Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 24


__ADS_3

Usia kandungan Larissa memasuki tujuh bulan. Seperti halnya wanita hamil pada umumnya, Larissa pun mengalami masa yang dinamakan ngidam.


Selama berhari-hari, Larissa menginginkan makan mangga muda. Hanya saja saat itu sedang tidak musimnya buah mangga, sehingga sangat sulit untuk mendapatkannya.


Larissa terus terbayang makan buah berkulit hijau itu. Bahkan berhari-hari ia sulit tidur karenanya. Terkadang ia tiba-tiba ngiler saat keinginan itu datang melintas.


Melihat kondisi istrinya yang terus menerus seperti itu, lama-lama Hamzah merasa kasihan juga. Ia memutuskan untuk mencarikan buah yang memiliki biji besar ditengah-tengah daging buahnya itu walau harus mencari ke tengah-tengah alas.


Usai sarapan, Hamzah mengajak Larissa berkeliling mencari pohon mangga. Barangkali bila beruntung, ia bisa mendapatkannya walau hanya sebuah.


Lama berkeliling, tapi mereka tak kunjung menemukan buah itu. Akan tetapi mereka tak menyerah. Mereka terus mencari hingga ke tengah alas.


Hampir semua penjuru telah mereka datangi, tapi mereka tak kunjung mendapatkannya juga. Akhirnya mereka pun menyerah dan memutuskan untuk kembali pulang karena kelelahan. Ditambah cuaca juga kurang bagus. Sedari pagi gerimis turun tiada henti. Karena saat itu memang sedang musim penghujan.


Dengan berat hati, Larissa pun menurut untuk diajak pulang. Akan tetapi saat ia hendak naik ke atas motor, ia merasa ada sesuatu yang menyuruhnya untuk menoleh ke sisi kanan, dan ia pun melakukannya.


Samar-samar Larissa melihat sebentuk buah yang mirip dengan buah yang diinginkannya itu bergelantungan disana. Ia pun menepuk bahu suaminya. "Entik, sepertinya itu buah mangga. Benar,


tidak?" tanyanya sambil menunjuk ke arah pohon yang dimaksud.


Hamzah pun mengarahkan pandangan menuju pohon yang ditunjuk oleh istrinya. "Iya, benar. Sepertinya itu memang buah mangga. Ayo! kita coba lihat kesana" ucapnya.


Larissa gembira, matanya berbinar-binar. "Ayo!" jawabnya cepat.


Hamzah pun menyalakan mesin motornya kembali dan memacunya menuju pohon tersebut. Sesampainya disana, ternyata itu memang pohon mangga. Larissa semakin gembira karenanya.


Hamzah lantas memanjat pohon tersebut dan memetik buah mangga sebanyak tiga buah, setelah sebelumnya ia meminta izin pada pemilik pohon tersebut yang rumahnya berada tidak jauh dari sana.


Larissa menerima buah mangga tersebut dengan mata berbinar-binar, tidak sabar untuk segera makannya. Mereka pun segera kembali kerumah setelah mengucapkan terimakasih pada pemilik pohon. Sepanjang perjalanan pulang, Larissa sudah membayangkan akan menjadikan mangga muda itu sebagai sambal.


Sesampainya dirumah, larissa segera mengupas dan mencuci buah tersebut,


kemudian ia parut kasar dan sisihkan.

__ADS_1


Selanjutnya, Larissa membuat bumbu dari campuran kacang tanah yang sudah disangrai dan ditumbuk, cabe rawit, dan petis ikan. Semua bahan itu diulek hingga halus dan diberi sedikit air. Setelah itu ia campurkan mangga muda yang sudah ia parut tadi. Ditambah sepiring nasi yang masih mengepul hangat serta ikan bakar, Larissa pun segera menyantap makanan tersebut.


Larissa terlihat sangat lahap saat menyantap makanan sederhana itu. Bahkan ia sampai menghabiskan tiga piring nasi. Selama ia hamil, belum pernah ia makan sebanyak ini.


Hamzah pun turut makan bersama Larissa. Akan tetapi, ia tidak bisa fokus pada makanannya sendiri. Ia terus menatap kearah Larissa yang begitu menikmati makanannya. Ia tersenyum, ternyata membuat istrinya bahagia tidaklah susah.


Larissa mengakhiri makannya dengan meneguk segelas air putih. Kemudian ia langsung bersandar di dinding.


"Kamu tidak ingin nambah lagi?" tawar Hamzah.


"Tidak, sudah cukup. Aku sudah kekenyangan" jawab Larissa dengan nafas terengah-engah karena kekenyangan.


Hamzah tersenyum melihat tingkah istrinya. Kemudian ia membantu membereskan sisa makan mereka setelah ia usai makan.


"Entik, terimakasih!" ucap Larissa setelah Hamzah selesai membereskan sisa makanan.


