Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 137


__ADS_3

Seiring bertambahnya waktu, Zahra pun beranjak remaja, yang artinya bertambah pula permasalahan yang harus Larissa hadapi.


Larissa sering marah-marah karena Zahra tak mau sholat, salah satu dari kewajiban seorang muslim. Hamzah memberi nasehat agar jangan terlalu memaksa dan mencoba untuk melakukan pendekatan secara emosional.


Sejenak Larissa berpikir, mencari cara untuk mengatasi hal tersebut. Tiba-tiba sebuah ide pun terlintas di otak. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" ucapnya sambil menjentikkan jari.


Larissa bangkit dan berjalan menghampiri putrinya yang saat itu juga tengah bersantai sambil menonton televisi di ruang tengah.


"Lagi nonton apa, nak?" tanya Larissa berbasa-basi. Bobot tubuh diturunkan tepat di samping putrinya.


"Lagi nonton film kartun, bu. "jawab Zahra. Ia hanya menoleh sekilas ke ibunya lalu kembali fokus pada film yang ditontonnya.


"Serius amat nontonnya? Mau main tebak-tebakan dengan ibu nggak? Mumpung ibu punya banyak waktu luang."


"Mau, bu!." Zahra membetulkan posisi duduk menjadi berhadapan dengan ibunya.


Ajakan Larissa ini nyatanya mampu mengalihkan perhatian anaknya dari layar televisi. Sejak kecil ia memang sangat suka main tebak-tebakan, terutama dengan ibunya.


Larissa tersenyum melihat betapa antusiasnya Zahra. "Sebelum kita mulai tebak-tebakannya, tolong ambilkan ibu segelas air."


Zahra mengernyitkan dahi mendengar permintaan ibunya. "Untuk apa, bu?" tanyanya bingung.


"Sudahlah! Lakukan saja apa yang ibu perintahkan. Nanti kau juga pasti tahu sendiri," jawab Larissa penuh misteri.


Tanpa banyak bertanya lagi Zahra segera mengambil segelas air seperti yang ibunya perintahkan. "Ini, bu!" ucapnya sambil menyodorkan gelas berisi air putih kepada ibunya.


Larissa menerima gelas tersebut dari tangan anaknya. "Terimakasih!" ucapnya. "Sekarang duduklah lagi disini," menepuk tempat kosong disamping kanannya.


Zahra menghempaskan tubuh di temoat yang ditunjuk ibunya. Larissa meletakkan gelas berisi air yang disodorkan putrinya tadi diatas lantai. Kau siap sekarang?."


Zahra mengangguk. "Siap, bu! Aku bahkan sudah tidak sabar ingin memulainya."


Larissa tersenyum melihat antusiasme putrinya. "Baik! Sekarang ibu mau tanya, rukun islam itu ada berapa?."


"Ada lima, bu!."


"Kamu hafal tidak, semua rukunnya?."


"Hafal dong, bu. Masak gitu aja nggak hafal? Kalah dong sama adik" jawab Zahra jumawa.

__ADS_1


Larissa tersenyum mendengar ucapan anaknya. "Sekarang coba kamu sebutkan satu persatu. Ibu ingin mendengarnya!."


Zahra pun menyebutkan semua rukun islam yang sudah dihafalnya diluar kepala sejak masih duduk dibangku taman kanak-kanak sesuai dengan urutannya.


"Bagus!" puji Larissa atas ketepatan jawaban putrinya. "Sekarang perhatikan gelas ini!" menunjuk kearah gelas yang diletakkannya diatas lantai tadi.


Zahra mengarahkan pandangan ke arah gelas yang ditunjuk ibunya. "Kenapa dengan gelas itu, bu?" tanyanya tak mengerti.


Larissa tak menjawab pertanyaan putrinya dan malah balik bertanya. Senyuman teduh tak pernah lepas dari bibir. "Coba tunjukkan pada ibu, bagaimana cara orang memegang gelas?."


Zahra semakin bingung dengan pertanyaan ibunya, namun ia masih tetap melalukan apa yang diperintahkannya. "Mau bagaimana lagi, bu? tentu saja seperti ini " jawabnya, memegang gelas dengan kelima jari tangan.


Larissa kembali tersenyum. "Apa kau tahu, cara orang memegang gelas itu ibarat orang melaksanakan rukun islam."


"Maksud ibu?" tanya Zahra, masih tak mengerti dengan maksud perkataan ibunya.


Dengan penuh kelembutan, Larissa menjelaskan satu persatu maksud dari semua pertanyaannya tadi. "Perhatikan jari-jari kita, masing- masing tangan ada lima kan? Ini sama dengan rukun islam yang berjumlah lima juga, sedang gelas ini adalah agama kita, agama islam. Orang dikatakan sebagai umat islam jika ia melakukan semua rukun islam tersebut."


