Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 101


__ADS_3

Sudah menjadi adat tradisi di desa untuk bersilaturrahmi ke rumah sanak saudara setelah pernikahan. Selain untuk menjalin kekerabatan, juga bermakna untuk mengenalkan anggota keluarga besar satu sama lain.


Demikian juga yang dilakukan oleh Izzah dan suaminya. Ia datang bersama suaminya ke rumah Hamzah yang merupakan kakak tertua darinya.


Hamzah menyambut keduanya dan mempersilahkan masuk. Sementara Larissa memilih menyembunyikan diri dengan berpura-pura sibuk di dapur begitu melihat kedatangan mereka.


Bukannya tak sopan karena tak mau menyambut tamu, tapi Larissa kembali merasakan getaran-getaran aneh di hati begitu melihat kedatangan mereka, terutama terhadap suami Izzah. Ia tak mau perasaan itu menghancurkan pernikahan adik iparnya yang baru seumur jagung, terutama pernikahannya sendiri bila dibiarkan berlarut-larut.


Namun alasan yang dibuatnya ini tak bisa bertahan lama. Tak mungkin ia menyembunyikan diri dengan berpura-pura sibuk di dapur terlalu lama, bisa-bisa semua orang akan curiga dan.berpikiran buruk tentangnya. Terbukti dengan terdengarnya suara Hamzah memanggil, "Encus, kesini dulu. Lihat siapa yang datang!."


"Iya, bentar! Aku masih belum selesai masak," jawab Larissa. "Bagaimana ini? Suamiku sudah memanggil. Aku harus membuat alasan apalagi untuk menghindari pertemuan ini," batinnya panik.


Larissa semakin gugup, antara menahan gempuran perasaan, panik dan takut. Hingga tanpa sadar tangannya menyenggol panci di dekatnya.


Prang......


Suara panci terjatuh menggema di udara. Menimbulkan tanda tanya di hati semua orang, terutama Hamzah, "Suara apa itu, Encus?" teriaknya kembali.


"Bukan apa-apa. Aku cuma tak sengaja menjatuhkan sesuatu," jawab Larissa.


Larissa merutuki kebodohannnya sendiri. "Bodoh! Kenapa aku malah menimbulkan keributan seperti ini. Semua orang pasti makin curiga terhadapaku," digigitnya bibir bawah karena panik.


"Encus, ayo cepetan sini. Masaka ada tamu malah dibiarin aja." Kembali terdengar suara teriakan Hamzah memanggilnya, membuat Larissa semakin gugup dan panik. "Bagaimana ini, aku harus apa sekarang?" keringat dingin mengucur di dahi karean begitu paniknya ia saat itu.


Hamzah merasa tak enak hati terhadap Izzah dan suaminya karena Larissa tak kunjung menampakkan diri. Ia khawatir mereka berpikiran bahwa Larissa tak menghargai kedatangan mereka. "Tunggu sebentar! Biar aku lihat ke belakang dulu," ucapnya pamit undur diri.


Hamzah bergegas menghampiri Larissa, mencari tahu apa yang membuatnya tak jua menampakkan diri. "Ada tamu kok malah sibuk sendiri, sih. Kan nggak enak sama tamunya," ucapnya saat sudah berada dibelakang Larissa. Tangannya memeluk pinggang ramping sang istri.

__ADS_1


Larissa terkejut melihat suaminya tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. "Eh...kamu, ngejutin aku aja," ucapnya dengan sedikit terjingkat.


"Ngapain aja sih dari tadi? Kok dipanggilin nggak keluar-keluar?."


"Aku lagi masak sayur, nih lihat!," menunjuk kearah masakan yang dibuatnya.


"Matikan saja dulu kompornya, nanti dilanjut lagi masaknya setelah mereka pulang. Nggak sopan kalau ada tamu malah dibiarin."


"Emang siapa sih yang ada di depan," Larissa berpura-pura tak tahu tentang siapa yang datang, padahal sejak awal ia tahu kalau yanga datang adalah Izzah beserta suami.


"Izzah sama suaminya," jawab Hamzah singkat.


"Oh....mungkin mereka kesini mau ngirim weweh manten, kan mereka baru menikah kemarin."


