
Malam harinya Hamzah mengantar Larissa untuk berobat alternatif di rumah uwak Sodiq, tempat yang sama dimana ia menimba ilmu kebatinan dan berlatih seni bela diri selama ini.
Disana Larissa diruqyah terlebih dahulu oleh uwak Sodiq. kemudian ia memejamkan mata sambil mulut komat- kamit merapalkan doa-doa yang entah apa. Da setelah selesai, ia pun meminta Larissa untuk menunjukkan dimana letak benjolan tersebut.
Tanpa ada prasangka apapun Larissa pun menunjukkan dimana letak benjolannya berada. Uwak Sodiq pun mengusap bagian atas dada Larissa dimana benjolan itu berada dan menariknya keatas lalu melemparkannya ketanah, seakan-akan ia membuang sesuatu dari tubuh Larissa.
"Coba sekarang kamu raba sendiri dadamu. Kamu lihat, apakah benjolan itu masih tetap sama atau sudah mengecil."
Larissa pun menuruti permintaan Uwak Sodiq untuk meraba dadanya sendiri. "Masih tetap sama, Uwak."
Uwak Sodiq mengerutkan dahi. "Masak tidak ada perubahan sama sekali?."
"Iya, uwak. Memang benar tidak ada perubahan apapun."
"Oh, mungkin karena baru satu kali. Jadi belum ada perubahan sama sekali," ucapnya. "Coba sini! Biar saya ulangi sekali lagi."
Uwak sodiq pun melakukan lagi ritual yang ia lakukan tadi. Sedang Larissa hanya diam karena tak mengerti dengan apa yang beliau lakukan. Ia benar-benar bingung dan tak mengerti dengan cara pemgobatan ini.
Kembali Uwak sodiq mengusap dada Larissa seperti yang ia lakukan tadi setelah selesai merapalkan doa-doa. Kemudian ia menghempaskan tangannya ke tanah. Kali ini ia melakukan gerakan ini bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.
Usai melakukan ritual itu, ia menarik nafas berulang ulang, nafasnya ngos-ngosan seakan baru melepas sebuah beban berat. "Setelah ini saya akan buatkan ramuan untuk kamu. Nanti dirumah kamu balurkan ramuan itu ke seluruh tubuh" ucapnya.
"Iya, Uwak!" jawab Larissa singkat.
Uwak Sodiq masuk ke dalam. Setelah beberapa saat ia keluar lagi sambil membawa sebuah ramuan di tangannya. "Ini, ambillah! Balurkan ke seluruh tubuh sebelum kamu pergi tidur. Ingat! jangan lupa baca bismillah sebelum melakukannya" ucapnya sambil menyodorkan ramuan tersebut.
Larissa menerima ramuan tersebut. "Iya, Uwak. Terima kasih banyak! Saya akan melakukan seperti yang Uwak katakan tadi" ucapnya.
"Semoga setelah ini kamu segera diberi kesembuhan oleh Allah.
Larissa mengaminkan ucapan Uwak Sodiq dengan sepenuh hati.
Usai dengan ritual pengobatannya, Uwak Sodiq mengajak Hamzah berbincang-bincang tentang beberapa hal.
Larissa hanya diam dan menjadi pendengar setia karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
Malam semakin larut. Larissa mengajak suaminya untuk segera pulang. Apalagi putrinya yang saat itu juga ikut bersama mereka telah tertidur pulas.
"Iya, sebentar! aku pamit dulu pada Uwak Sodiq" ucap Hamzah.
Hamzah berjalan menghampiri Uwak Sodiq yang tengah sibuk mengawasi anak-anak yang tengah berlatih seni bela diri di padepokannya. "Uwak permisi!" ucapnya sopan.
__ADS_1
Mendengar namanya disebut, Uwak Sodiq membalikkan badan. "Eh, Hamzah. Ada apa?."
"Saya permisi mau pamit pulang dulu, Uwak. Malam semakin larut. Kasihan anak saya sampai ketiduran."
"Eh, iya iya, silakan!"
Hamzah mengulurkan tangan, berniat memberi salam tempel. "Ini, Uwak. Tolong diterima."
"Iya, saya terima."
"Kalau begitu saya permisi."
Uwak Sodiq menganggukkan kepala. Dan Hamzah serta Larissa pun berlalu meninggalkan rumah uwak Sodiq.
...****************...
Di rumah, Larissa segera bersiap pergi tidur setelah meletakkan anakknya di kamarnya sendiri. ia sudah terlalu lelah dan mengantuk. Tapi sebelum itu ia menyempatkan diri untuk membalurkan ramuan yang diberikan oleh Uwak Sodiq tadi.
