
Izzah datang bersama suaminya ke kediaman Larissa untuk melakukan tradisi weweh manten. Namun ditengah obrolan mereka tiba-tiba ia bertanya, "Apa rahasia mbak dalam menjalani pernikahan sehingga bisa langgeng dengan kak Hamzah sampai sekarang?,".
Ditanya seperti itu oleh adik iparnya, tentu saja Larissa bingung. Ia tak merasa memiliki rahasia apapun dalam pernikahan, semua mengalir begitu saja. Kehidupan pernikahannya dengan Hamzah memang sudah berjalan selama tujuh tahun. Namun disebut sebagai pernikahan yang langgeng, itu sangat jauh dari kata itu.
"Rahasia apa? Mbak tidak punya rahasia apa-apa," jawabnya.
"Ayolah, mbak, jangan bohong! Mbak pasti punya rahasia dibalik langgengnya pernikahan mbak."
"Mbak tidak bohong, Izzah, memang tidak ada rahasia apapun."
"Jangan pelit, mbak, bagi ilmunya padaku. Tidak mungkin pernikahan mbak bisa bertahan sampai sekarang kalau tidak ada rahasia khusus. Siapa tahu aku bisa mencontoh rahasia mbak agar pernikahanku bisa langgeng juga."
Izzah terus mendesak Larissa agar mengatakan rahasia dibalik langgengnya pernikahannya, sedang Larissa sendiri tak pernah merasa memiliki trik khusus, semua mengalir begitu saja.
Larissa menghela nafas. "Mbak memang tidak punya rahasia apapun, Izzah. Hanya saja dulu aku pernah diajarkan bahwa dasar sebuah hubungan adalah kejujuran dan saling percaya, dan itu yang coba aku lakukan selama ini."
Larissa merasa menipu diri sendiri dengan perkataannya itu. Ia memang berusaha untuk melakukan itu, namun ia juga banyak membohongi suaminya, termasuk mengkhianati pernikahan mereka dengan jatuh hati pada pria lain.
"Jadi gitu, mbak. Coba deh nanti aku lakukan hal yang sama dengan yang.mbak Rissa lakukan, biar pernikahanku bisa langgeng juga," ujar Izzah.
"Amiin." Larissa tersenyum kecut. Namun dalam hati ia juga menginginkan agar pernikahannya benar-benar langgeng.
Mereka meneruskan obrolan. Sesekali terdengar suara tawa menggema. Tak lupa Hamzah membagi pengalamannya selama menjalani pernikahan. Sementara Larissa memilih untuk lebih banyak diam dari pada bicara. Ia merasa malu dengan diri sendiri.
...****************...
__ADS_1
Hubungan Larissa dan Hamzah semakin hari semakin romantis. Dimana ada Larissa, disitu Hamzah berada, begitu juga sebaliknya. Bahkan banyak orang yang mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi.
Semua terasa begitu sempurna. Ia memiliki suami yang sayang dan cinta padanya. Ia juga memilik buah hati yang lucu dan manis. Hingga kemudian badai kembali datang menghantam bahtera rumah tangganya.
Malam itu usai meraih puncak kenikmatan bersama diatas ranjang cinta mereka, Hamzah mengajak Larissa untuk bicara serius.
Awalnya Larissa menganggap bahwa itu hanya perbincangan biasa dan malah mengajaknya bercanda, terlebih mereka baru saja memadu kasih. Namun melihat raut wajah Hamzah yang tegang, Larissa pun mengerti jika saat ini suaminya benar-benar serius.
"Apa kau benar-benar tidak sedang bercanda, Entik?," tanya Larissa memastikan.
"Apa kau lihat wajahku sedang bercanda saat ini?," ucap Hamzah bertanya balik. Nada bicaranya mulai meninggi, membuat Larissa sedikut takut.
"Ada masalah apa, Encus? kenapa kau menakutiku seperti ini?," tanya Larissa takut-takut.
Hamzah menghela nafas berat, seakan bahunya menanggung beban yang sangat berat. "Kemarin ibuku bilang kalau kau telah menghinanya. Apakah itu benar, Encus?."
"Ya!, " jawab Hamzah singkat. Wajahnya berubah dingin seketika.
Larissa semakin bingung mendengar jawaban suaminya. Ia tak pernah ingat kalau dirinya pernah menghina ibu mertuanya. "Itu tidak benar, Entik! aku tidak pernah menghina ibumu sedikitpun."
