
Perekonomian Larissa semakin hari semakin memburuk. Terpaksa Larissa meminta bantuan Hamzah untuk menagih sisa hutang pada mbak Ika. Sebab jika ia sendiri yang menagih, mbak Ika tak pernah mau membayar lagi.
Larissa menunggu kepulangan Hamzah dari rumah mbak Ina dengan penuh harap, namun begitu melihat suaminya kembali dengan tangan kosong membuatnya hanya bisa pasrah.
"Apa kata mbak Ina tadi?" tanyanya.
"Kata Ika beberapa hari ini suaminya tidak bisa melaut karena sakit. Sedang dia sendiri dirumahkan lantaran tempatnya bekerja juga sedang sepi orderan."
Larissa menghela napas berat. "Mau bagaimana lagi. Percuma juga kita memaksa kalau keadaannya memang begitu."
Hari itu terpaksa Larissa memasak dengan menu seadanya. Dan bukan hanya itu, ia juga harus mengeratkan ikat pinggang lebih kuat lagi.
...****************...
Siang itu Larissa sedang membeli beberapa bumbu dapur di sebuah toko tak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba salah satu pembeli lain yang merupakan tetangganya berkata, "Sepupumu uangnya kok banyak sekali. Tumben-tumbenan aku dikasih pinjam uang."
Dikatai seperti itu tentu Larissa bingung, sebab sepupu yang ia miliki jumlahnya banyak, dan ia tak tahu sepupu mana yang dimaksudkan tadi. "Sepupu yang mana, mbak?" tanyanya.
"Siapa lagi kalau bukan si Ina."
Mendengar jika Ina lah yang dimaksud tentu saja Larissa tak percaya. "Itu tidak mungkin, mbak!" tertawa kecil. "Dua hari yang lalu aku meminta suamiku untuk menagih hutang padanya tapi malah kembali dengan tangan kosong. Katanya dia sedang tidak punya uang karena sudah beberapa hari suaminya sakit dan tidak bisa bekerja."
"Bohong! jangan percaya dengan ucapannya," cibirnya. "Lha wong beberapa hari ini hasil tangkapan ikan suaminya sangat bagus, malahan dia belanja-belanja terus. Kalau tak percaya, ini buktinya," menunjukkan lembaran uang yang ada ditangannya.
__ADS_1
Larissa terkejut, setengah tak percaya dengan ucapan tetangganya itu. Bisa jadi uang itu sebenarnya miliknya sendiri, tapi disebut dari mbak Ina dengan maksud ingin menjelek-jelekkan namanya.
Tapi untuk apa tetangganya itu ingin menjelek-jelekkan nama mbak Ina di hadapannya? Bukankah mereka berdua masih memiliki hubungan kekerabatan? Lalu bagaimana jika yang dikatakannya itu memang benar? Apakah itu berarti mbak Ina telah berbohong rentang kondisinya?.
Melihat keraguan di wajah Larissa si tetangga itu pun menambahkan. "Kalau kamu masih tak percaya, tanya saja sama tetangga sebelah rumahnya. Aku yakin dia pasti mengatakan hal yang sama denganku tadi, sebab dia melihat sendiri Ina menenteng banyak barang belanjaan."
Astagfirullahal adhim......
Hati Larissa mencelos mendengar kenyataan itu. Jika si tetangga berani bertaruh seperti itu, maka bisa dipastikan jika yang dikatakannya memang benar.
Lalu kenapa Ina malah tega membohonginya? Bukankah membayar hutang adalah suatu kewajiban disaat telah mampu untuk membayar? Kenapa dia malah memberi pinjaman pada orang lain sementara dirinya sendiri memiliki hutang? apakah memang dia tak ingin membayar hutangnya itu? Lali kenapa harus mengatakan jika suaminya sedang sakit dan tak bisa bekerja? Bukankah ucapan seorang istri adalah sebuah doa untuk suaminya?.
Berjuta pertanyaan bermunculan dalam benak Larissa. Hatinya sesak karena telah dibohongi mentah-mentah. Ia sangat marah, benci terhadap segala bentuk kebohongan. Andai waktu itu mbak Ina berkata jujur, tentu ia takkan semarah ini.
