
Bu bidan sempat memarahi Larissa karena menganggap ia mengabaikan resiko kehamilan yang ia hadapi. Tapi begitu melihat mental Larissa yang down, ia pun kembali membesarkan hatinya dan memgupayakan yang terbaik. Dan kini Larissa pun berada dalam mobil ambulance ditemani oleh Hamzah, ibu mertua, dan Iqbal, kakaknya.
Sebelum menuju rumah sakit, mereka mampir dulu ke puskesmas untuk mengambil vaksin HbsAb yang ditujukan untuk sang bayi sesaat setelah ia lahir. Hal ini dilakukan mengingat hasil tes Larissa positif terkena hepatitis B yang dikhawatirkan akan menular pada anak yang dikandungnya.
Bu bidan turun seorang diri ditemani Iqbal sebagai perwakilan keluarga, sementara yang lain diminta untuk menunggu didalam mobil mengingat mereka harus mematuhi protokol kesehatan untuk menjaga jarak.
Menit demi menit berlalu, bu bidan belum juga keluar dari puskesmas.Di dalam mobil Larissa menunggu dengan harap-harap cemas. "Ya Allah, jika vaksin itu memang rezekiku, maka permudahkanlah jalan kami untuk mendapatkan. Namun jika bukan rezekiku, maka berikan kami jalan keluar terbaik untuk menyelamatkan bayi dalam kandunganku ini," doanya dalam hati.
Orang bilang, jika kita berdoa setulus hati dan penuh dengan keyakinan terlebih di sepertiga malam, maka Allah akan mengabulkan doa tersebut. Dan agaknya Allah memang benar-benar mendengar doanya, terbukti tak berselang lama bu bidan keluar dari puskesmas sambil membawa vaksin tersebut yang diletakkan dalam termos es ditangan.
Senyum kelegaan terpancar di wajah Larissa. "Terimakasih, Ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku."
Perjalanan menuju rumah sakit pun dilanjutkan. Semua memanjatkan doa dalam hati meminta kemudahan dan keselamatan untuk Larissa.
Sepanjang perjalanan, Larissa terus saja mengerang kesakitan. Air mata turut mengalir bersamaan datangnya rasa sakit itu. Seiring bertambahnya waktu, bertambah kuat pula kontraksi yang ia rasakan.
Tampaknya Allah masih berkenan mendengar doa mereka, terbukti dari tak adanya hambatan selama dalam perjalanan. Atau mungkin situasi yang sedang malam buta hingga membuat jalanan masih lenggang. Apapun itu Larissa sangat bersyukur, sebab dalam waktu singkat mereka telah berada di rumah sakit.
Kedatangan Larissa disambut oleh dua orang perawat di depan pintu sambil membawa brangkar untuknya, mungkin tadi bu bidan sudah menginformasi tentang kedatangannya kepada pihak rumah sakit sehingga begitu datang, semua sudah siap.
Brangkar Larissa didorong menuju ruang gawat darurat ditemani oleh Hamzah. Namun begitu di depan pintu, Hamzah dilarang untuk ikut masuk. "Maaf, selain pasien dilarang untuk masuk ke dalam ruangan ini!" ucapnya perawat yang mendorong brangkarnya. Terpaksa Hamzah harus berdiri di luar menanti kelahiran anaknya dengan harap-harap cemas.
Di dalam ruangan, perawat memasang selang infus di pergelangan tangan Larissa dan memeriksa progres pembukaan jalan lahir.
"Baru pembukaan tiga, masih banyak waktu hingga pembukaan lengkap. Ibu bisa menggunakan waktu dengan berjalan-jalan untuk mempercepat proses pembukaan," ucap perawat usai.memeriksa.
__ADS_1
Larissa mengangguk. "Baik, mbak!."
"Kalau bisa, ibu makan dan minum dulu supaya ada tenaga saat mengejan nanti," imbuhnya.
"Mana bisa aku makan ditengah rasa sakit yang mendera. Jangankan untuk makan, melihat makanannya saja selera makanku hilang," ucap Larissa dalam hati. Walau enggan, namun ia mengiyakan saja saran yang diberikannya. "Iya, mbak. Nanti saya usahakan!."
Perawat pun berlalu meninggalkan ruangan setelah melakukan tugasnya. Dan kini tinggallah Larissa seorang diri menahan rasa sakit yang semakin mendera tanpa ada yang menemani.
