Ketika Cinta Harus Menentukan

Ketika Cinta Harus Menentukan
Bab 120


__ADS_3

Tujuh bulan sudah usia kehamilan Larissa. Bidan menyarankan agar ia melakukan USG untuk mengetahui posisi janin dan jenis kelaminnya.


Larissa sempat ragu untuk pergi ke rumah sakit, sebab saat itu pandemi covid-19 mewabah hampir diseluruh dunia, khawatir jika dirinya terpapar virus itu juga, terlebih ibu hamil lebih rentan terkena penyakit itu.


Namun karena besarnya keinginan untuk mengetahui kesehatan janin terlebih jenis kelaminnya, ia mengesampingkan kekhawatirannya itu dan pergi ke rpumah sakit untuk melakukan USG, namun ia tetap menjalankan protokol kesehatan.


Dengan penuh kehati-hatian, Hamzah memacu motornya di jalan berbatu agar tak membuat istrinya kesakitan. Berkali-kali ia menengok ke belakang memastikan istrinya baik-baik saja. "Apa kau tidak apa, Encus?."


"Larissa tersenyum melihat betapa besar perhatian yang ditunjukkan suaminya. "Jangan terlalu khawatir! aku baik-baik saja. Lebih baik kau fokus kembali ke jalanan dan jangan bolak-balik menengok ke belakang, bisa-bisa kita kecelakaan nanti."


Hamzah tersenyum tipis. "Ya sudah! Tapi nanti kalau kamu kenapa-napa atau merasa kurang nyaman segera ngomong ke aku ya!"


Larissa mengangguk. "Iya, nanti aku ngomong. Ya udah sana, fokus lagi ke jalan." Larissa mengarahkan kepala Hamzah agar kembali melihat jalanan.


Jarak dari rumah ke tempat USG memerlukan waktu kira-kira 30 menit. Namun karena cara mengendarai Hamzah yang sangat pelan membuat mereka memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk tiba di sana.


Setiba di sana Hamzah memarkirkan motor di tempat parkir, sementara Larissa menuju bagian pendaftaran untuk mengambil nomor antrian dan duduk di ruang tunggu menunggu namanya dipanggil.


Berulang kali Larissa merubah posisi duduk karena merasa tak nyaman. Terlebih kondisi perutnya yang semakin membesar membuatnya susah untuk duduk.


Menit demi menit terlalu, akhirnya namanya pun dipanggil. Larissa segera masuk ke dalam ruangan seorang diri tanpa didampingi suami. kondisi pandemi yang semakin parah membuat rumah sakit meminimalisir keberadaan orang dalam ruangan.


"Ibu Larissa?" ucap dokter menyebut namanya.


"Ya, Dok, itu saya!."


"Mari, bu, Silakan berbaring di sana!."


Larissa merebahkan tubuh di atas ranjang yang ditunjuk dokter dan membuka sedikit pakaiannya ke atas untuk memudahkan dokter memeriksa.


Seorang perawat menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya dan kemudian membalurkan gel di atas perut Larissa untuk memudahkan pemeriksaan. "Sudah siap, dok, silakan!" ucapnya.


Dokter bangkit dan menghampiri Larissa. Sesaat ia memandangi bentuk perut Larissa sebelum memulai pemeriksaan. "Dari bentuk perut ibu, sepertinya bayi yang ada dalam kandungan berjenis kelamin laki-laki" ucapnya.

__ADS_1


Bola mata Larissa melebar. Ucapan dokter tadi seakan memberikan angin segar baginya. Ia memang sangat menginginkan anak keduanya ini berjenis kelamin laki-laki, namun ia tak terlalu berharap sebelum hasil USG benar-benar mengatakan seperti itu.


Larissa menyadari jika bentuk perutnya pada kehamilan ini berbeda dengan sebelumnya. Jika disaat hamil Zahra dulu, bentuk perutnya bulat pipih. Namun sekarang bulat penuh dan menonjol ke depan.


Perlahan dokter menggerakkan alat transduser di atas perut Larissa. "Lihat, ibu, itu calon anak ibu!" ucapnya.


Larissa memperhatikan layar monitor yang ada di depannya. Semua tampak buram, hanya terdapat gambar hitam putih yang tidak terlalu jelas. Namun ia melihat adanya sebuah pergerakan di sana. "Ya Allah, itu anakku" ucapnya tersenyum bahagia.


"Lihat, ibu, ini bagian kepala, ini kaki, dan ini kedua tangannya" ucap dokter kembali sambil menggerakkan alat transducer menuju titik-titik yang disebut.


