
Semenjak pembicaraan malam itu, mereka pun kembali akur. Walau tak terdengar permintaan maaf terucap dari bibir Hamzah, Larissa bersedia memaafkan dan melupakan semuanya. Terlebih ia melihat adanya perubahan pada diri suaminya itu.
Semenjak usaha rujak Bu Ani berpindah tangan pada Larissa, usaha itu semakin ramai. Apalagi Larissa berinovasi dengan menambahkan menu baru pada usahanya tersebut.
Bersamaan dengan itu, perekonomian Larissa pun semakin membaik. Ia berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang cukup banyak. Larissa pun berinisiatif membuka rekening untuk menyimpan uang tersebut.
Namun nyatanya perekonomian yang membaik tak membuat rumah tangga Larissa menjadi damai. Ada saja masalah yang datang. Seolah masalah itu senang berkawan akrab dengannya.
Kali ini masalah datang dari Iqbal, saudara tirinya. Waktu itu anak lelaki Iqbal yang seusia dengan anak Larissa masuk ke Rumah Sakit. Namanya Adam. Larissa pun mengajak suaminya untuk menjenguk sang keponakan itu.
Selang beberapa hari dirawat disana, Adam pun diperbolehkan untuk pulang. Namun baru beberapa hari dirumah, Adam harus kembali dilarikan ke Rumah Sakit karena mengalami panas tinggi yang disertai dengan kejang-kejang. Dokter mengatakan Adam terkena step.
Setelah dirawat secara intensif selama beberapa hari, Adam pun diperbolehkan pulang dengan beberapa catatan.
Selama beberapa bulan ini, Adam harus bolak-balik ke Rumah Sakit karena penyakit yang sama. Rupanya daya tahan tubuh Adam bergolong sangat rendah, sehingga ia mudah sakit.
Karena bolak-balik masuk Rumah Sakit, lama-kelamaan Iqbal pun kehabisan uang untuk membayar biayanya. Bu Ani pun memberikan beberapa perhiasannya pada Iqbal untuk dijual dan melunasi biaya Rumah Sakit tersebut.
Melihat hal itu, Larissa tak tinggal diam. Ia pun turut meminjamkan sejumlah uang pada saudara tirinya tersebut.
Walau hubungan antara Larissa dan Iqbal tidak terjalin dengan baik, namun Larissa masih punya hati. Ia turut merasa kasihan melihat kondisi Adam. Biar bagaimanapun dia adalah keponakannya, yang berarti adalah anaknya juga.
Sesampainya dirumah, Iqbal mengadakan syukuran kecil-kecilan atas kepulangan Adam dari Rumah sakit. Selain itu ia juga mengganti nama anaknya yang sebelumnya bernama Fathir. Karena menurut orang pintar, Adam tidak kuat dengan nama awalnya sehingga ia sering sakit-sakitan.
__ADS_1
Hubungan antara Iqbal dan Larissa sedikit membaik sejak saat itu. Walau mereka tetap jarang terlihat mengobrol berdua. namun hal itu tidak berlangsung lama. Pasalnya Iqbal kembali berulah.
Kali ini masalah yang ditimbulkannya adalah perkara uang. Saat itu Adam baru tiga hari pulang dari Rumah Sakit.
Sore hari seperti biasa saat pembeli mulai sepi, Larissa menyapu halaman rumah. Tiba-tiba Bu Ani memanggilnya. "Rissa, kemari sebentar! ibu ingin bicara."
Larissa pun menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri sang ibu. "Ada apa, ibu?."
"Sini, nak! duduklah dulu. Ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan denganmu," ucap Bu Ani sambil menepuk tempat kosong disebelahnya.
Larissa pun menuruti ucapan sang ibu dan duduk disampingnya. "Ada apa, bu? apa ada sesuatu yang penting?" dipandanginya wajah sang ibu lekat-lekat.
Bu Ani terlihat berpikir sejenak, mencari kata-kata yang pas untuk bicara. "Rissa, perahu kakakmu sudah tua. Sudah sering rusak. Jadi sekarang jarang melaut." Digenggamnya jemari Larissa.
"Kakakmu ingin membeli perahu yang lebih bagus dan lebih besar lagi. Rencananya dia mau membeli perahu berjenis boat. Sekarang banyak orang yang menggunakan perahu jenis itu karena hasil tangkapannya jauh lebih bagus."
Ya, beberapa bulan ini orang-orang memang ramai memperbincangkan perihal perahu tersebut. Namun Larissa tak tahu pasti. Karena ia tidak paham masalah perahu.
