
Hai reader, author minta maaf karena belum bisa memberikan yang terbaik pada reader semua. Beberapa hari ini author sakit mata, jadi nggak bisa up. Semoga reader semua masih setia memberikan dukungan untuk author.
Langsung aja yuk! simak cerita selanjutnya....👇👇👇
*
*
*
Larissa terus menyangkal jika sosok yang tengah berdiri dihadapannya benar-benar suaminya. Ia beranggapan jika sosok itu hanya khayalannya saja.
Saat Hamzah mencoba meyakinkan dirinya dengan cara memeluk tubuhnya, ia pun memberontak, mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun tenaganya yang jauh lebih kecil dari sang suami membuat usahanya tak berhasil.
Hamzah terluka mendapati penolakan dari istrinya. Namun ia mencoba untuk tetap bersabar. Ia tahu, semua ini hanya karena Larissa begitu merindukan dirinya. "Tenanglah, Encus. Percayalah! ini benar-benar aku" ucapnya.
Setelah dirasa larissa sedikit tenang, Hamzah pun melepas dekapannya. "Sekarang coba kau rasakan! Apa kau bisa merasakan detak jantungku?" ucapnya sambil memegang tangan Larissa dan membawanya keatas dadanya. "Apa kau pikir ilusi memiliki detak jantung?."
Larissa diam, tak mampu menjawab pertanyaan suaminya. Karena ia memang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang diajukan olehnya.
Hamzah tersenyum melihat istrinya tak dapat menjawab pertanyaannya. "Itu karena aku memang nyata. Aku bukan hanya ilusi mu semata."
"Be....benarkah ini kau, Entik?" tanya Larissa terbata-bata. Ia masih sedikit gemetar ketakutan.
"Tentu saja benar! Apa kau masih tidak percaya denganku?" tanya Hamzah sambil memicingkan mata. "Baiklah! kalau kau masih tak percaya, maka lebih baik aku pergi saja."
Hamzah mulai melangkahkan kaki. Selangkah demi selangkah, berharap istrinya akan menghentikan tindakannya.
Sebenarnya ini hanya akal-akalan nya saja agar larissa tak lagi takut dan percaya dengan penglihatannya. Namun hingga ia mendekati pintu kamar, istrinya tak juga memanggil namanya.
Hamzah menghela napas berat. Rencana yang ia buat sepertinya gagal karena larissa tak jua menghentikannya, atau sekedar memangil namanya. Namun saat ia hendak keluar kamar, sebuah suara mulai terdengar. "Tunggu! jangan pergi."
Sebuah senyuman pun terukir di wajah Hamzah saat mendengar suara itu. Ia sangat tahu, itu adalah suara larissa, istrinya. Ia pun membalikkan badan, menghadap kearah istrinya dengan segera. "Apa kau sudah percaya denganku sekarang?"
"Ma....mafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk meragukanmu. Aku hanya tidak ingin semakin tenggelam dalam ilusi. Karena itu sangat menyakitkan," ucap larissa sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
Hamzah kembali tersenyum mendengar ucapan istrinya, "Aku mengerti! Kita lupakan saja hal itu. Sekarang, apa kau tidak ingin memeluk suamimu ini? Atau kau mau aku pergi lagi?."
Larissa mendongakkan kepala. "Ti...tidak! jangan pergi. Aku mohon!." Ia pun segera berlari, menghambur kedalam pelukan suaminya. Ia tumpahkan segenap kerinduan yang selama ini terpendam. "Jangan pernah tinggalkan aku lagi walau apapun yang terjadi. Berpisah denganmu sangat menyakitkan."
Malam itu, bulan bersinar sangat cerah. Seakan turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua insan yang telah bertemu kembali setelah lama terpisah.
"Jangan bertanya bagaimana caraku bertahan tanpa ada dirimu di sampingku. Hari-hari ku terasa sangat berat. Sehari bagai setahun menantikan kedatangan mu."
"Bayanganmu selalu datang menghantui dalam malam-malam ku yang dingin. Hingga membuatku gila karenanya."
"Aku sangat percaya jika suatu hari kau pasti kan kembali padaku. Kepercayaan itulah yang membuatku bertahan sampai detik ini."
Hamzah terenyuh. Ia semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar rintihan hati Larissa saat ia tidak berada disampingnya. Diusapnya air mata yang membasahi pipi istri tercintanya. Kemudian ia mengecup keningnya dengan penuh mesrah. "Kalau bukan karena keadaan yang memaksa, aku juga sebenarnya tidak ingin pergi. Aku pun dama sepertimu, tersiksa sepanjang waktu."
"Tapi sudahlah! Masa kelam itu kini telah berakhir. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Lihatlah apa uang kubawa!" Ucapnya sambil menunjukkan segepok uang.
Larissa mendongakkan kepala, menatap manik hitam milik suaminya, "Aku tidak menginginkan harta yang berlimpah. Aku hanya ingin kau selalu berada disampingku."
"Maukah kau berjanji untuk tidak pernah meninggalkan aku lagi?" tanyanya penuh harap.