Larissa mengerang dan terus mengerang. Ia terus merubah posisi tidur sesuai dengan yang dipelajarinya dalam kelas ibu hamil untuk membantu mempercepat proses pembukaan. Namun nyatanya semua itu tak berpengaruh apapun terhadap dirinya.
"Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menahan kesakitan ini. Mudahkanlah bagiku untuk melewati semua ini." Ratap pilu Larissa ditengah gempuran rasa sakit yang datang melanda.
Wanita mana yang kuat menahan sakitnya kontraksi saat melahirkan tanpa meneteskan air mata, terlebih tak ada satupun orang yang menemani.
Begitu juga dengan Larissa. Ia menangis dan terus menangis sambil menyebut asma Allah. "Ya Allah, beri aku kekuatan, beri aku kemudahan untuk melewati semua ini." Diusapnya perutnya yang mengalami kontraksi hebat.
Walau terhalang oleh sekat, namun setidaknya Larissa tak sendirian lagi. Ada wanita lain diseberang sana yang sama-sama berjuang menahan gempuaran rasa sakit saat kontraksi demi melahirkan buah hati mereka.
Waktu demi waktu berlalu, namun pembukaan Larissa tak juga bertambah. "Ya Allah, apakah persalinanku ini akan sesulit saat persalinan pertamaku dulu?" ratapnya pilu. Derai air mata semakin deras membasahi pipi.
Sementara Larissa berjuang menahan gempuran sakit saat kontraksi, bu bidan mengurus semua data-data pasien beserta riwayat penyakit dan juga vaksin yang diambil dari puskesmas tadi. Dan setelah semua selesai, ia kembali pulang bersama mobil ambulance yang membawanya tadi.
Pintu ruangan kembali terbuka, seorang dokter muncul dibaliknya dan berujalan menghampiri Larissa. "Permisi, saya cek pembukaannya lagi ya, bu!."
Larissa mengangguk dan membiarkan dokter memeriksa pembukaannya lagi. "Baru buka empat, bu, yang kuat ya!" ucapnya.
__ADS_1
"Ya Allah, sedari dari baru buka empat, kenapa lama sekali?" ratapnya pilu.
"Dok, boleh tidak kalau suamiku menemani disini? Saya nggak kuat kalau sendirian" tanyanya.
Mendengar pertanyaan Larissa, dokter malah kebingungan. "Lho, jadi dari tadi ibunya disini sendirian?" tanyanya balik.
Larissa kembali mengangguk. "Iya, dok! Kata perawat tadi, tidak ada yang.boleh masuk selain pasien."
"Itu tidak benar.! Harusnya ada satu keluarga yang menemani pasien disini," bantahnya. "Ya sudah, biar saya panggilkan suami ibu. Namanya siapa kalau boleh tahu?."
"Hamzah, dok!" jawab Larissa singkat.
Dokter berlalu meninggalkan ruangan. Terdengar nama suaminya dipanggil, dan tak berselang lama Hamzah pun masuk ke dalam ruangan.
Melihat kehadiran sang suami disisi, Larissa menghambur kedalam pelukannya dan menangis mengadukan rasa sakit yang dideritanya di dada Hamzah, salah satu bagian dari tubuh suaminya yang selalu memberikan kenyamanan padanya.
Hamzah mendekap tubuh istrinya dan membelai rambutnya dengan lembut, seakan memberikan suntikan kekuatan lewat sentuhannya itu. "Jangan menangis. Yakinlah bahwa kau bisa melewati semua ini."
"Sebelumnya kau pernah mengalami kesakitan yang sama, dan kau berhasil melaluinya. Kali ini pun kau pasti bisa melaluinya juga," ucapnya.
Larissa menangis sesenggukan. Dihapusnya lelehan air mata yang membasahi pipi. "Temani aku disini. Aku tak kuat menahan kesakitan ini sendiri.
Hamzah mengangguk. "Aku akan menemanimu disini dan berjuang bersama-sama denganmu demi kelahiran anak kita."
"Sekarang berbaringlah lagi!" ucapnya.
__ADS_1
Larissa menuruti perkataan suaminya dan segera merebahkan tubuh. Tangannya terus menggenggam tangan sang suami seakan meminta kekuatan darinya.