
Suang itu Larissa sudah diperbolehkan untuk pulang dengan catatan harus menjaga kesehatan dan kembali lagi untuk melakukan kontrol tiga hari berikutnya. Larissa setuju dengan semua kebijakan puskesmas dan segera pulang setelah membereskan segala sesuatunya.
Sepanjang perjalanan ia terus membayangkan akan tidur diranjang kesayangannya kembali. Namun setibanya di rumah, ia malah dihadapkan dengan kondisi rumah yang sangat berantakan seperti kapal pecah. Lima hari dibiarkan kosong tanpa penghuni membuat tikus-tikus berpesta pora dengan bebas.
Binatang pengerat satu itu memang sangat menjengkelkan. Mereka selalu menbuat rumah menjadi kotor dan berantakan. Banyak perabotan rumah yang rusak akibat ulahnya, belum lagi penyakit yang ditimbulkan akibat kotoran dan kuman yang dibawanya.
Binatang satu ini cukup menjengkelkan. Meski diusir ribuan kali, mereka selalu menemukan cara untuk kembali, dan bahkan dengan membawa koloni yang lebih besar lagi.
Dan meski telah dimusnahkan dengan berbagai cara, mulai dari yang murah meriah sampai yang paling mahal, mereka tak pernah ada habisnya.
Larissa menghela nafas berat. Bayangan bersantai di atas ranjang kesayangan setiba di rumah hilang musnah. Mana bisa ia santai-santai sementara rumah berantakan tidak karuan seperti ini.
"Hem...akan jadi pekerjaan yang melelahkan ini," desaunya lesu.
Hamzah melangkah mendekat, mencoba menawarkan diri untuk membersihkan semua kekacauan ini. Ia tahu istrinya tidak akan membiarkan ini begitu saja, terlebih ia adalah tipikal orang yang suka kebersihan dan kerapihan.
"sudah, biarkan saja! Lebih baik kamu istirahat di kamar. Kamu pasti capek setelah perjalanan tadi," ucap Hamzah.
"Mana bisa aku istirahat kalau keadaan rumah berantakan seperti ini," bantah Larissa. "Lagipula siapa yang akan membereskan semua kekacauan ini kalau bukan aku?."
"Kan ada aku!" jari tangan menunjuk diri sendiri. "Biar aku yang membereskan semua kekacauan ini. Lagi pula kau kan baru pulang dari rumah sakit. Kau masih butuh banyak istirahat dan tak boleh capek-capek."
Larissa memicingkan sebelah mata, meragukan ucapan sang suami. "Beneran kamu mau membereskan ini semua?."
Hamzah mengangguk yakin. "Tentu saja benar! Kamu serahkan saja semua ini padaku dan beristirahatlah dengan tenang dikamar," mendorong tubuh sang istri kearah kamar mereka.
"Baiklah kalau begitu, aku akan beristirahat sekarang. Tapi pastikan semua benar-benar bersih dan rapi."
"Siap, ibu ratu!" ucap Hamzah sambil menghormat ala tentara.
__ADS_1
Larissa tersenyum geli melihat tingkah konyol suaminya. "Ada-ada saja kau ini. Ya sudah sana, buruan beresin semua!."
Larissa menghempaskan tubuh diatas ranjang empuk kesayangannya. Sementara Hamzah keluar kamar dan segera membereskan semua kekacauan yang ditimbulkan oleh hewan pengerat satu itu.
Mula-mula Hamzah menata barang-barang yang berserakan dilantai. Kemudian mencuci piring kotor dan menatanya kembali di tempatnya. Lalu ia mencuci semua pakaian kotor. Dan yang terakhir menyapu dan mengepel lantai.
Setelah bekerja keras selama berjam-jam, akhirnya rumah telah bersih dan rapi seperti semula. Ia pun turut menghempaskan tubuh disamping sang istri untuk melepas penat yang menggelayuti tubuhnya sejak kemarin.
...****************...
Sore hari Larissa terbangun dan melihat rumah telah bersih dan rapi seperti semula. Ia tersenyum senang dan memuji hasil kerja sang suami. "Kau memang suami yang paling bisa diandalkan."
Ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima hari di rumah sakit dengan kondisi sebelah tangan tertancap jarum infus membuatnya tak leluasa untuk membersihkan tubuh.
