Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 83


__ADS_3

Hamzah pergi keluar setelah selesai menyuapi Larissa. Ia adalah seorang perokok berat. Semalaman tak merokok karena tak ingin sedikitpun beranjak dari sisi istrinya membuat kepalanya sedikit pusing. Tentu ia tak mau meninggalkan istrinya begitu saja. Ia pergi setelah memastikan istrinya tak membutuhkan apapun lagi. Dan disinilah ia sekarang, disebuah warung kopi yang berada tak jauh dari area rumah sakit. Sepiring nasi ia pesan untuk mengisi perut


Sebuah menu sederhana, hanya sepiring nasi putih bersama sayur sup serta telur balado saja yang Hamzah pesan. Namun itu tak mengurangi selera makannya. Apalagi sejak kemarin siang ia belum makan apapun karena begitu mengkhawatirkan istrinya.


Tak butuh waktu lama bagi Hamzah untuk menghabiskan makanan yang terhidang dihadapannya. Dikeluarkannya sebungkus rokok dari saku celana dan mengambil sebatang. Kemudian disulutnya rokok tersebut dan menghirupnya dalam-dalam.


Asap rokok menguar memenuhi ruangan sesaat setelah Hamzah menghembuskannya. Dipijitnya kening untuk sedikit mengurangi pening di kepala. Sesekali ia hirup secangkir kopi yang dipesannya tadi.


Pikiran Hamzah melalang entah kemana. Pandangan mata menatap kosong kearah jalanan. Hingga tanpa sengaja pandangannya menangkap sebuah pemandangan di persimpangan jalan.


Saat itu ada seorang pria tengah membawa putrinya yang masih bayi dalam gendongan. Sebelah bahunya menenteng tas besar berisi keperluan anaknya sambil menggandeng seorang wanita paruh baya yang Hamzah yakini adalah ibunya.


Pria itu terlihat sedikit kesulitan menenangkan bayi dalam gendongannya yang terus menangis sedari tadi. Walau ia telah memberinya susu namun tangis si bayi tak juga reda. Agaknya si bayi tengah sakit hingga membuatnya terus menangis.


Pria itu pun memutuskan untuk sejenak beristirahat di halte angkutan umum yang berada dipinggir jalan. Apalagi sang ibu juga terlihat mulai kelelahan. "Ibu, kita istirahat di halte itu dulu, ya. Sepertinya ibu mulai kelelahan" ucapnya.


Si ibu pun mengangguk, "Iya, nak. Kaki ibu memang sedikit sakit."


"Ibu, julurkan kaki ibu. Biar aku memijatnya untuk mengurangi rasa sakitnya," ucap pria tersebut setelah menaruh tas yang dibawanya.


Sang ibu menggeleng pelan. Sebuah senyuman lembut ia sunggingkan. "Tidak usah, nak. Kamu urus saja anakmu. Kasihan dari tadi menangis terus," ucapnya.


"Tapi, bu, kaki ibu kan sakit."


"Tidak apa, nak. Setelah sedikit beristirahat rasa sakit di kaki ibu pasti hilang."

__ADS_1


"Baiklah jalau begitu, " Menghempaskan tubuh diatas kursi. "Tapi kaki ibu beneran tidak apa-apa, kan?" memastikan kembali kondisi sang ibu karena melihatnya sedikit meringis menahan sakit.


"Tidak apa, nak! Ibu baik-baik saja," kembali memastikan bahwa ia baik-baik saja. "Sudah, kamu urus anakmu!."


Pria tersebut menghela napas berat. "Ya sudah! Tapi kalau ibu merasa sakit, ibu bilang, ya?."


Sang ibu pun mengangguk, senyuman teduh tak pernah lepas dari bibirnya.


Si pria kembali menenangkan anaknya dengan cara menepuk-nepuknya tubuhnya dengan lembut. "Jangan nangis lagi ya, sayang. Kasihan nenek kamu."


Pria tersebut terus menepuk-nepuk sambil menggoyang-goyangkan tubuh si bayi dengan lembut hingga akhirnya sedikit demi sedikit tangisnya mereda. "Pinter anak ayah. Sekarang minum susu dulu, ya!," diarahkannya botol susu ke mulut si bayi yang langsung disambut oleh si bayi dengan lahap, mungkin lapar karena terus menangis sedari tadi. Perlahan si bayi mulai mengantuk dan terlelap.


"Akhirnya kamu tidur juga, nak!" ucapnya.


