
"Gadis setan. Kau apakan teman kami?" bentak seorang lelaki lagi. Kali ini yang membentak memiliki penampilan keras dengan rahang yang tampak menonjol. Orang itu ditemani lima orang bersenjata samurai di belakangnya yang terlihat ganas siap membunuh siapapun yang dianggap nya perlu dibunuh.
"Itu adalah harga yang harus dibayar seseorang karena telah memaksakan diri menggapai sesuatu yang tidak seharusnya" jawab Yalina ringan.
Sementara itu Jendral Thalaba yang telah sedikit terpancing kemarahannya karena sifat orang - orang itu segera menghentikan makannya. Dia lalu menatap keenam orang yang baru datang itu dengan tajam.
Melihat Jendral Thalaba yang menatap mereka dengan tajam keenam orang itu merinding bulu kuduknya. Mereka mulai mengeluarkan keringat dingin. Tapi karena merasa malu untuk pergi meninggalkan tempat itu orang yang tadi membentak segera memberi aba - aba untuk menyerang.
Begitu samurai terhunus mereka berenam secara serentak membabatkan samurai mereka ke tubuh Jendral Thalaba yang segera bereaksi cepat.
Saking cepatnya gerakan Jendral Thalaba, tubuhnya terlihat seolah - olah menghilang secara tiba - tiba dan tahu - tahu telah berada di belakang keenam orang itu.
Brak...
Terdengar bunyi jendela yang jebol dan gede bukan tubuh keenam orang tersebut yang dilempar keluar oleh Jendral Thalaba.
"Itu... Orang - orang itu kan pengawal tuan muda ke tiga dari klan Tokugawa. Tamat sudah riwayatnya... Aku senang orang - orang bejat itu dihajar habis - habisan. Tapi aku kasihan pada rombongan mereka. Mereka pasti akan ditangkap oleh klan Tokugawa"
"Benar... Klan mereka terkenal sebagai klan samurai berilmu tinggi. Sulit untuk berhadapan dengan mereka yang kekuatannya sangat besar" kata beberapa orang pengunjung di kedai tersebut.
"Semoga saja anak - anak muda itu bisa selamat..."
Orang - orang yang menyaksikan pertarungan Thalaba dengan enam orang pengawal tersebut menatap dengan perasaan iba.
"Makanmu belum selesai, paman Belang. Cepat habiskan, kita akan segera melanjutkan perjalanan" teriak Argadana dari dalam kedai.
Sementara itu Jendral Thalaba dengan cepat menggerakkan tangan dan kakinya secara beruntun.
Buk..
Dess...
Krak...
"Auughhh.... Ahhkk... Sakit.. Sakit... Tolong ampuni aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi" teriak pengawal itu begitu tangannya dipelintir hingga patah oleh Thalaba saking gemasnya.
"Hmphh...!!!"
Jendral Thalaba tidak berkata apa - apa melainkan hanya mendengus kesal dan meninggalkan keenam orang itu terbaring mengaduh - aduh.
__ADS_1
Brakk...!!!
"Gadis - gadis ******. Tuanku sudah berbaik hati mengundang kalian makan bersamanya. Begini kalian membalas kebaikan tuan kami?" bentak seorang lelaki separuh baya berpakaian hijau pupus seraya menggebrak meja. Rambut lelaki itu tampak sudah sebagian memutih.
Hilanglah selera makan Argadana mendengar istrinya disebut ******. Kesabaran yang sejak tadi diusahakannya kini berganti kemarahan yang meluap sehingga tanpa sadar dia ***** membunuh terasa merembes keluar dari tubuhnya menekan lelaki separuh baya tadi.
"Ini... Ini adalah hawa pembunuh. Apa mungkin bocah ini memiliki hawa pembunuh sebesar ini? Siapa sebenarnya orang - orang asing jni? Mereka ternyata bukan orang sembarangan" kata lelaki itu dalam hati.
"Kenapa banyak berbicara omong kosong dengan orang - orang bodoh itu, Sora? Tinggal paksa saja ketiga gadis itu. Kalau melawan bunuh saja dan urusan akan beres. Tuan muda sudah tidak sabar"
Dua orang lelaki tua datang lagi ke arah meja tempat makan Argadana. Yang satu berperawakan tinggi tegap sedangkan yang satunya lagi berperawakan sedang namun berotot. Kedua orang yang baru datang itu adalah kawan Sora yang bernama Yukinobu dan Shirahoshi. Mereka bertiga adalah pengawal terbaik yang dimiliki tuan muda ke tiga dari klan Tokugawa.
Karena kemarahan yang tak terbendung nafas yang dihembuskan Argadana dari hidungnya kini mulai terasa panas. Suami Ningrum dan Yalina itu berdiri seraya mengeluarkan sedikit hawa tenaga dalam Jurus Sembilan Matahari.
"Ihhh.... Panas sekali..!!!"
Tiga orang lelaki paruh baya itu serempak melompat menjauhi Argadana dengan mimik wajah terkejut.
"Kalian... Aku beri kalian waktu sepuluh nafas. Minta maaflah pada ketiga wanita itu. Niscaya nyawa akan tetap berada di tubuh kalian"
"Setan... Mimpi apa aku semalam sampai ada anak bau kencur yang berani menentang orang - orang dari klan Tokugawa?" teriak Shirahoshi dengan nada marah.
