Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 13


__ADS_3

Semenjak hari itu sudah tidak ada keributan lagi. Larissa terus meminum susu pemberian Iqbal sampai habis, tentu saja tanpa sepengetahuan Hamzah. Ia juga bersikap seperti biasa dihadapan suaminya, sehingga ia tak menaruh curiga padanya


Larissa tetap membantu ibunya seperti biasa, walau tak bisa berlama-lama seperti dulu. Ia juga harus menjaga kesehatannya sendiri demi anak yang ia kandung. Siapa lagi yang akan membantu sang ibu jika bukan dirinya. Istri Iqbal tidak bisa diharapkan. Ia tidak pernah mau membantu.


Hubungannya dengan Iqbal juga masih sama seperti dulu. Tetap dingin tanpa saling bertegur sapa walau mereka tinggal di atap yang sama. Larissa pun tak pernah mempersoalkan hal itu. Ia sudah terbiasa sedari kecil.


Hari ini kandungan Larissa memasuki usia tiga bulan. Ia terus berusaha menjaga asupan nutrisinya dengan baik. Selain itu ia juga mengelola stresnya dengan baik.


Semua berjalan dengan baik. Tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan. Tapi sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi, membuat Larissa kembali stres berat.


Entah bagaimana awalnya tiba-tiba saja sang suami sudah terlibat saling baku hantam dengan Iqbal, kakaknya. Ia sampai menjerit ketakutan saat mengetahuinya.


Dibantu oleh beberapa tetangga, ia pun mencoba memisahkan mereka berdua. Dan setelah berhasil ia segera membawa suaminya ke dalam kamar.


"Ada apa, yank? Kenapa kamu berkelahi dengan kakak?" tanya Larissa setelah mereka berada didalam kamar.


"Aku tadi sedang menonton televisi. Tiba-tiba ia mematikan saluran listrik. Aku pun bertanya kenapa ia melakukannya. Tapi jawaban yang ia berikan membuatku sangat marah" jawab Hamzah.


"Memangnya apa yang dia katakan?" tanya Larissa lagi sambil membersihkan luka di wajah suaminya.


"Dia bilang, enak-enakan nonton tv. Uang siapa yang dipakai buat masang listrik! Begitu katanya."


"Terus?."


"Ya aku jawab, mana aku tahu. Orang aku tinggal disini juga belum lama. Kalau bukan karena aku menikah dengan adikmu, tidak mungkin juga aku tinggal disini. Lagian yang bayar listrik juga aku, bukan kamu, gitu!."


"Lalu?."


"Eh dianya malah marah-marah. Ya udah, aku pukul aja sekalian. lalu terjadilah saling pukul tadi" jawab Hamzah seolah tanpa beban.


Larissa menghela napas berat. Ia menghentikan aktivitas membersihkan luka di wajah suaminya. "Seharusnya kamu tidak usah ngeladenin dia. Andai kamu bisa sedikit bersabar, pasti semua nggak akan seperti ini" ujarnya.


"Kamu membela kakakmu?" tanya Hamzah dengan ekspresi marah.


"Bu...bukan begitu. Aku hanya tidak ingin ada keributan lagi. Malu dilihat sama tetangga!" jawab Larissa cepat. Ia tak ingin suaminya salah paham padanya. Tapi ternyata Hamzah sudah terlanjur marah.


"Aku menyesal sudah menikahi kamu!" ucap Hamzah kasar.

__ADS_1


Larissa pun terkejut mendengar ucapan sang suami. Air matanya tumpah seketika. "Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Larissa dengan berlinangan air mata.


"Ya, aku menyesal. Gara-gara aku menikah denganmu, aku jadi sering terkena masalah karena keluargamu" jawab Hamzah.


Larissa semakin terluka mendengar kata-kata kasar yang terucap dari bibir sang suami. Ia seakan tidak mengenali lagi sosok suaminya.


Hamzah keluar dari kamar dan membanting pintu keras-keras tanpa memperdulikan betapa terlukanya hati Larissa karenanya.


Malam harinya Larissa kembali mengalami pendarahan. Bahkan kali ini lebih hebat. Ia terus kepikiran dengan kejadian tadi siang, juga dengan ucapan suaminya tadi, sehingga dia stres. Ia pun mengatakan hal ini pada sang suami. Tapi jawaban yang ia dapatkan membuat Larissa harus menelan kekecewaan.


Suaminya berkata, "Udah tidak usah dipikirkan. Paling kamu pendarahan biasa saja. Kamu istirahat saja seperti kemarin. Nanti pendarahannya juga berhenti sendiri."