Pria tersebut menundukkan kepala mendengar ucapan sang ibu. Sebutir air mata jatuh di pipi teringat akan memdianh sang istri tercinta. "Ini semua salahku, bu. Andai waktu itu aku segera memeriksakan istriku saat ia mengeluh ada benjolan di dadanya, pasti saat ini ia masih ada di tengah-tengah kita."


Sejenak mereka berdua sama-sama diam dan larut dalam kesedihan. Hingga akhirnya sang ibu mulai angkat bicara untuk memecah kebisuan. "Sudahlah, nak! Yang berlalu biarlah berlalu. Sesal tidak ada gunanya. Yang penting sekarang kamu jaga dan rawat satu-satunya peninggalan istrimu, buah hati kalian berdua."


"Iya, by. Aku janji akan mencurahkan seluruh kasih sayangku pada putriku."


...****************...


Hamzah tersentak dari lamunannya hingga tak sengaja menyenggol gelas kopinya dan tumpah. Ia menengok ke arah salah satu pengunjung warung yang menepuk bahunya tadi "Maaf...maaf, saya tidak sengaja!," ucapnya. Diambilnya selembar tissu untuk membersihkan tumpahan kopi yang mengenai baju orang tersebut.


Orang itu menghentikan gerakan Hamzah yang ingin membersihkan bajunya dengan menangkap tangannya. "Sudah, mas, tidak apa! Biar nanti saya yang membersihkannya sendiri."

__ADS_1


Walau orang tersebut mengatakan tidak apa namun Hamzah tetap merasa tak enak. Ia kembali meminta maaf pada orang tersebut. "Sekali lagi saya minta maaf, mas. Saya tidak sengaja."


"Tidak apa," ucapnya ramah. "Tapi saya perhatikan dari tadi mas terus melamun. Kalau boleh tahu ada masalah apa?."


Pertanyaan yang dilontarkan orang tersebut membuat Hamzah kembali teringat akan kejadian yang tidak sengaja ia lihat tadi. Agaknya obrolan antara si pria dan ibunya tadi telah menyadarkannya dari kekeliruannya yang sempat menolak keinginan Larissa untuk menjalani operasi. Untung ia tidak terlambat. Andai iya, tentu saat ini ia juga akan seperti pria yang dilihatnya tadi.


"Mas....mas," orang itu kembali menepuk bahu Hamzah saat melihatnya kembali melamun. "Mas tidak apa-apa, kan?."


Hamzah tergeragap, tersentak dari lamunanya. "Ti...tidak apa, mas. Saya baik-baik saja," ucapnya. "Saya permisi duluan, mas. Kasihan istri saya sendirian di kamar."


Hamzah bergegas kembali ke ruang rawat istrinya setelah membayar pesanannya tadi. Sepanjang perjalanan tak hentinya ia mengucap syukur. "Terimakasih, ya Allah, Engkau telah menyadarkanku dari kesalahan sebelum semua terlambat."


...****************...


Sementara itu, setelah kepergian suaminya, Larissa memutuskan untuk berjemur sambilbmenikmati udara pagi di balkon rumah sakit. Matahari pagi sangat baik untuk kesehatan, terlebih bagi dirinya yang baru selesai menjalani operasi.


Larissa turun dari ranjang. Ia sedikit meringis kesakitan akibat pergerakannya yang tiba-tiba. Maklum, ia adalah orang yang sedikit ceroboh dan abai dengan kesehatan sendiri.


Perlahan ia berjalan ke arah balkon sambil sebelah tangan mendorong selang infus. "Huft....segarnya." Ia hirup udara pagi sebanyak-banyaknya hingga memenuhi rongga paru. Kemudian ia hembuskan perlahan udara itu. Dilakukannya gerakan ini berulang-ulang sambil menggerakkan sebelah tangan yang tidak terbalut kain perban.


Larissa berbalik membelakangi arah sinar matahari. Ia ingin menghangatkan punggungnya yang sedikit sakit akibat ketidaknyamanannya saat tidur semalam.


Orang bilang keringat yang keluar di pagi hari adalah keringat sehat. Dan itulah yang kini Larissa rasakan. Karena saat ini tubuhnya telah bermandikan keringat setelah beberapa saat berjemur.


Perlahan pandangan Larissa tertuju pada lalu lalang kendaraan di bawah. Kebetulan saat itu ruang rawatnya berada di lantai tiga. "Indahnya pagi ini. Andai setiap hari seindah pagi ini."

__ADS_1


__ADS_2