Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 12


__ADS_3

Malam hari usai sholat Maghrib berjamaah, Larissa duduk bersandar di pinggiran kasur sambil menonton sebuah video dari sebuah jejaring sosial. Sedangkan Hamzah tidak ada dirumah. Ia pergi ke rumah temannya untuk bertanya apakah nanti akan melaut atau tidak.


Keadaan kembali tenang setelah kejadian tadi siang sepulang dari puskesmas, tapi tiba-tiba Iqbal datang dan masuk begitu saja ke dalam kamarnya. "Rissa, aku bawakan susu hamil untukmu. Minumlah! Aku dengar tadi kau mengalami pendarahan" ucapnya datar sambil menyodorkan sekotak susu hamil berukuran sedang pada Larissa.


Larisa pun menerima sekotak susu itu tanpa berkata apa-apa. Ia masih takut dihina lagi. Iqbal segera keluar dari kamar Larissa setelah menyerahkan susu tadi.


Larissa tidak tahu harus diapakan sekotak susu tadi. Ia pun menaruhnya di samping lemari, menunggu kedatangan Hamzah untuk ia tunjukkan.


Tak berselang lama Hamzah pun datang. Ia segera masuk kedalam kamar untuk menemui istrinya.


Melihat kedatangan sang suami, Larissa pun segera memberitahukan perihal susu tadi. "Yank, tadi kak Iqbal memberiku susu ini" ucap Larissa sambil menunjukkan susu tersebut.


Hamzah terlihat marah mendengar hal itu. "Untuk apa dia memberimu susu ini?" tanyanya.


"Aku tidak tahu, Yank. Mungkin dia mau minta maaf dengan cara memberikan susu ini" jawab Larissa.


Hamzah pun merebut susu itu dari tangan Larissa, kemudian ia membuangnya keluar kamar. "Jangan kau minum! Aku tidak mengizinkanmu untuk menerimanya. Enak saja dia mau minta maaf begitu saja, setelah apa yang dia lakukan padamu" teriaknya marah. Nafasnya terengah-engah karena amarah.


Larissa pun terkejut melihat reaksi Hamzah. Ia tak menyangka suaminya akan bertindak seperti itu.


Bu Ani yang tengah bersantai di depan televisi pun sama terkejutnya dengan Larissa. Ia sampai meremas dadanya saking terkejutnya saat mendengar suara teriakan Hamzah tadi. Untung saat itu Iqbal sudah tidak ada dirumah. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi.


"Kalau kamu tidak membolehkan ku menerimanya tidak apa-apa. Tapi tolong, jangan marah seperti ini" ujar Larissa lembut. diusapnya lengan sang suami, mencoba membuatnya tenang kembali.


Perlahan Hamzah pun mulai tenang. Diusapnya kepala dan istri dan mendaratkan sebuah ciuman disana. "Maafkan aku, Yank. Aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa. Aku khawatir kalau dia mau menyakitimu lagi" ucapnya pelan.


Larissa tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Aku mengerti, Yank. Sudah! tidak usah dipikirkan lagi" ucapnya.

__ADS_1


Hamzah pun menutup pintu kamar dan mendudukkan dirinya disamping Larissa, menemaninya menonton video tadi. Sementara Bu Ani segera mengambil suatu tersebut saat Hamzah menutup pintu kamar tadi.


Tak berselang lama Hamzah bangkit kembali. "Yank, aku mau keluar sebentar. Ada urusan yang belum selesai tadi. Kamu jangan kemana-mana, dikamar saja, tunggu aku pulang" ucapnya.


Larissa pun menganggukkan kepala. "Iya, yank" jawabnya.


Hamzah pun memacu motornya meninggalkan halaman rumah. Sementara Bu Ani segera memasuki kamar Larissa setelah memastikan Hamzah benar-benar telah pergi.


"Ambil susu ini" ucapnya kasar.


"Tapi Bu, Hamzah melarangku untuk menerimanya" ucap Larissa, menolak secara halus.


"Tidak usah banyak bicara. Udah, kamu terima saja! tidak usah banyak tingkah. Udah bagus kakakmu mau membelikan susu ini."


Dengan terpaksa Larissa pun menerima kembali susu tersebut.