"Makanya cepetan keluar, nggak enak kan sama mereka."


"Ya sudah! kamu semperin mereka di depan, bentar lagi aku menyusul. Aku mau cuci tangan dulu," ucap Larissa akhirnya.


"Tapi jangan lama-lama ya! Nggak enak soalnya."


"Iya, bawel banget sih kamu hari ini," menyebikkan bibir. "Ya udah sana, buruan!."


Hamzah pun melepaskan pelukan dan berlalu meninggalkan Larissa.


Sepeninggal Hamzah Larissa masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan membasuh muka. Sejenak ia menenangkan diri disana untuk menghalau debaran jantung. "Aku tidak boleh seperti ini, ini tidak benar!."


Kepala Larissa tertunduk dengan kedua mata terpejam. "Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Kenapa aku bisa memiliki perasan seperti itu terhadap suami dari adik iparku sendiri," jerit batinnya. "Bantulah aku untuk mengendalikan perasaan ini. Jaga diriku dari kejahatan nafsuku sendiri. Jangan biarkan perasaan ini menghancurkan segalanya, atau kan banyak hati yang terluka karenanya."

__ADS_1


Larissa segera keluar dari kamar mandi setelah merasa dirinya sedikit lebih tenang. Ia berjalan pelan sambil mensugesti diri sendiri bahwa dirinya mampu melewati semua ini.


"Maaf, mbak baru bisa keluar," ucap Larissa saat tiba di hadapan mereka.


"Nggak pa pa, mbak. Kami ngerti kok!," jawab Izzah sambil mengulurkan tangan mengajak Larissa untuk bersalaman.


Sebagai saudara tertua, Larissa membiarkan Izzah mencium tangannya sebagai bentuk penghormatan darinya terhadapnya. Namun ia tak menyangka bahwa suami si Izzah akan melakukan hal yang sama dengannya pula.


"Maaf, tidak usah!" ucap Larissa singkat sambil menarik tangannya saat suami si Izzah hendak menciumnya. Kemudian ia menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai isyarat mengajak bersalaman secara agama terhadap non muhrim agar ia tak tersinggung dengan penolakannya.


"Tidak apa, mbak," jawab suami Izzah, lalu ia melakukan hal yang sama dengan Larissa pula. Tak lupa sebuah senyuman ramah is sunggingkan.


Larissa mungkin orang yang munafik karena menolak bersalaman secara langsung. Namun harus bagaiamana lagi, ia terpaksa melakukannya untuk membentengi hatinya sendiri.


Saat kulit mereka saling bersentuhan, Larissa merasa tubuhnya tersengat aliran listrik dengan voltase yang sangat besar. Ia kembali merasakan getaran-getaran itu.


Tidaklah salah bila wanita terpikat dengan lawan jenis, begitu juga sebaliknya. Karena cinta itu indah, dan merupakan anugerah dari yang Maha Kuasa. Namun perasaan itu akan berubah menjadi sebuah kesalahan besar apabila masing-masing dari mereka sudah memiliki pasangan. Dan inilah yang coba Larissa hindari.


Larissa balas tersenyum pula. Ia sangat gugup dengan keadaan ini. Ia pun menghela nafas panjang untuk kembali menguasai diri.


"Mari, silahkan di minum dulu airnya," ucapnya sopan.


"Iya, mbak, tadi sudah," jawab Izzah.


Larissa berusaha bersikap se normal mungkin di hadapan mereka. sesekali ia ikut menimpali obrolan mereka.


"Kalau boleh tahu, apa rahasia mbak dalam membina rumah tangga sehingga bisa langgeng bersama kak Hamzah sampai sekarang? Mungkin aku bisa meniru rahasia mbak untuk pernikahanku sendiri," tanya Izzah tiba-tiba.

__ADS_1


Ditanya seperti itu oleh adik iparnya sendiri tentu Larissa bingung. Ia sadar, meski usia pernikahannya sudah berlangsung selama tujuh tahun, namun itu bukan sebuah perjalanan yang mudah, banyak lika-liku yang ia alami, bahkan terkadang ia merasa tak mampu untuk melewati. Namun disebut pernikahannya langgeng, itu sangat jauh dari kata itu.


__ADS_2