Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 126


__ADS_3

Larissa menunggu suaminya kembali dengan harap-harap cemas. Sudah sejak tadi ia keluar mengikuti perawat yang membawa bayinya namun belum juga kembali. Keinginanya hanya satu, mendekap dan menyusui anak yang baru dilahirkannya.


Pintu dibuka dari arah luar, Hamzah menampakkan diri dibaliknya. Namun harapan Larissa untuk segera mendekap anaknya sia-sia belaka karena suaminya kembali dengan tangan kosong.


"Mana anak kita?" tanya Larissa saat suaminya sudah menghempaskan tubuh di atas kursi di samping ranjangnya.


"Ada di ruang bayi," jawab Hamzah enteng, punggungnya yang sedari tadi terasa pegal dihempaskan disandaran kursi. "Ah...nyamannya...."


"Kenapa tidak dibawa ke sini saja?."


"Kata perawat, bayi kita tidak boleh bercampur dengan orang dewasa dulu, takutnya tertular penyakit. Secara sekarang wabah corona semakin menggila."


Larissa mendesau lesu. "Padahal dari tadi aku ingin menyusuinya. Lihat! ASI ku mengalir deras begini."


Hamzah mengedikkan bahu. "Mau bagaimana lagi, Wabah penyakit belum juga mereda. Toh semua juga demi kebaikan bersama. Secara bayi baru lahir kan masih sangat rentan terkena penyakit."


"Emangnya bayi yang lain nggak ada yang dikasih ASI gitu?."


"Aku perhatikan tadi tidak ada satupun yang diberi ASI, semua bayi minum susu formula."


"Jadi anak kita juga ikut minum susu formula? Itu kan kurang bagus!."


Hamzah kembali mengedikkan bahu. "Entahlah, aku juga nggak ngerti."


Terpaksa Larissa menelan kekecewaan karena tak bisa menyusui anaknya untuk sementara waktu. Disatu sisi ASI memang sangat penting untuk bayi, namun disisi lain bayi rentan tertular penyakit jika bercampur dengan orang dewasa. Sebuah pilihan yang sama-sama sulit.


Hamzah menegakkan tubuh kembali, teringat akan sesuatu yang sangat penting. "Kamu sudah makan belum?," tanyanya.


"Belum! Dari tadi kan kamu nggak balik-balik. Mana bisa aku beli makanan sendiri dengan kondisi seperti ini. Untuk bangun kepalaku masih pusing, untuk bergerak masih susah."


Hamzah cengengesan nggak jelas mendengar gerutuan istrinya. "Maaf! Bukannya sengaja, tapi memang semua baru selesai. Dan begitu usai aku juga langsung balik kesini kok!."


Larissa menyebikkan bibir. "Alasan! Bilang saja kalau kamu belum puas melihat jagoanmu."


Hamzah nyengir kuda. "He he he, iya. Ya udah, aku belikan dulu. Kamu mau makan apa?" tanyanya seraya bangkit dari kursi.


"Terserah, seadanya saja." jawabnya. "Oh ya satu lagi, tolong belikan aku teh hangat juga. Perutku rasanya kueang nyaman" tambahnya saat suaminya hendak melangkah.


"Ok!" jawab Hamzah sambil mengangkat satu ibu jari. "Apa masih ada yang ingin kamu beli lagi?."


Larissa menggeleng. "Tidak, itu saja sudah cukup!."

__ADS_1


Hamzah membuka pintu dan menghilang dibaliknya. Sementara Larissa mencoba memejamkan mata yang sedari tadi terasa berat.


...****************...


"Encus, ayo bangun. Katanya mau makan, kok sekarang malah tidur?" ucap Hamzah seraya mengguncang tubuh istrinya lembut.


Larissa tergeragap, terbangun dari tidurnya. Niat hati hanya ingin memejamkan mata sejenak sembari menunggu kedatangan suaminya, tak tahunya ia malah kebablasan. "Maaf maaf, aku ketiduran tadi. Sekarang mana makanannya? Aku sudah sangat lapar!."


Larissa mencoba bangkit dari tempat tidur, tapi kepalanya mendadak pusung kembali. "Aduh..." mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Kau kenapa?" tanya Hamzah panik, ikut memegangi kepala istrinya.


"Kepalaku pusing sekali, Entik."


"Ya sudah, lebih baik kau rebahan lagi. Biar aku yang suapi kamu."


Larissa menurut dan kembali merebahkan tubuh. Hamzah mengambil sendok makan dan membuka pembungkus makanan."


"Kau beli makanan apa?" tanya Larissa saat suaminya mulai menyendok makanan.


"Aku beli nasi pecel, hanya itu saja yang ada."


"Nggak pa pa, yang penting ada makanan." Larissa memang bukan tipikal orang yang suka pilih-pilih makanan. Semua ia makan selagi halal dan sehat, terlebih bila harganya ramah dikantong.