Larissa bergegas pulang dengan kemarahan sampai di ubun-ubun. Dan sesampainya di rumah, ia malah melampiaskan kemarahannya itu pada suaminya.
"Ini semua gara-gara sepupumu!" sembur. Larissa.
"Sepupuku yang mana?" tanyanya kembali, tak mengerti siapa yang dimaksud dan apa yang membuat istrinya tiba-tiba marah seperti ini.
"Siapa lagi kalau bukan mbak Ina" jawabnya dengan kedua alis saling bertautan dan bibir mengerucut ke depan.
Hamzah menghela napas. "Memangnya ada apa dengan Ina?."
__ADS_1
"Dia itu sudah membohongi kita. Ternyata....." Larissa pun menceritakan semua percakapan yang terjadi antara dirinya dengan si tetangga yang ditemuinya di toko tadi.
Hamzah menghela nafas berat, mengertilah kini apa yang membuat istrinya tiba-tiba marah seperti ini. "Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa, Aku tahu kamu tidak suka dibohongi, tapi kenapa kau malah melampiaskan semua kemarahan dan kekesalanmu terhadap Ina kepadaku? Apa kesalahanku dalam hal ini?."
"Bukankah waktu itu aku sudah memperingatkanmu agar jangan terlalu percaya pada orang lain, tapi kau tidak mau mendengarkan. Lalu kenapa sekarang kau malah marah padaku?."
Larissa tertegun, baru menyadari kesalahannya yang telah melampiaskan kemarahan pada orang yang tidak tepat. Kata-kata suaminya bagaikan sebuah tamparan keras untuknya. "Maafkan aku, Entik! Aku terlalu terbawa emosi tadi" ucapnya penuh sesal dengan kepala tertunduk.
Hamzah menghela nafas. "Ya sudah, tidak apa, yang penting kita sudah tahu kebenarannya."
"Jadikan ini pelajaran untuk masa yang akan datang agar jangan percaya dengan orang lain begitu saja, tapi juga jangan tidak percaya padanya. Ingatlah! Segala sesuatu yang berlebihan itu jatuhnya tidak akan baik."
Larissa mengangguk, namun hatinya masih diliputi oleh kemarahan. "Kau benar, Entik! Oleh sebab itu aku bersumpah atas nama Allah, mulai hari ini aku tidak akan pernah memberi pinjaman pada siapapun meski ia memohon dengan beribu alasan di hadapanku."
Hamzah terkejut mendengar ucapan Larissa. Ia tak pernah bermaksud membuat istrinya tak percaya pada siapapun. "Jangan berkata seperti itu. Jangan karena hal ini, kau tak mau lagi menolong orang lain."
"Tidak,Entik! Anak panah yang sudah dilesatkan tidak mungkin ditarik kembali, dan aku tak akan menarik kata-kataku lagi. Kepercayaanku sudah dihancurkan dengan cara yang sangat menyakitkan, dan aku tak akan pernah percaya pada siapapun lagi."
Hamzah berusaha menjelaskan pada istrinya jika tidak semua orang sama, beberapa orang masih menjinjung tinggi nilai kejujuran. Namun rasa kecewa yang menyelimuti hati Larissa membuatnya tak mau mengerti dan seakan menutup mata akan hal itu.
Orang bijak pernah berkata, butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan sebuah kepercayaan, namun hanya butuh waktu satu detik untuk menghancurkannya.
Saat seseorang dibohongi orang lain, maka dalam otaknya akan menyimpan sebuah trauma yang membuatnya tak percaya dengan orang lain lagi. Karena itu sangatlah penting untuk menjaga kepercayaan yang sudah diberikan.
__ADS_1
Hamzah menghela nafas berat. Jika Larissa sudah keras kepala seperti ini, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya sadar dengan sendirinya. "Moga suatu hari kau menyadari jika tidak semua orang sama."
Hamzah berlalu dan memilih untuk meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda karena obrolan ini. Sementara Larissa sendiri segera memasak karena sebentar lagi waktu makan siang tiba.