
Pagi hari tampak sangat banyak kerumunan orang ramai di istana Kerajaan Sampang Daru. Hari ini sedang diadakan acara perayaan hari ulang tahun Putri Ningrum yang ke dua puluh.
Tamu - tamu kehormatan dari kerajaan - kerajaan lain banyak yang ikut menghadiri pesta tersebut. Ada yang bertujuan untuk membangun hubungan yang baik dengan kerajaan itu, ada juga yang datang karena penasaran dengan tuan putri yang dikatakan paling cantik di antara tuan putri enam kerajaan.
Perguruan - perguruan besar ilmu silat aliran putih juga tak lupa ikut serta memeriahkan suasana bahagia tersebut.
Para tamu - tamu yang hadir datang memberikan hadiah sebagai ucapan selamat ulang tahun kepada Ningrum.
Saat giliran para pangeran dan tuan putri dari kerajaan lain maju satu persatu memberikan hadiah ucapan selamat ulang tahun pada Ningrum, seorang pemuda dengan penampilan apik maju ke depan membawa sebuah kotak berwarna hitam.
"Saya Pangeran Rasim Baskara dari Kerajaan Periris mengucapkan selamat ulang tahun pada Tuan Putri Ningrum. Saya membawa sedikit hadiah kecil - kecilkan sebagai ungkapan ketulusan saya"
Pangeran Rasim Baskara berpakaian elegan. Tubuhnya tinggi tegap menampilkan otot - otot kuat di sekujur tubuhnya pertanda sering berlatih dengan keras. Dia menyodorkan sebuah kotak yang masih tersegel kepada Ningrum.
"Di dalam kotak itu adalah Jamur Kutub yang kami dapatkan dari pelelangan di daerah selatan bagian ujung dari kerajaan kami"
Penjelasan itu membuat kagum orang - orang yang hadir di sana. Betapa tidak, Jamur Kutub seperti namanya hanya terdapat di daerah kutub. Bahkan pendekar tingkat tinggi sekalipun akan berpikir berulang kali untuk mendatangi tempat itu. Jadi wajar saja jika barang itu sangat langka.
Tetapi fungsinya benar - benar luar biasa, yaitu dapat menawarkan segala jenis racun.
"Untuk fungsinya saya rasa tidak perlu dijelaskan, pastinya semua orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan mengerti akan kelangkaan bahan yang satu ini. Mohon diterima, Putri Ningrum"
Ningrum menerima kotak tersebut dan mengucapkan terimakasih.
"Hmm ... Saya Pangeran Damar Sena, dari Kerajaan Sakra mengucapkan selamat ulang tahun pada Putri Ningrum. Saya membawa hadiah khusus untuk Tuan Putri" kata Damar Sena dibuat - buat sebagus mungkin.
Dia lalu mengeluarkan sebuah kitab bersampul emas dari balik jubah mewahnya dan berkata.
"Kitab ini bernama Kitab Cakra Buana Sukma. Ilmu ini termasuk ilmu kelas Wahid, kata guru saya siapa pun yang mempelajari kitab ini akan menjadi pendekar tak tertandingi di kolong langit ini"
Ucapan sesumbarnya membuat banyak orang muak sehingga hanya membuang muka saja mendengar ucapan Damar Sena itu.
__ADS_1
"Hmph ... Dasar muka tebal. Kalau ilmu itu benar - benar bisa membuat seorang menjadi tak tertandingi, apa kau akan sungguh rela menghadiahkannya untuk orang lain?" begitulah orang - orang di sana membatin.
"Hadiah ini merupakan sesuatu yang besar. Saya sungguh berterimakasih pada Pangeran Damar Sena" kata Ningrum memaksakan diri untuk tersenyum, padahal dalam hatinya dia merasa mual mendengar bualan pangeran yang sombong itu terlebih lagi tadi tunangannya sempat bermasalah dengan dia.
"Kau bilang ilmu kanuragan nomor wahid. Itu sama saja dengan kau meremehkan kekuatan guruku, dasar pangeran angkuh" umpat Ningrum dalam hati.
"Ahh ... Tidak perlu sungkan, Putri. Ini sudah merupakan hadiah khusus untuk orang khusus" kata Damar Sena lagi - lagi dengan nada dibuat serendah mungkin.
"Benar - benar bermuka tebal" geram Handra Wiraguna dalam hati.
Argadana maju setelah Damar Sena kembali ke tempat duduknya. Pemuda pendekar kita menghadap Raja Kurawa dan membungkukkan badan memberi hormat. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Ningrum.
Ningrum seketika tersenyum cerah dengan wajah merah merona.
