Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 89


__ADS_3

"Jadi, bagaimana keadaan istri saya sekarang, dok?" tanya Hamzah saat berada di ruangan dokter. Di serahkannya hasil laboratorium sang istri padanya.


Saat tiba di rumah sakit tadi Hamzah pergi ke laboratorium dulu untuk mengambil hasil uji patologi terhadap benjolan penyakit sang istri sebelum menuju ruangan dokter. Dan seperti yang sudah diceritakan sebelumnya bahwa benjolan yang telah berhasil diangkat dari tubuh Larissa itu segera dibawa ke laboratorium sesaat setelah operasi usai.


"Biar saya periksa jahitannya dulu," ucap dokter seraya bangkit dari tempat duduk. "Mari, silahkan!."


Larissa masuk ke dalam bilik pemeriksaan diikuti oleh Hamzah di belakang. Dan tanpa menunggu perintah Larissa merebahkan tubuh diatas ranjang serta membuka beberapa kancing bajunya.


Dokter memakai sarung tangan karet dan mulai mendekat. "Maaf, ya saya periksa dulu jahitannya!," ucapnya sopan.


"Silahkan, dok!."


Sesaat dokter memperhatikan luka jahitan di payudara Larissa. "Kayaknya jahitannya mulai mengering, bu. Coba kita buka perbannya, ya," Perlahan ia buka perban yang membalut luka bekas operasi. "Lukanya kena air, nggak, bu?."


"Nggak kok, dok! Bahkan saya belum berani buat mandi. Cuma di seka pakai air hangat saja di bagian yang tidak diperban."


"Bagus!. Lukanya mengering dengan cepat. Bekas jahitannya juga bagus. Sekarang tidak usah ditutup perban lagi. Dan ibu sudah boleh kena air."


"Alhamdulillah," puji syukur Hamzah panjatkan setelah mendengar penuturan dokter. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Terbukti istrinya kini pulih lebih cepat.


Dokter mengusap cairan antiseptik untuk membersihkan bekas luka Larissa. "Sudah, cukup! Ibu boleh bangun," Dilepas sarung tangan dan membuangnya ditempat sampah. Kemudian ia kembali lagi ke tempat duduknya.


Larissa bangkit dari tempat tidur dibantu oleh Hamzah. "Awas, pelan-pelan!," ucap Hamzah. Larissa tersenyum kecil dan merapikan pakaiannya kembali.


Dokter membuka amplop berisi hasil laporan lab Larissa yang disodorkan Hamzah tadi. "Dari hasil lab, benjolan di payudara ibu tidak menunjukkan tanda-tanda ganas. Dan ibu dinyatakan sudah sembuh," ucap dokter setelah mereka berdua kembali ke hadapannya.


"Alhamdulillah" Ribuan kata syukur Larissa panjatkan karena kini ia telah sembuh. Ia pun saling pandang dan tetsenyum dengan sang suami sebagai bentuk kebahagiaan.


"Apa ibu ada keluhan?," tanya dokter setelah beberapa saat.

__ADS_1


"Tidak ada, dok! Cuma kadang masih suka nyeri aja," jawab Larissa.


"Baik! Nanti saya akan resepkan obat untuk menghilangkan nyeri. Tapi ibu hanya perlu meminumnya kalau terasa nyeri aja."


"Baik, dok!."


"Diminum setelah makan, ya!" pungkasnya. Disodorkan resep obat yang baru ditulisnya.


"Iya, dok! Makasih. Kalau begitu kami permisi dulu." Mereka pun pergi meninggalkan ruangan dokter.


...****************...


Kerja keras Hamzah untuk membuat sang istri cepat pulih pasca operasi telah berbuat manis. Kini Larissa bisa beraktivitas seperti sedia kala. Bahkan dua minggu setelah operasi ia sudah bisa berjualan kembali.


Walau Larissa sudah bisa beraktivitas seperti biasa namun Hamzah tak membiarkannya angkat-angkat barang. Ia khawatir bekas jahitan Larissa terbuka kembali. "Sudah, kamu duduk manis saja, biar aku yang menata dagangan. Nanti kamu tinggal layani pembeli saja," ucapnya. Larissa mengangguk dan masuk kembali ke dalam.


Larissa sedih karena tak ada satupun dari sanak saudara yang menjenguknya, bahkan kedua mertuanya pun tak pernah menengoknya barang sebentar.


