Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 27


__ADS_3

Hamzah tak menjawab pertanyaan yang diajukan larissa. Ia memalingkan wajah dari istrinya.


"Jawab aku! Apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tanya Larissa dengan air mata bercucuran. "Jika kau ingin menggugurkan anak ini, berarti itu sama saja dengan membunuhku. Kau pasti tahu benar kan apa resiko menggugurkan bayi? Apalagi di usia kehamilan sembilan bulan."


Hamzah masih bergeming. Tak tahu harus berkata apa.


"Kalau kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, maka baiklah. Aku akan ikut dengan Ayah. Kau juga tidak perlu repot-repot menggugurkan anak ini, karena aku akan membawanya ikut serta. Mungkin inilah maksud dari mimpi ku semalam"


Hamzah terkejut mendengar ucapan istrinya. Ia tahu benar jika ayah Larissa sudah lama meninggal. "Apa maksudmu berkata seperti itu?."


"Semalam aku bermimpi, ayah datang mengunjungiku. Dan saat ia akan kembali, ia mengajakku untuk ikut serta bersama dirinya."


"Kalau kau memang tidak menginginkanku lagi berada di sisimu, maka lebih baik aku ikut dengan Ayah" jawab Larisa dengan air mata berurai.


Hamzah bersimpuh, mensejajarkan diri dengan istrinya. Direngkuhnya tubuh ringkih sang istri. "Tolong! jangan berkata seperti itu. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi" ujarnya dengan berurai air mata.


Selama Larisa mengenal Hamzah, belum pernah ia melihat suaminya itu meneteskan air mata. Hamzah adalah lelaki paling tegar yang pernah ia kenal.


Larissa memandang sorot mata suaminya. Nampak sebuah kejujuran dari apa yang ia ucapkan tadi. "Berjanjilah! jangan pernah mengatakan hal mengerikan itu lagi. Kau tahu sendiri kan, hanya kau orang yang bisa aku jadikan pegangan. Kalau kau bersikap seperti itu padaku, maka lebih baik aku ikut dengan Ayah saja."


"Cukup! jangan berkata tentang kematian lagi. Aku tidak ingin mendengar lagi" ujar Hamzah sambil meletakkan jari telunjuk di bibir Larissa.


"Aku sayang padamu."


"Aku lebih menyayangimu."


Mereka pun saling berangkulan dan memaafkan kesalahan satu sama lain.

__ADS_1


...****************...


Tengah malam Larissa mendadak bangun. Ia merasa kasur yang ia tiduri basah, tapi ia merasa tidak mengompol. Ia pun menyalakan lampu untuk melihat. Ternyata memang benar, tepat di bawah ia tidur basah.


Hamzah ikut terbangun saat Larissa menyalakan lampu. Dengan masih setengah mengantuk, Hamzah pun bertanya, "Ada apa, Cus? kok seperti orang kaget gitu?."


"Kasur yang aku tiduri basah, Entik. Tapi aku tidak merasa kencing" jawab Larissa dengan wajah kebingungan.


"Sudah nggak usah dipikirkan. Mungkin kamu tidak merasa saja. Yuk! kita kembali tidur."


Larissa tak puas dengan jawaban suaminya. Ia rasa bukan karena itu kasurnya basah. Sebab punggungnya terasa sedikit sakit saat ini.


Larissa pun membangunkan ibunya dan menceritakan apa yang terjadi. "Ini tandanya sebentar lagi kamu akan melahirkan, nak. Air yang kamu keluarkan itu bukan air kencing, tapi air ketuban mu yang pecah. Dulu waktu ibu melahirkan mu juga seperti itu. Bahkan air yang ibu keluarkan lebih banyak lagi. Seperti orang habis mandi saking basahnya. Nanti kalau sudah pagi ini Carikan air kepala, biar kamu nggak kehabisan air" terang ibunya.


"Tapi, Bu, aku tidak merasa perutku mulas. Hanya sedikit sakit di punggung."


Larissa tersenyum mendengar penjelasan ibunya. Ia bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan malaikat kecil yang selama ini berada dalam perutnya. Ia pun kembali lagi ke kamarnya.


"Bagaimana, Cus? Apa kata ibu?" tanya Hamzah sekembalinya Larissa dari kamar ibu.