"Buat?" tanya Hamzah dengan mengerutkan dahi.


"Karena kamu sudah menuruti keinginanku. Sekarang aku tidak ngiler lagi" jawab Larissa dengan malu.


Larissa mengangguk. Ia segera masuk ke kamar dan beristirahat tanpa banyak bertanya. Sedang Hamzah segera pergi ke pantai.


...****************...


Semakin hari perut Larissa semakin membuncit. Ia sering berjalan santai di pagi hari untuk membantu memperlancar saat proses persalinan nanti. Terkadang Hamzah ikut menemani saat ia tidak melaut.


Selain berjalan santai di pagi hari, Larissa juga mengikuti kelas ibu hamil. Disana ia banyak belajar tentang kehamilan, juga bagaimana cara merawat bayi yang baru lahir. Selain itu, ia juga melakukan senam hamil.


Beragam manfaat yang bisa Larissa dapatkan dari mengikuti kelas ibu hamil ini. Terlebih ia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengikutinya.


Selain beragam manfaat diatas, Larissa juga bisa saling bercerita dan berbagi pengalaman bersama para wanita hamil lainnya. Sehingga ia tidak merasa bosan berada di rumah seharian. Tentu saja ia sudah mendapatkan izin dari suaminya untuk mengikuti kelas ini.


Kini, kehamilan Larissa memasuki usia sembilan bulan. Tinggal menghitung hari hingga memasuki masa persalinan. Larissa semakin giat berolahraga ringan. Bahkan saat ia tidak sempat berjalan santai di pagi hari, ia melakukannya di sore hari dengan ditemani Hamzah.

__ADS_1


Seperti halnya sore ini. Larissa meminta suaminya untuk menemani dirinya jalan santai. Dengan senang hati Hamzah menuruti keinginan istrinya tersebut. Terlebih ia juga sedang santai saat itu.


Mereka segera melangkah meninggalkan rumah. Rencananya mereka akan berjalan santai di TPI (Tempat pelelangan ikan). Saat sore hari begini, disana sudah tidak digunakan untuk melelang ikan lagi. Tapi dijadikan sebagai tempat bersantai bagi para warga. Terlebih ada sebuah jembatan yang bernama BOOM CINTA yang tempatnya sangat sejuk.


Ditengah jalan, saat mereka melintas di depan warung kopi, ada seorang pengunjung yang menyapa Hamzah. "Hei, Hamzah, mau kemana?."


Hamzah pun menoleh kearah orang yang menyapanya itu. "Menemani istri jalan santai" sahutnya.


"Cantik juga istrimu. Tukeran, yuk!" celetuk pengunjung yang lain dengan nada bercanda.


"Enak aja!. Tukeran sama ini, mau?" jawab Hamzah sambil menunjukkan tinjunya. Tentu dengan nada bercanda juga.


Tawa berderai keluar dari bibir mereka semua. Sedang Larissa hanya mengulas senyum tipis menanggapi obrolan tersebut.


Selama masa kehamilan ini, Larissa memang terlihat lebih cantik lagi walau tanpa polesan makeup. Banyak yang mengatakan jika anak yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan karena hal ini.


Terkadang Hamzah merasa kesal akan hal ini, sebab sedari awal ia sangat menginginkan anak laki-laki. Pernah ia mengutarakan kekesalannya itu pada Larissa. "Encus, nggak usah pake bedak deh, biar kamu nggak kelihatan cantik. Aku tuh pengennya punya anak laki-laki."


Larissa menahan tawa melihat kekesalan suaminya. "Entik, mau pake bedak atau tidak, kalau Allah sudah mentakdirkan yang lahir anak perempuan, kita bisa apa?. Masak iya, kita mau mengembalikan apa yang sudah Allah berikan."


Hamzah terdiam mendengar jawaban istrinya yang memang ada benarnya itu.


"Lagian, ya, mau anak laki-laki atau perempuan, itu sama saja. Yang terpenting mereka lahir dengan selamat dan tanpa kekurangan satu apapun. Emangnya kamu mau, beneran dapat anak laki-laki tapi terlahir cacat?."


Hamzah tak mampu menjawab pertanyaan istrinya itu. Dan sejak saat itu, ia tak lagi mempermasalahkan soal jenis kelamin anak mereka nanti.


Lamunan Larissa buyar saat Hamzah menepuk bahunya lembut. "eh, iya, ada apa?."


"Kita lanjut jalan, yuk!" ajak Hamzah.


""Ayo!" sahut Larissa.


Mereka pun melanjutkan jalan santai. "Mereka siapa?" tanya Larissa setelah beberapa saat berjalan.

__ADS_1


"Teman!" jawab Hamzah singkat.


Larissa mengangguk-anggukkan kepala dan tidak bertanya lagi. Memilih untuk terus melanjutkan jalan santai mereka.


__ADS_2