"Beberapa diantaranya boleh tidak dilakukan, dan sebagian lagi wajib untuk dilakukan."


Sejenak Larissa menjeda ucapannya, membiarkan putrinya memikirkan kata-katanya. Sementara Zahra mendengarkan penjelasan ibunya dengan seksama sambil terus memegang gelas itu di tangannya.


"Haji," jawab Zahra singkat.


Larissa tersenyum mendengar jawaban putrinya. "Pergi haji bagi orang yang mampu," membetulkan jawaban anaknya. "Berarti orang yang tidak mampu diperbolehkan untuk tidak melakukannya. Dikatakan sebagai orang yang mampu bukan hanya karena ia kaya dan banyak uang, tapi juga mampu secara fisik dan mental."


"Nah, karena diperbolehkan untuk tidak melakukan, maka sekarang kamu lepas jari kelingkingmu dari gelas yang kau pegang itu."


Zahra melakukan apa yang diperintahkan ibunya, yaitu melepas pegangan jari kelingking dari gelas di tangannya.


"Apa gelas itu terjatuh setelah kau melepas jari kelingkingmu dari situ."


Zahra menggelengkan kepala. "Tidak, bu."


"Haji boleh tidak dilakukan bila kita belum mampu, dan itu tak kan merubah identitas kita sebagai umat muslim. Begitu juga dengan gelas itu. Meski kau melepaskan jari kelingkingmu darinya, gelas itu tetap kokoh di tanganmu.


Zahra manggut-manggut, mengerti dengan penjelasan ibunya.


Setelah memastikan bahwa putrinya telah mengerti, Larissa kembali mengajukan pertanyaan. "Sekarang sebutkan rukun islam yang ke empat?."

__ADS_1


"Puasa di bulan Ramadan."


Larissa tersenyum. "Puasa di bulan Ramadan itu hukumnya wajib, tapi ada beberapa orang yang diperbolehkan untuk tidak melakukannya. Diantaranya, wanita hamil dan menyusui, wanita yang sedang datang bulan, orang yang sakit keras dimana jika ia berpuasa maka dikhawatirkan akan memperparah penyakitnya. Dan orang yang sedang bepergian jauh dengan tujuan menegakkan agama Allah atau yang disebut dengan musafir. Kesemua orang itu diperbolehkan untuk tidak melakukan puasa Ramadhan, tapi tetap, mereka harus menggantinya dengan berpuasa di bulan lain atau dengan membayar denda sesuai dengan ketentuan islam."


"Sama seperti tadi, karena boleh tidak dilakukan, maka kamu lepaskan jari manismu dari gelas itu."


Zahra pun melakukan apa yang diperintahkan ibunya. "Tetap tidak jatuh, bu." ucapnya.


"Kau tahu kenapa?" tanya Larissa. Kali ini ia membiarkan putrinya memahaminya sendiri.


"Karena dengan melanggarnya bukan berarti merubah identitas kita, seperti gelas yang tetap kokoh meski kita melepas jari manis darinya," ucap Zahra, menjawab seperti yang diucapkan ibunya.


"Seratus buat kamu" puji Larissa atas jawaban yang diutarakan putrinya sambil bertepuk tangan.


"Nah, sekarang sebutkan rukun islam yang ketiga?."


"Zakat."


"Zakat. seperti puasa Ramadhan tadi, zakat pun boleh tidak dilakukan oleh beberapa orang, seperti fakir miskin, hamba sahaya, dan budak. mereka ini disebut dengan ibnu sabil, dan mereka justru adalah orang yang berhak untuk menerima zakat."


"Karena boleh tidak dilakukan, maka lepaskan jari tengahmu dari gelas yang kau pegang."


"Tidak jatuh, bu" jawab Zahra setelah melakukan perintah ibunya.


"Kau tahu alasannya?" tanya Larissa. mengulang pertanyaan yang sama setelah memberi penjelasan.


"Tahu, bu!" jawab Zahra yakin.


"Anak ibu memang pinter!" puji Larissa kembali. Zahra tersenyum bahagia karena terus mendapatkan pujian dari ibunya.


"Sekarang sebutkan rukun islam yang kedua dan yang pertama."


"Mengerjakan sholat dan menyebut dua kalimat syahadat."


Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Larissa langsung meminta putrinya untuk melepas salah satu jari yang masih tersisa di genggaman gelas itu tanpa memberi penjelasgan terlebih dulu.


Zahra mencoba melakukan perintah ibunya namun ia sedikit kesulitan. Yang tersisa dari genggamannya hanya jari telunjuk dan ibu jari. Mana mungkin ia melepas satu diantaranya tanpa membuat gelas itu terjatuh.


Larissa tertawa kecil melihat putrinya yang kerepotan melakukan perintahnya. "Ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2