karena sedari tadi mencarinya. "Kamu ini dari mana saja? dicariin dari tadi nggak ketemu-ketemu. Ibu kan sudah menyuruhmu untuk segera menyusul ini ke pasar. Apa saja sih yang kamu lakukan di rumah?" teriaknya marah.


"Tadi aku menyusul ibu ke pasar. Aku cari-cari tapi nggak ketemu. Ya sudah, aku pulang lagi. Aku pikir ibu sudah pulang" jawab Larissa. Ia sengaja tidak mengatakan jika ia pergi ke rumah Bibi lebih dulu.


"Kalau kamu cepet-cepet kesana, pasti ketemu sama ibu" jawabnya kesal.


Larissa diam. Memilih untuk tidak menjawab lagi. Khawatir ibu bertambah marah.


Ibu menghela napas. "Ya sudah, ayo kita ke pasar lagi" ujarnya. "Tadi ibu menyuruhmu kesana itu karena ingin membelikan mu sesuatu. Tapi kamu nggak datang-datang juga."


Larissa tersenyum lega karena ibu tidak curiga dengan keterlambatannya dan berhenti marah-marah. "Ayo, Bu!" ujarnya bersemangat.


Larissa menggendong anaknya kembali. Mereka pun menuju ke pasar bersama-sama dengan jalan kaki.


Sesampainya di pasar, ibu mengajak Larissa memasuki salah satu toko perhiasan. Ternyata ia ingin membelikan Larissa sebuah gelang, menggantikan gelangnya yang sempat ibu jual untuk membantu Iqbal saat membangun rumah dulu.


Setelah memilih model yang cocok, ibu menyelesaikan pembayarannya. Dan mereka pun kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Larissa melakukan tugasnya seperti biasa, yaitu membantu ibu melayani pembeli. Ia tak ingin ibu curiga dengannya kalau ia telah mengetahui beberapa rahasia yang selama ini ibu simpan.


Malam hari usai menidurkan anaknya, Larissa termenung di kamar. Memikirkan semua ucapan Bibi tadi pagi.


Mengapa, mengapa, mengapa, dan mengapa. Berjuta pertanyaan itu terus bergelayut dalam benaknya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada ibu, tapi urung ia lakukan. Ia khawatir ibu marah bila ia menyinggung apalagi bertanya soal Ayah.


"Ah, biarlah. Untuk sementara biarlah rahasia itu tersimpan. Aku akan menunggu sampai rahasia itu terungkap dengan sendirinya" batinnya dalam hati.


Larissa memilih untuk melupakan keresahan yang melanda hatinya. Ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan tenggelam dilautan mimpi.

__ADS_1


...****************...


Beberapa hari kemudian Larissa mendatangi rumah Bibi lagi. Kali ini ia pergi kesana sendirian, tentu sambil membawa Fatim dalam gendongannya. Ia pergi dengan jalan kaki. Saat itu suaminya juga sedang tidak ada dirumah. Ia sibuk menjahit jaring nelayan di pantai.


Tidak banyak yang Larissa dapatkan dari kunjungannya kali ini. Bibi tak menceritakan apapun lagi soal Ayah. Tapi kali ini ia bisa bertemu dengan saudaranya yang lain.


Namanya Ira, ia adalah anak pertama dari istri ke dua Ayah. Ia mengajak Larissa ke rumahnya yang terletak di sebelah timur rumah Bibi. Hanya berjarak tiga rumah.


"Duduklah!. Mbak buatkan minuman untukmu dulu." Larissa mengangguk, ia duduk diatas kursi yang ada di ruang tamu. Sedang Mbak Ira segera menuju dapur untuk membuatkan Larissa minuman.


Sepeninggal mbak Ira, Larissa mengedarkan pandangan, menyapu seluruh ruangan. Pandangannya terpaku pada sebuah foto yang terpasang di dinding. Ia bangkit, menuju foto tersebut.


Larissa memandangi foto itu dengan seksama. Orang yang berada dalam foto itu sama persis dengan orang yang ada di buku nikah ibu yang Larissa temukan tempo hari. Ia berfoto bersama seorang wanita yang tidak ia kenal.


"Itu adalah foto ayah bersama dengan ibuku." Sebuah suara mengagetkan Larissa. Saking seriusnya melihat foto itu hingga ia tak menyadari jika Mbak Ira sudah berada disampingnya.


"Eh, maaf, Mbak. Aku nggak tahu mbak sudah ada disini. Tadi aku begitu serius melihat foto itu" ujar Larissa kikuk.


Mbak Ira tersenyum. "Tidak apa. Anggap saja rumah sendiri" ucapnya sambil meletakkan minuman yang ia buat tadi. "Minumlah dulu!."


Larissa mengangguk. Ia segera meraih cangkir berisi minuman yang sudah Mbak Ira buatkan tadi. Ia meminum beberapa teguk lalu meletakkannya kembali.


"Ayo! mbak akan tunjukkan padamu foto-foto yang lain" ujar Mbak Ira sambil menarik lengan Larissa.


Larissa bangkit, mengikuti langkah mbak Ira. Langkahnya terhenti di depan sebuah foto. "Ini foto ke dua adikku. Namanya Arifin dan Terina" ujarnya sambil menunjuk ke sebuah foto yang terpampang di dinding.


"Arifin sudah menikah dengan seorang wanita yang berasal dari Jawa tengah. Ia sudah mempunyai seorang anak bernama abidzar. Saat ini ia tinggal bersama istrinya disana."


"Ini Terina, adikku yang seusia denganmu. Ia belum menikah."


"Dulu saat kalian akan lahir, Ayah memberi nama yang sama pada kalian. Adikku bernama Terina Ayu Wulana Dewi, sedangkan kau Larissa Ayu Wulana Dewi."

__ADS_1


Larissa terkejut dengan ucapan Mbak Ira. "Jadi ini maksud dari pertanyaan Mbak Ida tempo hari? Jika benar ayah memberiku nama seperti itu, lalu kenapa ibu hanya memakaikan nama Larissa saja padaku?" batinnya dalam hati.


__ADS_2