
Pada kehamilan kali ini, Larissa mengalami morning sickness. Ia mengeluh pusing, mual dan muntah-muntah sepanjang hari. Padahal di kehamilan sebelumnya ia tak pernah mengalami hal ini. Bahkan ia sangat happy saat itu.
Seperti halnya pagi ini, Larissa kembali mengalami mual dan muntah. Tubuhnya sampai lemas karena tak mengeluarkan apapun saat muntah, hanya cairan bening yang keluar dari dalam perutnya. Ia bahkan hampir pingsan dikamar mandi saking lemasnya.
Dengan tertatih-tatih, Larissa kembali menuju kamarnya. Tapi sebelum ia sampai dikamar, rasa mual itu kembali datang.
Larissa lari menuju kamar mandi lagi. Ia kembali mengeluarkan semua isi perutnya. Hampir saja ia terpeleset jika saja tangannya tidak sigap berpegangan pada bak kamar mandi.
Larissa memanggil suaminya untuk minta tolong. Hamzah pun datang dan memijat tengkuk Larissa dengan ogah-ogahan. Bahkan ia terlihat jijik saat melihat Larissa mengeluarkan isi perutnya.
Kejadian terus berulang selama beberapa kali. Lama-lama Hamzah bosan karena terus menerus melakukan hal yang sama.
Larissa terlihat kecewa melihat sikap suaminya. Ia pun mengeluh, "Yank, aku ini dari tadi terus mual dan muntah. Bahkan mencium bau nasi pun aku muntah. Dari pagi aku belum makan apa-apa. Tapi kenapa kamu malah tidak perduli?."
Seketika Hamzah bangkit dari tidurannya dan marah. "Di dunia ini banyak wanita yang hamil. Tapi tidak ada yang menyusahkan seperti dirimu ini" teriak berang.
Sontak Larissa melonjak. Ia tak menyangka suaminya akan mengeluarkan kata-kata sepedas itu. "Yank, wanita hamil itu bawaannya beda-beda. Satu wanita tidak sama kondisinya dengan wanita lain. Jangan kau samakan begitu saja " ujar Larissa dengan berderai air mata.
"Jangankan beda wanita, satu wanita yang hamil berulangkali juga tidak sama bawaannya. Kalau kamu tidak percaya, coba kamu tanya sama ibu kamu. Apakah bawaannya saat hamil kamu, dengan saat hamil adikmu itu sama atau tidak?."
Hamzah terdiam, tak sanggup menjawab, karena ia memang tak memiliki jawaban atas pertanyaan yang diajukan istrinya.
"Aku sangat kecewa denganmu!."
Larissa tak perduli lagi dengan Hamzah yang masih dipenuhi oleh kemarahan. Ia muak, ia lelah, ia kecewa. Ia memilih untuk pergi meninggalkan rumah, menuju ke warung ibunya. Ia tak punya tempat lain untuk pergi selain warung ibunya.
Wajah Larissa masih terlihat sembab saat sampai disana. Bu Ani pun bertanya, "Kamu kenapa menangis?."
__ADS_1
"Sakit, bu!" jawab Larissa singkat.
Mendengar jawaban Larissa, Bu Ani mengira jika sakit yang Larissa maksud adalah sakit karena hamil. Ia malah menghujat Larissa. "Orang hamil itu memang sakit. Makanya kamu jangan pernah melawan sama orang tua!" ujarnya sinis.
Larissa semakin terluka mendengar ucapan ibunya. Niat hati datang ke warung ingin menenangkan diri, akan tetapi sang ibu malah menghujatnya.
Dengan berderai air mata karena rasa kekesalan, Larissa pun berkata, "Bu, aku sakit bukan karena kehamilanku. Aku sakit karena sikap Hamzah padaku!."
"Maksud kamu?" tanya Bu Ani tak mengerti.
Larissa pun menceritakan semua yang terjadi padanya tadi pagi. Ia juga menceritakan bagaimana dengan kejam Hamzah menghinanya.
Selama ini Larissa tak pernah menceritakan bagaimana sikap Hamzah padanya. Ia bahkan cenderung menutupinya dari sang ibu. Ia tak ingin ibunya semakin membenci suaminya. Tapi sekarang, semua ia ungkapkan. Ia tak tahan menahan semua sendirian. Apalagi dalam kondisi hamil seperti sekarang.
