
Setahun sudah sejak Larissa berhasil membeli sebidang tanah di desa seberang. Kini ia pun berniat membangun sebuah tempat tinggal diatasnya.
Semula Larissa tidak pernah berfikir akan membangun rumah. Ia membeli tanah itu hanya sebagai investasi saja. Namun melihat sikap Bu Ani yang semakin hari semakin jelas memusuhi dirinya pun akhirnya memutuskan untuk membuat rumah sendiri. Terlebih ia tak ingin melihat sang suami dan sang ibu terus bertengkar. Ia sudah sangat malu dengan hal itu.
Namun Larissa mengalami perang batin sebelum melakukan niatnya itu. Hal itu dikarenakan ia sering mengalami nyeri yang teramat sangat dipayudaranya. Hingga membuat ingatannya kembali ke peristiwa beberapa tahun silam.
Dulu saat Larissa berusia tujuh belas tahun, ia didiagnosis mengidap penyakit pembesaran kelenjar susu, atau dalam istilah kedokteran dikenal dengan nama Fibroadonema mammae. Penyakit ini termasuk dalam kategori tumor jinak dan tidak terlalu berbahaya. Namun jika dibiarkan lama kelamaan benjolan tersebut akan semakin membesar dan merusak jaringan disekitarnya.
Larissa mengetahui adanya benjolan dipayudaranya itu saat ia masih berusia tiga belas tahun, setahun setelah ia mendapatkan menstuasi pertamanya. Namun karena minimnya pengetahuan akan penyakit tumor, membuatnya abai dan menganggap benjolan tersebut hanya karena faktor perubahan bentuk tubuh yang beranjak remaja saja. Dimana pada usia tersebut wanita memang mengalami perubahan bentuk tubuh yang begitu mencolok. Apalagi ia tak pernah merasakan nyeri pada benjolan tersebut.
Namun saat usianya tujuh belas tahun secara tidak sengaja ia menceritakan perihal benjolan di *********** itu pada salah satu pengurus panti asuhan tempat dimana ia dibesarkan dulu. Dan Pengurus panti asuhan itu terlihat sangat terkejut mendengar pengakuan Larissa. "Sejak kapan hal itu terjadi?" tanyanya.
Larissa pun memceritakan semuanya pada pengurus panti asuhan tersebut. Dan keesokan hari ia dibawa ke salah satu rumah sakit terbesar yang ada di kota itu untuk memastikan jenis benjolan tersebut.
Setelah menjalani serangkaian tes dan pemeriksaan, akhirnya diketahui jika benjolan tersebut adalah pembesaran kelenjar susu. Dimana saat itu ukurannya sudah berdiameter lima sentimeter.
"Lalu bagaimana cara untuk menyembuhkan penyakit saya itu, dok?" tanya Larissa usai mendengar hasil laporan pemeriksaannya.
"Jalan satu-satunya hanya melakukan tindakan operasi untuk mengangkat benjolan itu."
Pias.....
__ADS_1
Wajah Larissa pucat pasi mendengar ucapan dokter. Ia termasuk orang yang jarang sakit. Tapi begitu jatuh sakit, ia malah harus menjalani prosedur operasi sebagai jalan untuk mendapatkan kesembuhan. Yang mana hal tersebut adalah salah satu hal yang dianggap sebagai momok yang menakutkan oleh sebagian orang.
Mau tak mau Larissa pun setuju untuk mekukan operasi. Dan setelah melakukan reservasi ruang rawat inap, ia pun mendapat jadwal tindakan operasi.
Hari yang mendebarkan itu pun tiba. Besok ia akan menjalani operasi, dimana ia akan mendapat bius total saat prosedur operasi itu dilakukan. Dan saat ini ia pun sedang berpuasa sesuai dengan anjuran dokter.
Namun takdir ternyata berkata lain. Saat malam hari, dimana ia akan bersiap untuk tidur sang ibu menelpon dan memintanya untuk pulang ke rumah. Bu Ani mengeluh sakit dan tidak ada yang mau merawatnya disana.
"Ibu, aku minta maaf. Aku tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Besok adalah jadwal operasiku dilakukan" ucap Larissa mencoba memberi pengertian pada ibunya. Sebelumnya Larissa sudah mengatakan perihal sakitnya itu. Dan sang ibu pun sudah tahu bahwa ia akan menjalani operasi.
"Tapi, nak, disini ibu juga sedang sakit. Dan tidak ada yang mau merawat ibu."
"Memangnya kak Iqbal kemana, bu? Bukankah kalian masih tinggal satu atap? Kenapa dia tidak mau merawat ibu?"