Larissa tersenyum bahagia mendengar jawaban suaminya. "Terimakasih banyak! I love you!."
"I love you more!."
Mereka pun kembali berpelukan. Pelukan yang sangat hangat untuk waktu yang lama. Hingga sebuah suara membuat Larissa terpaksa melepas pelukannya. "Apakah kita akan menghabiskan malam dengan berdiri disini semalaman? Atau kita akan mengahabiskan nya diatas ranjang?."
Larissa terkekeh mendengar suara itu. Ia mencubit perut suaminya, hingga membuat si pemilik perut mengadu kesakitan. "Auch....Kenapa kau memcubitku?".
Larissa memajukan sudut bibirnya. "Dasar mesum!."
"Kau bilang apa tadi? aku mesum?" tanya Hamzah. Ia sampai melebarkan matanya karena tak terima dikatai mesum oleh istrinya.
Larissa tak takut sedikitpun melihat ekspresi Hamzah. Ia malah tertawa renyah. Ia tahu, Hamzah hanya berpura-pura saja.
"Kau yakin mengatai ku seperti itu? Memangnya kau tidak merindukan sentuhan dariku?" tanya Hamzah lagi sambil menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Larissa.
__ADS_1
Wajah larissa memerah seketika seperti tomat masak mendengar ucapan suaminya. Karena sejujurnya ia memang sangat merindukan sentuhan dari pria yang telah menikahinya tiga tahun silam itu. Ia pun membalikkan badan untuk menyembunyikan rasa malu. "Tau
ah....gelap!."
Hamzah terpingkal melihat istrinya berlagak malu-malu kucing. Tanpa aba-aba, ia pun segera menggendong tubuh. Larissa ala bridal style.
Larissa terkejut mendapati dirinya sudah berada dalam gendongan Hamzah. Ia mencengkram erat lengan suaminya karena takut terjatuh. "Entik, apa yang. kau lakukan?."
"Aku akan memberimu hukuman karena sudah berani mengatai ku mesum!" jawab Hamzah.
Larissa mendelik, gugup mendengat jawaban suaminya. "K....kau mau melakukan apa?."
"Aku akan memberimu hukuman nikmat. Hukuman yang akan membuatmu menjerit-jerit kenikmatan" jawab Hamzah tersenyum simpul.
Untuk sesaat larissa merasa takut saat mendengar suaminya akan memberinya hukuman. Tapi kemudian ia tertawa terpingkal-pingkal setelah tahu hukuman apa yang akan Hamzah berikan padanya. "Apa kau yakin itu adalah hukuman yang pantas aku dapatkan? jangan-jangan malah kau yang terkapar tak berdaya?."
"Kau meremehkanku?." Harga diri Hamzah tersentil saat istrinya meragukan keperkasaannya. "Aku akan buktikan! Aku akan membuatmu menjerit dalam kenikmatan. Akan kupastikan kau memohon-mohon dan meminta padaku untuk berhenti!."
Larissa menaikkan satu alisnya. "Oh ya?." Sebenarnya Larissa tidak bermaksud menyinggung harga diri suaminya. Ia berkata seperti itu hanya untuk memancing gairah suaminya. Karena ia tahu, suaminya itu tidak pernah mau mengaku kalah dalam hal apapun.
"Kita buktikan saja nanti! Kau salah karena sudah membangunkan macan tidur," ucap Hamzah tak mau kalah. "Satu hal yang perlu kau ingat! Saat aku sudah memulainya, jangan harap aku akan menghentikannya. Aku tak perduli meski kau meratap sekalipun!."
Larissa menyunggingkan sebuah senyuman menantang. "Kalau begitu, maka buktikanlah!."
Hamzah tak mau banyak bicara lagi. Ia segera merebahkan tubuh Larissa dengan hati-hati. Satu persatu ia lucuti pakaian yang dikenakan oleh istrinya hingga membuatnya polos. Kemudian ia melepas pakaiannya sendiri.
Malam itu, Hamzah benar-benar membuktikan ucapannya. Ia benar-benar menyiksa tubuh larissa dalam badai kenikmatan. Ia terus menghentak, membuat istrinya tak berdaya dibawah kungkungannya.
Hamzah tak juga berhenti. Ia seakan memiliki tenaga ekstra malam itu. Mungkin ini karena mereka telah lama terpisah. Hingga subuh menjelang, barulah ia berhenti setelah melancarkan serangan terakhirnya dengan membanjiri larissa dengan cinta kasih.
Larissa terkapar tak berdaya setelah mendapat serangan beruntun dari suaminya. Namun ia merasa sangat bahagia, karena yang kini ia rasakan bukan hanya sebuah mimpi belaka.
Hamzah mengangsurkan selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. "Terimakasih banyak, Encus! Aku mencintaimu" ucapnya sambil mendaratkan sebuah kecupan di dahi Larissa.
"Aku lebih mencintaimu lagi!" jawab Larissa. Mereka pun tertidur setelah pertempuran panas yang panjang.
__ADS_1