
Saat Larissa tiba di rumah mertua, ia tak mendapati Hamzah disana. Ternyata saat ini ia berada di pantai untuk menjahit jaring nelayan yang rusak.
Baskoro pun menyuruh anak lelakinya yang lain untuk memanggilnya.
Tak berselang lama Hamzah pun datang bersama sang adik. "Mau apalagi kamu ke sini? apa belum puas kamu mempermalukan ku kemarin?" ujar Hamzah ketus saat melihat sosok Larissa didalam rumah. Wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat.
Larissa menoleh cepat, memandang ke arah suaminya yang sudah berada disampingnya. Dengan sedikit takut dan tubuh bergetar ia pun mengatakan maksud kedatangannya. "Yank, aku kesini mau minta maaf padamu. Aku ingin mengajakmu pulang kembali kerumah."
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" tanyanya sinis.
Tenggorokan Larissa tercekat, tak sanggup untuk bicara.
Melihat situasi yang semakin tidak mengenakkan, Baskoro mulai angkat bicara, "Nak, Bapak tidak bermaksud untuk ikut campur kedalam masalah rumah tangga kalian. Bapak hanya ingin memberi saran. Pulanglah! kembalilah bersama istrimu. Lalu selesaikan masalah yang ada diantara kalian dengan kepala dingin. Kasian istrimu. Apalagi dia sekarang sedang mengandung anakmu" ucapnya pada anak lelakinya itu.
Hamzah membisu, tak berani membantah perkataan ayahnya. Walau dengan berat hati, ia pun menuruti perkataan ayahnya. Ia mau untuk pulang kembali ke rumah bersama Larisa.
Sesampainya dirumah, Hamzah langsung masuk begitu saja ke dalam kamar tanpa memperdulikan tatapan sinis dari Bu Ani.
Larissa menghela napas, kembali dihadapkan pada posisi yang sulit. Disatu sisi Ia tidak ingin menyakiti hati ibunya dan menjadi anak yang durhaka. Dan disisi yang lain ia ingin mempertahankan rumah tangganya.
Larissa memutuskan untuk masuk ke kamar mengikuti suaminya. "Maafkan aku, ibu. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Semoga suatu hari ibu bisa mengerti dan mau menerima keputusanku ini" gumamnya dalam hati.
Larissa berdiri tidak jauh dari suaminya yang sedang bersandar di tepian ranjang. "Yank, aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tidak mempunyai maksud apa-apa. Kemarin aku hanya mengeluh sakit pada ibu. Aku tidak kuat menahannya. Itu sebabnya aku menangis dihadapan ibu kemarin. Saat itu bibik melintas. Mungkin ia salah paham denganku saat melihat kejadian itu" ucap Larissa mencoba memberi penjelasan pada suaminya tentang kejadian kemarin.
Hamzah tak bergeming. Ia tetap pada posisinya semula.
__ADS_1
Larissa tak perduli walau suaminya tak menghiraukannya. Ia terus mencoba untuk mengajaknya bicara. "Yank, kemarin aku pergi ke bidan untuk memeriksakan kandunganku."
Rupanya penyataan Larissa ini mampu mencairkan kebekuan dihati suaminya. Terbukti ia mulai angkat bicara. "Bagaimana keadaanmu dan calon anak kita?" tanyanya.
Larissa tersenyum bahagia saat suaminya mulai merespon ucapannya. "Bidan bilang, aku dan calon anak kita baik-baik saja" jawab Larissa. Ia mengambil buku KIA yang ia letakkan diatas rak, dan menyodorkannya pada sang suami. "Coba kamu lihat! ini hasil pemeriksaan kemarin."
Hamzah mengambil buku KIA itu dari tangan istrinya dan melihat hasilnya. "Syukurlah. Aku senang mendengarnya" ucapnya setelah beberapa saat melihat.
Larissa pun ikut tersenyum melihat senyuman suaminya.
Sesaat keheningan tercipta diantara mereka. Tapi tak berselang lama keheningan itu sirna. "Kemarilah. Biarkan aku merasakan kehadiran anak kita" ucap Hamzah sambil menepuk disisi kanannya. Larissa tersenyum. Dengan senang hati ia melakukan keinginan suaminya.
Hamzah menyingkap baju atas istrinya, memperlihatkan bagian perut. Kemudian ia berbicara sambil mengusap perut Larissa, seakan mengajak bicara anaknya. "Hai, sayang. Bagaimana kabarmu disana? kamu jangan membuat ibumu susah, ya. Kasihan ibumu."
