
Hari ini Larissa berniat mengajak Hamzah menjenguk salah satu wali murid dari teman Zahra di sekolah. Orang tersebut saat ini tengah dirawat disalah satu rumah sakit di kota ini. Dan kebetulan orang tersebut adalah saudara dari istrinya Iqbal, yang berarti merupakan besan darinya.
Hamzah mengatakan bersedia dan berjanji akan mengantarnya nanti malam. Tapi sebelum kesana ia mengatakan ingin mampir dulu kerumah orangtuanya, ke rumah pemborong yang mengerjakan pembangunan rumah, dan baru kemudian ke rumah sakit. Larissa pun setuju dan tidak merasa keberatan akan hal itu.
Malam hari pun tiba. Larissa segera bersiap dan mengajak Hamzah segera berangkat agar tidak kemalaman di jalan.
Sesuai yang Hamzah katakan tadi, ia mengajak Larissa mampir dulu ke rumah orangtuanya. Karena ia ada sedikit keperluan disana.
Sesampai disana Hamzah segera masuk kerumah, sedang Larissa tak ikut masuk karena ingin membeli buah tangan untuk menjenguk nanti. Kebetulan toko itu terletak didekat rumah orangtua Hamzah. Selain itu ia juga masih enggan bertatap muka secara langsung dengan mertuanya karena masalah kemarin.
Entah apa yang Hamzah lakukan dirumah orangtuanya. Namun saat Larissa masuk ke toko buah tangan itu, ia tiba-tiba merasa perasaannya tak enak. Seperti akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi.
Larissa segera keluar dari toko tersebut setelah mendapat apa yang ia cari. Bertepatan dengan itu Hamzah pun keluar dari rumah orangtuanya.
Usai dari sana, Hamzah memacu sepeda motornya kembali menuju rumah pemborong yang mengerjakan pembangunan rumahnya. Kebetulan rumah pemborong itu tidak jauh dari tempat pembangunan itu.
Sesampainya disana Hamzah segera memberikan sisa pembayaran yang belum sempat ia bayarkan kemarin. Dan setelah urusannya selesai, ia menyempatkan diri untuk sejenak melihat rumah mereka yang terpaksa terhenti pembangunannya karena kehabisan dana.
Sambil melihat-lihat, Hamzah mengajak Larissa bicara. "Tadi saat aku dirumah ibu, beliau bertanya tentang pembangunan rumah kita" ujarnya.
"Lalu Kamu bilang apa?" tanya Larissa.
"Ya aku bilang terus terang kalau pembangunan rumah kita terpaksa dihentikan karena kehabisan dana."
"Terus?" Larissa masih tak paham dengan maksud perkataan suaminya, untuk itulah ia bertanya.
"Terus beliau bertanya apa bahan-bahan materialnya masih ada."
"Lalu kamu jawab apa?."
__ADS_1
"Aku bilang kalau masih ada pasir sekitar satu pick up dan setengah bak batu bata."
Dari sini Larissa mulai menangkap ada sesuatu yang tidak baik, tapi ia tak tahu apa itu. Ia pun bertanya pada suaminya apalagi yang ibunya katakan tadi. "Lalu beliau bilang apa lagi setelah itu?."
"Beliau ingin meminta sisa bahan-bahan material itu. Tapi aku belum mengiyakan atau menolak. Aku bilang ingin meminta persetujuan dari kamu dulu."
Hamzah menjeda ucapannya sejenak, lalu kemudian ia kembali bicara, "Jadi bagaimana menurutmu? Apa kamu setuju kalau sisa material ini aku berikan pada orangtuaku?."
Larissa diam. Rasanya enggan membiarkan Hamzah memberikan sisa material itu pada ibunya. Bukannya pelit, tapi ia masih merasa sakit hati dengan ucapan dan perlakuan keluarga Hamzah padanya. Namun ia bingung bagaimana cara untuk mengatakannya pada Hamzah. Ia khawatir suaminya salah paham dan marah padanya.
"Entahlah, Entik. Aku masih merasa sakit hati dengan keluargamu." Hanya itu yang dapat Larissa katakan akhirnya.
Mendengar ucapan Larissa, ekspresi wajah Hamzah berubah seketika. Ia segera menstater motornya tanpa berkata apa-apa.
