
" jika benar ayah telah memberiku nama yang sama dengan mbak Terina, lalu kenapa ibu hanya memakaikan nama Larissa saja padaku?." Pertanyaan lama belumlah terjawab, tapi kini pertanyaan baru muncul lagi dalam benak Larissa. Begitu banyak rahasia yang ibu simpan rapat-rapat.
Pikiran Larissa berkecamuk. Ia tak menghiraukan lagi ocehan Mbak Ira yang antusias menceritakan tentang kedua adik dan ibunya.
Setelah lama mengobrol, Larissa pamit pulang. "Mbak, sebentar lagi mau magrib. Aku pamit pulang dulu, ya!."
"Kok buru-buru!." ujar Mbak Ira mencegah.
"Iya, mbak! khawatir Mas Hamzah udah pulang. Nggak enak kalau aku belum ada dirumah" terang Larissa.
"Ya udah, nggak pa pa," Mbak Ira akhirnya mengizinkan Larissa untuk pulang. "Oh ya, lusa aku mau ngadain aqiqah buat anakku. Kamu datang ya!."
Beberapa bulan yang lalu, Mbak Ira baru saja melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan. Mungkin usianya terpaut empat bulan dengan usia Fatim.
"Insyaallah, Mbak, aku akan datang!." Larissa meninggalkan rumah Mbak Ira. Sebelum berlalu, ia menyempatkan diri untuk berpamitan dulu dengan para Bibi yang lain.
"Bibi antar pulang, ya!" tawar Bi Rina, ia adalah adik bungsu Ayah.
Larissa mengangguk, tak menolak tawaran Bi Rina. Kebetulan ia juga harus memburu waktu sebelum suaminya tiba lebih dulu dirumah.
Singkat cerita, Larissa pun sampai dirumah sebelum suaminya pulang. Tapi ada hal lain yang membuat Larissa gemetar ketakutan. Ibu memergoki dirinya saat turun dari sepeda Bi Rina.
Sebelumnya Larissa sudah meminta Bi Rina untuk mengantarkan sampai gang depan saja. Tapi Bi Rina memaksa untuk mengantar sampai depan rumah. Dan ia tak kuasa untuk menolak.
"Ya gitu, ingat sama ponakannya" sindir ibu yang ditujukan pada Bi Rina. Larissa menundukkan kepala. Takut akan kemarahan ibunya.
Bibi melihat ketakutan yang terpancar di wajah keponakannya. "Kamu tenang saja, nak. Biar Bibi yang hadapi ibumu" ujarnya menenangkan. Tangannya mengusap bahu Larissa.
__ADS_1
Bi Rina menghampiri ibu. Ia mengajaknya bersalaman. "Apa kabar, Mbak? Maaf, aku baru mengantar Larissa pulang sekarang."
Bu Ani tak membalas uluran tangan dari Bi Rina. Ia memalingkan wajah darinya. "Aku tidak marah melihatmu mengantar anak ku. Aku justru senang, kamu masih menganggap anakku sebagai bagian dari keluargamu" ujarnya dingin.
"Mana mungkin aku mengingkari keponakanku sendiri. Larissa adalah putri kakakku juga, berati dia adalah keponakanku juga" sanggah Bibi.
"Syukurlah kalau kamu menganggapnya begitu. Aku lega mendengarnya" jawab ibu tanpa menoleh ke arah Bibi.
Hening. Mereka sama-sama diam. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Lain kali aku akan datang kesini lagi" Bi Rina buka suara. "Tolong jangan marahi Larissa. Dia tidak bersalah dalam hal ini."
"Apapun yang akan aku lakukan pada putriku itu bukan urusanmu. Yang pasti, aku tidak akan melukai putriku sendiri!"
Bu Rina terdiam mendengar jawaban ibu yang terdengar sangat ketus. Ia memilih untuk segera pulang setelah memastikan Larissa baik-baik saja.
Larissa segera masuk ke rumah setelah Bi Rina berlalu. Akan tetapi ibu langsung menghentikan langkahnya. "Berhenti, Larissa. Ibu mau bicara denganmu!."
Sontak Larissa menghentikan langkah dan berbalik menghadap ibu. "Apa yang ingin ibu bicarakan denganku?."
