Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 104


__ADS_3

Semakin hari Larissa semakin tenggelam dalam kemarahan dan kekecewaan. Hatinya kini hanya dipenuhi dengan kebencian dan demdam, sehingga membuatnya berani bersikap kurangajar terhadap suaminya sendiri. Dan bahkan mulai bermain api dibelakangnya.


"Larissa, jam segini.kau mau kemana?," tanya Hamzah disuatu pagi. Nada bicaranya terdengar biasa saja.


Bukannya menjawab dengan baik pula, Larissa justru berucap sangat ketus. "Pergi!" jawabnya singkat.


"Iya, aku tahu, tapi mau pergi kemana?."


"Aku mau kemana itu bukan urusan kamu! Kamu urus saja urusanmu sendiri."


Emosi Hamzah sempat terpancing saat mendengar nada bicara Larissa yang sangat tak sopan padanya, namun ia mencoba mengendalikan diri dengan sejenak menutup mata. "Kau itu masih menjadi istriku, Larissa. Aku berhak tahu kemana kau pergi."


"Istri?," senyuman sinis tersinggung di bibir. "Istri macam apa yang selalu salah dimata suaminya padahal ia tak pernah melakukan kesalahan? Istri macam apa yang tak pernah mendapat kepercayaan dari suaminya sendiri? Itukah nilai seorang istri dimatamu?."


Hamzah memalingkan wajah, matanya tertutup dengan bibir terkatup. Ia merasa tertampar oleh ucapan istrinya.


"Aku ini hanyalah istrimu diatas kertas saja. Karena sesungguhnya kau tak benar-benar menjadikanku sebagai istrimu!."


Sebagian besar kata-kata Larissa memang benar, dan Hamzah mengakui kesalahannya itu. Namun karena nada bicaranya yang sangat kurang ajar membuat Hamzah tersulut emosi. Sekuat tenaga ia redam emosi itu dengan memperingatkan istrinya. "Tolong jangan memancing kemarahanku, Larissa. Ini masih pagi, aku tak ingin memulai hari dengan bertengkar denganmu. Lagipula apa kita tidak berjualan hari ini? Aku sudah selesai menatanya lho sejak tadi!."


Walau Hamzah sudah memperingatkan dengan cara baik-baik namun Larissa mengabaikannya. Ia bahkan lebih ketus dari sebelumnya. "Tidak, aku capek! Lagian siapa suruh kau menatanya?aku bisa melakukannya sendiri!," jawabnya.


"Kalau kamu capek, kenapa tidak bilang dari tadi? Kan aku tidak perlu repot-repot menata dagangan kalau tahu. Lagipula kenapa tadi kau kulakan ke pasar kalau hari ini tidak jualan?."

__ADS_1


"Suka-suka aku dong mau jualan apa tidak! Kalau kau tidak mau, kau bisa cari kerja sendiri."


Emosi Hamzah sudah sampai diubun-ubun melihat kekurangajaran istrinya. Namun ia terus berusaha untuk meredam kemarahan. "Larissa, jaga bicaramu!. Tolong lebih sopan sedikit kalau bicara denganku. Aku ini suamimu!."


Bukannya menyadari kesalahan dan meminta maaf, Larissa justru menantang Hamzah. "Kenapa? tak suka? Mau marah? Ayo sini pukul aku kalau berani!," tangannya menunjuk kearah wajahnya sendiri seolah menantang untuk dipukul.


Amarah Hamzah menggelegak. Matanya melotot merah dengan tangan terkepal kuat. Ia tak tahu akan sampai kapan kuat menahan emosi lebih lama, terlebih dirinya memang seorang pemarah. Namun sekuat tenaga ia coba tahan karena tak ingin menyakiti istrinya sendiri."


Melihat ekspresi kemarahan suaminya bukannya takut dan meminta maaf, Larissa justru dengan sengaja menyiram minyak tanah diatas bara api kemarahan Hamzah. "Kenapa hanya diam? Nggak berani? Padahal aku sudah mempersilahkanmu lho," senyuman sinis mengejek dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Masih makan dari keringat istri saja belagu!."


"Larissa!!!." Meledaklah sudah kemarahan Hamzah. Kata-kata terakhir Larissa sukses menjebol pertahanannya. Tangannya melayang diudara ke arah wajah Larissa. Namun sesaat sebelum tangannya menyentuh pipinya, ia malah berhenti.