Larissa excited, meski ini kehamilan keduanya namun ia masih saja takjub melihat adanya makhluk kecil yang tumbuh dalam dirinya.


"Bagaimana keadaan calon bayi saya, dokter?" tanyanya.


"Kondisi bayi Anda sangat sehat, air ketubannya juga masih banyak. Semua anggota tubuh sudah sempurna, posisi kepala juga sudah berada di bawah. Saya sarankan agar ibu melakukan senam hamil untuk mempermudah saat persalinan nanti."


"Baik, Dok! saya akan melakukan saran yang dokter berikan."


Dokter tersenyum ramah. "Coba Ibu dengarkan! ini suara detak jantung bayinya. Sepertinya dia sangat aktif di dalam sana.


Larissa tersenyum senang. "Itu memang benar, dok! Saya sering merasa perut saya serasa diaduk-aduk kalau dia sedang aktif aktifnya."


"Anu, dok, jenis kelamin bayi saya apa ya?" tanyanya ragu-ragu.


"Oh ya, hampir lupa!" dokter menepuk jidatnya sendiri kareptan melupakan sesuatu yang sangat penting. "Jenis kelamin bayi ibu, laki-laki!."


"Alhamdulillah!" Puji syukur Larissa panjatkan berulang-ulang dalam hati.. Harapannya untuk memiliki anak laki-laki ternyata terkabul.


"Sampai di sini, apa ada yang ingin Ibu tanyakan lagi?" tanya dokter setelah beberapa saat.


"Tidak, dok! Semua sudah jelas."


"Baik, kalau begitu silakan ibu duduk kembali!."

__ADS_1


Dokter beranjak dan duduk kembali di tempatnya. Sementara Larissa merapikan pakaiannya dulu sebelum duduk kembali di hadapan dokter.


"Apa ada keluhan yang ibu rasakan selama ibu hamil?" tanya dokter kemudian.


"Tidak ada, dok! Cuma terkadang badan suka lemas dan mudah capek gitu aja."


"Itu wajar, apalagi usia kandungan Ibu sudah 7 bulan. Yang terpenting Ibu banyak-banyak istirahat dan pastikan gizinya tercukupi dengan baik. Nanti saya akan meresepkan obat untuk ibu agar nantinya tidak terlalu lemas."


bLarissa mengangguk. "Baik, dok!."


Dokter menuliskan sesuatu diselembar kertas dan menyodorkannya pada Larissa. "Ini, bu resepnya. Silakan ibu bawa resep ini ke Apotek yang ada di sebelah sana."


Larissa mengambil resep obat tersebut dan membacanya sekilas. Namun tulisan tangan dokter itu sangat sulit untuk dibaca. Mungkin hanya dokter dan petugas apoteker saja yang tahu apa isi dari tulisan tersebut.


Larissa menyimpan resep itu dalam tas dan bangkit dari tempat duduk. "Makasih banyak, Dok! kalau begitu saya permisi dulu."


"Mari, silakan!."


Larissa meninggalkan ruangan dokter dengan senyum terukir di bibir. "Suamiku Pasti sangat bahagia kalau tahu anak yang ku kandung ini berjenis kelamin laki-laki, anak yang selalu ia idam-idamkan sejak dulu" ucapnya dalam hati.


Dan benar saja, begitu Larissa memberitahukan hal ini pada Hamzah, suaminya, ia begitu bahagia. Ia bahkan langsung memeluknya dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di kedua pipinya. "Terima kasih banyak, Sayang. Kau telah mewujudkan impianku untuk memiliki anak laki-laki."


Larissa menyembunyikan wajahnya dalam dada Hamzah karena merasa malu dengan tingkahnya. "Entik, jangan bersikap seperti ini di muka umum. Lihat tuh, kita jadi tontonan banyak orang."


Melihat istrinya malu,, Hamzah justru acuh. "Biarin aja, buat apa malu! Biar mereka tahu kalau aku sangat bahagia."


"Udah ah, ayo kita pergi dari sini!."


Larissa menarik lengan suaminya agar mereka tak menjadi tontonan orang lain lagi.


Sepanjang perjalanan pulang senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah Hamzah. Bahkan ia mengeratkan kedua tangan Larissa agar berpegangan erat pada pinggangnya.


Setibanya di rumah, Hamzah langsung meminta hasil USG Larissa tadi. Dipandanginya calon anaknya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Bahkan berulang kali ia mendaratkan ciuman pada foto USG tersebut.

__ADS_1


Melihat hal tersebut hati Larissa menghangat. "Terima kasih ya Allah, Kau telah memberiku kesempatan untuk memberikan kebahagiaan pada suamiku."


__ADS_2