
Larissa menggunakan sedikit waktu di saat para pelayat mulai sepi untuk sejenak mengistirahatkan tubuh. Namun baru beberapa menit memejamkan mata, ia berteriak kencang.
Mendengar suara teriakannya Hamzah berlari masuk kamar dan membangunkan istrinya. "Bangun, Encus, ada apa?."
Larissa tersentak dan bangun dari tidur dengan nafas memburu seperti dikejar hantu. Keringat dingin mengucur deras hingga membasahi wajah.
Tak juga mendengar jawaban dari sang istri, Hamzah menepuk bahunya dan mengulang pertanyaannya kembali. "Ada apa berteriak? Kau sedang mimpi buruk?."
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Larissa malah melesakkan tubuh kedalam pelukannya. Tubuhnya terguncang hebat sambil menangis terisak-isak.
Hamzah menghela nafas, mengerti bahwa saat ini istrinya sedang terguncang. Di usapnya surai panjang miliknya dengan lembut untuk memberikan ketenangan. "Katakan ada apa? Kenapa kau menangis?," tanyanya lembut.
Masih dengan terisak Larissa menjawab pertanyaan suaminya. "Aku memimpikan ibu, Entik."
"Bukankah itu bagus? artinya ibumu begitu mencintaimu, makanya ia mendatangimu lewat mimpi," menyunggingkan sebuah senyuman manis. "Lalu kenapa sekarang kau malah menangis?," menatap penuh kebingungan.
"Iya, aku tahu! Tapi masalahnya dalam mimpiku itu ibu mendatangiku sambil menangis tersedu-sedu. Keadaannya terlihat sangat mengenaskan, tubuhnya hitam legam dan sangat kurus, penampilannya juga acak-acakan tidak karuan." pandangan mata menatap Hamzah intens. "Apa itu artinya saat ini ibuku sedang mengalami siksa kubur, Entik? Kalau memang benar, sungguh kasian dia."
"Siksa kubur itu memang benar ada. Tapi tidak ada satu orang pun yang tahu akan hal itu. Itu adalah rahasia Allah."
Larissa melepaskan diri dari pelukan Hamzah. "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membantunya? Ak...aku sungguh kasihan melihat kondisinya."
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk membantunya sekarang, semua tergantung dari amal ibadah ibu semas hidup. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mendoakan saja, semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Allah dan segala dosa-dosanya diampuni, serta diberi tempat terbaik di sisi Allah."
Larissa menunduk sedih. "Apa benar tidak ada yang bisa kita lakukan?."
Hamzah mengangguk, sebuah senyuman teduh terlukis di wajah. "Dengarkan aku, Larissa! Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua hal baginya selain tiga perkara, pertama shodaqoh jariyah, kedua ilmu yang bermanfaat, dan yang ketiga adalah doa anak yang sholeh. Jadi kalau kau ingin membantu ibumu, maka doakan lah dia."
Larissa menunduk. "Ibu tadi memang sempat berkata seperti itu, Entik. Katanya, 'Tega sekali anakku! orangtua minta diadakan pengajian malah tidak mau', begitu."
Hamzah menghembuskan nafas berat. "Tidak usah dipikirkan! Itu hanya mimpi, bunga tidur biasa. Lagipula kita memang mendoakannya, kan?"
"Tapi mimpiku itu terlihat begitu nyata, Entik! Mana mungkin aku mengabaikannya begitu saja!."
Larissa adalah tipikal orang yang sangat sensitif. Semua hal yang mengganggu pikirannya akan terus dipikir. Dan bila sudah begitu, maka akan sulit untuk menghilangkannya sebelum dirinya sendiri yang sadar.
__ADS_1
Hamzah kembali menghela nafas. "Bukankah nanti malam kita akan mengadakan selamatan untuk ibumu di masjid? Lalu untuk apa sekarang kau resah?."
Tadi pagi Larissa memang sudah mempersiapkan pengajian untuk mendoakan sang ibu. Namun karena beberapa kendala maka diputuskan pengajian diadakan nanti malam bakda sholat magrib di masjid. Rencananya pengajian diadakan di hari pertama, ketiga, dan ke tujuh. Lalu selanjutnya akan diadakan kembali di hari ke empat puluh dan ke seratus.
"Aku tahu itu, Entik. Tapi yang ibu inginkan itu pengajian di rumah, bukan di masjid."
Hamzah tersenyum tipis. "maaf ya, Larissa. Kalau menurutku, baik di rumah atau di masjid, itu sama saja. Karena yang paling penting itu doanya, bukan tempatnya."
Larissa diam, pikirannya mengatakan setuju atas pendapat Hamzah, namun hati kecilnya menolak karena terpengaruh dengan mimpi tadi. Terlebih se
Hamzah meraih jemari tangan Larissa dan mengusapnya lembut. "Jangan terlalu dipikirkan!. Lebih baik sekarang kau pergi ambil air wudhu dan sholat agar kamu bisa sedikit tenang."
Larissa mengangguk lesu. Dia memang melakukan saran suaminya untuk berwudhu dan sholat, namun pikirannya terus berkecamuk memikirkan mimpinya tadi. Terlebih lagi semasa hidup sang ibu memang kerap mengatakan ingin diadakan pengajian untuk mendoakannya kelak bila tiada.
Usai sholat Larissa pergi ke rumah Iqbal untuk membicarakan perihal mimpinya itu dengannya. Ia pikir kakaknya akan berubah pikiran dan setuju apabila pengajian diadakan dirumah saja. Tapi ternyata Iqbal malah sependapat dengan suaminya.
Setelah perdebatan yang sulit akhirnya semua sepakat untuk tetap mengadakan pengajian di masjid seperti rencana awal.
***SI'IRAN WALI
Ayo sedulur seng sregep ngaji, ngaji iku sangune mati
Wong mati iku banget larane, sebab nyawane ilang saking awake
Wong urip ning dunyo iku mung sesaat, mangka seng ageh-ageh anggonmu tobat
Tobat saking sak kabeh maksiat, mumpung durong teko waktune wafat
Untung temen wong seng gelem sholat, lan ngakeh-ngakehi maca sholawat
Sholawat saking nabi Muhammad, sebab ngajeng-ajeng angsal safa'at
Ya Allah gusti kita nyuwon pinaringan istiqomah
Ya allah gusti kita nyuwon mbenjang pejah khusnul khotimah
__ADS_1
Ya Allah gusti kita nyuwon pinaringan umur berkah
Kangge ibadah kanthi taat, lan nebihi laku maksiat
Ya Allah gusti kita nyuwon pinaringan rizki berkah
saged kangge amal jariyah, lan ziarah dateng makkah
Amiin ya Allah, Amiin ya robbal 'Alamiin***
...****************...
Setelah acara pengajian malam itu di masjid yang ditujukan untuk mendoakan almarhumah bu Ani, Larissa merasa sedikit tenang. Sebagai seorang anak, ia telah melakukan kewajibannya terhadap orangtua yang telah meninggal dunia dengan cara mendoakan, dan itu membuatnya tak lagi dihantui perasaan bersalah.
Malam-malam berikutnya Larissa kembali di datangi sang ibu dalam mimpi. Akan tetapi tidak seperti sebelumnya, kali ini wajah sang ibu terlihat begitu bahagia.
Larissa ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang ibu dalam mimpinya itu, hingga kemudian di hari ke tujuh ia kembali bermimpi buruk.
Dalam mimpinya itu sang ibu meminta makan dengan disuapi olehnya. Dan yang lebih buruk lagi, sang ibu ingin mengajaknya ikut serta untuk menemaninya.
Menurut orang jawa, bermimpi diajak oleh orang yang telah meninggal dunia bermakna hidupnya tidak akan lama lagi.
Larissa khawatir hal ini benar-benar terjadi, apalagi dirinya memang baru sembuh dari sakit. Ia pun menceritakan mimpinya itu pada suaminya untuk mencari solusi.
"Jangan terlalu dipikirkan! Aku yakin semua akan baik-baik saja," ucap sang suami usai dirinya menceritakan mimpinya.
"Tapi....."
Sebelum Larissa menyelesaikan ucapannya, Hamzah sudah memotong. "Kalau kau takut, nanti sore aku buatkan jamu sawan agar kau bisa sedikit tenang."
Larissa mengangguk. "Baiklah, aku mau!. Tapi aku ada satu permintaan."
"Katakan!."
"Aku ingin pergi mengunjungi makam ibu, kebetulan hari ini aku sudah selesai haid. Lagipula hanya aku sendiri yang belum tahu dimana letak makam ibu."
__ADS_1
"Baiklah! Besok pagi aku akan mengantarmu."