Bu Ani geleng-geleng kepala saat mendengar semua yang Larissa ceritakan. Ia tak menyangka jika selama ini anaknya menderita. "Kamu yang sabar, nak!" ucapnya.
Ketika itu bibi Hamzah datang melintas. Ia melihat saat Larissa menangis tadi. Ia tak mendengar apa yang Larissa katakan. Akan tetapi ia malah salah paham. Dikiranya Larissa mengadukan macam-macam tentang Hamzah pada ibunya. Yang lebih menyakitkan lagi, ia malah mengadukan hal itu pada Hamzah tanpa mencari tahu dulu kebenarannya.
Mendengar aduan bibinya, Hamzah pun bertambah marah. Gegas ia memanggil istrinya di warung. "Larissa, pulang sekarang!" ujarnya dengan muka merah padam.
Larissa ketakutan melihat kemarahan Hamzah. Ia beringsut dibelakang ibunya. Akan tetapi ibunya menyakinkan agar ia mengikuti suaminya. "Pergilah, nak. Temui suamimu. Selesaikan masalah yang terjadi diantara kalian" ujarnya.
"Aku takut, Bu!" ujar Larissa gemetaran.
"Tenanglah, nak tidak akan terjadi apa-apa" ujar Bu Ani meyakinkan.
Dengan mengumpulkan semua keberanian, akhirnya Larissa mengikuti Hamzah untuk pulang kerumah.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Hamzah langsung meluapkan semua kemarahannya. "Apa maksudmu nangis-nangis dihadapan ibumu seperti tadi?" teriaknya.
"Apa maksudmu, yank? aku tidak mengerti" ucap Larissa, mencoba untuk tetap tenang. Ia tak tahu jika bibi sudah mengadukan kejadian di warung tadi pada Hamzah.
"Alah, nggak usah berpura-pura deh. Tadi bibi melihat sendiri kamu nangis-nangis dihadapan ibumu."
Kini Larissa mengertilah sudah kenapa Hamzah bisa semarah itu padanya. Akan tetapi ia mencoba untuk menutupi semuanya. "Aku tadi menangis karena sakit. Itu aja nggak lebih" jawab Larissa.
"Jangan bohong kamu. Tidak mungkin kamu menangis seperti tadi kalau hanya karena sakit. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, kan?" bentak Hamzah.
"Aku tidak bohong, yank. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu" jawab Larissa dengan tubuh bergetar. Ia sangat kaget saat Hamzah membentaknya tadi.
"Baiklah kalau kamu nggak mau jawab. Aku akan pergi dari sini. Aku tidak mau tinggal dengan wanita tukang drama!."
"Jangan seperti ini, Yank. Aku mohon!" ratap Larissa. Ia mengiba dan bersimpuh di kaki Hamzah. Akan tetapi Hamzah malah menghempaskan tubuh Larissa hingga membuatnya jatuh tersungkur.
Tanpa menghiraukan ratap tangis Larissa, Hamzah memasukkan baju-bajunya kedalam tas. Kemudian ia segera berlalu meninggalkan Larissa.
Larissa tak bisa berbuat banyak. Ia tak bisa mencegah Hamzah untuk pergi. Hanya air mata yang semakin deras mengalir.
Sepeninggal sang suami, Larissa memutuskan untuk pergi ke warung lagi. Ia ingin mengeluarkan semua rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya itu.
Sesampainya di warung, Larissa menceritakan semua yang terjadi di rumah pada ibunya. Ia tak perduli lagi jika ibunya membenci sang suami. Hatinya hancur, terluka, dan kecewa atas sikap Hamzah padanya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana sekarang.
Melihat luka dihati anaknya, Bu Ani pun marah. "Dasar laki-laki jahat. Bisa-bisanya dia memperlakukan putriku seperti ini. Apalagi dia sedang mengandung anaknya!."
"Larissa, lebih baik sekarang kamu gugurkan saja kandunganmu. Lagi pula usia kandunganmu juga masih sangat muda. Setelah itu bercerai lah dengan Hamzah. Ibu tidak rela melihatmu diperlakukan seperti itu."
__ADS_1
"Kamu itu cantik dan masih muda. Ibu yakin, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi."