
"Mana surat-surat rumah ini? kembalikan pada ibu sekarang!," ucap Bu Ani suatu pagi.
Larissa terkejut mendengar perkataan ibunya. "Ada apa, Bu? Kenapa tiba-tiba ibu meminta surat rumah ini kembali?."
"Kau tidak mau merawat ibu lagi. Jadi, ibu akan memberikannya pada orang yang mau merawat ibu, " tudingnya.
Larissa kecewa mendengar perkataan sang ibu. Ia hanya bisa mengelus dada mendengar alasannya. Tanpa banyak bicara ia segera mengambil surat-surat rumah itu di dalam lemari pakaiannya dan memberikannya pada sang ibu. "Ini surat-suratnya, bu. Ambillah! Semoga orang itu nanti benar-benar merawat ibu dengan baik."
Bu Ani mengambil surat-surat itu dari tangan Larissa dan menyimpannya di bawah kasur. Ia bahkan tak merasa bersalah sedikitpun pada anaknya. "Tentu saja iya. Kamu tidak khawatir, karena itu sudah pasti!," jawabnya ketus.
"Untung saja saat itu aku menuruti perkataan suamiku agar mempergunakan uang untuk membeli tanah. Andai saat itu aku mempergunakannya untuk merenovasi rumah ini, maka sekarang aku tidak akan memiliki apa-apa," gumam Larissa saat berlalu dari hadapan ibunya.
Hamzah sempat melihat Larissa berbicara dengan ibunya. Tapi karena saat itu ia sedang sibuk, ia tak terlalu memperhatikan apa isi percakapan mereka. Tapi saat melihat perubahan raut wajah istrinya, ia bisa menangkap bahwa ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa, Encus? kenapa tiba-tiba wajahmu murung?," tanyanya.
Larissa bungkam. Ia tak mau memberitahu penyebab perubahan dirinya karena khawatir suaminya akan marah. Ia hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Hamzah tak menyerah. Ia tahu Larissa sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Kau bohong, kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Sekarang katakan ada apa?."
Larissa tetap bersikukuh tak mau memberitahukan sebenarnya. "Tidak ada apa-apa, Entik. Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu."
"Aku melihat kau berbicara dengan ibu tadi. Apa ini ada hubungannya dengan itu?."
"Bukan apa-apa. Kami hanya bicara biasa."
Larissa terus menyangkal dengan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Namun Hamzah juga tak mau menyerah. Ia terus mendesak istrinya agar berkata jujur. "Aku yakin kau sedang berbohong. Wajahmu mengatakan bahwa kau sedang tidak baik-baik saja."
__ADS_1
"Sekarang katakan padaku, apa kata ibumu tadi?."
Karena terus didesak Larissa pun tak bisa mengelak lagi. Ia pun mengatakan penyebab dirinya murung. "Ibu meminta surat-surat rumah ini kembali," jawabnya singkat.
"Lalu?."
"Ya aku berikan semua surat-suratnya pada ibu."
"Lalu kenapa sekarang kau murung? Kau menyesal sudah memberikannya pada ibu?."
"Bukan itu yang membuatku sedih, tapi alasan yang diungkapkannyalah penyebabnya."
"Memangnya apa alasannya?."
Bila Larissa merasa sedih mendengar ucapan sang ibu tapi tidak dengan Hamzah. Ia justru merasa kecewa dan marah. Ia kesal karena secara tidak langsung Ibu mertuanya tidak menghargai pengorbanannya selama ini. "Memang benar kamu tidak merawat ibumu, tapi akulah yang merawatnya. Tapi bukankah itu sama saja?."
Larissa menghela nafas berat. "Sudahlah, Entik biarkan saja! Kita mau marah atau apa juga percuma, karena memang rumah ini bukan milik kita. Aku juga sebenarnya tidak terlalu mengharapkan rumah ini. Toh kita juga sudah mempunyai rumah sendiri, bukan? Ya walaupun belum bisa ditempati sih!."
"Ya nggak bisa gitu. Beliau kan sudah mengatas namakan rumah ini atas namamu. Jadi secara hukum rumah ini sudah sah menjadi milikmu."
Larissa tersenyum kecut menanggapi perkataan suaminya. "Aku sudah menduga sebelumnya kalau ibu akan berubah pikiran sewaktu-waktu. Makanya saat itu aku sempat menolak saat ibu menyuruhku untuk mengurus surat-surat rumah ini. Aku hanya tidak menyangka akan secepat ini. Dan yang lebih membuatku kecewa adalah kenapa harus dengan alasan seperti itu."
Beberapa bulan yang lalu jauh sebelum Larissa mulai membangun rumah ada jasa kepengurusan surat-surat tanah massal di desa. Bu Ani menyuruh Larissa untuk ikut mengurus surat-surat rumah yang mereka tempati saat ini. Karena sampai sekarang rumah itu belum memiliki sertifikat kuat dimata hukum.
"Larissa, ibu dengar ada jasa kepengurusan tanah massal di kantor balai desa. Uruslah surat-surat rumah ini dengan menggunakan namamu. Ibu akan memberikan rumah ini untukmu nanti tapi dengan satu syarat, kau harus merawatku hingga aku tiada nanti."
__ADS_1
Larissa tak terlalu menanggapi perkataan ibu dan malah balik bertanya. "Bukankah saat itu ibu dan Kak Iqbal tidak mau tandatangan? Lalu kenapa sekarang ibu menyuruhku mengurus surat rumah ini lagi?."
Beberapa tahun yang lalu sesaat setelah Iqbal pindah rumah Bu Ani memang berkata akan memberikan rumah ini untuk Larissa sebagai warisan darinya. Mendengar ucapan sang ibu Larissa pun segera mengurus surat-surat kepemilikan tanah di kantor balai desa. Namun saat semua hampir selesai dan hanya tinggal penandatanganan saja tiba-tiba Bu Ani malah berubah pikiran karena terpengaruh oleh kata-kata Iqbal. Itulah kenapa saat Ibunya kembali menyuruh untuk mengurus surat-surat rumah Larissa menolaknya.
Bu Ani mengerti bahwa Larissa tak percaya dengannya. Ia pun mencoba meyakinkannya dengan berkata, "Tidak apa. Ibu sudah bicara dengan kakakmu, dan dia sudah setuju. Tapi ya dengan satu syarat itu tadi. Jadi sekarang kamu urus saja."
Awalnya Larissa ragu. Namun karena terus didesak akhirnya ia pun setuju. "Baiklah, Bu! nanti aku akan mengurusnya."
Singkat cerita akhirnya surat-surat tanah itu pun selesai dibuat. Namun sekarang Bu Ani malah memintanya kembali dengan alasan Larissa tak mau merawatnya lagi.
Larissa tersentak dari lamunannya saat Hamzah menepuk bahunya. "Ada apa? kok malah bengong?," tanya Hamzah.
Larissa menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak apa! aku hanya merasa beruntung saja."
"Maksudnya?," tanya Hamzah kembali. Mengerutkan dahi sebagai tanda tak mengerti.
"Ya, beruntung," ucap Larissa. "Aku beruntung karena saat itu aku menuruti perkataanmu. Kalau tidak, mungkin saat ini kita tidak memiliki apa-apa. Dan kalau sampai Ibu mengusir kita dari sini, kita bisa apa?."
Hamzah tersenyum mendengar jawaban Larissa. "Sekarang kau mengerti kan apa alasanku saat itu."
Larissa menganggukkan kepala. "Iya, sekarang aku mengerti! Maafkan aku karena sempat tidak mempercayaimu dulu, dan bahkan aku menuduhmu ingin mengadu domba antara aku dengan ibu," ucapnya tulus. "Sekatang aku tahu siapa yang salah dan siap yang benar."
Hamzah tersenyum. "Sudahlah! Sebaiknya kita lupakan hal itu. Yang terpenting sekarang kau sudah mengerti.
Mereka pun saling memaafkan dan mengambil hikmah dibalik kejadian ini, bahwa jangan mudah percaya dengan orang lai walau orang itu adalah orang terdekat kita. Karena tidak tak pernah tahu apa isi hati seseorang. Apakah ia tulus atau hanya berpura-pura saja.
__ADS_1