"i...iya, Bu. Ini memang bukan kali pertama aku kesana" jawab Larissa takut-takut.
"Kenapa kau sembunyi-sembunyi seperti ini? Kau bahkan sudah berani membohongi ibu."
"Aku tidak bermaksud membohongi ibu. Aku terpaksa. Aku tidak punya cara lain untuk mengetahui segala hal tentang Ayah selain dengan cara seperti ini."
"Ibu sengaja menutupi semua hal tentang ayahmu itu demi kebaikanmu. Tapi kau malah dengan sengaja membuka luka itu. Kau tahu, kau telah menyakiti hati ibu dengan sikapmu ini" teriak ibu marah.
"Yang seharusnya marah itu aku, Bu, aku! Ibu selama ini menyembunyikan banyak hal tentang ayah dariku. Kenapa, Bu, kenapa ibu melakukan itu padaku?" teriak Larissa.
__ADS_1
"Bukankah ibu sudah bilang. Ibu melakukan ini demi kebaikanmu!."
"Kebaikan apa yang ibu maksud? Bahkan selama ini aku selalu menerima penghinaan karena hal ini!" Larisaa tak kuasa lagi menahan gejolak dalam hatinya. Air mata berderai saat mengatakan semua itu.
"Ibu tahu, bahkan dulu ada yang menganggap ku sebagai anak haram karena aku tidak mengetahui asal-usul ku sendiri" lanjutnya sambil menyeka lelehan air mata.
Sesaat Bu Ani terdiam. Ia sangat syok mendengar ucapan anaknya. "Jadi kau ingin tahu tentang ayahmu? baiklah, ibu akan katakan semuanya sekarang!."
Berkali-kali Bu Ani menghela napas berat. Ia terlihat menguatkan diri sendiri sebelum membuka rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Ibu mengenal Ayahmu saat kami sama-sama bekerja sebagai TKI di Malaysia," Bu Ani mulai angkat bicara. "Seiring berjalannya waktu, kami sepakat untuk menikah karena merasa nyaman satu dengan yang lain. Saat ia akan menikahi ibu, ia mengaku sebagai seorang duda. Ibu tidak mempermasalahkan statusnya karena saat itu ibu pun berstatus sebagai seorang janda."
Bu Ani menyeka air mata yang meleleh di pipinya. Ia terguncang, menceritakan hal ini sama dengan membuka luka lama yang ia coba lupakan bertahun-tahun yang lalu.
"Kami menikah di Malaysia dengan kakakku yang menjadi wali nikah. Kebetulan dia juga bekerja bersama kami," lanjutnya. "Kami hidup bahagia setelah menikah. Selang beberapa bulan, Ibu mengandung dirimu yang semakin melengkapi kebahagiaan kami."
"Saat ibu hamil dua bulan, kami sama-sama pulang ke Indonesia. Tapi saat di bandara, kami berpisah ditengah jalan. Dia pulang kerumahnya, sedang ibu pulang ke rumah ibu."
"Disinilah kebenaran mulai terungkap. Ternyata ayahmu telah membohongi ibu. Dia bukanlah seorang duda seperti pengakuannya."
"Memang benar ayahmu telah menduda, dan ia juga menunjukkan bukti perceraiannya pada ibu. Tapi itu adalah bukti perceraian dengan istri pertamanya."
"Ternyata ibu bukanlah istri kedua dari ayahmu, tapi ketiga. Dan mereka masih resmi menjadi suami istri saat itu."
Bu Ani kembali menyeka air mata yang mengalir. Ia menghela napas, mencoba mencari kekuatan.
"Ibu sangat terluka saat mengetahui kebenaran ini. Ayahmu telah tega menipu ibu besar-besaran" Sesaat ibu terdiam, sengaja menjeda ucapannya. "Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata istri kedua dari ayahmu juga tengah mengandung."
__ADS_1
Larissa diam, mencoba mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibir ibunya. Ternyata apa yang Bibi ceritakan tempo hari benar adanya. jika ibu dan ibu dari mbak Ira sama-sama mengandung saat itu.
Satu hal yang Larissa masih tak mengerti. Kenapa kemudian ibu menjauhkan dirinya dari ayah. Bahkan terkesan menutupi keberadaannya dari ayah.