Larissa nelangsa. Ia hidup ditengah keluarga namun serasa hidup sendiri. Mereka mau mendekat hanya bila ada maunya, sedang bila tidak dirinya tak dihiraukan. Bahkan disaat dirinya sedang sakit seperti saat ini.


Pernah Larissa mencoba untuk mengungkapkan kegundahannya ini. "Kenapa tidak ada satu pun keluarga yang menjengukku, Entik? Apa aku sebegitu tidak berartinya bagi mereka?."


Hamzah tahu perasan Larissa. Namun ia tak ingin istrinya larut dalam kesedihan. Ia pun mencoba menghiburnya dengan memberikan pikiran positif. "Jangan pernah berpikir dirimu tidak berarti. Kau lebih dari segalanya bagiku. Mungkin saat ini mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli buah tangan untukmu. Jadi mereka tidak bisa menjenguk."


"Aku tidak ingin dibawakan apa-apa. Aku hanya ingin kehadiran mereka. Karena bagiku kehadiran mereka saja sudah lebih dari cukup. Rasanya aku mendapat semangat dari kedatangan mereka itu."


"Itu kan menurutmu, belum tentu orang lain berpikir seperti itu," Hamzah menyangkal pendapat Larissa. "Bagi mereka, menjenguk orang sakit tanpa membawa buah tangan tidak pantas."


"Tapi...."

__ADS_1


"Sudah, tidak usah dipikirkan!. Yang penting aku ada bersamamu, kan?," ucapnya lembut sambil membelai rambut Larissa.


Larissa memilih diam dan tak meneruskan perdebatan mereka. Namun dalam hati ia menyimpan kesedihannya itu. Terlebih ia adalah tipikal orang yang sangat perasa.


...****************...


Bila kini kondisi Larissa sudah membaik dan bahkan sudah bisa beraktivitas seperti semula namun tidak dengan Bu Ani, kondisinya justru berbanding terbalik dengannya. Karena kini keadaannya semakin hari semakin memprihatinkan.


Bu Ani menjalani operasi pengangkatan payudara akibat kanker ganas yang menyerangnya. Ia menjalani operasi jauh sebelum Larissa membangun rumah. Namun karena tak mau menjalani kemoterapi seperti anjuran dokter maka benjolan itu pun kembali muncul.


Semakin hari benjolan itu semakin bertambah besar. Hampir setiap hari Bu Ani menjerit kesakitan. Jeritannya terdengar begitu pilu dan menyayat hati.


Bukannya tak bersimpati atau tak mau menolong ibunya sendiri, tapi karena Larissa juga turut merasakan kesakitan yang sama dengan ibunya begitu mendengar suara jeritannya.


Pernah suatu hari Larissa mencoba mendekati sang ibu dengan maksud mengurangi rasa sakit yang dialaminya saat mendengar jerit tangisnya. Namun justru dirinya lah yang berakhir dengan mengerang kesakitan.


Kejadian itu terjadi tepat di tengah malam. Tiba-tiba Bu Ani menjerit sekencang- kencangnya. Sontak Larissa terbangun dari tidurnya. "Ada apa, ibu? tanyanya panik.


"Sakit!!!" jawabnya sambil menangis sesenggukan. Sebelah tangan memegangi dadanya yang terasa sakit.


Gegas Larissa pergi ke dapur untuk memasak air hangat. Kemudian ia campurkan air yang telah matang itu dengan segenggam garam kasar. Lalu ia memgambil handuk bersih dan kembali memghampiri sang ibu. "Coba aku seka dengan air ini, bu. Mungkin rasa sakitnya bisa sedikit berkurang."


Dengan lembut Larissa mengusap dada sang ibu menggunakan handuk bersih yang telah dibasahi dengan air hangat tadi. Ia melakukan hal ini berulang-ulang hingga sang ibu tak lagi menangis kesakitan. Namun tiba-tiba rasa sakit berbalik menyerang dadanya.


Seketika Larissa menghentikan yang dilakukannya dan berlari ke kamar. Ia terduduk diatas ranjang menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya.


Larissa merasa dadanya seperti diremas kuat oleh sebuah tangan besar lalu ditarik sekencang-kencangnya. Rasa sakit itu begitu dahsyat hingga rasanya tembus ke punggung.


Tak ada yang bisa Larissa lakukan untuk menghilangkan rasa sakit itu. Bahkan obat pereda nyeri yang di minumnya pun tak memberi efek apa-apa. Ia hanya bisa menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Digunakannya sebuah bantal untuk meredam suara tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2