Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 88


__ADS_3

Walau harus dengan sedikit memaksa namun akhirnya Hamzah berhasil membuat Larissa menghabiskan makananya. Kemudian ia membawa piring kotor itu ke belakang dan kembali lagi sambil membawa sebuah gelas yang entah apa isinya. Disodorkannya gelas tersebut ke hadapan istrinya. "Sekarang kamu minum ini!."


"Ini air apa? Kok warnanya kayak gitu?."


"Ini air rebusan ikan kuthuk tadi. Sangat bagus untuk mempercepat pemulihan pasca operasi. Jadi sekarang kamu harus minumnya juga "


Larissa mendekatkan gelas ke hidung. "Ish.... baunya amis sekali! ini bahkan lebih amis dari ikan yang aku makan tadi," menutup hidung dan kemudian menjauhkan gelas itu darinya.


Hamzah tahu bahwa Larissa akan bereaksi seperti ini. Namun ia tak mau menyerah. Dibujuknya sang istri agar mau meminum. "Tidak apa, Larissa. Baunya memang agak amis, tapi ini sangat bagus untuk kesehatanmu."


Larissa menggeleng keras dan tetap menolak untuk meminum. "Tidak, aku tidak mau meminumnya!."


"Larissa!!!." kembali Hamzah sedikit meninggikan nada bicaranya dengan maksud agar Larissa mau menuruti perkataannya.


"Aku tidak mau, Entik, baunya sangat amis. Perutku rasanya sangat mual."


Hamzah tak ingin membuang waktu dengan membujuk. Ia tahu hal itu hanya percuma saja karena Larissa adalah tipikal orang yang susah untuk dibujuk.


Tanpa mempedulikan penolakan dari sang istri Hamzah mendekatkan gelas yang dibawanya tadi ke bibir Larissa dan memaksanya untuk meminum. "Tahan dikit, ya. Ini semua demi kebaikanmu."


Larissa terkejut, tak menyangka suaminya akan bertindak tanpa persetujuannya. Namun air itu sudah terlanjur masuk ke kerongkongannya, hingga mau tak mau ia harus menelannya.


Larissa menjepit hidungnya menggunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan, sedang tangan kiri dikibas-kibaskan di depan hidung untuk mengusir bau. Lidah terjulur keluar. "Ah....nggak enak!."


"Ha ha ha..." meledaklah tawa Hamzah melihat reaksi Larissa saat ini. Baginya itu terlihat sangat lucu. Tanpa sadar ia telah melakukan kesalah besar karena telah mentertawakannya. Karena tawanya itu membuat hati Larissa semakin jengkel. "Bukannya nolongin, malah diketawain," cebiknya kesal.


Hamzah tahu bahwa Larissa akan bereaksi seperti itu, makanya ia mengantisipasinya dengan membawa beberapa bungkus permen sebelum menghampiri istrinya tadi. "Ini, makan permen ini. Ini akan mengurangi rasa tidak enak di lidahmu," Dibukanya sebutir permen dan memasukkannya ke mulut Larissa.

__ADS_1


Larissa mengunyah permen itu. kombinasi antara rasa manis dan asam dari permen sedikit demi sedikit mengurangi rasa tidak enak di lidah.


"Sudah berkurang, kan rasa tidak enaknya," ucap Hamzah dengan tersenyum.


Rasa tidak enak di lidah memang sudah berkurang. Namun Larissa sudah terlanjur kesal dengan suaminya.


Plakk


Sebuah pukulan mendarat di lengan Hamzah, "Dasar tukang paksa!."


"Aduh...." Hamzah mengaduh kesakitan sambil memegangi lengannya yang terkena pukulan Larissa. Tentu ia hanya berpura-pura saja, sebab pukulan itu tak berasa apa-apa di lengan kekarnya.


Larissa panik mendengar suaminya mengaduh kesakitan. Diusap-usap sambil ditiup-tiup lengan Hamzah yang terkena pukulannya tadi "Aduh, sakit ya lengannya? Maafin aku ya, udah keterlaluan tadi."


Melihat wajah panik sang istri Hamzah malah cengengesan. "He he he, aku cuma bercanda kok! Aku kan kuat. Pukulan seperti itu tidak akan terasa apa-apa buatku," ucapnya memyombongkan diri sambil berpose ala binaragawan.


Merasa telah tertipu oleh sang suami Larissa pun semakin kesak. Dipukulnya lengan Hamzah berulang-ulang. "Ish, dasar! Nyebelin banget, sih!."