"Iya, benar. Apa kau terkejut dan sudah mulai merasa takut sekarang? Sudah terlambat untuk memohon ampun, anak muda. Sekarang cepat patahkan satu kaki dan tanganmu, lalu bersujudlah memohon ampun pada tuan muda kami" gertak Yukinobu.
"Aku tidak takut... Jika itu sudah benar klan Tokugawa, akan kuingat nama klan kalian. Akan kucatat sebagai salah satu klan yang akan kuhancurkan di masa depan jika tidak merubah kebiasaan buruk kalian" kata Argadana pelan namun karena dilakukan dengan mengerahkan hawa kekuatan Pedang Siluman Darah maka panas dari Jurus Sembilan Mata Hari semakin menyengat membuat ketiga orang pengawal itu menjauh dengan wajah pucat.
"Kita bahkan belum bertarung. Tapi untuk mendekatinya saja sudah kerepotan. Apa mungkin anak ini memiliki tenaga dalam lebih besar dari kami?" batin Sora mengeluh melihat Argadana terus saja mendekati mereka dengan tubuh mengeluarkan hawa panas.
Melihat meja dan tempat duduk di sekitarnya mulai berasap Argadana segera menghentikan Jurus Sembilan Mata Harinya sehingga tiga orang pengawal itu bisa bernafas lega.
"Sudah lewat dari sepuluh hitungan nafas dan kalian tidak meminta maaf pada mereka. Kesempatan kalian sudah habis..."
Argadana mulai mengalirkan tenaga dalam ke lengan kanannya bersiap menyerang.
Tetapi dari belakangnya terlihat Surasena telah bangkit berdiri mendekat sesudah menyelesaikan makannya.
"Biar saya saja yang menghabisi mereka, tuan" kata Surasena menawarkan diri.
Argadana hanya mengengkat tangan kiri memberi isyarat agar Surasena tidak ikut bertindak.
__ADS_1
"Mundurlah. Aku sedang ingin membunuh sekarang. Mereka berani merendahkan istriku. Itu artinya mereka sudah siap menerima konsekuensi apa yang akan mereka hadapi"
Argadana memasang sikap kuda - kuda siap tarung. Matanya menatap tajam ke depan.
Jurus Tanpa Bentuk...!!!
"Awas... Hati - hati kepala...!!!"
Argadana menggunakan kecepatannya yang luar biasa untuk bergerak menyerang Sora, Yukinobu dan Shirahoshi.
Mata ketiga orang itu melotot lebar seolah hendak keluar dari kelopaknya melihat tubuh Argadana menghilang dari hadapan mereka.
Para pengunjung kedai yang berpura - pura tidak melihat dan hanya melirik diam - diam dapat melihat bahwa tubuh Argadana seolah - olah menjadi asap lalu menyambar tiga kali ke arah Sora, Yukinobu dan Shirahoshi.
Begitu tubuh Argadana terlihat kembali tubuh ketiga orang itu ambruk dengan darah mengucur dari leher mereka yang hampir putus. Terlihat empat bekas goresan dari luka di bagian leher ketiganya yang membuat putus beberapa buah urat nadi di leher mereka. Pemandangan itu membuat selera makan orang - orang di sana menjadi hilang. Semua pengunjung buru - buru keluar sampai lupa membayar makanan mereka.
Sementara itu orang yang dipanggil tuan muda oleh ketiga orang yang telah tewas tadi itu tampak pucat wajahnya bagai mayat tak berdarah. Tanpa sadar keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuhnya melihat Argadana berjalan mendekat.
"Kau... Kau.... Apa yang ingin kau lakukan? Aku ini adalah tuan muda ke tiga klan Tokugawa. Hekkk...." suara tuan muda ke tiga tertahan di tenggorokan begitu tangan kokoh Argadana mencekik lehernya.
"Dengarkan baik - baik perkataanku, tuan muda ke tiga. Aku bukanlah orang yang jahat. Tetapi aku juga bukan orang yang baik. Jika kau berani menggangguku lagi di kemudian hari, bukan hanya pengawalmu. Tapi juga nyawamu sendiri akan lepas dari badanmu. Ingat itu baik - baik...!!!" kata Argadana kemudian melepaskan cekalannya pada leher tuan muda ke tiga yang terbatuk - batuk setelah beberapa lama kesulitan bernafas.
"Bangsat... Aku akan mengingat ini baik - baik. Tunggu saja pembalasanku"
Tuan muda ke tiga klan Tokugawa pergi dengan dendam membara di hatinya karena tidak terima merasa dipermalukan di depan umum.
***
Ini yah buat yang udah sabar nunggu. Aku bikin dua sehari. Yang pertama tadi jam 12 pagi. Ini yg kedua jam siang ๐๐๐
Ini saya up nya sekitar jam 10 an loo. Tapi gk tau kenapa review nya lama bgt ๐ช
Tetap semangat dan sehat selalu yak...
Saya gak mau nyaranin buat jaga prokes, soalnya saya sendiri juga kadang mbandel gk pake masker klo kluar kmanaยฒ ๐
Intinya ya tetap jaga imunitas aja yah... Dan banyakยฒ berdoa semoga wabah penyakit di negeri kita ini segera berakhir.
Oke gitu aja untuk hari ini,,, Bye - bye... ๐๐
__ADS_1