Mengertilah Larissa jika saat ini Hamzah tengah marah. Dan kemarahan itu terlihat jelas dari sorot matanya. Larissa pun tak berani berkata apa-apa lagi. Tanpa banyak kata, ia segera menaiki boncengan motor.
Sesaat setelah Larissa naik, Hamzah segera memacu sepeda motornya dengan kencang. Refleks Larissa pun berpegangan pada bemper belakang motor dengan sebelah tangan agar tak jatuh. Sedang sebelah tangannya lagi memegang putrinya kuat-kuat.
Semakin kencang Hamzah memacu motornya, semakin erat pula pegangan Larissa. Namun bukan semata keselamatan dirinya yang ia khawatirkan, tapi keselamatan sang putri yang saat itu ia bawa serta.
Suara motor semakin berderu kencang. Tiba-tiba ada sebuah mobil bak terbuka muncul dari persimpangan jalan di depan motor Hamzah. Dan Akhirnya.....
"Arrrrrrgk....."
Cittttt.....
Suara teriakan wanita berpadu dengan suara decitan motor.
"Woi, kalau naik sepeda motor jangan ugal-ugalan. Memangnya jalan raya ini milik nenek moyangmu." Suara teriakan marah terdengar dari mulut pengemudi mobil.
__ADS_1
Nafas Larissa berderu kencang. Ia masih shock dengan kejadian barusan. Untung Hamzah segera menarik tuas rem, sehingga kecelakaan bisa dihindari.
Larissa berusaha menguasai diri dan segera turun menghampiri pengendara mobil saat ia mendengar suara teriakan dari pemgemudi tersebut.
"Maafkan kami, pak. Tadi kami sedang buru-buru. Jadi tidak tahu kalau ada mobil di depan" ucap Larissa. Ucapan maaf ia ucapkan setulus hati. Karena ia tahu merekalah yang salah.
"Tolong suaminya diingatkan, mbak. Jangan ugal-ugalan di jakan raya. Kalau terjadi kecelakaan bagaimana? Siapa yang rugi? Untung tadi saya langsung menginjak pedal rem. Kalau tidak....."
"Iya, pak, nanti saya akan ingatkan suami saya. Saya janji, lain kali kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."
"Ya sudah! Kali ini anda saya maafkan. Yang penting tidak ada korban jiwa. Tapi ingat! Jangan sampai diulangi lagi."
"Iya, pak, saya janji! Sekali lagi kami minta maaf."
Dan pengemudi mobil itu pun segera berlalu.
Larissa berjalan menghampiri suaminya. "Apa ini caramu melampiaskan amarah? Dengan cara mengabaikan keselamatan anak dan istrimu?."
Hamzah diam membisu. Tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan istrinya.
Melihat kebungkaman suaminya, Larissa tak lantas berhenti. Ia kembali melanjutkan ucapannya. "Kau boleh marah, kau boleh benci, tapi jangan seperti ini."
Larissa berhenti sejenak untuk menenangkan debaran jantung. Dan setelah agak tenang ia kembali melanjutkan ucapannya. "Kau boleh tidak peduli denganku. Tapi setidaknya pikirkan keselamatan anak kita. Bagaimana kalau tadi kamu tidak sempat menginjak rem?."
Hamzah mengusap wajah kasar, membuang nafas berulang-ulang. "Sudahlah! Kejadian tadi tidak usah dibahas lagi. Yang penting kita semua selamat."
Larissa terpaku mendengar ucapan Hamzah. Ingin rasanya mencaci maki dan mencabik-cabik wajah suaminya. Bisa- bisanya ia berkata seperti itu setelah apa yang ia lakukan tadi.
Larissa diam dan memilih tak meneruskan perdebatan mereka. Apalagi saat ini mereka tengah berada ditempat umum. Ia segera naik dan meneruskan perjalanan mereka.
__ADS_1
Sepanjang sisa perjalanan Larissa dan Hamzah saling diam. Dan Larissa pun tak ada niatan untuk memulai pembicaraan. Tapi setidaknya kali ini Hamzah tak lagi mengemudikan motor dengan ugal-ugalan. Tampaknya ucapan Larissa tadi mengenai keselamatan anaknya telah memgusik nurani Hamzah.