Namun satu hal yang mengganjal pikiran Larissa, bukankah baru beberapa hari yang lalu Adam keluar Rumah Sakit. Dan bahkan Iqbal tak memiliki uang sepeser pun untuk membayar biayanya. Lalu kenapa sekarang ia malah berpikiran ingin membeli perahu yang harganya mencapai puluhan juta.
Mendengar penuturan ibunya, sedikit banyak Larissa mulai paham. Apalagi maksudnya berkata seperti itu jika tidak ingin meminjam uang. Namun Larissa tidak serta-merta bicara. Ia ingin memastikannya lebih dulu. " Maksudnya apa, ya Bu? Bicara saja langsung. Tidak usah bertele-tele."
Sejenak Bu Ani membuang napas, lalu ia pun mulai bicara. "Kamu punya tabungan berapa juta? Tolonglah, nak. Pinjamkan pada kakakmu dulu. Daripada uangmu di Bank nggak ada gunanya, mending kamu pinjamkan pada kakakmu."
__ADS_1
"Benar, kan dugaanku. Pasti mau pinjam uang" batin Larissa. Namun ia tak berani mengatakannya secara langsung, khawatir menyinggung perasaan ibunya.
"Memangnya kak Iqbal ada uang berapa? kok tiba-tiba gitu ingin beli perahu baru. Bukannya kemarin Adam baru keluar Rumah Sakit dan kakak nggak bisa membayar biayanya?" tanya Larissa.
Sebenarnya itu adalah cara ia menolak secara halus. Berharap sang ibu paham dengan maksud perkataannya. "Kalo nggak ada, mending nggak usah dulu. Jangan maksain keinginan kalo nggak bisa. Apalagi cuma ngikutin orang."
Namun nyatanya sang ibu tak mau mengerti. Ia terus memaksa agar Larissa bersedia meminjamkan uang. "Tolonglah, nak, pinjamkan dulu uangmu. Apa kamu nggak kasihan dengan kakakmu? lagi pula dengan kamu meminjamkan uang, maka persaudaraan kalian akan lebih baik lagi."
"Bukan masalah kasihan tidak kasihan, Bu! Tapi kakak yang nggak punya iktikad baik. Kalau ia benar-benar ingin meminjam uang, harusnya ia bicara langsung padaku. Bukan malah menyuruh ibu seperti ini" jerit Larissa dalam hati. Ia sedikit tersinggung mendengar ucapan ibunya.
"Nanti ibu juga akan menjual semua perhiasan ibu. Dan uangnya digabung dengan uangmu. Jadi kakakmu bisa mendapat perahu yang bagus" lanjut sang ibu tanpa memperdulikan perasaan anak perempuannya.
Inilah satu hal yang tidak Larissa sukai dari sang ibu. Ia akan melakukan apapun untuk menuruti kemauan Iqbal. Walau untuk itu, ia harus melukai hati anak perempuannya. Baginya, keinginan Iqbal adalah mutlak. Bahkan sang ibu tak memperdulikan dirinya sendiri untuk kedepannya demi memenuhi keinginan anak lelakinya.
Mendengar semua penuturan sang ibu, hati Larissa semakin kecewa dan terluka. Ia merasa ibu pilih kasih padanya. Walau sejak dulu ibu memang selalu bersikap seperti itu padanya. Namun untuk menolak permintaannya secara langsung, ia tak memiliki cukup keberanian. Ia khawatir membuat hati ibunya terluka.
"Entahlah, bu! Aku tidak bisa memutuskan sekarang. Walau aku mendapat uang dari hasil kerja kerasku sendiri, tapi aku juga memiliki seorang suami yang harus aku jaga perasaannya. Jadi aku harus membicarakan hal ini dengannya dulu. Aku akan meminta pendapatnya sebelum mengambil keputusan."
Untuk sementara, hanya itu yang bisa Larissa katakan. Ia juga harus mempertimbangkan pendapat sang suami sebelum mengambil keputusan. Biar bagaimanapun dia sudah menikah. Jadi dia tidak bisa mengambil keputusan tanpa sepengetahuan suaminya.
Bu Ani terdiam. Wajahnya menyiratkan kekecewaan atas jawaban Larissa. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena apa yang dikatakan oleh anaknya memang benar. "Baiklah! bicaralah dengan suamimu. Ibu tunggu kabar baik darimu. Secepatnya!."
"Iya, bu!" jawab Larissa singkat. Ia pun melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat tertunda karena panggilan sang ibu. Sedang Bu Ani sendiri kembali menghampiri anak lelakinya.
__ADS_1