Larissa pun kembali menganggukkan kepala. Air mata jatuh saat mendengar ibunya kembali mengancamnya.


"Sekarang cepat buat susu dan minum sebelum suamimu datang. Setelah itu simpan baik-baik. Jangan sampai ketahuan sama suamimu".


Tanpa banyak kata Larissa pun segera bangkit untuk membuat segelas susu dan meminumnya. Dan setelah itu ia menyimpannya kembali rapat-rapat. Menyembunyikan ke tempat yang tidak akan diketahui suaminya. Air mata berderai saat melakukan semua hal yang tidak diinginkannya itu. "Maafkan aku, Yank. Aku terpaksa melanggar permintaanmu. Aku hanya tidak ingin ada keributan lain lagi" ucap Larissa. Hatinya kembali terluka untuk kedua kali. kecewa dengan sikap sang ibu yang terkesan lebih membela Iqbal.


Larissa mengusap air mata yang meleleh di pipinya dan memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar. Khawatir jika tiba-tiba sang suami datang sedangkan dia tidak ada di kamarnya.


Deru mesin sepeda motor Hamzah terdengar, menandakan jika ia sudah datang. Larissa berpura-pura menonton video kembali.


Hamzah pun masuk kedalam kamar dan mendudukkan diri disamping sang istri. "Kamu nggak pa pa kan selama aku tinggal tadi?" tanya Hamzah khawatir. Dia seakan merasa ada sesuatu yang terjadi pada istrinya lagi.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Yank. Aku baik-baik saja kok!" jawab Larissa sambil mengulas sebuah senyuman tipis. Senyum yang semanis mungkin agar bisa menutupi kepedihan hatinya dari sang suami.


"Ya sudah kalau begitu" ucap Hamzah, tak meneruskan kekhawatirannya tadi. "Kamu sudah makan belum?."


"Belum" Jawa Larissa singkat.


"Kalau gitu aku ambilkan kamu makan dulu."


"Nggak usah, Yank. Kita makan sama-sama saja. Kamu juga pasti belum makan kan?."


Hamzah pun menganggukkan kepala. "Ya sudah. Kita makan sama-sama" ucap Hamzah.


Mereka pun makan bersama-sama. Dan setelah selesai makan, Larissa memutuskan untuk segera tidur, sedang Hamzah menyesap secangkir kopi sambil menunggu waktu untuk berangkat melaut.


"Yank, daripada kamu belum berangkat, temani aku tidur dulu. Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada kamu disisiku" ucap Larissa.


Tanpa banyak bicara Hamzah pun menuruti permintaan sang istri. Ia segera merebahkan tubuh disamping istrinya. Tangan memeluk tubuh sang istri, sedang sang istri menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Lagi pula waktu berangkat untuk melaut juga masih lama.


Memang semenjak hamil Larissa jadi lebih manja pada suaminya. Ia tidak akan tidur jika tak ditemani sang suami. Hamzah pun tak mempersoalkan hal itu. Ia malah senang melakukannya.


Tak berselang lama terdengar suara dengkuran halus Larissa. Menandakan bahwa ia sudah tidur.


Perlahan Hamzah pun bangkit dari tempat tidur setelah memastikan jika sang istri memang benar-benar sudah tidur.


Hamzah mengganti bajunya dengan pakaian yang biasa ia gunakan untuk melaut. Dan setelah itu ia menyiapkan bekal untuk ia bawa tanpa merepotkan sang istri. Ia sudah bisa melakukannya sendiri semenjak Larissa hamil. Ia tak ingin istrinya capek.


Setelah semua siap, Hamzah pun segera berangkat melaut. Mengingat waktu sudah menunjukkan waktu yang disepakati tadi.ia tak ingin membuat si empunya perahu menunggu terlalu lama.

__ADS_1


Larissa bisa merasakan saat Hamzah beranjak dari sisinya. Tapi ia tidak memprotes. Ia sadar jika Hamzah harus pergi melaut. Tidak mungkin bisa menemaninya terus sepanjang malam, kecuali bila ia sedang tidak melaut. Lagipula ini juga untuk masa depan mereka.


__ADS_2