Larissa memejamkan mata saat melihat tangan suaminya terangkat keatas, merasa sedikit takut akan kemarahan suaminya. Namun saat menyadari tangan suaminya terhenti, ia kembali membuka mata. "Kenapa berhenti? Ayo sini pukul!," tangannya memegang tangan Hamzah dan dipukul-pukulkan ke wajahnya sendiri.


"Ya, Aku memang tidak waras!," Larissa turut berteriak pula. Tangisnya pecah seketika itu juga. "Aku tidak waras karena dulu bersedia menjadi istrimu," jarinya menunjuk ke wajah suaminya.


Hamzah berbalik membelakangi istrinya. Matanya terpejam menahan luapan amarah. Ucapan Larissa begitu melukai harga dirinya "Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau tidak sadar kalau kata-katamu itu begitu melukaiku?," suaranya terdengar parau saat mengatakan hal itu.


"Kalau kau terluka dengan perkataanku, kenapa tidak kau ceraikan saja aku?."


"Itu tidak mungkin! Bukankah dulu kau sendiri yang bilang, kalau kita bercerai, maka anak kitalah yang akan menjadi korban, dan aku tak ingin itu terjadi. Lalu kenapa sekarang kau menuntut cerai dariku? Tidak bisakah kita perbaiki lagi pernikahan kita?."


"Untuk apa mempertahankan pernikahan bila kita hanya saling menyakiti? apa kau tidak sadar kalau anak akan semakin terluka bila melihat kedua orangtuanya selalu bertengkar?."

__ADS_1


"Aku tahu itu!," berbalik menghadap istrinya kembali. "Karena itu beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua. Aku berjanji, aku tidak akan mengecewakanmu lagi," meraih jemari tangan Larissa.


Larissa menarik kembali tangannya dari genggaman suaminya. "Jangan memberi janji bila kau tak bisa menepati," langkah kaki berjalan mundur menjauhinya. "Semua sudah terlambat, Entik! Kita tidak bisa memperbaikinya lagi."


"Tapi kenapa?," teriak Hamzah frustasi.


"Karena aku tidak sanggup menjalani pernikahan tanpa ada saling kepercayaan," diusapnya lelehan air mata di pipi. "Apa kau tahu, saat sebuah hubungan tanpa adanya rasa saling percaya, maka hubungan itu akan lebih rapuh daripada benang. Dan saat benang itu terkena badai, maka benang itu akan putus dengan mudahnya."


Hamzah jatuh terduduk di hadapan istrinya. Kepala menunduk dengar berurai air mata, menyesali semua kebodohannya selama ini. "Maafkan aku, Larissa. Tolong beri aku satu lagi kesempatan."


"Maaf, Entik, aku tidak bisa. Aku tetap pada keputusanku untuk memintamu menceraikanku."


"Tidak!," sontak bangkit dari posisinya dan menolak permintaan istrinya dengan tegas. "Aku tidak akan menceraikanmu."


"Lepaskan aku, Entik! Jangan siksa aku dengan hubungan ini."


Hamzah memejamkan mata, meneguhkan hati agar tak terpengaruh dengan air mata Larissa. "Ingat kata-kataku ini, Larissa, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu!." Usai mengatakan itu ia berbalik dan meninggalkan istrinya.


Larissa berteriak histeris melihat kepergian suaminya. "Kau jahat, Entik! kau tega menyiksaku dengan cara seperti ini. Aku benci padamu, benci!."


Hamzah tak menghiraukan jerit tangis Larissa di belakang dan terus meneruskan langkah. Ia tak ingin dirinya melemah bila melihat air matanya.


Sementara itu Larissa semakin histeris saat melihat suaminya tak sedikitpun menoleh padanya. "Apa kau tidak mendengarku, Entik, aku membencimu, benci, benci!!!." Dilemparkannya segala sesuatu yang ada di dekatnya kearah Hamzah.

__ADS_1


Air mata Larissa tumpah ruah seakan-akan dirinya lah yang paling terluka disini. Ia yang dengan sengaja menyakiti hati Hamzah tadi, tapi malah dia yang merasa terluka. Ia tak pernah sadar bahwa dirinya juga sama bersalahnya dengan Hamzah.


__ADS_2