Larissa tersenyum mendengar perkataan Hamzah. Ia menjawab, mewakili anaknya. "Tidak, Ayah. Aku tidak akan menyusahkan ibu" ucapnya.
Hamzah merengkuh tubuh Larissa, membawanya kedalam pelukan. "Aku minta maaf atas sikapku kemarin. Kamu pasti sangat terluka dengan sikapku itu. Seharusnya aku tidak bertindak seperti kemarin" sesalnya.
Larissa merapatkan tubuhnya. Semakin mengeratkan pelukan Hamzah padanya. "Jangan perlakukan ku lagi seperti kemarin. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu," ujar Larissa. Tangisnya pecah seketika. "Kau tahu, beberapa hari tidak bersamamu membuatku hampir gila."
Hamzah menghapus air mata yang membasahi pipi mulus istrinya. "Sekali lagi, aku minta maaf. Aku janji, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Perlahan ia mendaratkan sebuah ciuman di kening Larissa. "Tolong jangan menangis lagi. Aku juga sangat mencintaimu. Aku takut kehilanganmu."
Suasana berubah menjadi haru. Akhirnya mereka pun saling memaafkan.
...****************...
__ADS_1
Hari berlalu, musim berganti. Mereka kembali mesrah seperti dulu. Tidak ada pertengkaran lagi diantara mereka. Mereka mencoba memahami satu sama lain, tanpa mementingkan diri sendiri.
Larissa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia tetap melayani suaminya dengan baik sambil menjaga kandungannya.
Demikian halnya dengan Hamzah. Ia menjalankan perannya sebagai seorang suami. Ia bersikap lembut dan menuruti semua keinginan istrinya. Ia juga semakin giat bekerja agar bisa menabung untuk biaya persalinan nanti.
Seiring berjalannya waktu, Bu Ani mulai menerima keputusan Larissa. Ia tidak lagi mendiamkan anaknya, walau ia juga belum sepenuhnya bisa menerima Hamzah.
Larissa bahagia akan hal itu. Setidaknya ia tidak dihadapkan pada posisi yang sulit.
Semakin hari usia kandungan Larissa semakin bertambah. Ia tak lagi mengalami mual dan muntah. Walau terkadang ia masih sudah untuk makan nasi. Setidaknya perutnya masih bisa menerima makanan lain.
Bu Ani masih menjadi penjual rujak. Tapi ia tak lagi berjualan di warung, melainkan di depan rumah.
Pada awal pindah berjualan di rumah, dagangan Bu Ani sangat sepi. Mungkin karena pelanggan belum ada yang tahu tentang kepindahannya. Tapi seiring berjalannya waktu, jualan Bu Ani semakin hari semakin ramai. Bahkan ia buka dari pukul tujuh pagi hingga pukul sembilan malam. Padahal saat dulu masih berjualan di warung, ia hanya buka dari pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore.
Larissa tetap membantu ibunya seperti biasa. Walau dagangan ibunya semakin ramai, ia tidak mengeluh. Setidaknya ia tidak perlu capek kesana kemari seperti dulu untuk membantu ibu.
Kini usia kandungan Larissa memasuki lima bulan. Perutnya semakin membesar, membuatnya semakin sulit untuk bergerak.
Selain hal itu, ada masalah lain yang menjadi pikiran Larissa. Usia kandungannya semakin bertambah sedang uang tabungannya masih sedikit. Ia khawatir tabungannya tidak mencukupi untuk biaya persalinan nanti. Belum lagi ia harus membeli berbagai perlengkapan untuk menyambut kehadiran si buah hati.
Larissa tidak mungkin hanya mengandalkan hasil dari Hamzah melaut saja. Karena hasil tangkapan tidak bisa diprediksi setiap hatinya. Belum lagi jika laut bergejolak, atau hujan angin, tentu tidak akan bisa digunakan untuk melaut.
Larissa kembali memutar otak. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat kue kering yang nantinya akan ia titipkan di jualan ibunya.
__ADS_1
Ternyata idenya ini cukup menghasilkan. Walau tidak besar, tapi bisa ditabung untuk membeli perlengkapan bayi. Sehingga ia tidak perlu pusing lagi. Terlebih ia masih tetap bisa membantu ibunya, karena Hamzah pun turut membantu Larissa untuk membuat kue kering saat ia tidak melaut. Mereka bahu membahu untuk mencukupi kebutuhan mereka.