Belum sempat tangan Larissa menyentuh ramuan itu, Hamzah sudah merebutnya. "Sini, biar aku saja yang balurkan ramuan itu ke tubuhmu."
Merasa tak enak hati dengan suaminya, Larissa merebut kembali ramuan itu. "Tidak usah, Entik. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi, Entik...."
"Cukup! Aku tidak mau dibantah lagi. Biar aku yang melakukan ini untukmu."
Larissa diam, tak berani membantah suaminya lagi. Apalagi ia sudah berkata seperti itu.
Larissa pun berbalik membelakangi suaminya. Perlahan Hamzah membalurkan ramuan tersebut ke tubuh istrinya dengan penuh kelembutan.
Hamzah sengaja melakukan ini untuk menunjukkan betapa ia masih peduli dan sayang dengan istrinya. Apalagi dialah yang menyarankan pengobatan alternatif ini.
Larissa tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya. Ia baru menyadari jika ternyata suaminya itu masih begitu perhatian dan sayang padanya.
Larissa menikmati sentuhan lembut Hamzah. Ia terbuai, sudah lama ia tak merasakan sentuhan selembut ini dari suaminya. Terlebih setelah banyaknya masalah yang terjadi diantara mereka.
"Nah, selesai. Sekarang kamu tidur, ya!" ucap Hamzah setelah seluruh tubuh Larissa telah rata dengan ramuan itu.
Larissa merebahkan tubuh. Hamzah menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada. "Selamat malam. Tidur yang nyenyak. Aku mau membersihkan tangan dulu" ucapnya. Sebuah kecupan ia daratkan diatas dahi Larissa.
Larissa mengangguk, lalu memejamkan mata. Tak berselang lama terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
__ADS_1
Melihat sang istri telah tertidur pulas, Hamzah pun keluar dan menutup pintu.
...****************...
Tengah malam Larissa terbangun. ia merasa seluruh tubuhnya seakan seperti terbakar oleh api yang membara. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan membesarkan nyala kipas angin serta mengarahkannya ke tubuhnya. Namun nyatanya nyala kipas angin tersebut tak mampu mengurangi panas itu.
Larissa merebahkan tubuh kembali. Kemudian berguling ke sana ke mari dengan harapan panas ditubuhnya dapat sedikit berkurang. "Sebenarnya ramuan tadi terbuat dari apa sih? Kenapa tubuhku terasa seperti terbakar seperti ini?
Larissa membaui tubuhnya untuk mencari tahu. Dari tubuhnya ia mencium aroma jahe bercampur dengan minyak gas. " Kenapa ada aroma jahe dan minyak gas dari tubuhku? Apakah ramuan tadi terbuat dari kedua bahan ini?
Tak ingin hanya berprasangka saja, Larissa pun segera membangunkan Hamzah yang berada di sampingnya untuk mencari tahu. "Entik, bangunlah!" ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh sang suami.
Hamzah menggeliat. Perlahan ia membuka mata. "Ada apa? Kenapa kau membangunkanku tengah malam begini?."
"Entik, aku mau tanya sama kamu. Apa kamu tahu apa saja bahan yang digunakan untuk membuat ramuan tadi."
"Iya, aku tahu!."
"Tolong katakan padaku apa saja bahannya."
"Bahan-bahannya adalah parutan jahe, ragi, balsam, dan dicampur dengan sedikit minyak gas."
Larissa terkejut setengah Mati mendengar jawaban suaminya. "Apa?? Jadi ternyata dugaanku tadi benar kalau ramuan itu terbuat dari jahe dan minyak gas?."
"Memangnya kenapa?" tanya Hamzah sambil memicingkan mata.
"Kamu tahu tidak, saat ini seluruh tubuhku rasanya seperti terbakar."
Hamzah tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Kamu tidak usah khawatir. Ramuan tadi memang dibuat untuk menghancurkan semua penyakit yang ada dalam tubuhmu. Itulah sebabnya kamu merasa seluruh tubuhmu seperti terbakar."
"Tapi aku tidak kuat dengan rasa panas ini, Entik."
"Sudahlah!. Kamu tidur lagi saja. Nanti panas yang kamu rasakan pasti hilang dengan sendirinya."
"Tapi, Entik...."
"Sudahlah. Ini masih malam. Lebih baik kita tidur lagi."
Larissa diam dan memilih menuruti ucapan suaminya. Ia merebahkan tubuh dan berpura-pura memejamkan mata.
Menyangka istrinya telah tertidur kembali, Hamzah pun turut memejamkan mata. Tanpa ia sadari semalam penuh Larissa tak dapat tidur karena rasa panas yang dirasakannya.
__ADS_1