"Kalau itu tidak benar, lalu kenapa ibuku berkata seperti itu?," teriaknya marah.
"Aku juga tidak tahu, Entik. Mungkin ibumu hanya salah paham saja." Larissa berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi suaminya yang sedang emosi.
"Jadi kau pikir ibuku yang berbohong?," sebelah mata memicing dengan bibir memyunggingkan senyuman sinis.
__ADS_1
"Aku tidak berkata seperti itu, Entik. Aku mohon mengertilah!." Larissa sedikit terpancing emosi saat melihat senyuman sinis di wajah suaminya. Namun itu tak berlangsung lama. Ia memejamkan mata untuk kembali mengumpulkan kesabaran. "Baiklah! Sekarang katakan padaku, bagaimana ucapan ibumu kemarin?."
"Ibu bilang kalau kau telah mengatakan hal-hal buruk tentangnya saat kau melayani pembeli, dan pembeli itu mengadukannya pada ibuku. Bahkan ibuku juga bilang kalau kau telah mengatakan kata-kata yang tak pantas untuknya. Katanya kau berkata, 'sudah tahu orang lagi bangun rumah, malah ikut-ikutan. Mending kalau ada uang, lha ini?' gitu katanya."
Tes.....
Setetes air mata jatuh di pipi mulus Larissa. Ia sangat ingat dengan ucapan itu. Seseorang pernah memberitahunya kalau sang ibu mertua telah mengatakan hal itu, dan ia hanya diam dan menyimpan hal ini untuk dirinya sendiri karena tak ingin memperkeruh suasana yang memanas saat itu. Tapi kenapa sekarang beliau malah memutarbalikkan fakta dengan mengatakan kalau dirinyalah yang telah menghina sang ibu mertua.
Larissa mencoba membela diri bahwa dirinya tidak seperti yang Hamzah tuduhkan. "Sumpah demi Allah, Entik, aku tidak pernah mengatakan hal itu. Bahkan kalau kau mau, aku bisa bersumpah dihadapan orang yang kata ibu pernah mendengarku bicara seperti itu."
Hati Hamzah percaya dengan kata-kata Larissa. Ia tahu istrinya tak pernah mengucap sumpah dusta. Namun pikirannya menolak kebenaran itu. Dan sayangnya ia lebih memilih kata pikiran daripada kata hati. "Jangan menggunakan nama Allah untuk menutupi kesalahanmu. Itu tidak akan pernah merubah kenyataan kalau kau telah menghina ibuku."
Hati Larissa semakin teriris mengetahui Hamzah tak mempercayai perkataannya walau ia telah bersumpah. Padahal Hamzah tahu betul kalau Larissa tak pernah mengucap sumpah dusta.
"Terserah kau mau berkata aoa tentangku. Tapi coba sekarang kau pikir, kalau memang benar aku pernah mengatakan hal itu saat melayani pembeli, maka orang pertama yang mendengarnya pasti kau, bukan ibumu. Bukankah selama ini kau selalu berada di dekatku saat aku melayani pembeli?."
Hamzah kembali goyah dengan argumentasi yang diungkapkan istrinya karena semua itu memang benar. Ia selalu berada di samping Larissa untuk membantunya melayani pembeli. Namun kepercayaannya pada sang ibu membuatnya mengabaikan kata hati.
Melihat kebungkaman Hamzah membuat hati Larissa semakin kecewa. Ia tak percaya bahwa suaminya telah kehilangan kepercayaan terhadapnya.
"Aku tak pernah menyangka kalau kau akan kehilangan kepercayaan terhadapku," ucap Larissa. Disekanya lelehan air mata di pipi. "Kalau kau menuduhku begitu, maka baiklah! Aku terima tuduhan darimu. Tapi setidaknya cari tahu dulu kebenarannya sebelum kau menuduh."
"Aku tahu kalau kau sangat percaya dengan ibumu, dan aku tak pernah menyalahkan hal itu. Itu hak mu sebagai seorang anak."
Larissa terus berusaha menjelaskan, namun Hamzah tetap bungkam dan bahkan tak terpengaruh dengan air matanya.
__ADS_1
"Menyedihkan sekali. Kita pernah mengajari Izzah untuk jujur dan saling percaya satu sama lain. Tapi kita malah mengingkari perkataan kita sendiri," senyuman getir terlukis di wajah Larissa. "Apa kau tidak ingin tahu seperti apa kebenarannya?."
Hamzah mendongak menatap Larissa. "Apa?."