Usai mandi Larissa segera berganti pakaian. Tiba-tiba ada yang mengucap salam dari arah luar. Ia pun menyahut ucapan salam itu dan bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang.
Rupanya itu adalah budhe. Ia datang dengan maksud menjenguk Larissa. "Mari budhe, silahkan masuk!" ucapnya mempersilahkan.
"Kapan kamu sampai di rumah?" tanya budhe setelah beberapa saat duduk.
"Tadi siang, budhe, sekitar pukul dua belasan."
"Bagaimana kondisimu sskarang?."
"Jauh lebih baik dari kemarin, budhe."
"Lalu apa yang akan kau lakukan besok?."
"Rencananya sih besok aku mau jualan lagi di sekolah, budhe. Kemarin aku terlanjur belanja banyak mie seduh sebelum jatuh sakit, sayang kalau tidak segera dijual lagi."
__ADS_1
"Sebaiknya jangan, nak?"
Larissa mengerutkan dahi. "Memang kenapa, budhe? Aku merasa sudah lebih sehat kok sekarang!."
"Bukan soal itu, .nak, tapi sudah ada orang yang menggantikanmu jualan mie seduh saat kau di rawat inap kemarin"
Larissa membelalakkan mata. "Kok bisa budhe? Padahal kan belum seminggu aku tidak berjualan disana."
Budhe menghela napas berat. "Tidak perlu heran, nak! Jaman sekarang banyak orang yang iri melihat dagangan orang lain ramai. Begitu ada kesempatan, mereka pasti akan menyerobotnya."
Larissa tertegun mendengar ucapan budhe. Sementara Hamzah yang ikut duduk disamping Larissa saat budhe datang tadi pun merasa sangat geram. "Kurangajar! Orang seperti itu patut diberi pelajaran. Mereka itu memang nggak ada otak. Bisa-bisanya merebut lahan pangan orang lain."
Larissa mengehela nafas. "Sudahlah, Entik, percuma juga kita marah-marah, cuma buang-buang tenaga saja. Lebih baik kita ikhlaskan saja. Mungkin rezeki kita bukan disitu lagi," ucapnya dengan maksud menenangkan sang suami, diusapnya lengan Hamzah lembut."
"Tapi bagaimana dengan semua mie yang terlanjur kamu beli kemarin?."
"Besok aku akan coba berjualan rujak lagi, nanti mienya ditaruh disitu juga. Itung-itung nambah varian baru. Lagipula kalau aku kelamaan nggak jualan rujak, bisa-bisa semua pelanhgan kita pada kabur lagi."
"Memangnya kamu sudah kuat kalau berjualan rujak lagi? Dadamu tidak sakit kalau dipakai ngulek bumbu?."
"Aku coba pelan-pelan. Nanti juga jualannya nggak langsung banyak kayak biasanya gitu kok. Aku berjualan sedikit-sedikit dulu sesuai dengan kemampuanku, yang penting kita ada pemasukan."
Senyuman manis tak pernah lepas dari bibir Larissa saat mengucapkan semua kata-katanya tadi, menandakan bahwa ia benar-benar ikhlas menerima kenyataan jika dagangannya diserobot orang lain.
Larissa memang sedikit kecewa saat mendengar berita yang budhe bawa tadi. Namun ia sudah mengira kalau hal seperti itu bisa saja terjadi ditengah-tengah persaingan mencari rezeki, termasuk dalam skala kecil seperti berjualan di sekolahan. Ia hanya tak mengira kalau semua itu akan terjadi secepat ini.
Dalam mengais rezeki, terkadang manusia lupa bahwa pekerjaan bisa diambil, tapi rezeki seseorang tidak akan pernah bisa diambil, karena semua sudah mendapatkan takarannya msing-masing.
Terkadang manusia juga menghalalkan segala cara untuk mencari rezeki karean takut akan.masa depan, mereka lupa jika Sang Pemilik Kehidupan sendiri yang akan menjamin masa depan kita nanti.
__ADS_1
Keesikan hari Larissa berbelanja kebutuhan dagangan rujak. Hari itu ia membuktikan ucapannya. Sebuah awal baru dengan semangat baru, dengan harapan semoga Allah memberikan keluasan rezeki untuknya.
Hamzah tak berdiam diri begitu saja. Ia turut membantu pekerjaan sang istri agar ia tak terlalu capek.