Larissa membuka mulut dan menerima suapan suaminya. Perlahan ia kunyah dan telan makanan itu. "Enak!" ucapnya sambil terus mengunyah.


Hamzah tersenyum melihat istrinya menyukai makanan yang dibelinya. Dengan telaten ia menyuapi istrinya hingga makanan itu tandas tak bersisa. Kemudian ia menyodorkan segelas air putih beserta obat yang harus diminumnya.


Larissa terlihat kesulitan meminum minuman itu. Hamzah mengangkat kepalanya sedikit keatas agar memudahkannya untuk minum.


"Makasih banyak!" ucapnya tulus. "Kamu sendiri sudah makan belum?."


"Sudah!" jawab Hamzah singkat. " Tadi sebelum pulang ibu sempat membelikanku beberapa bungkus makanan."


"Oh ya hampir lupa! Ibu dan kakak jadi pulang bareng siapa?."


"Sama kak aziz."


"Jadi istri kak Aziz jadi pulang hari ini."


"Iya, tadi pagi pulangnya."

__ADS_1


Sebelum Larissa dipindahkan ke ruang rawat inap yang terletak di lantai empat, Ibu mertua dan kakaknya berpamitan pulang dulu dan berjanji akan kembali lagi esok hari.


Larissa membiarkan mereka pulang lebih dulu mengingat kondisi ibu mertua yang sudah tua. Apalagi tak ada yang bisa mereka lakukan disini karena hanya seorang saja yang boleh menemaninya di dalam ruangan.


Kak Aziz sendiri adalah tetangga Larissa. Jarak rumah mereka hanya terpisah empat rumah saja. Kebetulan istrinya melahirkan di rumah sakit ini juga. Dan saat tahu bahwa ia akan pulang hari ini, ibu mertua dan kakaknya minta izin ikut serta sebab kendaraan pada jam-jam segitu belum ada.


"Syukurlah kalau gitu. Kasihan ibu juga kalau kelamaan di rumah sakit."


"Iya, aku juga nggak enak hati sama istrinya kakakmu kalau disini terus. Mereka kan punya kesibukan juga."


Sesaat mereka sama-sama diam, tak tahu apa yang ingin dibicarakan lagi. Namun sesaat kemudian Hamzah kembali membuka suara saat teringat akan putra mereka yang baru beberapa jam yang lalu lahir. "Oh ya kamu tahu nggak, tadi setelah dibersihkan, anak kita diayak kayak onde-onde sama perawat."


Larissa mengernyitkan dahi, tak mengerti maksud perkataan suaminya. "Maksudnya diayak gimana?."


"Jadi gini, tadi anak kita diletakkan dalam sebuah talam besar lalu ditaburi bedak bayi. Kemudian dia diguling-gulingkan kayak onde-onde" ucap Hamzah sambil mempraktekkan apa yang dilakukan perawat tadi. "Aku sampai menepuk jidatku sendiri dan berkata, 'Ya Allah, anakku jadi anakan onde-onde'."


Larissa tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita suaminya. "Kalau tadi aku melihatnya sendiri, pasti aku juga melakukan hal yang sama denganmu."


Setelah berhasil menguasai tawa, Larissa menanyakan satu hal yang sangat penting. "Apa anak kita sudah kamu adzani tadi?."


Hamzah menganggukkan kepala. "Sudah! Aku adzani di kuping kanan dan iqomah di kuping kiri."


"Baguslah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan wajahnya? Tadi aku melihat kurang jelas saat dokter menunjukkan padaku."


Larissa adalah orang berkacamata dengan minus tinggi. Ia tak bisa melihat dengan jelas jika memakai alat bantu penglihatannya.


"Anak kita sangat tampan. Wajahnya perpaduan antara kita, namun lebih mengarah padamu. Kulitnya juga kuning langsat sepertimu. Sementara rambutnya hitam pekat dan lebat sepertiku."


Obrolan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya Larissa menguap lebar karena lelah dan mengantuk.


"Tidurlah! Sepertinya kau sudah mengantuk."


Larissa mengangguk dan bersiap untuk tidur. Namun sebelum mata istrinya benar-benar terpejam Hamzah kembali berkata, "Aku mau turun dulu untuk merokok nggak pa pa kan? Kepalaku sedikit pusing karena seharian tak merokok."


Larissa mengangguk mengizinkan. "Tapi jangan lama-lama."


Hamzah mengangguk mengiyakan ucapan istrinya. "Kamu mau aku belikan sesuatu saat kembali nanti?."


"Tidak usah! Teh yang kamu belikan tadi saja belum sempat aku minum" ucap Larissa sambil menunjuk teh di atas nakas.


"Ya sudah kalau gitu. Sekarang tidurlah. Aku tinggal ke bawah dulu."

__ADS_1


Larissa mengangguk dan memejamkan mata. Sementara Hamzah menghilang di balik pintu.


__ADS_2