Larissa menghela napas kasar. Ia sangat tahu bagaimana sikap sang kakak. Namun saat ini ia juga sedang sakit keras. Apalagi operasinya ini bisa berjalan karena dibiayai oleh pihak panti asuhan. Lalu bagaimana mumgkin ia akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Tapi, ibu, bagaimana dengan aku? Disini aku juga sedang sakit. Apalagi besok adalah jadwal operasiku" ucap Larissa. Ia berusaha memberi pengertian pada ibunya, dan berharap beliau mau mengerti akan keadaannya saat ini.
Namun semua itu hanya tinggal harapan, karena ternyata sang ibu tak mau mengerti akan keadaannya. "Apa kamu tidak merasa kasihan pada ibu, nak?" tanyanya.
"Tentu saja aku kasihan dengan ibu. Aku sangat sayang dengan ibu. Tapi masalahnya saat ini......"
__ADS_1
Belum sempat Lariss menyelesaikan ucapannya, sang ibu sudah memotong, "Ya Allah, betapa malangnya nasibku. Aku sedang sakit, tapi anakku malah tega terhadapku." Nada bicaranya terdengar begitu menyayat, seakan belia adalah pihak yang paling tersakiti. Dan setelah berkata seperti itu, beliau langsung mematikan telepon secara sepihak.
Larissa terpaku, tak menduga sang ibu akan berkata seperti itu mengenainya. Sungguh, jika besok bukan jadwal operasinya, maka ia pasti akan menuruti permintaan ibunya. Bahkan jika bisa, ia pasti akan berangkat malam itu juga. Ia tak perduli akan keselamatannya sendiri.
Setetes air mat jatuh dipelupuk matanya. Ditaruhnya kembali gagang telepon itu. "Maafkan aku, ibu. Sungguh, aku tak pernah berniat untuk menyakiti hatimu."
Bimbang, itulah keadaan Larissa saat ini. Semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan memikirkan perkataan sang ibu. Ia yang seharusnya banyak beristirahat sebelum menghadapi operasi malah dibuat banyak pikiran karena memikirkan ucapan dan kondisi sang ibu.
Setelah berpikir cukup dalam akhirnya Larissa memutuskan untuk membatalkan operasinya. Ia tak mau membuat ibunya kecewa dan di cap sebagai anak yang durhaka. Ia pun segera bangkit dan mencari ibu pemilik panti asuhan untuk mengutarakan niatnya sekaligus meminta izin pulang.
"Bukankah besok adalah jadwal operasimu?" tanya pak Bambang saat Larissa mengutarakan maksud hatinya. Beliau adalah adik dari pemilik panti asuhan tersebut. Kebetulan saat itu ibu pemilik panti sudah tidur, jadi Larissa meminta izin pada pak Bambang.
"Saya tahu, Pak. Tapi ibu saya dirumah juga sedang sakit. Dan bagi saya, tidak ada yang penting selain ibu" jawab Larissa penuh keyakinan.
"Lalu bagaimana dengan kami yang terlanjur membayar semua biaya untuk operasimu? Apa bagimu itu tidak penting? Apa kamu akan menyia-nyiakannya begitu saja?."
Larissa menundukkan kepala. "Maafkan saya pak! Saya tidak bermaksud mengecewakan bapak. Tapi keadaanlah yang membuat saya harus membatalkan operasi besok."
Pak Bambang menghembuskan napas kasar. Terlihat sekali jika beliau sangat kecewa dengan keputusan Larissa. "Baiklah kalau memang itu keputusan kamu. Nanti Bapak akan bicarakan hal ini pada Umik." Umik adalah sebutan yang anak-anak berikan pada ibu pemilik panti asuhan tersebut.
"Terimakasih banyak, Pak!." Dan setelah itu Larissa pun kembali ke kamar untuk membereskan barang yang akan ia bawa pulang besok.
__ADS_1
Larissa tersentak dari lamunannya saat nyeri di *********** kembali datang. Sungguh saat rasa sakit itu datang, ia hanya bisa menyesali keputusannya saat itu. Karena saat ia tiba dirumah, ternyata ibu dalam kondisi baik-baik saja. Padahal ia sudah mempertaruhkan hal penting dalam hidupnya demi sang ibu. Tapi ternyata hal itu sia-sia belaka.
Namun ia tak mau menyalahkan sang ibu. Karena biar bagaimanapun, takdirlah yang membuat semua itu terjadi. Dan penyesalan tidak ada artinya. Karena saat ini ia harus berjuang melawan rasa sakit itu kembali.