"Semoga di ulang tahunmu yang ke dua puluh ini selalu dipenuhi kebahagiaan, dan selalulah dalam keadaan sehat. Aku tak punya harta berharga seperti para kaum bangsawan lain yang dapat kubanggakan. Hanya hadiah kecil ini yang aku temukan dalam pengembaraan ku"
Argadana mengeluarkan sebuah kotak usang berwarna hitam dari balik pakaian yang menutupi pusaka jubah setan.
Itu adalah buah waktu. Siapa saja yang memakan buah tersebut akan dapat melatih sebuah ilmu kuno, yaitu tekhnik manipulasi waktu. Dengan ilmu itu seseorang dapat menghentikan waktu beberapa saat. Dan salah satu keuntungannya adalah siapa yang memakan buah itu maka tubuhnya akan terbebas dari pengaruh hukum waktu. Itu artinya pemakannya akan tetap terlihat seperti gadis belasan tahun meskipun umurnya sudah setengah abad.
Semua yang hadir di tempat itu kesulitan bernafas karena terkejut dengan penjelasan Argadana, terutama para tokoh tua. Dulu mereka memang sering mendengar tentang dongeng buah waktu dari orang tua mereka sewaktu kecil. Tidak disangka ternyata buah waktu itu memang benar adanya.
Demi mendengar penjelasan itu tidak sedikit yang di hatinya menyimpan keserakahan berniat mencuri buah itu, tetapi berpikir - pikir lagi untuk berurusan dengan Kerajaan Sampang Daru.
Ningrum sangat bahagia mendengarnya. Bukan karena fungsinya yang dapat memanipulasi waktu, melainkan karena kemudaannya dapat tetap bertahan hingga usia tuanya.
"Dengan begini, Kakang Argadana akan tetap mencintaiku meski umur kami telah menua"
Ningrum tertawa dalam hati.
"Kakang, aku.... Aku .... Aku tidak tahu bagaimana cara berterimakasih padamu" Ningrum tergagap.
__ADS_1
"Cukup dengan kau memakannya setelah aku pindah dari tempat ini. Aku melihat di sekeliling banyak yang bernafsu serakah berkeinginan merampas buah itu"
Tiba - tiba suara Argadana bergema di dalam pikiran Ningrum. Dia tidak terkejut, karena mengetahui bahwa itu adalah ilmu memindahkan suara milik Argadana.
Ningrum menuruti saran Argadana dan segera memakan buah tersebut setelah Argadana kembali ke tempatnya.
"Saya Gandari Dwi Puspita dari Kerajaan Bima. Selamat ulang tahun, Putri Ningrum"
"Haa. . . Tunggu sebentar. Aku ingat, kau adalah putri yang dulu terkena racun mawar duka, ya kan?"
Gadis yang baru saja maju itu yang memang tidak lain adalah Gandari adanya memasang senyum manis. Dia akhirnya yakin sepenuhnya bahwa yang menolongnya sepuluh tahun yang lalu dari siksaan racun mawar duka adalah gadis itu dan pemuda yang baru saja kembali ke tempat duduk khusus tamu kehormatan.
"Ternyata benar keyakinan ayahanda. Saya sangat berterimakasih atas bantuan Putri Ningrum waktu itu" katanya sambil membungkuk.
Ningrum yang merasa sungkan segera balas membungkuk pada Gandari.
"Hal itu sudah merupakan tugas seorang tabib, Putri Gandari. Jadi tidak perlu sungkan" katanya.
Beberapa perguruan besar lainnya menyusul memberi penghormatan dan berbagai macam hadiah begitu bingkisan dari Gandari diterima oleh Ningrum.
Di bagian ujung sebelah kiri ruangan itu tempat duduknya diisi oleh orang - orang dari enam perguruan besar yang terkenal. Salah satu di antaranya adalah Perguruan Bayangan Malam yang dipimpin oleh Pendekar Naga Bayangan. Perguruan ini tidak lain adalah merupakan salah satu cabang dari Perguruan Anak Naga yakni Pecahan Kegelapan.
Pendekar Naga Bayangan maju ke depan dan menjura hormat.
"Saya Pancaka Sudra, ketua perguruan Bayangan Malam mengucapkan selamat ulang tahun, semoga Putri panjang umur dan sehat selalu"
"Terimakasih atas doa dan ucapan selamatnya, tuan"
Ningrum menjawab dengan senyuman.
"Mohon maafkan saya sebelumnya, Putri. Perguruan kami meskipun tergolong Perguruan besar, tetapi kami tidak punya barang berharga apa pun yang dapat kami hadiahkan pada Putri. Jadi sebagai permintaan maaf kami, Putri boleh memilih empat orang di antara sekian banyak murid kami untuk menjadi pengawal Tuan Putri"
__ADS_1