Larissa tak berkata apa-apa lagi. Ia memilih untuk menuruti perkataannya dengan segera merebahkan tubuh diatas ranjang. Meski dengan berderai air mata dan menelan kekecewaan karena suaminya tak menunjukkan rasa simpati sedikitpun.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktunya bagi Hamzah untuk pergi melaut. Ia pun berganti pakaian dan segera berangkat tanpa berpamitan dulu pada istrinya.


Larissa memandangi kepergian suaminya dengan berlinangan air mata. Sungguh, ia merasa seperti tidak mengenal suaminya.


...****************...


Pagi hari Larissa pergi ke rumah Budhe Surti, kakak dari ibunya untuk membeli nasi. Dari semalam ia belum makan apapun. Dan sekarang perutnya terasa sangat lapar.


Bagi Larissa, Lia bukan hanya sekedar sepupu, tapi juga seorang sahabat. Bertemu kembali dan saling bercerita membuat Larissa sejenak melupakan masalahnya. Tapi tiba-tiba ia kembali mengeluarkan darah.


Lia terkejut melihat ada darah yang keluar melewati kedua kaki sepupunya itu. Ia pun bertanya, "Larissa, apakah kamu mengalami pendarahan lagi?" sambil mengernyitkan dahi.


"I...iya" jawab Larissa gugup.


"Sejak kapan kamu mengalami pendarahan?" tanyanya lagi.


"Sejak semalam."


"Apa kamu sudah periksa?."


"Belum. Aku tidak punya uang untuk periksa."


"Bodoh!. Apa kau mau bayimu tidak selamat?" teriak Lia marah.

__ADS_1


"Tapi aku tidak punya uang" ucap Larissa sendu.


"Sudah tidak usah pikirkan soal uang. Sekarang kamu cepetan ganti baju. Aku akan mengantarmu pergi ke bidan."


"Tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian. Kalau terjadi sesuatu dengan calon keponakanku, aku tidak akan memaafkan mu!" jawab Lia tegas.


Lia segera mengambil bajunya dan menyuruh Larissa untuk berganti pakaian. Dan setelah Larissa selesai berganti pakaian, ia pun mengantarnya ke bidan.


Jarak rumah Bu bidan dengan rumah Lia tidak terlalu jauh. Hanya berjarak beberapa rumah saja. Dan sesampainya disana Larissa langsung diperiksa. Tidak ada satupun pengunjung saat itu, karena suasana yang masih pagi.


Bidan menyarankan Larissa melakukan USG untuk mengetahui kondisi janin yang dikandungnya. Pendarahan yang ia alami sangat parah. Terlebih ia tak cepat-cepat mendapatkan pertolongan saat mengalaminya. Bidan pun memberikan surat pengantar untuk dia melakukan USG.


Tempat untuk melakukan USG sangatlah jauh, yaitu di dekat kantor kecamatan. Larissa bingung bagaimana cara untuk kesana. Terlebih ia juga tak memiliki cukup uang.


Larissa dan Lia meninggalkan rumah Bu bidan. Mereka berpisah didepan rumah Lia. Ia tak bisa mengantar Larissa kerumahnya, karena ia harus pergi ke sekolah.


Larissa mengucapkan terimakasih sebelum mereka berpisah. Kemudian ia melangkah sendiri menuju rumahnya.


Di rumah, Larissa menanti kedatangan Hamzah dengan harap-harap cemas. Ia takut suaminya marah lagi kalau tahu ia pergi ke bidan tadi.


Setelah menunggu sekian lama akhirnya Hamzah datang juga. Ia tiba di rumah pukul sembilan pagi. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


Larissa membuatkan secangkir kopi untuk suaminya saat ia masih mandi. Suaminya itu akan mengeluh sakit kepala jika belum minum kopi. Dan setelah siap ia pun membawa kopi itu ke dalam kamar. Kebetulan Hamzah juga sudah selesai mandi.


Setelah berganti baju dan makan, Hamzah merebahkan diri diatas ranjang dan tidur. Sebelum suaminya benar-benar tidur, Larissa segera menghampiri suaminya untuk mengatakan perihal USG tadi.


"Yank. tadi aku mengalami pendarahan lagi. Lia mengantarku ke bidan untuk diperiksa" ujar Larissa.


"Lalu?" tanya Hamzah datar.


"Bidan menyuruhku untuk melakukan USG di puskesmas kecamatan. Disana biayanya relatif lebih murah. Ia juga memberiku surat pengantar untuk ke sana" jawab Larissa sambil menyodorkan surat pengantar dari bidan tadi.


"Lalu maksudmu apa?" tanya Hamzah seakan tak mengerti.


"Aku tidak punya uang untuk melakukan USG" jawab Larissa lirih. Ia berharap suaminya mengerti dengan maksud perkataannya ini.

__ADS_1


Akan tetapi, jawaban yang Hamzah berikan membuat Larissa harus menelan kekecewaan kembali.


__ADS_2