"Ibu bilang sebentar lagi aku akan melahirkan. Air yang aku keluarkan tadi adalah air ketubanku yang pecah" jawab Larissa sambil mendudukkan dirinya disamping Hamzah.


"Benarkah. Kalau begitu aku ke rumah juragan dulu. Aku akan membatalkan ikut melaut hari ini. Aku ingin menemanimu saat melahirkan nanti. Mumpung masih jam segini" ucap Hamzah dengan mata berbinar-binar.


Larissa pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. Hamzah memakai kembali pakaiannya dan bergegas pergi ke rumah juragan. Hamzah memang suka bertelanjang dada saat tidur. Tak berselang lama ia pun sudah berada dirumah kembali.


Benar saja kata ibu. Saat adzan subuh berkumandang, Larissa mulai merasakan mulas di perutnya. Gegas ia memberitahukan hal ini pada ibunya. "Tenanglah, nak. Nanti saat matahari terbit, pergilah ke bidan untuk periksa" ujar sang ibu menenangkan.

__ADS_1


Larisa pun mengangguk mengiyakan. Kemudian ia membangunkan suaminya agar bersiap. Wajar saja Larissa gugup menghadapi persalinan, pasalnya ini adalah pengalaman pertama baginya melahirkan seorang bayi.


Matahari menampakkan sinarnya. Menghangatkan Penduduk bumi yang kedinginan. Larissa pun mengajak suaminya untuk pergi ke bidan untuk memeriksakan diri seusai sarapan. Rasa mulas yang dirasakan Larissa semakin intens. Dan semakin lama semakin bertambah.


Larissa sampai di rumah bu bidan. Ia segera diperiksa. Ternyata ia memang sudah pembukaan, tapi masih buka satu. Bu bidan pun memberikan sebuah pil berukuran kecil yang entah untuk apa itu, dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu.


Hamzah pun membawa istrinya pulang. Akan tetapi bukan pulang ke rumah, melainkan rumah orang tuanya. Larissa menuruti keinginan suaminya, sekalian ia ingin mengabarkan hal ini pada kedua mertuanya.


Sesampainya di rumah mertua, Larissa mengeluarkan lendir bercampur darah dari selangkangannya. Ia pun panik, takut terjadi apa-apa dengan bayinya.


Ibu mertua mengatakan jika hal itu wajar bagi wanita yang akan melahirkan, dan Larissa pun kembali tenang setelah mendengarnya.


Larissa berjalan-jalan disekitaran rumah untuk mengurangi rasa sakit yang ia alami. Tapi hingga malam, masih tak ada tanda-tanda jika ia akan melahirkan.


Larissa mengajak Hamzah untuk kembali ke rumahnya, tetapi Hamzah menolak dengan alasan jarak dari rumah orang tuanya ke rumah Bu bidan lebih dekat. Larissa terpaksa menurut walau berat hati.


Bukannya Larissa tak mau untuk tinggal dirumah mertuanya. Tetapi lebih merasa kasihan pada kedua adik Hamzah. Pasalnya rumah mertuanya sangatlah kecil, hanya berukuran 3×5. Sedangkan ada kedua adik dan juga orang tuanya yang tinggal disana.


Jangankan untuk tidur, untuk bergerak pun sangat susah. Terpaksa Alif, adik lelaki Hamzah dan Baskoro tidur di Blandongan, tempat orang-orang biasa bersantai ditepi laut.


Larissa semakin tak enak hati dengan hal itu. "Entik, kita pulang saja ke rumah, yuk. Kasihan Bapak sama alif" ujar Larissa.


"Terus, kalau kamu ada apa-apa gimana? Rumah orangtuaku lebih dekat dengan rumah Bu bidan. Kalau kamu ada apa-apa bisa langsung kesana" Hamzah Keukeh menolak untuk kembali pulang.


"Tapi aku nggak enak sama mereka, Kasihan. Mereka terpaksa tidur diluar karena ada kita."


"Udahlah, kamu nggak usah pikirkan itu. Lagipula kita hanya tinggal sementara. Mungkin untuk satu dua hari saja."

__ADS_1


Larissa diam, terpaksa menurut pada perkataan suaminya. Ia tak ingin berdebat dalam keadaan seperti ini.


__ADS_2