Memdengar suaminya mengaduh kesakitan, bukannya berhenti, Larissa malah menambah pukulannya. Ia tak mau tertipu untuk kedua kali. "Biarin! Salah sendiri sudah membohongiku tadi. Sekarang rasakan ini!."


Hamzah memegang kedua pergelangan tangan Larissa dan mendorongnya ke belakang hingga mentok di dinding. Kemudian ia mengunci tubuh sang istri dengan lengannya.


Larissa terkejut karena tiba-tiba Hamzah telah mengunci pergerakannya. Tubuhnya menegang seketika. "Ma....mau apa kamu?."


Ternyata Hamzah membuat istrinya berhenti memukuli dirinya dengan cara yang cukup cerdik, yaitu dengan membuatnya berada di posisi terjepit. "Sutt.... Jangan bawel lagi," ucapnya.


Kemudian Hamzah mendaratkan sebuah ciuman di bibir manis Larissa. Sebuah ciuman yang begitu panas di siang yang begitu terik hingga membuat mereka sama-sama terbakar oleh gairah.

__ADS_1


"Apa aku boleh meminta hak ku? Aku begitu menginginkan dirimu sejak kemarin," ucap Hamzah meminta izin.


Larissa melihat pandangan mata Hamzah telah menggelap karena gairah, dan saat ini ia pun juga sama. Ia pun menganggukkan kepala memberi izin. "Lakukanlah! Tapi pelan-pelan saja, ya!."


Tanpa banyak bicara Hamzah mengangkat tubuh sang istri ala bridal style dan membawanya ke kamar. Perlahan ia hempaskan tubuh itu diatas ranjang cinta mereka.


Hamzah melanjutkan ciuman panas mereka yang sempat terhenti. Satu per satu ia lucuti pakaiannya dan pakaian sang istri tanpa melepas ciumannya.


"Katakan padaku jika aku menyakitimu," ucap Hamzah sebelum memulai penyatuan tubuh mereka. Dan Larissa pun menjawab hanya dengan menganggukkan kepala saja karena telah hanyut dalam gairah suaminya.


Seperti matahari yang telah membakar bumi siang itu, demikian halnya dengan Larissa dan Hamzah. Mereka sama-sama terbakar oleh gairah masing-masing hingga terkapar tak perdaya usai menggapai puncak kenikmatan bersama.


...****************...


Hari ini adalah jadwal Larissa untuk kontrol. Rencananya mereka akan berangkat selepas sholat ashar. Sebab jadwal dokter bedah yang menangani Larissa adalah malam hari.


Dulu mereka harus berangkat pagi-pagi untuk mengambil nomor antrean agar tak berada di urutan terakhir. Padahal dokter baru mulai buka praktek malam hari. Jika sudah begini maka bisa dipastikan mereka berada di rumah sakit seharian, sebab mereka tak mungkin pulang dulu karena jarak rumah ke rumah sakit sangatlah jauh.


Tapi kini tidak lagi. Sejak rumah sakit tempat Larissa di rawat membuka pendaftaran online mereka tak perlu berada di rumah sakit seharian. Cukup lakukan pendaftaran sehari sebelum kontrol, maka mereka akan langsungbmendapat nomor antrian begitu tiba disana.


Sejak pagi Hamzah sudah mengecek motor yang akan mereka gunakan ke rumah sakit nanti. Ia khawatir ada masalah pada motor yang nantinya akan membahayakan keselamatan mereka di jalan.


Sore hari pun tiba. Mereka segera berangkat ke rumah sakit agar tak kemalaman di jalan. Namun sebelum berangkat mereka titipkan dulu putri mereka di rumah orangtua Hamzah.


Sepanjang perjalanan Hamzah begitu berhati-hati dalam mengendarai motor. Ia berusaha keras meminimalisir goncangan kendaraan karena takut Larissa kesakitan bila terkena goncangan keras. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan sang istri. "Kamu tidak apa-apa? Apa jahitannya terasa sakit?."


Larissa tahu jika Hamzah terlalu mengkhawatirkan dirinya. Ia pun berusaha untuk menenangkannya. "Aku tidak apa, Entik. Aku baik-baik saja!," ucapnya. "Lebih baik sekarang kamu fokus saja ke jalan raya. Kalau kamu terus-terusan menoleh kebelakang, nanti malah terjadi kecelakaan lagi."

__ADS_1


Hamzah tersenyum dan kembali fokus ke jalanan. Tangannya membawa tangan Larissa agar memeluk pinggangnya. "Pegangan yang kuat! Ntar malah jatuh lagi."


Larissa mendengus sebal. "Dasar tukang modus!."


__ADS_2